Telah dimuat di Koran Tempo Minggu, 31 Agustus 2008.
Genesis “Chapter & Verse”
Ruang Baca edisi bulan lalu mengulas tentang musisi menulis buku. Genesis “Chapter & Verse” ditulis oleh anggota inti kelompok progressive rock asal Inggris, di edit oleh Phillip Dodd. Bila Anda berpikir bahwa membaca buku ini untuk mengetahui sejarah Genesis, tentu sia-sia karena untuk tujuan tersebut Anda bisa mendapatkannya melalui internet. Buku ini justru lebih kental menekankan pada nuansa humaniora dan kepemimpinan dalam kehidupan salah satu band berpengaruh di dunia, melalui penuturan langsung dari anggota-anggotanya. Nuansa tersebut diperkaya lagi dengan kesan-kesan dari orang-orang yang pernah terlibat dalam perjalanan musik Genesis.
Chapter & Verse adalah referensi praktek kepemimpinan tanpa menguraikan teori yang melandasinya. Ada tiga hal pokok pembelajaran dari buku ini. Pertama, sesuatu yang besar bisa dimulai dari iseng yang membuahkan hasil yang awalnya kurang menyenangkan. Genesis tidak dimulai dari sebuah cita-cita besar karena anggota awalnya merupakan teman-teman sekolah yang gemar bermain band. Peter Gabriel (vokal), Tony Banks (kibor), Anthony Phillips (gitar) dan Mike Rutherford (bass) adalah teman satu sekolah. Pada saat mereka menginginkan kepopuleran, merekapun berjuang masuk studio dan memasarkan albumnya. Tidak terpikirkan mengkonsep musik progressive rock atau bahkan menjadi band yang kemudian dewasa ini mempengaruhi ratusan band lainnya. Mereka hanya ingin musiknya dikenal. Dengan album awal From Genesis to Revelation (1969) band ini mengalami kekecewaan luar biasa karena hanya terjual 649 keping. Mereka hampir saja bubar. Untung Mike Rutherford menjawab singkat “Ya” terhadap pertanyaan ogah-ogahan dari Tony Banks : “Kita teruskan?”.
Mereka terus mencipta lagu dan memainkannya di setiap ada kesempatan konser sampai akhirnya merilis Trespass di tahun 1970. Keteganganpun mulai terjadi dan Anthony Phillips keluar karena sering tertekan
pada saat di panggung. Sementara itu drummer John Mayhew juga dianggap kurang bisa menerjemahkan konsep musik anggota lainnya, akhirnya disilahkan pergi. Genesis kemudian memasuki formasi puncak dalam kematangan kreatifitas musik setelah Phil Collins (drums) dan Steve Hackett (gitar) masuk. Pada formasi inilah album-album brilian diluncurkan mulai dari Nursery Cryme (1971), Foxtrot (1972), Selling England by the Pound (1973), dan The Lamb Lies Down on Broadway (1974). Semua kemampuan bermain gitar Steve Hackett tersalurkan di album Selling England By The Pound dimana di lagu Dancing With The Moonlit Knight dia menunjukkan teknik tapping yang kemudian dipopulerkan oleh Eddie Van Halen di 80an. Pada masa itu mereka juga masih menganggap belum terkenal hingga keluarnya Peter Gabriel (1975) dan Steve Hackett (1978). Genesis baru merasakan sukses saat Follow You, Follow Me menjadi hit dan diputar di radio. Bisa dikatakan mereka mengenyam sukses (baca: menjadi populer) setelah 10 tahun berkiprah dan formasinya menjadi bertiga: Phil Collins, Mike Rutherford, dan Tonhy Banks.
Kedua, kepemimpinan tidak harus menampilkan ketokohan sentral satu orang, namun bisa secara bersama. Syaratnya, tentu setiap anggota memiliki pemahaman, saling pengertian dan menghormati. Pada formasi puncak, memang pengamat musik melihat secara kasat mata bahwa Peter Gabriel seolah-olah menjadi pemimpin band. Hal ini dibantah oleh Tony Banks maupun Peter Gabriel. Tony menekankan bahwa cara kerja mereka lebih bersifat kebersamaan dengan setiap anggota adalah komposer, tanpa kecuali. Memang di album Nursery Cryme dan Foxtrot, Steve Hackett masih canggung dan bersikap sebagai session player. Bahkan Hackett dengan malu-malu memperkenalkan kontribusinya yang sangat kecil yaitu instrumental gitar berdurasi pendek, Horizon. Semangat kebersamaanlah yang memutuskan Horizon dimasukkan dalam album Foxtrot dan akhirnya bagi penggemar tulen Genesis menjadi pembuka dan bagian integral dari lagu terbaik Genesis berjudul Supper’s Ready yg berdurasi lebih dari 20 menit.
Steve keluar karena idenya untuk menambah musisi tamu dalam sebuah album, misalnya dengan orkestra atau flute atau cello, ditolak oleh anggota lainnya (hal. 192). Di sini jelas bahwa kebersamaan di atas segala-galanya meski akhirnya seorang anggota kecewa dan keluar. Dalam teori organisasi yang dikemukakan Henry Mintzberg (1979) cara bekerja kolegial seperti ini disebut sebagai Professional Bureaucracy, yaitu suatu tatanan yang sangat tergantung dari ketrampilan dan pengetahuan setiap anggotanya dalam kegiatan intinya (operating core).
Ketiga, konteks follower dalam ranah kepemimpinan tidak musti bermakna mengikuti. Ini adalah

Phil Coliins maunya meneruskan band tanpa vokal ...
pengakuan jujur dari Genesis yang dilansir oleh Tony Banks bahwa mereka sangat terinspirasi oleh King Crimson yang album debutnya In The Court of The Crimson King (1969) saja sudah menggemparkan dunia musik rock saat itu. Tentu Genesis ingin seperti King Crimson. Publik saat itu menilai skeptis musik Genesis karena dianggap berada diantara King Crimson dan Yes. Namun mereka terus berkarya sesuai dengan kadar interpretasi dan talenta musik mereka. Pada akhnirnya, di telinga pendengar terdapat perbedaan musik Genesis terhadap King Crimson maupun Yes. Masing-masing memilikik ciri khas dalam hal lekukan musik, sinkopasi maupun teksturnya. Bahkan ketika Genesis memutuskan membeli mellotron bekas dari tiga yang dimiliki King Crimson, musiknya tetap berbeda.
Bagi saya yang mengenal Genesis sejak Nursery Cryme dirilis, membaca buku ini sangat menarik. Kakak saya memperkenalkan Genesis melalui kaset dan ulasan satu halaman penuh di majalah Aktuil. Sejak itu musik Genesis menjadi bagian perjalanan hidup saya, meski ada kekecewaan saat berorientasi pop di album Abacab. Genesis membuktikan bahwa dengan kebersamaan mereka berhasil mengarungi pergolakan perubahan internal maupun eksternal. Bahkan ketika Peter Gabriel mengusulkan sebagai satu-satunya penulis lirik di album The Lamb Lies Down on Broadway, dia pun sebetulnya berat menyampaikannya. Dengan premis sederhana, bahwa ini adalah album konsep dengan satu plot cerita seperti novel, bagaimana bisa menggunakan dua sutradara? Berdasarkan premis ini pula maka secara aklamasi anggota lain menyetujui usulan Peter tersebut. Hasilnya memang luar biasa: sebuah album transedental yang merupakan kulminasi pemikiran spiritual Peter Gabriel saat itu.
Dicetak dengan edisi luks, sampul keras, tebal 359 halaman, ukuran besar, buku ini memuat foto-foto berwarna yang sangat menarik dan bersejarah. Buku ini melengkapi DVD Live Over Europe yang juga baru dirilis dan, mungkin, sekaligus menutup perjalanan musik mereka. Saatnya mereka menulis lirik: Can You Tell Me Where My Music Ends?
Gatot Widayanto
Ketua i-Rock! Music Community / Honorary Collaborator di situs progressive rock terbesar di dunia: http://www.progarchives.com / pengelola blog Music for Life: http://gwmusic.wordpress.com/ / selain sebagai Konsultan Manajemen.
September 2, 2008 at 7:18 am |
wah untung dimuat di sini, hr minggu gak sempet beli KorTem soalnya hehehehe …… thanks Pak
September 2, 2008 at 3:37 pm |
[...] Baca selengkapnya … [...]
September 3, 2008 at 4:20 pm |
bagus Pak review-nya…
paling trenyuh pas gabriel dengan berat hati pengen nulis semua lirik LLDOB
….bayanginnya kaya gimana gitu…
September 4, 2008 at 8:51 am |
Mas Haris,
Matur nuwun. Memang di LLDOB itu ketegangan diantara anggota band memuncak tinggi terutama antara Gabriel dan empat pemain lainnya dan mereka saat itu belum pernah bikin album konsep. Dalam pengerjaan album yang paling ngeri saat pembuatan lagu THE WAITING ROOM karena mereka mengalami hal2 ganjil ..makanya lagu itu nuansamatik bagi mereka ….
Salam,
G
September 4, 2008 at 9:40 am |
waiting room ?
yang bunyi gitarnya kaya suara kucing itu ?
itu ulah hackett atau mike yah ?
September 5, 2008 at 2:51 am |
wuuuiiihhhhh…….review mantappppzzzz…..biar udah baca tempo tapi tak woco maneh nang kene….hahahaha……thanks Mas Gatot….hehehe…
Salam
Fridie
September 15, 2008 at 9:59 am |
Mas Haris .. maaf kelewatan ….
Waiting Room itu eksperimentasi berasama (Tony, Hackett, Rutherford, Collins) saat mereka mengalami sesuatu yang aneh di ruangan tempat mereka menggarap The Lamb …
Mas Fridie,
Lama gak muncul nih .. kemana aja mas? Akeh kera Ngalam iki .. ada mas Yan, Semoo …semuanya nostalgia malang dengan radio senaputra nya …
Salam,
G
December 8, 2008 at 10:12 pm |
waa muahal banget Om, di kinokunia hrgnya naek dari 600 jd 700 rb..hiiiii, mungkin nyari paperback sekennya di amazon uda ada kali ya….