Archive for September, 2008

Kesan Saya Mengenai Film Kantata Takwa

September 30, 2008
Ditulis oleh RIZAL B Prasetijo (di posting di milis i-rockmusik@googlegroups.com)
—————————————————————–
Akhirnya hari Senin kemaren, bertepatan tanggal 29 September atau 29 Ramadhaan, saya berkesempatan menyaksikan film Kantata Takwa di Blitz Megaplex Grand Indonesia. Selain saya, Indra “Mamak” Kusuma, serta nyonya, tidak lebih dari 20 orang mengisi kursi auditorium enam Blitz Megaplex Grand Indonesia untuk pertunjukkan jam 1230. Saya sengaja memilih jam pertunjukkan yang ganjil ini agar tidak tertinggal shalat zuhr maupun ashr secara berjama’ah diawal waktu. Apalagi di bulan Ramadhaan, dimana amal ibadah digandakan paling tidak 70 kali.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/c/c7/Iwan_fals_-_kantata_takwa.jpg/200px-Iwan_fals_-_kantata_takwa.jpg

Buat anda yang berminat untuk menonton film Kantata Takwa dan mengharapkan alur cerita yang jelas, sebaiknya urungkan niat anda. Untuk menikmati film ini, dibutuhkan ketajaman perasaan seni dan perenungan batin untuk membongkar pesan pesan moral yang disampaikan dalam bahasa personafikasi musik Kantata Takwa yang kemudian dikemas secara cantik dalam bingkai seluloid oleh Eros Djarot. Saya sungguh kagum, bahwa 15-16 tahun yang lalu, sineas Indonesia sudah mampu menghasilkan film sekelas Kantata Takwa. Hanya karena konstelasi politik sajalah, penanyangan film ini harus ditunda hingga tahun 2008.
Seperti dugaan saya sebelumnya, film Kantata Takwa adalah pengejawantahan protes pekerja seni Indonesia yang merasa hak-haknya untuk berkreatifitas dirampas. Protes mereka juga mewakili rakyat kelas bawah yang tertindas di jaman Orde Baru. Kemuakan mereka atas penindasan hak-hak asasi manusia di jaman itu diwujudkan dalam lirik-lirik lagu yang gamblang tapi indah secara seni yang dibawakan oleh Iwan Fals, Sawung Djabo, W.S. Rendra, dan Yockie. Lebih indah lagi karena lagu2 ini dibawakan dalam pakem progressive dengan alur nada yang tidak teratur, terkadang menggunakan syncopated dan hocketing techniques. Luar biasa!!!
Film ini dibuka dengan caption seorang rakyat Indonesia jelata (yang diperankan oleh Sawung Djabo) lari ketakutan ditengah hutan diburu oleh sepasukan tentara bersepatu boot, menggunakan masker gas, dan menyandang M16. Sekalipun dia dihantui ketakutan yang amat sangat, dia tidak lupa untuk mengingatkan teman-temannya untuk menyelamatkan diri. Sungguh kesetia kawanan yang luar biasa ditengah kekacauan!!!. Tapi, apa dinaya, kesetia kawanan rakyat kelas bawah berakhir tragis. Semua matiiii dibedil M16 yang dibawa oleh tentara bermasker gas (yang menurut hemat saya merupakan personafikasi dari rezim Orde Baru).
Kisah tadi mengilhami WS Rendra (dan karena film ini dibuat sekitar tahun 1992/93, anda bisa melihat betapa mudanya WS Rendra saat itu) untuk menulis sebuah puisi. Saking terbiusnya saya dengan jalinan kata-kata beliau dan akting latar yang kuat dari para seniman yang tergabung dalam Bengker Teater WS Rendra (yang menggunakan topeng yang menutup 3/4 wajah), saya lupa untuk mencatat syair nya. Tapi pada dasarnya WS Rendra mengecam strategi pembangunan rezim Orde Baru yang banyak mengesampingkan kesejahteraan rakyat bawah.
Kemudian seloid melompat untuk mengabadikan momen terbentuknya gerakan Kantata Takwa. Oke, mungkin kita semua bertanya apakah Setiawan Djodi merupakan refleksi yang pas untuk pekerja seni yang memprotes kebiadaban rezim Orde Baru terhadap rakyat kelas bawah. Terlepas dari status sosialnya and kemungkinan kedekatan beliau dengan rezim Orde Baru, saya melihat bahwa tanpa dukungan finansial Setiawan Djodi, Kantata Takwa tidak akan pernah ada. Yang menarik dari caption ini adalah beberapa pandangan pendiri Kantata Takwa yang mengidentifikasikan gerakan baru ini sebagai refleksi dari pandangan mereka tentang agama dan keagamaannya. Sekali lagi, jangan nilai pandangan mereka tentang konsep beragama dengan pandangan keagamaan yang mainstream. Kalau boleh saya berpendapat, nilai saja pandangan keagamaan mereka dari Tauhid Rububiyah, jangan nilai dari sisi Tauhid Uluhiyah, apalagi Tauhid Asma’ul Husna…
Dari sini Eros Djarot mulai menggabungkan potongan-potongan konser Kantata Takwa di Stadion Bung Karno bulan Juni 1991 dengan caption-caption lepas yang menguatkan pesan moral yang dibawakan oleh Kantata Takwa. Sebagai contoh, dalam “Bento”,
====
Namaku Bento rumah real estate
Mobilku banyak harta berlimpah
Orang memanggilku bos eksekutive
Tokoh papan atas atas s’galanya asyik . . . . . . . . .

Wajahku ganteng banyak simpanan
Sekali lirik oke sajalah
Bisnisku menjagal jagal apa saja
Yang penting aku menang aku senang
Persetan orang susah karena aku
Yang penting asyik sekali lagi asyik………

Khotbah soal moral omong keadilan sarapan pagiku
Aksi tipu-tipu lobbying dan upeti oh…  jagonya..
Maling kelas teri bandit kelas coro itukan tong sampah
Siapa yang mau berguru datang padaku

Sebut tiga kali namaku Bento…. Bento…. Bento…..
Asyik…….!!!!!!  Asyik……

===
Eros Djarot memulainya dengan perjumpaan Iwan Fals dengan segerombolan anak desa yang memimpikan hidup enak seperti Bento, melompat kepada saat Kantata Takwa membius 70.000 penonton di Stadion Bung Karno dengan lagu Bento dan ditutup dengan caption seorang makelar tanah yang diburu oleh rakyat desa yang marah. Sementara dalam Paman Doblang,
===
Paman Doblang paman Doblang
Mereka masukkan kamu kedalam sel yang gelap
Tanpa lampu tanpa lubang cahaya
Oh pengap

Ada hawa tak ada angkasa ( terkucil )
Temanmu beratus ratus nyamuk semata ( terkunci )
Tak tahu kapan pintu akan terbuka
Kamu tak tahu dimana berada

Paman Doblang paman Doblang
Apa katamu?

( …Ketika haus aku minum air dari kaleng karatan
Sambil bersila aku mengarungi waktu
Lepas dari jam, hari dan bulan Aku dipeluk oleh wibawa… )

Tidak berbentuk, tidak berupa, tidak bernama
Aku istirahat disini
Tenaga gaib memupuk jiwaku

Paman Doblang paman Doblang
Di setiap jalan menghadang mastodon dan srigala
Kamu terkurung dalam lingkaran
Para pangeran meludahi kamu dari kereta kencana

Kaki kamu dirantai kebatang karang
Kamu dikutuk dan disalahkan tanpa pengadilan
Paman Doblang paman Doblang
Bubur di piring timah didorong dengan kaki kedepanmu

Paman Doblang paman Doblang
Apa katamu?

Kesadaran adalah matahari
Adalah matahari adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Adalah bumi adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Menjadi cakrawala menjadi cakrawala

Dan perjuangan
Adalah pelaksanaan kata kata
Adalah pelaksanaan kata kata

Kesadaran adalah matahari
Adalah matahari adalah matahari

Paman Doblang paman Doblang
Apa katamu?

===
Eros Djarot menampilkan WS Rendra sebagai pesakitan yang mempertanyakan nilai keadilan pengadilan di zaman Orde Baru. Sambil menarasikan lagu Paman Doblang, WS Rendra harus menghadapi hakim (menggunakan topeng) yang mempunyai bermacam-macam wajah. Pesan seni yang sangat indah, bahwa nilai keadilan di zaman Orde Baru adalah relatif ditentukan oleh penguasa.
Dibalik sejumlah lagu Kantata Takwa yang dijadikan alur cerita personafikasi film yang berdurasi 65 menit ini, Eros Djarot juga berhasil menyisipkan adegan mengenaskan dimana satu persatu penggagas Kantata Takwa (perlambang pembela kebenaran) mati dibunuh secara sadis oleh tentara bermasker gas. Namun, pada akhirnya pimpinan tentara bermasker gas tadi ditangkap oleh rakyat yang marah. Ketakutannya terhadap amarah rakyat yang amat sangat, membuat pimpinan tentara bermasker gas tadi mati di kurungannya, sebelum pengadilan rakyat memutuskan amarnya…
Hmmmm… mengingat film ini dibuat tahun 1992/93, saya bertanya tanya apakah Eros Djarot mempunyai bola kristal yang mampu memprediksikan kejadian besar di negeri ini tahun 1998 yang ditutup dengan wafatnya sang “Bapak Pembangunan”.
Selamat menikmati film Kantata Takwa.
Salam,

Rizal B. Prasetijo

Perpisahan dengan Ramadhan 1429 H

September 30, 2008

Kini RAMADHAN telah berada diujung batas perjalanannya. Dgn lembut ia berkata, “Kini aku harus pergi, mungkin jauh dan lama… Tolong sampaikan pesanku utk MUKMININ/MUKMINAT : SYAWAL kan tiba sebentar lagi. Ajaklah SABAR tatkala kalian berduka. Peluklah ISTIQOMAH saat kalian kelelahan dlm perjalanan meraih TAQWA. Bersandarlah pada TAWADHU saat kesombongan menyerang. Mintalah nasihat dari QUR’AN dan SUNNAH RASUL dalam menghadapi setiap masalah yang  kalian hadapi. Sampaikan pula salam dan terimakasihku bagi mereka yg telah menyambutku dgn sukacita. Kelak, ku berharap kalian semua disambut SURGA dari pintu AR-RAYAN…..”

Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin dari setiap cela nurani. Teriring salam hormat dari Gatot Widayanto dan keluarga.

Salam,

G

“Air Mata” by Kantata Takwa

September 29, 2008

Malam ini adalah traweh terakhir (insya Allah) dan besok adalah puasa terakhir di bulan Ramadhan 1429 H ini. Hari ini saya terpana menghayati lirik lagu AIR MATA yang ada di album KANTATA TAKWA. Liriknya terasa religius sekali apalagi malam ini juga meruoakan malam terakhir (insya Allah) I’tikaf di masjid. Dari dulu saya selalu menafsirkan musik secara pribadi, tidak peduli dengan si penulis lagu sebetulnya menulis lagu itu ditujukan untuk lainnya. Mengapa? Karena begitu saya membeli kasetnya, maka saya sudah bisa klaim bahwa itu rekaman musik milik saya, meski saya tidak bisa mengkalim sebagai penulis lagu atau komposernya. Adalh hak saya sepenuhnya menafsirkan “makna” setiap lagu yang ada di rekaman tersebut.

Tak terkecuali dengan lagu AIR MATA ini yang sebetulnya ditulis berdasarkan pengalaman pribadi mas Jockie dengan wanita (baca di : http://falsettoholic.multiply.com/reviews/item/2 ). Untungnya saya membacanya setelah saya menafsirkan sendiri lagu ini sebagai pembanding saja. Sejak lama sebetulnya saya menyukai lagu ini, bukan karena liriknya, tapi lebih ke komposisinya yang indah sekali. Anda pasti bakal setuju dengan saya kalau mendengar lagu ini. Hanya satu kata: INDAH.

Susananya menjadi lain saat ibadah Ramadhan sudah diujung garis finish dan perasaan campur sedih (karena Ramadhan akan pergi) dan bahagia (karena hari kemenangan ”sementara” akan tiba). Tadi sore setelah i’tikaf di masjid sebelah rumah, sebelum maghrib, saya nikmati lagi lagu ini. Berkali-kali saya putar dari cakram padat saya, dan kesannya semakin mendalam. Setiap torehan lirik yang ada seolah merupakan tutur kata yang diucapkan RAMADHAN (yang akan pergi) kepada saya.

Lirik asli:

“AIRMATA”

Ciptaan: Jockie S

Lirik: Iwan Fals

Disini kita bicara dengan hati telanjang

Lepaskan belenggu , sesungguhnya , lepaskan..

Sesuatu yang hilang sudah kita temukan

Walau mimpi , ternyata

Kata hati , nyatanya

Bagaimanapun aku harus kembali

Walau berat aku rasa kau mengerti

Simpanlah rindumu jadikan telaga

Agar tak usai mimpi panjang ini ..

Airmata , nyatanya

Sampai berapa lama kita akan bertahan

Bukan soal untuk dibicarakan

Mengalirlah…, mengalirlah….

Mengalirlah !

Interpretasi saya:

Disini kita bicara dengan hati telanjang

Lepaskan belenggu , sesungguhnya , lepaskan..

Di sini seolah Ramadhan yang suci mengatakan bahwa pada kesempatan yang paling baik ini, bicaralah sepuasnya, terang-terangan, “blokohan” (baca: terbuka – red.), karena selagi aku (Ramadhan) sedang sudi menghampirimu. Belum tentu tahun depan kamu akan aku temui kalau Rabbmu berkehendak lain.

Bicaralah kamu padaku, sepuasnya. Lepaskan semua tirai yang menyelimutimu. Ini saatnya kamu membuka dosamu di masa lalu. Bukalah …bukalah …selebar-lebarnya …semaumu …tanpa tedeng aling apapun …..sesukamu …freedom of speech! Katakan! Katakan!

Sesuatu yang hilang sudah kita temukan

Walau mimpi , ternyata

Kata hati , nyatanya

Akhirnya, (kata Ramadhan) kau temukan juga lukamu. Kau temukan perbuatanmu yang dulu kau anggap biasa ternyata merupakan dosa besar yang bisa membawamu ke adzab neraka yang pedih. Pernah kau renungkan apa yang kau lakukan itu sesuai hati-nuranimu? Tahukah kamu seberapa jauh kamu melenceng dari nuranimu?

Sudahkah kamu taddaburi makna ”lha illaha ilallah”?

Pernahkah kau tuhankan selain Allah?

Bagaimanapun aku harus kembali

Walau berat aku rasa kau mengerti

Aku diperintahkan oleh Rabbmu (kata Ramadhan) hanya menghampirimu selama satu bulan, dan mestinya kamu tahu. Memang terasa berat, namun aku tidak bisa melawan sunatullah, aku harus pergi …dan ini sudah saatnya aku pergi…sehari lagi.

Simpanlah rindumu jadikan telaga

Agar tak usai mimpi panjang ini ..

Airmata , nyatanya

Janganlah kamu bersedih

Jadikanlah perilakumu selama sebulan penuh ini menjadi perilakumu setelah aku pergi

Tetaplah kamu bersabar saat cobaan menerpamu

Tetaplah kamu tawadhu meski setan dunia merayumu

Dirikanlah salatmu secara berjamaah di masjid

”Kum!” …bangunlah di pertiga malam terakhir menegakkan qiyyamullail

Bermunajatlah kamu kepada Rabbmu, karena Dia lah tempat mohon pertolongan

Bertobatlah selalu

Istiqomahlah kamu dalam meraih takwa

Tetaplah kamu sodaqqoh

Santunilah anak yatim

Jangan hardik orang miskin

Jagalah pandanganmu, ucapanmu

Sayangilah tetanggamu karena mereka itu saudaramu

Muliakanlah masjid

……..

Ini semua aku katakan kepadamu

Agar kamu tidak terjerumus dalam kepedihan

Yang menuai air mata

Dan …siapa tahu aku tak pernah menghampirimu lagi

Karena Rabbmu berkehendak lain …

Sampai berapa lama kita akan bertahan

Bukan soal untuk dibicarakan

Mengalirlah…, mengalirlah….

Mengalirlah !

Seolah Ramadhan mengatakan perlunya istiqomah dalam meraih takwa. Bukan hanya kata yang diperlukan, namun juga perbuatan. Akhlak yang konsisten dan mengalir secara alami…mengikuti sunatullah ….

Salam,

G

29 Ramadhan, 1429 H

29 September 2008

Ngeprog di Masjid yuk!

September 25, 2008

Kenapa tidak? Ini kan sudah sepuluh hari terakhir Ramadhan! Lagian .. tahun depan belum tentu lho kita bisa memasuki Ramadhan. So, kita ikuti ajalah sunnah rasul…yang selalu melaksanakan i’tikaf di masjid. Ini saat paling tepat memohon ampunan dari Allah swt. Ingat lho tembang Epitaph nya King Crimson yang mengingatkan kita pada kematian. Kalo itu datang besok pagi, hayo … gimana? Apa kita siap? Genesis pun bilang melalui Peter Gabriel melantunkan lirik “The scene of death is lying just below!” ….makanya ini saatnya kita ndelosor mohon ampun ke Allah swt, berdzikkir, bermunajat, bertaubat, melalui qiyyamulail …

Ada yang mau coba di Masjid Sunda Kelapa? Rencana mau kesana malam ini neh .. hayo kita i’tikaf .. syahdu banget ..nuikmat pol …!!!!

Ini laporan saya ….

I’tikaf Ramadhan 1429 H (bag 1)

I’tikaf Ramadhan 1429 H (bag 2)

Salam,

G

“Felona E Sorona” by Le Orme

September 23, 2008

Bagi yang gak mengikuti Italian Prog, mungkin nama LE oRME cukup janggal. Namun, jangan sepelekan grup ini. Ini adalah satu dari tiga grup prog rock Italy yang patut dibanggakan, selain BANCO dan PFM.

ORME, LE Felona E Sorona progressive rock album and reviews

ORME, LE — Felona E Sorona
Review by Gatot (Gatot Widayanto)
Special Collaborator Honorary Collaborator

5 stars This is a masterpiece Italian progressive rock album by Le Orme (one of three progressive acts from Italy with other acts were Banco & PFM). The music is original in style even though there are styles that remind me to bands like The Nice, ELP, Refugee, Genesis and Yes. The key elements of the composition comprising keyboard as major act while bass guitar is also quite dominant, followed with drums. They wrote the music with tight composition, dynamic time signatures, quite complex yet the melody has been maintained catchy and there are heavy influences of classical music.

Melodic Symphonic Prog, in Dark Mood ..

The album opener, “Sospesi Nell Íncredibile (In between)” (8:43), is an inspiring and challenging to observe. It starts with ambient yet energetic organ work in symphonic style reminiscent of ELP or the Nice or Refugee followed with drumming in dynamic way plus bass guitar work. The first 2 minutes plus, the music deals with acrobatic nature of organ work until at approx minute 2:25 when the vocal enters in dark mood. The organ follows the music at background. In the middle of the track there is stunning organ work augmented by tight bass lines …and later, the drumming enters dynamically and combined together they make great progressive sound. It’s one of my favorite tracks.

“Felona” (1:58) is basically an acoustic guitar, accompanying vocal, while the next track “La Solitudine Di Chi Protegge Il Mondo (The maker)” (1:57) which has catchy melody demonstrated by vocal, backed up beautifully by piano touches in classical music style. The organ solo at the end of the track is really a great embarkation point to higher energy track “L’Equilbrio (Web of time)” (3:47) which flows brilliantly at the end of previous track, seamlessly. This is another great composition as the music style changes from one segment to another. The keyboard work at approx minute 0:38 demonstrates symphonic nature of the song. And the bass guitar plays dynamically here. The keyboard work at minutes 1:22 is quite similar with Genesis “The Fountain of Salmacis”. Influenced? It might be … as “The Fountain of Salmacis” is from “Nursery Cryme” album released in 1971. But overall, this track is superb!

“Sorona” (2:28) is a very melodic and nice song in acoustic version, no drumming, with dark mood. I like the way how simple keyboard work augmented by simple guitar fills provides great foundation for “melodic” vocal to enter the music. It’s so sad in nuance, dark, but it’s truly a nice melodic vocal line. Especially, because it’s said in Italian language and I think Italian is the best language for progressive music. It’s better than English, really. Just compare this track with ELP’s “The Sage”… I think you will honestly say that “Sorona” is much better. Don’t believe with me? Try it now!

“Sorona” flows wonderfully to next track “Attesa Inerte (The plan)” (3:25) which starts ambient with great symphonic multi-layered keyboard sound augmented by nice bass guitar work. At 0:48 the music changes the style and .. oh my God! The vocal line enters brilliantly here, in similar vein like “Sorona”. Again, the use of Italian language has made the song sounds so solid. The music turns to ELP-like with its keyboard-driven work. The song moves seamlessly to “Ritratto Di Un Mattino (The Balance)” (3:29) which the first half is an acoustic keyboard work and the later half comprises drums and other instruments.

“All Ínfuori Del Tempo (Return to naught)” (4:08) sounds like different style than the previous tracks even though still in the corridor of Italian typical prog. It uses acoustic guitar and vocal in straight forward composition. Full music only appears at the end of the track. The album concludes with “Ritorno Al Nulla” (3:34) through the sound of long sustain keyboard followed with brilliant organ work and drumming that reminds me to The Nice or Refugee. This last track is a nice instrumental.

Overall, what can I say about this masterpiece work with killing melody in almost all individual track? Considering the year of release, you might compare this album with Genesis “Selling England By The Pound” or ELP “Brain Salad Surgery” and this album is at par excellent with those two legendary albums. I consider the music of this album is a melodic symphonic prog with dark mood. Keep on proggin’ ..!

Peace on earth and mercy mild – GW (i-Rock! Music Community)

Album Details:

Studio Album, released in 1973

Track Listings

1. Sospesi Nell Íncredibile (In between) (8:43)
2. Felona (1:58)
3. La Solitudine Di Chi Protegge Il Mondo (The maker) (1:57)
4. L’Equilbrio (Web of time) (3:47)
5. Sorona (2:28)
6. Attesa Inerte (The plan) (3:25)
7. Ritratto Di Un Mattino (The Balance) (3:29)
8. All Ínfuori Del Tempo (Return to naught) (4:08)
9. Ritorno Al Nulla (3:34)

Total Time: 33:39

Line-up/Musicians

- Aldo Tagliapietra / vocals, bass, guitar
– Toni Pagliuca / keyboards
– Michi Dei Rossi / drums

Releases information

LP Philips 6323 023 (1973)
Late 70’s Philips / Successo (6323 023)

Freedom of Rhapsodia

September 19, 2008

Pengusung Sweet Rock dari Bandung

Oleh:Fauzi Djunaedi/MH Alfie Syahrine/KPMI

Jika kita menelusuri jejak perkembangan musik di kota Kembang Bandung sekitar tahun 60an, maka selain grup The Rollies, Paramor yang sudah dikenal, sebenarnya masih adalagi grup musik yang menjadi andalan kota Bandung. Ya… kelompok musik Freedom of Rhapsodia, yang biasa membawakan lagu-lagu barat/asing ini dibentuk oleh beberapa nama musisi, antara lain: Soleh Sugiarto Djayadihardja (drums, vocal); Deddy Dores (lead guitar, vocal); Utte M.Thahir (bass) dan Alam (lead vocal).

 

Namun jika ditelusuri lebih kebelakang, cikal bakal grup Freedom of Rhapsodia ini berawal dari grup Rhapsodia, dimana bergabung Utte M.Thahir (bass); Alfred (gitar); Ibung (drums); Sondang (keyboard) dan Alam (vocal). Setelah beberapa saat, Rhapsodia mengalami permasalahan internal yang berakibat dengan pergantian personil dan dengan masuknya Deddy Dores (keyboard, lead guitar), nama Rhapsodia pun ditambah dengan awalan Freedom.

 

Order untuk manggungpun sangat padat karena Rhapsodia merupakan band idola para pemaja di kota Bandung pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, disamping aksi panggung mereka yang atraktif serta para personilnya yang ganteng-ganteng, sebut saja; Deddy Dores yang sering disebut sebagai ”Wonder Guy” karena selalu memakai kacamata hitam baik siang maupun malam, Deddy saat itu disebut sebut sebagai Edger Winter-nya Indonesia karena gaya permainannya dan senangnya dia menyanyikan lagu-lagu Edgar Winter seperti Southern Woman, Free Ride dll, adalah motor penggerak hidupnya aksi panggung disamping kelincahan lead vokalnya Soleh Sugiarto yang saat itu disebut sebut sebagai Alice Cooper-nya Indonesia karena seringnya dia membawakan lagu-lagu Alice Cooper seperti lagu ”School Out” yang merupakan lagu kebangsaannya diatas panggung,belum lagi Johanes Sarwono yang imut-imut ini mahir bermain keyboard, Kiky yang rambutnya suka diponi dahsyat dalam menggebuk drumnya dan Uthe yang lincah pada bass serta Dave Tahuhey yang sangat atraktif bermain Saxofon. Disamping itu mereka juga sering membawakan lagi-lagu dari Santana, James Brown, Deep Purple dan Uriah Heep disetiap penampilannya.

 

Kekuatan aransemen musik grup ini dimana mereka mampu memadukan alat musik tiup “brass section” ketika memainkan nomor-nomor souls dari James Brown, dan hard rock dari Deep Purple maupun Alice Cooper yang menjadikan ciri khas mereka , ketika merubah formasi grup ini, setelah didukung oleh: Soleh Sugiarto (drums ke lead vocal, trumpet); Deddy Dores (lead guitar, vocal); Utte M. Thahir (bass); Dave (saksophon, flute, ex group Memphis); Kicky (drums, ex group Memphis) dan J.Sarwono (organ), dan dengan formasi ini mereka terlihat lebih solid.

 

Dunia rekaman pun mulai dijelajah oleh Deddy Dores dan kawan-kawan. Pada tahun 1972, mereka masuk dunia rekaman dibawah naungan label Purnama Record. Album perdana yang melambungkan lagu hits ‘Hilangnya Seorang Gadis’ ciptaan J.Sarwono, membuat nama grup Freedom Of Rhapsodia semakin dikenal di Tanah Air yang kabarnya album ini terjual hingga 50.000 keping.. Terlebih lagi vocal Deddy Dores yang rasanya sangat pas sekali dengan tipikal warna musik di album perdana ini. Tidaklah mengherankan jika lagu ‘Hilangnya Seorang Gadis’ ini setelah 35 tahun kemudian (tahun 2007) di aransemen ulang oleh Erwin Gutawa dalam album Rockestra, malah lagu tersebut terdengar lebih ‘rock’ dan warna musiknya lebih ‘gereget’ dibandingkan dari versi asli Freedom Of Rhapsodia (tahun ’72).

 

Keberhasilan Freedom Of Rhapsodia dalam rekaman, membuat beberapa promotor musik di Jakarta berani mengajak grup ini untuk tampil dalam konser terbuka dengan grup-grup musik yang sudah terkenal saat itu. Pada 24 Desember 1972, di Taman Ria Monas Jakarta, grup Freedom of Rhapsodia ditampilkan dengan grup musik pop D’Lloyd, Jakarta yang sedang naik daun saat itu. Penampilan Soleh (vokalis) mampu menghentakkan suasana, selain membawakan lagu dari Alice Cooper mereka juga membawakan lagu karya sendiri, seperti ‘Free to Love Another Girl’, sehingga menarik simpati para penonton Jakarta malam itu. Sekaligus memproklamirkan diri nama Freedom tanpa Rhapsodia.

 

Seperti diketahui, pemakaian nama dengan mengkaitkan nama Rhapsodia ini berlanjut, seperti The Rhapsodia Kings. Bahkan ketika Deddy Dores bergabung dengan grup rock Giant Step (tahun ’74) pada awalnya disebutkan nama grup barunya bersama Benny Soebardja tersebut, Giant Step Of Rhapsodia. Sedangkan grup Rhapsodia sendiri “comeback” pada tahun 1976 dengan Machyul dan kawan-kawan sebagai pengibarnya.

 

Untuk memposisikan diri sebagai sebuah grup yang memainkan music rock, Freedom mulai aktif melakukan tour-tour ke berbagai kota di Indonesia. Pada bulan Maret 1973, bertempat di Gedung Tenun Malang, kembali grup Freedom tampil bersama grup rock tangguh AKA yang sudah merajai dunia musik rock saat itu. Lagu “Hilangnya Seorang Gadis” merupakan lagu pamungkas bagi grup Freedom selain lagu Freedom ciptaan mereka sendiri sebagai lagu kebanggan mereka, walaupun dalam pergelaran musik rock sekalipun. Aransemen musik tiup yang biasanya dipadukan dengan nomor lagu rock, sedikit-demi sedikit mulai disederhanakan dalam aransemen musik mereka. Mengingat vocal utamanya, Soleh yang harus memfokuskan bernyanyi dan aksi panggung agar dapat mengendalikan “showmanship” grup Freedom sebagai grup musik rock.

 

Saat tampil di kota Semarang pada Mei 74. Soleh, sang vokalis dengan mengenakan jubah putih sambil membawa obor, menyanyikan nomor lagu dari Osibisa, yang berjudul “La-Ila Ilala”, dianggap membuat ‘sensasi’ dan ke’heboh’an untuk ukuran saat itu. Pasalnya, para penonton agak marah dan protes dengan keberanian Freedom membawakan lagu tersebut, karena dapat dikatakan inilah lagu pop pertama kali yang memakai kalimat ayat suci Al Quran, memuja Tuhan dan RasulNya (dalam bahasa Arab) dinyanyikan dalam suasana pertunjukkan musik “rock” yang gegap-gempita. Bahkan para jurnalis dan pengamat musik Semarang saat itu menilai bahwa lirik-lirik lagu yang dibawakan Soleh tersebut tergolong “liar” dan dianggap “menghina Tuhan”. Akibatnya, pihak berwajib melarang pemutaran lagu itu diseluruh radio-radio swasta di Jawa Tengah.

 

Dampak dari “kehebohan” mereka saat show di Semarang tersebut terdengar hingga ke kota asal mereka, Bandung. Dua (2) hari setelah itu, ketika Freedom diminta main di Gedung Merdeka Bandung untuk mengisi acara pesta sebuah sekolah, Soleh dan kawan-kawan berniat membawakan lagu Osibisa yang menghebohkan Semarang tersebut untuk menguji reaksi dan pandangan masyarakat Bandung. Namun niat ini tidak jadi dilakukan, karena “Ngeri juga masuk penjara”, komentar Soleh. Bahkan dari pengalaman selama mengadakan pentas pertunjukkan diberbagai kota di Indonesia, baru pertunjukkan kali ini Freedom dijaga ketat diseputar panggung oleh aparat keamanan berjumlah 20 orang, yang lumayan banyak untuk ukuran saat itu. Namun permintaan maaf Freedom kepada masyarakat Bandung lewat media cetak tetap dilakukan Soleh dan kawan-kawan, mengingat dua diantara para personil tersebut orangtuanya ada yang dikenal sebagai tokoh agama/ulama di Bandung saat itu.

 

Pada bulan Oktober 75 saat tampil bersama grup rock Ternchem, asal Solo di Taman Hiburan Rakyat Diponegoro Semarang, diantara personil Freedom yang tetap, ada nama Choqy Hutagalung (organ) musisi yang dikenal pernah bersama Eros Djarot semasa di Jerman membentuk grup Kopfjaeger (cikal bakal grup Barongs Band) dan pernah bergabung dengan Gang of Harry Roesli di awal tahun 70an. Kehadiran Choqy sebagai pemain organ sedikit banyak dapat mengimbangi peran J. Sarwono maupun Deddy Dores semasa mereka di grup Freedom ini. Bahkan nomor lagu “Love Story” sempat menarik simpati penonton ketika dimainkan Choqy secara manis diantara repertoar lagu-lagu keras yang dibawakan Freedom. Sedikit berbeda dari tampilan Freedom kali ini, ialah Soleh, sang vokalis dengan memakai “wig” kribo, sehingga terlihat seperti ke’banci2’an dengan kostum agak bercorak ‘glitter rock’ mampu menguasai penonton dan menuai sukses.

Keberadaan grup Freedom dalam dunia rekaman musik Indonesia, sempat terhenti ketika Freedom sudah menyelesaikan album keempat. Hal ini disebabkan karena mundurnya Deddy Dores (lead guitar, keyboard, vocal) yang sangat berperan dalam penciptaan dan penataan musik serta sebagai vokalis utama grup Freedom. Masa jeda yang berkepanjangan di dapur rekaman, akhirnya berhasil diatasi oleh Soleh dan kawan-kawan (tahun 1976) sejak hadirnya musisi Ferry Atmadibrata (organ) mantan personil No Bo asal Bandung serta Joko Juwono (gitar) menggantikan Utte. Dalam formasi ini, terlihat bahwa warna musik grup Freedom lebih dominan ke warna musik pop ketimbang warna musik pop-rock pada awalnya. Nomor lagu ‘Mawar Putih’ ciptaan Soleh Soegiarto (vokalis) dijadikan salah satu nomor andalan pada album kelima ini, dimana terasa sangat dipengaruhi warna musik grup Bimbo dan sangat kental dengan warna musik pop.

 

Sejak mundurnya Deddy Dores (Juni 1973), untuk bergabung dengan grup rock baru God Bless yang dimotori Achmad Albar, tidak membuat Soleh dan kawan-kawan terpengaruh. Malahan dalam formasi baru ini: Soleh (vocal); Utte (bass); Dave (lead guitar); Sarwono (organ) dan Kicky (drums), keberadaan aksi panggung yang ditampilkan Freedom saat tampil bersama grup AKA di Gelora Pancasila, Surabaya pada bulan Agustus 1974 semakin memikat mata. Aksi panggung Soleh, yang memang fanatik dengan gaya ala Alice Cooper, dengan diselingi atraksi melepaskan burung-burung merpati putih, sering mengundang simpati dari para penonton dan juga dari musisi rock yang tampil. Pasalnya, mereka mengidentikkan burung-burung merpati tersebut sebagai lambang “perdamaian” bagi sesama musisi rock yang kala itu sering diadu “duel meet” oleh sponsor pertunjukkan, seolah-olah ada yang harus kalah.

Semaraknya musik pop progresif ala Badai Band pada awal tahun 1977, membuat grup Freedom semakin sulit untuk memposisikan keberadaan warna musiknya dalam era ini. Sedangkan Soleh Soegiarto (vokalis), malahan sempat bersolo karir dengan membuat album ‘Sang Kala’ dibantu teman sesama musisi Bandung pada tahun 1978. Nomor lagu “Sang Kala” yang dinyanyikan Soleh, lebih menebarkan warna musik pop “mellow” dengan aransemenn yang jauh berbeda dengan trend musik yang ada.

 

Pada saat masuknya nama musisi Chossy Pratama kedalam formasi Freedom ini, mereka sempat membuat satu album “repackage” yang diberi judul “Freedom Of Rhapsodia 93”, dimana warna aransemen musiknya agak sedikit berbeda dari sebelumnya. Hal ini mengingat bahwa, kehadiran Chossy Pratama, selain sebagai keyboardis juga sebagai pencipta dan penata musik untuk grup ini. Diluar grup ini, ia bahkan sering membantu dalam pembuatan illustrasi musik untuk beberapa film sinetron remaja. Namun eksisnya nama Chossy Pratama di grup Freedom ini, belumlah membantu grup ini untuk berkiprah lebih banyak didunia musik Indonesia, karena situasi dan kondisi dunia permusikan tidaklah serupa dengan awal kebangkitan mereka.

 

Meredupnya grup Freedom, seakan-akan seiring dengan mulai dikenalnya nama para personil yang berkiprah diluar bendera grup ini. Soleh Soegiarto (vokalis), semakin terkenal setelah menjadi aktivis salah satu organisasi kepemudaan dan sekarang menjadi anggota DPRD di kota Bandung; Utte (bass) lebih memilih kuliah dan sekarang menjalankan bisnis entertainment; J. Sarwono (Keyboard) sekarang menjadi Lawyer; Kicky (drums) masih melanjutkan karirnya didunia “entertainment”; Deddy Dores (lead guitar/vocal) lebih menonjol sebagai pemandu bakat artis penyanyi rock seperti Nike Ardilla (alm), Nia Astrina, Mayangsari (sekarang beralih ke musik pop) dan beberapakali membentuk grup music diantaranya Superkid, Lipstick, Caezar, Sansekerta dsb, dan sekarang sebagai Ketua Suara Perjuangan Artis Indonesia (Spaind). Sedangkan Chossy Pratama dikabarkan telah menjadi pengusaha yang sukses. Ferry Atmadibrata, sempat bergabung dengan One Dee Group (pimpinan Wandi ODALF), selain sebagai pencipta lagu dan penata musik di beberapa rekaman penyanyi komersial.

 

FREEDOM IS BACK

Setelah lebih dari tiga dekade menghilang, beberapa waktu yang lalu mereka tampil pada acara Blues Night di TVRI untuk menggobati kerinduan pengemarnya, Freedom muncul kembali dengan formasi Djoko Yuwono (gitar), Kiky (drum), Ferry Atmadibrata (keyboard), Dave Tahuhey (Bass), Harry Potjang (harmonika) dan Soleh Sugiarto (vokal) mereka menyanyikan tiga buah lagu, dan yang paling mengagumkan adalah ketika mereka menyanyikan lagu dari The Doors ” Light My Fire” yang dinyanyikan oleh Soleh Sugiarto dan Djoko Yuwono yang dinyanyikan dengan sangat prima.

 

Discography:

Freedom Of Rhapsodia

1972. Vol 1 (Hilangnya Seorang Gadis ) Purnama Record

1973. Vol 2 (Hancurnya Sebuah Harapan ) Purnama Record

 

Freedom

1974. Vol 3 ( Tak Pernah Bahagia ) Purnama Record

1974. Vol 4 ( Dedication ) Purnama Record

1975. Vol 5 ( Jangan Lupa Tertawa)Purnama Record

1975. Pop Mandarin

1983. Freedom Of Rhapsodia’83 Asri Record/Asia Record

1991. Freedom Of Rhapsodia’91 Bursa Musik

 

Rhapsodia

1977 Superstar. Nusantara Record

 

Solo album Soleh Sugiarto

1977 Sang Kala Purnama Record.

Dapet oleh2 Plat MARILLION “Fugazi”

September 17, 2008

JRENG!

Seneng banget kemarin ada temen yang baru pulang dari Londo (baca: Belanda) membawa oleh2 nuansamatik kemlitik nostalgik: sebuah plat dari album kedua Marillion, Fugazi:

Dijepret langsung dari platnya. Ini gambar yang asik buanget!

Dijepret langsung dari platnya. Ini gambar yang asik buanget!

Tinggal cari plat Script sama Clutching aja, soalnya Misplaced udah punya …he he he …

Yang selalu menarik adalah artworknya bila dipandang dengan membuka plat melebar dan diliat front sama back covernya menyatu, melukiskan kamar si jester yang berantakan, menandakan kerja keras … Wis jan keren muantebsz tenaaannn ….!!!

Bahasan albumnya di sini ye:

Semoga MARILLION gak Ngepop

Salam,

G

The Underrated CITIZEN CAIN

September 15, 2008

JRENG!

Udah pernah denger nama band CITIZEN CAIN? Kalau belum denger, gak papa, ini band memang gak begitu dikenal khalayak kok. Band ini tergolong baru, angkatan 90an (meski sudah mulai berkiprah sekitar 1982an, tapi tanpa album), yang saya kenal justru baru tahun 1998. Namun, bagi yang suka koleksi kaset Yess, di pertengahan 80an Yess pernah mengeluarkan kaset kompilasi bertajuk Fire In Harmony, ada satu lagunya Citizen Cain berjudul “Unspoken Words“. Kalo bang Ijal (Rizal B. Prasetijo) tahun tersebut merupakn tahun kembalinya ke kehidupan religious, lha kalo saya malah kembali ke progressive rock yang saya tinggalkan sejak Fish keluar dari Marillion di tahun 1988. Sejak Fish keluar dari Marillion, saya sudah gak anggep ada lagi musik bermutu karena album Marillion setelah Fish keluar berorientasi beda .. mbelgedhes koyok bedhesz! Sejak itu prog rock tak lepeh.

Di awal 1998 itulah saya berkesempatan main ke rumah I’an Arliandy (konseptornya kaset Yess) di Bandung dan ngobrol sama anaknya yang juga progger, namanya Ricky. Dari obrolan di kamar Ricky tersebut saya baru “ngeh” ternyata banyak band penerus symphonic progressive rock. Bahkan Ricky memutarkan CD dari album IQ terakhir bertajuk “Ever” yang membuat saya langsung nggeblak ping kopang kaping … Uediyan .. ternyata meski Marillion is dead, prog rock is still alive! CD IQ “Ever” tersebut bahkan atas kebaikan Ricky dipinjamkan ke saya untuk saya bawa pulang ke Jakarta. Tidak hanya itu .. Ricky juga memeberikan saya katalog musik prog rock 90an dari label di UK namanya CYCLOPS. Di katalog sederhana tersebut saya menemukan banyak band aneh termasuk: SINKADUS, FLAMBOROUGH HEAD, FRUITCAKE, CITIZEN CAIN dan ratusan band lainnya yang sebelumnya saya tidak kenal.Saya langsung beli CD dari band2 tersebut ke CYCLOPS langsung ..(nama orangnya di Cyclops: Malcolm Parker). Thanks to internet technology!!

Tahun 1998 memang tahun gila saya ke prog rock kembali mencuat. Kalo gak salah saya beli CD dari Cyclops mencapai 40an CD, saking merasa tertinggal dengan perkembangan prog. Salah satu band yang memikat saya adalah CITIZEN CAIN yang berbasis sama seperti Marillion: dari Skotlandia, dan berformat musik sangat dipengaruhi Marillion, Jethro Tull dan Genesis. Ada empat CD yang saya beli saat itu: “Serpent in Camouflage”, “Somewhere But Yesterday”, “Raising The Stones” dan terakhir “Ghost Dance” (yang ini saya beli dari toko Iwan Hassan di Blok M, beberapa bulan kemudian).

Citizen CainSomewhere But Yesterday album cover“Somewhere But Yesterday” (1994) adalah masterpiece dari karya CITIZEN CAIN. Musiknya bener2 penggabungan antara Genesis era Gabriel dan Jethro Tull. Pengaruh Genesis bisa dikatakan 80%, sedangkan Tull sekitar 10% dan Marillion/IQ sisanya. Ada lima track di album ini dimana track kedua “Junk and Donuts” (8 menit) langsung menghunjam hati saya hingga nggeblak nggulung koming ping kopang kaping! Kenapa? Komposisinya sangat mumpuni. Diawali dengan petikan gitar klasik ala “Blood on Rooftop“nya Genesis, musik simfonik progresif mengalir indah dengan mengiring vokal berkarakter suara berat nada rendah ala Peter Gabriel, dilantunkan oleh Cyrus (leader of the band). Penggemar Genesis era Gabriel sudah pasti terkecoh seolah musik ini adalah Gabriel kembali ke Genesis dengan album baru. Bahkan, saya pernah mengecoh radi M97 saat itu dengan mengirim copy lagu ini dan mengatakan bahwa ini merupakan Gabriel kembali ke Genesis dan merekam satu lagu ini. Percaya lho, langsung diputar di radio itu! Wuih saya bangga tenan bisa mengecoh pendengar! Bukan apa2 .. suara Cyrus mirip banget sama Gabriel … Lagu ini bener2 indah dalam hal melodi dan olah vokal si Cyrus yang berhasil mengelabuhi pendengar seolah the return of Gabriel to Genesis. Yang juga hebat adalah “interlude”nya menggunakan flute ala Tull disahut sama kibor dan gitar. Udah deh .. pokoke penggemar Genesis era Gabriel pasti dijamin kepincut sama band gila satu ini! Lekukan melodinya itu lho, jan uwediyaaaaaannnnnnn tenaaaaaaaaaaaannnn!!!!

Yang gak kalah hebatnya adalah title track “Somewhere But Yesterday” yang berdurasi 25 menit (termasuk Citizen Cain picturekuliah politik seorang professor di bagian akhirnya, yah 2 menitan gitu).  menikmati lagu ini saya ingat Supper’s Ready nya Genesis. memang harus diakui lagu ni tidak sedinamis Supper’s Ready, namun tetep aja saya menikmati setiap penggalan segmen musik selama lagu ini berkumandang. Adrenalin saya muncrat dah menikmati lagu yang diawali magis dengan bunyi kibor mendayu-ndayu penuh ambient, disertai alunan vokal Gabriel-like dari Cyrus. It flows naturally and beautifully with a stream of keyboard and guitar work accompanying powerful voice by Cyrus. Lagu ini bener2 mencapai puncak dan gak pernah turun lagi (stay at peak all the time) mulai menit 11:11 saat petikan guitar listrik ala Hackett disertai kibor mendayu mengiringi vokal Cyrus …biyuh … nggeblak akau! Apalagi saat ada suara anak kecil cewek yang bilang “This is contaminated!” dan disahut suara Cyrus “EVERYTHING!” dengan lafaz Gabriel banget. Uediyann!!! Gusti Alloh nyuwun ngapuro …..!!! Ini musik dahzyat banget!!!! Tobh markotobek …!!!

Pokoknya .. menurut saya “Somewhere But Yesterday” ini seperti Genesis post “The Lamb Lies Down on Broadway” dengan kembalinya Gabriel ke Genesis dan menggunakan format jaman normal (istilah bang Ijal).

Wiken kemarin saya putar kembali semua album Citizen Cain nganti nggeblak nggulung koming ping kopang kaping ….! Khusus album “Somewhere But Yesterday” tak setel bolak-balik saking huenake ..jan tobat!

(saat ini saya lagi nyetel dan pas lagu Somewhere But Yesterdaynya memasuki daerah PUNCAK .. yaitu menit 11:11 … biyung …..biyung .. ampuuuuuuuuuuuuuuunnn…..!!!)

Hamba siap membahas band ini di ProgRing yang akan datang .. ProgRing #5 …di kafe Tornado, sampek jam 2 malem dah ….

Salam,

G

CITIZEN CAIN

Somewhere But Yesterday

Studio Album, released in 1994

Track Listings

1. Jonny Had Another Face (10:30)
Parallel Lines (1:07)
2. Junk And Donuts (9:19)
An Afterthought (0:21)
3. To Dance The Enamel-faced Queen (10:24)
Beyond The Boundaries (1:03)
4. Somewhere But Yesterday (25:40)
i) Owls (1:47)
ii) Obsessions (5:41)
iii) The Ballad Of Creepy John (3:52)
iv) Echoes-The Labyrinth Penumbra (4:47)
i) All The Sin’s Men (4:44)
vi) Farewell (2:31)
vii)A Word In Your Ear (2:18)
5. Strange Barbarians (11:48)
The Mother’s Shroud (2:24)

Total Time: 67:48

Line-up/Musicians

- Nick Arless / drums
– Stuart Bell / keyboards
– Cyrus / lead vocals
– Andy Gilmour / bass
– Alistair MacGrego / guitar

Releases information Cd. Silly Insects SYMPLY Fiftytwo / Cd. Cyclops CYCL 049 (1997)

Review CITIZEN CAIN yang pernah saya tulis di Progarchives:

3 stars CITIZEN CAIN – Playing Dead (read review)
3 stars CITIZEN CAIN – Raising The Stones (read review)
4 stars CITIZEN CAIN – Serpents In Camouflage (read review)
5 stars CITIZEN CAIN – Somewhere But Yesterday (read review)

The Religious Side of an Executive

September 9, 2008

JRENG!!!!

Whoaaaa …pasti salah alamat neh, ngomongin topik kepemimpinan yang religius kok di blog musik yang katanya “Music for Life”!!! Opo tumon?? Kredibilats saya bisa dipertanyakan dong, ini blog maunya apa sih? Kok sembarang kalir (baca: “semua hal” – red.) dibahas, kayak gak ada kerjaan aja! Lha .. yang bilang saya ada kerjaan itu siapa? wong kerjaan saya cuma nulis di blog, menikmati musik prog rock / claro, menulis review prog, memprovokatori human beings supaya ngeprog, shalat, ngaji…, jadi ya yo ben (baca: “biarin” – red.) Jadi, kalo kredibilitas saya sebagai pengelola blog ini hanya dipandang sebagai punya kerjaan atau kagak, itu bukan pertanyaan “strategic” bagi saya. Ya nggak? 3x (sambil mengatakan ini alis mata naik turun 3 kali. Coba bayangkan dan praktekkan!).

Ada tiga alasan (kenapa ya, kok selalu tiga?). Pertama, aspek “life” di dalam moto “Music for Life” kan luas banget, jadi ya bebas dan syah syah aja dong membahasnya di sini. Kalo Anda sedang di sebuah desa terpencil kemudian di situ Anda menikmati alunan musik alam ciptaan Allah SWT dari turunnya air terjun dan Anda mengambil makna dari kegiatan tersebut …that’s basically “Music for Life”. Bener gak? Termasuk di sini, saya kan juga kadang menulis “Merajut Makna Melalui Prog” yang berseri sampai ke 20, ini juga pada dasarnya menganggap musik sebagai media kontemplasi supaya hidup di dunia yang fana ini bisa kita maknai secara positif dan (yang lebih penting) progresif. Lakum tatakum.

Kedua, judul ini ada kaitannya dengan hajatan sebuah acara akbar di stasiun radio tempat proggers di blog ini pernah menyematkan acara berseri “The Religious Side of Prog Rock” sampai dengan seri ke 3. Sebetulnya acara tersebut mau dilanjutkan oleh proggers di blog ini, menyambung dengan seri 4, 5, 6 ..dst. Namun sayang .. acara tersebut, dalam naungan Saturday Night Rock (yang namanya juga diusulkan oleh proggers di blog ini menggunakan komunitas i-Rock!) keburu di ‘bredel’ dengan alasan resmi “sedang re-orientasi program menjadi radio entertainment’ sampai waktu yang tidak bisa ditentukan (terserah si radio, sebagai pemilik media). Psst ..namun kayaknya ada alasan tak resmi karena ada pesan dari petinggi radio yang tertulis di layar komputer internal pada saat seri ke 3 dikumandangkan saat itu. Isi pesannya kira2 …”Jangan banyak mengutip Al Quran kasihan pendengar yang non muslim….”. Pesan tersebut terbaca juga oleh salah satu proggers di blog ini ….  Syiar agama kok ndak boleh ya? Namun apakah alasan tak resmi ini adalah yang sebenernya atau bukan, ya Walahualam bisawab … Lagian bulan Ramadhan kok syu’udhon .. yo ndak boleh to. Kita telen aja alasan resmi “re-orientasi program” tadi ye? Allah swt MAHA MENGETAHUI.

Hajatan tersebut adalah:

TALK TO CEO “The Religious Side of an Executive”

Trijaya FM 104.6, Friday, 12 Sept 2008 (15:15 – 16:30)

Nara sumber : Senior Country Officer, JP Morgan

Ketiga, Anda semua bisa tebak…Yak!!! Yang jadi narsum itu lho … temen kita sesama proggers dan cukup vokal di blog ini maupun di acara rutin bulanan ProgRing (progressive gathering) dimana beliau selalu semangat kalo bicara tentang Gordian Knot maupun bi-amping techniques dalam permainan bass gitar. Tentu .. dialah Bang Ijal, alias Rizal B. Prasetijo yang sudah kita kenal ….. Bang Ijal bakal bicara tentang nyantri dan hobby ngeprognya di Trijaya FM. Pasti menarik nih ……. So … SIMAK !!!!

JRENG!

Salam,

G

Bang Ijal di ProgRing #3, 31 Mei 08, membahas SHARKMOVE

Bang Ijal di ProgRing #3, 31 Mei 08, membahas SHARKMOVE

UPDATED on Sept 10, 2008:

Gak janjian lho kalo ternyata foto dari flyer resminya versi Trijaya sama dengan yang di atas..he he he .. Ini lho flyernya:

Laporan ProgRing#4

September 4, 2008

JRENG!

Hampir lupa posting laporan ProgRing#4 yang lebih tepat disebut PROG CLINIC tanpa dokter. Lho? Iya .. lha wong yang dateng pake’ shift ..aplusan gitu …ha ha ha ha …. Mulai dari Kang Edwin dan Pak Alfie, kemudian saya dan kang Agam Fathurohman. tak lama kemudian mas Pur, kang Indra Kusuma juga hadir. Seru juga, karena masih sepi kita DAULAT kafenya buat pasangin CD dari Classic Rock terbaru sambil apresiasi sekali. Biyuh pak Alfie paling semangat mengapresiasi musik2 yang ada di CD tersebut. Separuh CD berisi lagu2 legend dimainkan kelompok lain dan selanjutnya lagu2 baru. Pokoke mantebs….

Kang Edwin (ki) dan keponakannya, Lody (ka) yang sedang "cultching at straw" sambil baca Classic Rock terbaru ...

Kang Edwin (ki) dan keponakannya, Lody (ka) yang sedang

Kemudian hadir mas Adi, Lody, kang Tatan (yang dateng cumak sak nyukan) disambun kemudian bang Ijal. Yang paling seru adalah kegiatan penyedotan (baca: Clutching at Straw). Mulyono tenan … ha ha ha…

Hari itu konon mas Tom Crimson mau hadir tapi gak nongol …kemana aja nih? Pak Alfie kecewa lho …ha ha ha….

Ntar ProgRing #5 menyusul ye ….

SELAMAT MENJALANKAN IBADAH DI BULAN RAMADHAN

Utamakan ngaji ketimbang ngeprog …karena ngaji ganjarannya jelas: surga, kalo ngeprog ganjarannya dapet temen …tapi temen juga membantu kita masuk surga kok …makanya tetep ngeprog aja ..tapi jangan pas Ramadhan ..mendingan buat ngaji dah …sama Qiyyamulaiil yah ..ojo lali! Ntar kalo kita ketemu di surga bisa ngeprog bareng ye … di taman dimana mengalir sungai2 di bawahnya .. Amin ….

Salam,

G


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers