Archive for August, 2008

ProgRing #4: Sat, Aug 30, 2008 @ 1:00 PM, CITOS

August 27, 2008

JRENG!

Jangan lewatkan hadir di event reguler kita, sekaligus menyambut Ramadhan yang insya Allah kita akan masuki hari Senin (bener gak?). Dateng ye di SOHO Cafe, CITOS pada hari Sabtu tanggal 30 Agustus pada jam 1:00 siang. Jangan lupa shalat Dzuhur dulu TEPAT WAKTU, BERJAMAAH DI MASJID … baru menuju CITOS. Kalo mau shalat di Cilandak, ada mesjid nuansamatik di Jl. Cilandak Tengah III. Abis itu ke Soho Music ye … Wajib lho shalat Dzuhur dulu ….

BTW .. kang Benny Soebardja insya Allah akan hadir juga …. Mau ngejam kita? Saya siap bawain MARILLION era Fish! Hua ha ha ha ha ha …

Salam,

G

Resensi GENESIS “Chapter & Verse”

August 26, 2008

JRENG!

Akhirnya kelar juga bikin resensi buku hebat dari band super duper hebring GENESIS bertajuk “Chapter & Verse”. Jujur saja… saya sudah sering mereview buku, namun mereview buku ini sulit pol. Lho? Iya .. saking sudah senengnya dengan Genesis sejak SD, rasanya setiap informasi di tiap halaman adalah penting. Lha kalo semua ditulis, kan jadinya bukan resensi tapi menerjemahkan? Lha terus kapan selesainya??? Hua ha ha ha .. Itulah tantangannya. Makanya dengan sangat ekstra hati2 dan bertapa dua minggu akhirnya …rampung juga dan dikirim ke redaksi Koran Tempo kemarin, sesuai jadwal yang diminta. (Progger harus tepat waktu dong kalo dikasih deadline. Kalo gak tepat waktu, namanya “Longer” …alias suka memperpanjang waktu. Wis jan gak nyambung blas! ha ha ha ha ha …).

Kriteria yang saya pakai adalah (dalam menentukan informasi buat resensi):

  • Memakai pendekatan leadership (kepemimpinan) . Lho, meskipun rocker dan progger, saya ini kan business consultant yang kerjaannya gak jauh dari consulting, kasih training, coaching, thoughts leadership …lha kan asik membahas buku tapi dengan approach “berbeda”. Kalo ndak beda kan ndak prog to?
  • Saya memakai pendekatan semi-scientific yaitu dengan mengkaji cara kerja band Genesis ini melalui kacamata ahli organisasi dari Canada bernama Henry Mintzberg yang saya kagumi, dimana di tahun 79 beliau bikin buku namanya “Structures in Five”.
  • Saya tidak mau terkotak dalam pembahasan “sejarah” Genesis karena itu udah banyak bisa dibaca di internet.

Pokoke …. tunggu dimuat di KORAN TEMPO Minggu ye … 31 Agustus 2008 … pemanasan sebelum tarawih gitu …. he he he .. (kalau Redaksi Tempo meloloskan tulisan tersebut lho …)

Salam,

G

Leyeh2 sambil “Have a Cigar”

August 26, 2008

Tadi malem pulang kantor nyepedah ..eh tahu2 kok inget HAVE A CIGAR nya Pink Floyd. Padahal ini kan 70an abiszz!!! Tahu gak yang saya inget apa? Itu lho saat Gilmour nyanyi penggalan lirik “And did we tell you the name of the game, Boy?” disertai cengkok musik yang pas rasanya mak bleng adem kemlunyuszz gitu lho .. nuikmat!!!! Terus dilanjut dengan lantunan larik selanjutnya “We’re gonna ride a gravy traiiiiinn … yeeee yeeee yyeeee .. yeeah!” (Wuaduh mak !!! Uediyan nggeblak tenan akuuuuu!!!!). Begitu sampek rumah .. saya ambil CD Pink Floyd “Wish You Were Here” langsung skip track 3, HAVE A CIGAR .. puter kenceng (volume hampir setengah ampli) biar semua detil suara dan soundscapes nya mbecungul keluar …sambil leyeh2 nunggu keringat kering abis sepeda’an … biyuh …. jannah …bak di sorga ….. Diulang lagi ….terus nyetel track 1 SHINE ON YOU CRAZY DIAMOND …. muantabssszzzzzz……

Salam,

G

Genesis Yang Mana?

August 21, 2008

Thread ini saya tulis berdasarkan permintaan bro Ali Rasjid pada saat berkomentar di Banks pun Suka Fly on A Windshield mengenai pembagian era Genesis berdasarkan line-up. Secara spesifik, bro Ali Rasjid memilahnya sebagai berikut:

- sebelum hackett & collins gabung (from genesis, trespass)
– formasi ideal: banks, collins, gabriel, hackett, & rutherford (nursery till the lamb)
– formasi berempat bertanpa gabriel (a trick, wind, seconds out)
– formasi trio (and then, duke, abacab, till we cant dance)
– album terakhir dg ray wilson (calling all stations)
Ini pendapat saya, dari kacamata penggemar, yang sudah menyukai Genesis saat masih kelas 6 SD, melalui album Nursery Cryme utamanya lagu The Musical Box dan Harold The Barrel, kemudian menyusul menukai The Return of The Giant Hogweed.

Formasi Awal

Pada saat masih From Genesis To Revelation dengan formasi Anthony Phillips – Peter Gabriel – Tony Banks – Mike Rutherford dan John Silver, musiknya masih belum adventurous karena mereka sendiri (Gabriel) mengakui bahwa mereka mencoba meniru The Bee Gees. Namun sebetulnya, cikal bakal musik Genesis sudah terlihat jelas di beberapa lagu seperti When The Sour Turns to Sweat atau The Serpent. Dari segi musikalitas, saya sebenernya suka album ini. Bisa dikategorikan pop tapi gak pop banget.

Pasca peluncuran album From Genesis, setiap anggota Genesis sebetulnya lesu karena penjualannya hanya 649 keping dan tidak menjanjikan sama sekali. Namun mereka tetep saja menulis lagu dalam dua pasangan: Gabriel dengan Banks, Rutherford dengan Phillips. Pasangan yang terakhir ini cukup produktif karena mereka sering genjrengan main gitar berdua di dapur rumah orang tua Phillips. Lagu “Dusk”, “Visions of ANgels” diciptakan mereka lewat dapur ini. Pada saat Trespass direkam, Genesis sudah matang dengan materinya karena sudah dimainkan berulang kali selama satu tahun. Di album kedua ini sebetulnya benang merah musik Genesis sudah tercipta dan bisa dianggap sebagai cetak biru musik selanjutnya. Saya pribadi pertama kali kenal album ini ya jatuh cinta dengan “Looking for Someone” yang keren abis dan kemudian jatuh hati sama “The Knife” yang sangat energik itu.

Pada formasi Trespass dengan drummer baru John Mayhew sebenernya Genesis sudah muantabs secara musikalitas. Namun sayang, si Mayhew ini hanya seorang pemain drum yang baik tapi tidak cukup “cerdas” menangkap ide2 anggota lainnya sehingga musti dibantu Phillips yang punya pemahaman drumming sangat bagus. Artinya, kalaupun mau lanjut dengan hanya mengganti drummer, mustinya Trespass ini sudah bisa dipakai sebagai landasan kokoh untuk pengembangan musik genesis ke depan. Namun sayang, Anthony Phillips juga menyatakan mundur karena jiwanya tidak biasa dimaki-maki penonton sehingga dia stress kalau sedang konser. Maka, perlu mencari pengganti gitaris plus (sekalian) drummer nya. Masuklah Hackett dan Collins.

Formasi Puncak

Banyak yang menganggap bahwa formasi Gabriel – Banks – Rutherford – Hackett – Collins adalah yang terbaik, makanya saya sebut saja formasi puncak. Di sini jelas, sisa2 kedigdayaan album Trespass dibawa maju ke depan dengan lebih sempurna lagi oleh Genesis. Rutherford yang biasanya bekerjasama dengan Anthony Phillips, sekarang bergabung dengan pasangan Gabriel – Banks dalam hal penulisan lagu. Karena faktor inilah, maka lagu2 di album Nursery Cryme lebih berbobot dibandingkan Trespass. Kalau di Trespass, setiap lagu kontributor utamanya tim beranggotakan 2 orang dengan 2 tim, maka di Nursery Cryme menjadi 1 tim tapi lebih solid. Tidak heran ada lagu2 seperti “The Fountain of Slamacis” yang sangat magis itu. Steve Hackett di masa pembuatan Nursery Cryme masih pasif dan bertindak sebagai session player saja.

Pada album Foxtrot dalam line-up yang sama, Genesis semakin eksploratif dengan memberanikan diri menggunakan mellotron yang dibeli dari King Crimson. Mereka bereksperimen dengan mellotron melalui “Watcher of The Skies”. Di album inilah lagu terbaik yang pernah dibuat Genesis dilahirkan, yaitu “Supper’s Ready”. Ini memang lagu luar biasa. Namun tidak hanya itu, ada juga “Can Utility and The Coastliners” yang dahsyat itu komposisi dan melodinya. Di sini Steve Hackett mulai kontribusi meski masih malu2, yaitu dengan memasukkan unsur gitar akustik yang akhirnya menjadi bagian tak terpisahkan dari Supper’s Ready: “Horizon”.

Pada album “Selling England by The Pound” (1973) kontribusi Hackett lebih kentara lagi dan semua potensinya bermain gitar sepert tercurahkan di album ini. Lihat saja, teknik gitar “tappin” yang rame dikatakan orang katanya ditemukan Eddie van Halen, sebetulnya sudah dimainkan Hackett di album ini, jauh sebelum Halen ngetop. Coba simak “Dancing With The Moonlit Knight” – bagian interlude nya penuh dengan tapping dan gitar solo yang amat garang khas Hackett. Di lagu “Firth of Fifth” dan “After The Ordeal” dia juga main sempurna.

Album terakhir formasi ini, album yang menurut saya terbaik dari Genesis, yaitu “The Lamb Lies Down on Broadway”, formasi puncak ini mulai retak karena Gabriel ingin berkarir di film. Namun, justru karena tension antar anggota memuncak, malahan membuat musiknya makin keren. Salah satunya adalah keinginan Gabriel menulis SEMUA lirik di album yang menurut Gabriel merupakan album spiritual bagi dirinya ini. Di sinilah puncak maha karya Genesis diciptakan, meski tidak ada lagu yang melebihi keindahan Supper’s Ready, namun album ini secara keseluruhan adalah album terbaik.

Formasi Awal Phil Collins sebagai Vokalis

Dengan keluarnya Gabriel, Phil Collins menginginkan Genesis jalan tanpa vokal. Namun anggota lain mengusulkan Collins jadi vokalis. Formasi awal ini hanya menelurkan dua album studio (A Trick of The Tail dan Wind and Wuthering) dan satu album live (Seconds Out) plus satu mini album “Spot The Pigeons” (1977) dimana Hackett hanya main di satu lagu “Inside and Out”. Fornasi ini secara mengagumkan menghasilkan musik yang juga berkualitas dengan lagu-lagu bagus seperti “Dance on a Volcano”, “Mad Mad Moon”, “Ripples”, “Entangled”, “Squonk” dari album A Trick of The Tail. Juga album selanjutnya “Wind and Wuthering” keren banget. Dengan formasi berempat ini sebetulnya Genesis masih kokoh dan menghasilkan musik yang sangat bagus. Namun sayang ..Hackett yang sebelumnya pernah bikin album solo “Voyage of The AColyte” merasa kebebasannya berkespresi di Genesis di batasi dan ngambek ketika lagu “Please Don’t Touch” ditolak masuk album oleh Phil, padahal sebelumnya Phil menyetujuinya.

Kemudian Bertiga

Keluarnya Hackett jelas mengurangi nilai seni interlude Genesis yang biasanya sarat dengan howling guitar sounds nya Hackett dan lincahnya kibor Banks. Sekarang tinggal Banks yang mengisi interlude dengan kibornya. Era ini menghasilakn album cukup banyak (6 buah), mulai dari “And Then There Were Three” (1978 ) sampai “We Can’t Dance” (1991). Dua album pertama formasi ini masih memikat saya. Namun sejak “abacab” saya sudah gak begitu suka lagi dengan Genesis, apalagi di album ini ada lagu juelek biyanget: “Keep It Dark” sama “Who Dunnit” yang sungguh memalukan itu.

Untunglah …ada

So here I am once more

In a playground of a broken heart ….

(Ya!!! MARILLION lahir dengan Script for A Jester’s Tear)

Sejak Marillion lahir, saya udah tidak menyimak lagi Genesis … tak jarno wae ben kejlungup nang jurang! Soale jan nyebelin buanget!

MARILLION pancen oye!!!

(Lho .. ngomongin Genesis kok ujungnya Marillion! Opo tumon?!!! Lha wong jenenge wae blog gemblunk!)

Begitulah pendapat hamba ….

Salam,

G

THREADS TERKAIT:

The Lamb Lies Down On Broadway

Genesis “Chapter & Verse”

“Anyway” by Genesis

Ketika Para Penggemar Genesis Indosat Berkumpul

Pertama Kali Kenal Marillion

”The Best of Genesis” by Perina

Genesis “And Then There Were Three”

Genesis “Duke”

Genesis “Live” Gabriel

Banks pun Suka Fly on a Windshield

August 19, 2008

Masih tentang buku GENESIS “Verse & Chapter” yang udah hampir rampung bacanya, ternyata Tony Banks juga suka banget dengan lagu “Fly on a Windshield” yang merupakan lagu kesukaan saya dari album The Lamb Lies Down on Broadway. Dia suka karena ini lagu dimulai dengan akustik seperti halnya Supper’s Ready atau Musical Box. Di lagu Fly on a Windshield ini bahkan saking sukanya, dia menguraikan struktur lagunya cukup rinci seperti saya biasanya merasakan nikmatnya nggeblak dalam segmen2 musik indah. Dia bilang lagu ini diawali dengan kesunyian yang dibalut dengan vokal Gabriel dan disertai “gedumbrangan” drum dahzyat Phil Collins dan riff gitar yang menawan. Memang indah nian lagu ini, meski jarang disebut ama penggemar Genesis. Gak salah saya suka lagu ini karena Tony Banks aja juga suka.

Aduh, nangis bombai tenan membaca buku ini. Saya melihatnya buku ini bukan mengenai musik tapi lebih kepada kepemimpinan. Lho? Iya, banyak sekali turbulensi yang dialami oleh grup yang diawali tanpa ambisi ini ..hanya ingin ngeband dan sedikit dikenal. Ketika album pertama hanya laku ratusan keping, mereka kecewa dan gak begitu ambisius melanjutkan sampai Mike Rutherford “sok yakin” mau meneruskan. Itupun gaya penyemapiannya kurang meyakinkan. Namun penyampaian itu justru mempengaruhi ANthony Phillips yang sebetulnya bersikap “indifference”. Setiap sukses pun bukan merupakan sesuatu yang nyata yang mereka alami karena mereka juga struggling banget di awalnya. Pembuatan album Trespass pun setelah banyak lagu mereka buat dan bawakan dalam pertunjukan sehingga pada saat rekaman semua materi sudah ada. lain halnya dengan Nursery Cryme yang diciptakan pada saat rekaman dilaksanakan, jadi proses kreatifnya sangat berbeda.

Dalam kacamata ilmu kepemimpinan (meskipun gw ini progger, gw juga pengamat dan pengajar kepemimpinan tauk!), mestinya ada figur seorang pemimpin. Namun tidak demikian halnya dengan Genesis. Karena mereka menyebut diri mereka sebagai band of writers (semua anggotanya menulis lagu) dengan, secara gak sadar, terbagi dalam dua kelompok penulis musik yaitu Tony Banks –  Peter Gabriel, sedangkan Mike Rutherford dengan Anthony Phillips. Itupun baru mereka sadari kemudian.

Yang menarik juga adalah saat Anthony Phillips hengkang dari Genesis, terutama analisis Peter menyikapi hal ini. Menurut Peter, Ant(hony) Phillips bukan tipe orang yang tahan dipisuhi (dibilang “shit!” – red.) oleh penonton. Padahal, menurut Peter, namanya juga band baru dan musiknya belum dikenal, kemungkinan dicaci maki, dilempar telur busuk ..pastilah ada. Makanya Ant telah menciptakan ketegangan sendiri karena emoh dicaci dengan jalan mengundurkan diri. Disinilah sikap “lentur” sebagai salah satu ciri pemimpin yang harus dimiliki seseorang. Tahukah Anda, berapa kali Colonel Sanders ditolak resep masakan ayam gorengnya sebelum akhirnya ada yang tertarik? 1005 (seribu lima) kali!!!! Pada penawaran yang ke 1006 baru ada yang tertarik dan akhirnya menjadi nama besar .. Kentucky Fried Chicken.
Kalau saja saat itu si Ant ini cukup lentur dan rai gedheg (tahan banting – red.) mungkin dia akan sukses bersama Genesis dan persahabatan empat sekawan Mike – Peter – Tony – Ant bisa terjalin utuh sampe sekarang. Tapi ya begitulah hidup . setiap orang punya karakternya masing-masing. Toh, siapa yang menjamin bahwa selanjutnya mereka bersatu padu? Gabriel pun keluar pada saat band ini secara komersial “mampu” membayar utang yang menumpuk setelah “The Lamb Lies Down on Broadway” dirilis.

Bukan masalah kelenturan saja band ini ditinjau dari kacamata kepemimpinan. Masalah siapa yang menonjol pun tidak begitu penting bagi band ini meskipun publik mengira bahwa Peter Gabriel yang memimpin. Hal ini sangat berbeda dalam kenyataan karena mereka sebetulnya mengerjakan musik bersamaan. Secara penampilan memang keliatan bahwa Peter mendominasi panggung karena Steve Hackett dan Mike Rutherford duduk, Phil duduk dan Tony Banks main kibor. Secara natural akhirnya Peter yang harus pencilakan, namun buka pemimpin band. Genesis memang tidak pernah membicarakan siapa diantara members nya yang ditunjuknya jadi pemimpin.

Dalam hal format musik, Genesis saat itu dibilang banci karena mereka berada “in between” King Crimson yang dari album debutnya “In The Court of The Crimson King” sudah fenomenal dan Yes. Mereka juga tidak keberatan dikatakan begitu, namun mereka tetap saja menulis lagu. Ini suatu hal baru yang saya baru tahu karena menurut hemat saya musik Genesis beda dari King Crimson maupun Yes, mereka punya karakter sendiri. Memang, diakui bahwa Genesis membeli satu dari tiga mellotron kepunyaan King Crimson yang dipakai oleh King Crimson di album debutnya. Lagu pertama Genesis yang menggunakan mellotron ex-King Crimson adalah “Watcher of The Skies”. Peter Gabriel mengakui bahwa King Crimson telah mempengaruhi banyak musik Genesis.

Wah … banyak banget detil menarik dari buk Genesis “Chapter & Verse” ini dan nantikan ulasan di Koran Tempo Minggu, pada akhir bulan nanti …he he he ….

Salam,

G

Gak Jadi NgeBlues…

August 15, 2008

Karena sibuk mengantar ke rumah sakit mengantar ibu yang sedang sakit, maka saya batal “menikmati” Jakarta International Blues Festival. Namun ya karena pegang tiket kang Edwin dan temennya (pak Altin), saya harus berada di Istora setelah usai mengantar ibu.

Saya hanya nonton dua band: Dearest (Canada) dan SNR. Sayang band Canada nya bukan blues, tapi EMO gitu. Rada aneh ada band emo masuk ranah blues dan ndak ada nyantholnya blas. SNR gak begitu menarik, maklum terlalu banyak pemain gitar dan gak ada yang menonjol mainnya. Bahkan saat ada Abdee Slank memainkan slide guitar juga ndak ngangkat blas. Lumayan ajalah, tapi jauh dari bagus. Lagu Rolling Stones “I Got The blues” yang terkenal dengan bunyi organ nya yang menyayat di interlude, juga mendem main nya …wah .. gak dapet blas soul nya.

Menurut laporan dari temen2 i-Rock! yang nonton hingga kelar, penampil paling bagus justru U-Blues, band dari negeri Singa. Kata temen2, ini justru klimaks acaranya. Livin’ Blues malahan mengecewakan, karena membawakan lagu2 orang ….

Kalau saja saya ada “mood”, saya akan nonton sampai tuntas. Tapi ingat ibu sedang sakit, jadi hilang semua mood … Mohon doanya agar ibu saya segera sembuh ….Amin.

Suwun,

G

Kok gak ngeBLUES seh???!!!!

August 13, 2008

JRENG!

Jakarta Blues Festival, 13 August 2008

Jarene “Music for Life” kok ndak ngeblues? Penggemar rock maupun prog yang gak suka blues berarti gak bakalan lama suka prog rock dah, so pasti ..!!! Makanya, pada berbondong-bondong dong, menuju Istora Senayan malem ini. Mosok rocker kok ndak blueser, opo tumon? Hayo .. buruan order tiketnya sono! Rugi kalo ndak nontok, wis pasti seru kok….!!!

Lagian, nostalgila gitu loh. Kalo Anda sempat hidup dan bernafas, tahu dong lagu yang pernah kondang di Indonesia judule SHYLINA? Jangan salah lho, meski lagu itu dibawakan oleh band Londo (beneran Londo lho! tapi bukan Kumpeni atau VOC lho!) namanya Livin’ Blues, penarik uratnya (yang nyanyi) orang Indonesia lho. Aduh, lupa saya namanya. Nah, Livin’ Blues ini salah satu penampil ntar malem. Lha opo tumon, nontok band internasional sekaliber Livin’ Blues mbayar cumak pitung puluh limo ewu! (Rp. 75.000,- – red.). Wis jan ndak rugi blaszz!!! Hayo .. buruan beli tiket! lupakan hari kerja …!!! Bukankah semboyan kita satu: Kerjaan ndak boleh ganggu musik. Bener ndak?? Hua ha ha ha ha ha ha …

Gw udah beli tiket nih, bareng ama 24 orang lainnya ….

Yang tampil gak cumak band Londo, ada band Canada, Singapura, Philippines dan tentu Indonesia dong …. ada Odink Nasution, Raidy Noor, Adrian Adioetomo, Eet Syahranie, Tasya Pain Killer (wong metal kok ngeblues? Opo tumon?), Abdee Slank, The Miracle, dan masih buanyaak lagi … dari ba’da Ashar sampe menjelang tahajjud ntar malem .. hayo .. hadirrrr!!!!

Salam,

G

Kalau Saja Mike Rutherford Gak Ngeyel …

August 11, 2008

Lagi asik banget baca buku Genesis “Chapter & Verse” dan berkali-kali terkesima dengan kisah awal setelah album From Genesis to Revelation dirilis dan cuman laku 649 keping …. Kebayang dong, apa gak DOWN tuh anggota Genesis?

Anthony Phillips dan Mike Rutherford waktu itu tetep aja rajin bikin lagu dengan genjrengan gitar di dapur rumah Anthony Phillips. Suatu saat Tony Banks tanya: “Are we going on?” si Rutherford menjawab dengan teguh: “Yes!”. (padahal ANthony Phillips sebetulnya juga udah patah semangat. Tapi gara2 Rutherford bilang gitu, dia latah bilang iya juga).

The rest is history ….

Semoga MARILLION gak Ngepop

August 7, 2008

JRENG!

Tadi malem saya kerja bikin proposal sampe larut, jam 2:30an gitu. Yang asik sejak saya mulai duduk di depan laptop, saya nyetel CD Marillion mulai dari Script, Fugazi, Misplaced, dan Clutching. Supaya markotop, saya akhiri dengan The Thieving Magpie (La Gazza Ladra) yang merupakan album live dua CD. Sumprit! Kerja jadi gak terasa capek, apalagi ngantuk .. blas ora ngantuk! Huenak nyamleng suromenggolo tenan rek! Sekitar jam 23:00 terima SMS dari temen prog yang bilang bahwa dia lagi ngguweblak sama “Incubus” nya Marillion. Lho? Uediyan! Rupanya sesama penggemar prog itu hatinya suka nyetrum ya? Kok ya coincidently nyetel grup yang sama! (meski saat saya terima SMS tersebut, perjalanan saya udah nyampe di Misplaced Childhood).

Gara2 SMS tersebut saya langsung inget tahun 83-84 saat saya tiap hari dag-dig-dug, bukan mikirin materi tugas akhir buat sidang sarjana – gak penting itu!, tapi khawatir pol kalo album kedua Marillion setelah Script bakalan ngepop kayak Genesis “abacab” atau Yes “90125”. Ternyata …Alhamdulillah masih JOSZZ di jalur neo progressive dengan merekrut drummer baru Ian Mosley (ex Curved Air dan Steve Hackett). Lucu juga Fish ini, waktu ngelamar jadi vokalis, yang mewawancara salah satunya drummer Mick POinter. Eh, setelah video Recital of The Script dirilis, Mick Pointer dia pecat! Opo ora kuwalat? Tapi memang Ian Mosley muantabsz ndhredhegh mainnya. Ndak percaya? Coba aja “Emerald Lies” pasti berdecak kagum nganti idumu kutah kabeh! hua ha ha ha … disgusting pol!

Gak ada salahnya, saya posting lagi review FUGAZI yang sudah saya tulis cukup lama di situs ProgArchives:

Studio Album, released in 1984
Track Listings

1. Assassing (7:02)
2. Punch And Judy (3:21)
3. Jigsaw (6:50)
4. Emerald Lies (5:09)
5. She Chameleon (6:53)
6. Incubus (8:30)
7. Fugazi (8:13)
Total Time: 45:54

Bonus CD (1997 Release)
1. Cinderella Search (12″ version) (5:32)
2. Assassing (’92 Alternate mix) (7:41)
3. Three Boats Down From The Candy (’84 Re-recorded) (4:01)
4. Punch And Judy (demo) (3:50)
5. She Chameleon (demo) (6:34)
6. Emerald Lies (demo) (5:32)
7. Incubus (demo) (8:10)
Total Time: 41:16

Total Time: 87:10

Line-up/Musicians

- Fish / vocals
– Mark Kelly / keyboards
– Ian Mosley / drums
– Steve Rothery / guitars
– Pete Trewavas / basses

WITH:
– Chris Karen / percussion
– Linda Pyke / backing vocals (6)

This album remarks Marillion’s consistency on its music direction, i.e. progressive rock. Having successfully released their debut album “Script for a Jester’s Tear” this album demonstrates their maturity in musicianship as well as music composition. For me personally, this album relieved me from doubtful questions during the year I listened to Script (almost everyday I played Script at my stereo set and walkman) “Would Marillion continue the kind of Script music or they would go “abacab”? Oh no .. Lord please don’t let them going poppy …..”. The second question that I asked myself was even bitter “Would this group produce second album or they would die in new wave fever?”. Tough question to answer really. At the time I was not even aware about internet. So, the information was only limited from regular shipment of Dutch’s progressive newsletter named as “Sym Info” from our friend, Roy, in Dodrecht, Netherland. The language barriers made the case more complex as I don’t understand Dutch. Well, at least I could see the band’s photographs with Fish using head banner. The newsletter called it “Kopstuk Fish”. I was fortunate that I got a chance to listen to the single “Assassing” (with “Cinderellla Search as B side”) from my friend’s LP when I was in Bandung, Indonesia, finishing my engineering study.

Let’s go over track by track. The opening track “Assassing” represents the band’s interpretation of Islamic music that Fish kept on playing from records lent to him by Peter Hammil (of Van der Graff Generator). The track is energetic and uplifting. Put simply, it’s the track you would wanna hear to wake you up in the morning. It has a beautiful interlude with dynamic drumming and percussion mostly played by the band’s new drummer Ian Mosley (ex Steve Hackett’s, Curved Air).

The second track “Punch and Judy” has even more upbeat than the first track. One of my friends first knew the band from this track as he accidentally listened to the campus radio airing this track. He reckoned that this track is Genesis-alike music. Whatever. This track is wonderful, it’s rocking the planet even though it consumes only 3 minutes playing time. Not a typical prog song hah? Some people define a prog music should have minimum of 8 minutes playing time. I don’t really care, I love this track.

The third track “Jig saw” it’s a bit of slow-rock type of music with a very nice and stunning guitar sound by Steve Rothery. “Stand straight. Look me in the eye and say goodbye ..” is the piece of lyrics that people used to sing to emulate Fish.Or this piece “Yesterday starts, tomorrow tomorrow starts today ..”. Listen this track with your heart, turn-off the light, play it loud and louder at guitar part. Bang! It kills you man…..definitely you will love this track!

Now let’s welcome my favorite’s track “Emerald Lies” that tells the story about relationship. Fish used his poet kind of lyric in this track (he did also for almost all of lyrics he wrote for Marillion) representing the guy who went to party with his girlfriend. He found out that the girlfriend flirting (innocently) to other men. Observe the piece of lyric that Fish wonderfully did “I trust you trust in me to mistrust you”. Wow! What an incredible lyric! This track starts with heavy drumming and keyboard sound (short but nice!) and the music goes silent when Fish starts yelling “To be the prince of possession. In the gallery of contempt”- observe the way how Fish sings, it’s different. “Suffering your indiscreet discretions. As you accumulate flirtations”. Oh mannn .. I bet you like this piece! At the end of Fish voice with silent music (rhythm guitar sound by Steve) then the percussion enters the scene. This is yet another nice segment of this track as the music starts going energetic. The melody flows naturally from one segment to enother and the track completes brilliantly. Once it’s done I used to repeat 3 times before moving to next track.

The fifth track is “She Chameleon” that demonstrates heavy voice of Fish and stimulates us to emulate Fish with this track. It opens with organ solo sound with beautiful melody (it’s Marillion trademark, I would say) followed by Fish vocals part “Sheltering her ego on the edge of …” . “She crucified my heart …”. This track is very nice in its interlude (keyboard based). It talks about groupies altogether with “Punch and Judy”

The sixth track “Incubus” is about nightmare. This track made me realize another strong point of Marillion music beside its melodic composition: it has multi melody in every track and the music moves dynamically with smooth transitions from one melody to another. Brilliant! This track has very strong musical structure and different tempo but you will notice how brilliant the movement. No wonder this track became fan’s favorite track for a live performance.

The last track (on disc 1) “Fugazi” starts with a touchy piano solo nicely performed by Mark Kelly and followed by tiny voice of Fish “Vodka intimate on affair …”. Ghusszzzz!!! What a nice intro part! Songwriting of this track is really excellent. Listen to the part where Fish yells “Drowing in the liquid seas on a picadilly line. Rat race!” wow! Such a high-energy piece packed with dynamic drumming and bass playing that really stimulate your adrenaline. Even this part is worth to justify this track is structurally wonderful.

Overall, the lyrics of this album are dark (even darker than Script) and is very personal to Fish. (That’s why you would later mention that Steve Hogarth, the new vocalist that later relaces Fish, never perform any track of this album). One of review interpreted the dark side of this track:” Rat race! Everywhere are commuters, nine to fivers all in suits with “suitable ties”, such as wives and kids as well as neck ties. He is their side- show as they all stare at this rebellious rock star. (More on this in a sec). “. OVERALL, I give big FIVE STAR for this album for strong and integrated songwriting, musicianship (the new drummer is much better than Script’s drummer; Pete Trewavas has forgotten his reggae style of bass playing), great composition with touchy and smooth transitions, very nice melody. Sound quality is excellent. Gatot Widayanto, Indonesia.

Report this review (#12097) | Posted Monday, May 31, 2004 | Re

view Permalink

Oleh2 dari Bandung (3/3)

August 5, 2008

Mungkin pada bingung mengapa thread ini dibahas di blog musik ini. Jawabannya sederhana: blog ini gemblung karena katanya ngomongin musik, tapi ngomong lainnya. Alasan lainnya adalah, bagi saya pribadi, saya banyak menemui kebesaran Allah SWT dari gegap gempitanya musik rock dan gelapnya musik progressive rock. Dua hal tersebut masih belum bisa merasionalisasikan mengapa oleh2 dari Bandung ini diceritakan di sini. Dan ini jawaban pamungkas saya: Bandung merupakan tempat (baca: kota) kedua dimana kegilaan saya terhadap musik rock saya jalani setelah Madiun (sampai dengan 1979). Di Bandung inilah saya gila dengan membeli kaset dan pernah hanyut menikmati keindahan musik Marillion sejak Script for A Jester’s Tear saya dengar pertama kali di markas Yess, Bandung. Makanya perjalanan saya ke Bandung merupakan napak tilas (istilah kang Edwin) kehidupan saya di Bandung selama hampir lima tahun.

Hari ketiga di Bandung (25 Juli 2008 ) saya buka dengan shalat subuh nuansamatik di masjid Tafakul Hidayah. Seperi kemarin pagi, dinginnya luar biasa. Namun dipake jalan cepat, rasanya malah nikmat. Apalagi di pagi hari saat jalan2 masih di portal, saya malah menemukan nikmatnya bersyukur atas yang diberikan Allah SWT kepada saya dan keluarga saya. Rasa syukur yang tak tergantikan adalah adanya kesadaran bahwa shalat Subuh berjamaah di masjid itu super duper puenting dan penuh dengan barokah!!! Gimana gak, lha wong kalo kita mau itung2an ama Allah, kita itu dapet PROFIT yang sifatnya BONUS pula.. yaitu pahala yang setara dengan shalat sunnah semalam suntuk! Gimana gak bersyukur, jujur saja saya jarang sekali bisa bangun shalat sunnah tahajjud di malam hari. Saya bersyukur bahwa saya bisa diberi kenikmatan bisa bangun dini hari dan melangkahkan kaki ke masjid …Alhamdulillah …

Sampai di masjid, masih sepi, hanya ada empat orang termasuk imam. Pas masuk adzan, sudah ada sekitar 8 orang di masjid …dan akhirnya shalat dijalankan dengan saf tidak penuh satu baris. Sayang sekali. Berarti kita belum sukses berdakwah kepada orang2 yang tinggal diseputar Jl. Rambutan agar mereka meramaikan masjid. Selesai subuh, bapak berjaket biru tua yang kemarin menyapa saya, sekarang menunggu saya dan menyapa lagi…”Kapan pulang Jakarta pak?” saya jawab: “Nanti sore …”, terus dia jawab lagi: “Wah Bapak rajin yah shalatnya …” saya balas dengan senyum agak malu … bukan apa2, saya kan hanya “kelihatannya” saja rajin. Coba tanya ke malaikat yang mengawasi saya… saya pernah mengalami masa-masa dimana shalat BOLONG tiap hari …bahkan bisa dipastikan saya gak pernah shalat Subuh. Aduuhhh…betapa dosanya saya …. Makanya saya tidak berani menanggapi sapaan bapak tadi …. Allah Maha Tahu … Sebetulnya ini yang saya takutkan, orang melihat saya alim karena sering ke mesjid, bahkan cinta banget ama mesjid, tanpa tahu bahwa tadinya saya tuh jarang ke mesjid!!

Selepas subuh, saya hanya tinggal di hotel yang berlokasi di jalan Riau … saya habiskan buat membaca lagi buku “The Secret for Muslim” dan menikmati lagi Magenta “Metamorphosis” – sebuah album symphonic prog yang menawan. Indah sekali buku ini. Resensinya silakan baca di sini. Setelah itu saya buka laptop membalas beberapa email dan posting foto buat blog ini (toko kaset ANTIK). Sekitar jam 11:00 saya mandi bergegas ke masjid buat Jumatan. Wah .. ternyata saat Jumatan rame banget yang menyerbu masjid ini. Ternyata di sekitar masjid ini adalah rumah2 kantor sehingga karyawannya pada Jumatan di sini. Penuh. Kutbah Jumatnya juga bagus sekali, dibawakan oleh khatib yang murah senyum, santun dan penuh semangat, meski tanpa tereak-tereak. Kutbahnya tentang “Kemuliaan hari Jumat”.

Usai Jumatan, check-out, terus langsung cari makan khas Bandung. Kali ini tujuannya adalah SIOMAY BUNGSU. Namun sayang .. ternyata sudah tidak ada lagi siomay yang dulu di dindingnya penuh poster classic rock dengan foto2 Led Zeppelin, Jimi Hendrix, Rolling Stones, The beatles, etc. Akhirnya makan di Batagor Kinley di sebelahnya. Kepada tukang es sekoteng Oyen saya tanya keberadaan siomay claro tersebut. Menurut beliau, si penjual diusir yang punya rumah dan sekarang bubaran…wah kasihan. padahal sejak jaman saya kuliah tahun 80an dulu, ini siomay paling top se Bandung Raya.

Setelah makan di Veteran (Bungsu) menuju Cihampelas Walk. Yah .. namanya juga mall, ya begitulah … Namun ini Bandung bung! Jadi ya masih mendingan di Ci-Walk ketimbang Citos. Ini karena desainnya yang unik dan artistik. Saya pesen banana split dan iced capuccino di salah satu cafe nya. Gila, kafe2 di Bandung harganya bersahabat, dibandingkan Jakarta yang jahiliah pol! Kopi aja kok empat puluh ribu di Jakarta. Di Bandung paling cuman belasan ribu doang. Nyatalah bedanya. Memang asik bersantai di Bandung … Kami ngobrol di sini dan diselingi baca buku juga. Suasananya enak, apalagi ada semilir hawa dingin khas Bandung. Nuansamatik sekaleee….! Setelah maghriban, menuju masjid Salman. Hukumnya fardhu ain kalo ke Bandung harus shalat di masjid Salman. Inilah kekecewaan dan penyesalan saya yang tak bisa saya obati lagi: mengapa saat kuliah dulu saya tidak aktif dimajid ini?? Duh NYESELLLL!!! Bener2 nyesel saya! Bahkan, lima tahun saya di bandung, gak pernah tuh shalat berjamaah Subuh atau Isya. Bahkan, Jumatan hanya beberapa kali doang. Ini kerugian luar biasa. Kalo waktu bisa diputar, saya akan giat di masjid ini..karena kegiatannya padat sekali. Bahkan di seputar masjid banyak ruangan2 yang menunjukkan kegiatan sehari-hari masjid ini. Luar biasa! Saya doakan kalau anak saya, Dian Widayanti, jadi masuk ITB, supaya dia aktif di kegiatan masjid Salman ini.

Alhamdulillah .. kesampaian juga shalat Isya berjamaah di masjid Salman. Lantai masjid yang terbuat dari kayu merupakan ciri khas masjid ini. Tidak perlu adanya sajadah atau karpet karena kayunya bersih banget dan bisa langsung digunakan sebagai tempat shalat. Sungguh rasanya saya ingin tinggal lama sekali di masjid ini. Begitu teduh, begitu nyaman, begitu nikmat dan khusyu nuansa ibadahnya … Rasanya pengen lama sekali di sini. Semoga Allah mengabulkan permintaan saya agar anak saya nantinya aktif di masjid Salman ini …. Amin.

Setelah usai shalat Isya, menuju Savoy Homann .. dengan tujuan satu: Bubur Ayam di depan kantor Pikiran Rakyat. Wah .. ini bubur memang markotop tenan. Rasanya pengen nambah, tapi karena malemnya mau nyetir, takut ngantuk kalau kekenyangan, gak jadi nambah. Terus ke Braga Permai, membeli bookepoetjes titipan temen, dan ngopi tubruk dulu …. Abis itu tancap balik ke Jakarta!!!!

Salam,

G


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 142 other followers