Merajut Makna Melalui Prog Rock (16 of 99)

Uang : Berkah atau Mudharat?

 

Pastilah Anda semua khatam lirik nuansamatik legendaries dari kelompok jadul Pink Floyd ini:

Money, get away.
Get a good job with good pay and youre okay.
Money, it’s a gas.
Grab that cash with both hands and make a stash.
New car, caviar, four star daydream,
Think Ill buy me a football team.

Money, get back.
I’m all right jack keep your hands off of my stack.
Money, it’s a hit.
Don’t give me that do goody good bullshit.
I’m in the high-fidelity first class traveling set
And I think I need a lear jet.

 

Memang, saya yakin kita semua mafhum bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan namun hanya bias memberikan comfortable life ke kita. Namun, terlalu banyak berorientasi ke uang, juga tidak akan memberikan kebahagiaan bagi kita. Pink Floyd aja bilang: Money, it’s a gas (biyuh .. muantebb kemreteb tenan saat Waters menyanyikan bagian ini …!!! Nggeblak pol!). Bisa panjang kita bahas hal ini karena memang banyak contoh2 kehidupan yang akhirnya memberikan pelajaran pahit.

Tulisan ini dipicu oleh tiga hal (musically): 1. Lagu berjudul ”Money” dari Pink Floyd, 2. Lagu pembuka rock opera “Ken Arok” dari alm. Harry Roesli, dan 3. Lagu ”Di Deretan Rel-Rel” dari Leo Kristi. Secara non musikal, tulisan ini dipicu oleh pengalaman pribadi saya mencairkan deposito buat keperluan uang sekolah anak ke dalam mata uang dinar yang baru saya lakukan Oktober 2007 yang lalu. Nah .. apa hubungannya?

Begini …. (wuih! Sok tahu banget ye gw! Ha ha ha ha ha …)

Tadi malam saya nyetir (kebetulan sendiri) sambil nyetel album Leo Kristi ”Nyanyian Fajar” yang nuansamatik nostalgik itu. Kalo tahun 70an Anda udah lahir dan ndak tahu album ini, gak usah baca deh blog ini … buat apa? Buang2 waktu aja. Kesiyan banget deh Anda kalo ndak tahu album bergambar bayi ini. Saya dapet kasetnya juga baru beberapa tahun lalu dari Pak Ali Gunawan (kolektor musik kelas wahid di Indonesia – sama dengan pak Jusuf Giwankoro di Surabaya koleksinya. Uediyan!). Dulu kaset ini di 70an dibeli oleh kakak saya Henky dan saya sering numpang nyetel lagu ”Lenggang Lenggung Badai Lautku” yang keren itu. Tadi malem, saya tersentak saat bang Leo melantunkan lirik: ”Dengan uang seratus rupiah dikantong, kudapatkan rokok keretek, kopi panas dan pisang goreng ..” di lagu ”Di Deretan Rel-Rel” yang merupakan track ke 3. Kalo itu dilantunkan pada tahun 76 (saya lupa tepatnya album ini dirilis kapan), berarti sudah 32 tahun yang lalu. Kalo tahun 2008 ini saya beli kopi panas, setidaknya harganya sudah Rp. 2.000,- dan pisang goreng Rp. 500,- . sayangnya saya bukan perokok (progger kok ngerokok, opo tumon???) anggaplah total Rp. 3,000,- buat membeli ketiga hal tersebut. Berarti rupiah telah mengalami penurunan nilai sebesar 30 kali lipat!

Untuk validasi, saya kok ujug2 mak gedhandhut inget lagu Harry Roesli di tahun 76 yang mengatakan bahwa harga kaset ”Ken Arok” rock opera saat itu Rp. 800,- Sedangkan harga kaset Indonesia sekarang ini berapa? Katakanlah Rp. 15.000,- maka sudah ada penurunan nilai rupiah sebesar 19 kali lipat. OK, kita ambil angka yang ini aja dah biar mudah, bukan yang 30 kali lipat di atas, karena kok terlalu bombastis.

Sekarang kita bandingkan dengan mata uang yang benar (menurut Al Quran), yaitu dinar. Pada sekitar 1400 tahun yang lalu di jaman rasulullah, harga seekor kambing adalah 1 (satu) dinar. Sekarang (200 8) harga seekor kambing berkisar antara Rp. 800.000,- sampai Rp. 1.200.000,-. Kurs dinar menurut http://geraidinar.com/ adalah sekitar Rp. 1.200.000,-. Ini membuktikan bahwa nilai tukar dinar itu konstan sejak jaman nabi hingga dewasa ini bahkan sampai akhir jaman sekalipun! Subhanallah!!!! Coba bandingkan dengan rupiah. Jauh sekali dalam hal kestabilannya. Ini semua karena rupiah dan juga mata uang kertas lainnya yang dewasa ini tidak dijaminkan dengan emas (sejak Brettonwoods convention, 1944) tidak bisa dipakai sebagai rujukan yang aman. Dollar pun juga mengalami kemerosotan nilai karena basisnya adalah uang kertas (fiat money) yang tidak bisa dipercaya. Wah .. saya tidak bisa mengulas lebih dalam karena ada ahlinya: Bang Ijal dan juga pak Muhaimin Iqbal dari Gerai Dinar.

Pengalaman saya juga membuktikan hal yang sama. Bulan Oktober 2007 saya mengkonversikan semua tabungan saya buat sekolah anak2 saya ke dinar. Waktu itu kurs nya masih Rp. 944.000,- per dinar. Hitung aja sendiri berapa persen apresiasinya karena harga dinar hari ini (Maret 200 8) sudah berkisar di atas Rp. 1.250.000,- (lebih dari 25% apresiasi dalam jangka waktu 5 bulan!). Subhanallah….

Selain untuk keamanan masa depan tabungan (untuk sekolah anak2; maklum saya kan pengusaha gurem yang labil terhadap pendapatan), menyimpan dinar merupakan tindakan penuh berkah. Setidaknya, saya menghindar ”sebagian” dari sistem ribawi.

Dengan memiliki dinar, saya merasa aman dan terhindar dari jeritan Pink Floyd: Money, it’s a gas! Karena dinar adalah berbasis emas yang super duper stabil. Kenapa stabil? Karena diciptakan oleh MAHA PENCIPTA .. Allah SWT.

So, jangan biarkan tabungan Anda dalam rupiah … simpanlah dalam dinar meski hanya satu dinar, atau Anda bisa memulai dengan uang perak alias Dirham yang juga sangat aman. Saya bukan ahlinya, tapi silakan sendiri baca di http://geraidinar.com/.

Mari kita kembali ke fitrah ekonomi yang sebenarnya, supaya kita mendapatkan berkah dari Allah SWT dan terhindar dari kemudharatan ….

Salam,

G

Catatan:

Ternyata hari ini harga Dinar terhadap rupiah  turun drastis ke angka di bawah Rp. 1.200.000,-. Namun jangan kuwatir, karena fitrahnya adalah emas, harganya akan kembali normal. Memang kita tidak boleh spekulasi dengan dinar. Kalo memang berminat terhadap Dinar, peganglah selama (minimum) satu tahun, karena rata2 Dinar mengalami kenaikan terhadap rupiah sebesar 30% per tahun. Jadi .. tenang aja kalo hari ini turun. Malahan baik, selagi turun begini, mendingan Anda beli Dinar sekarang dan insyaAllah akan membaik kembali, seperti yang sudah-sudah. Analisa mengenai dinar ini bisa dilihat di http://geraidinar.com/.

 

 

Leave a Reply