Hari Tanpa Pengharapan – Mungkinkah?
Jawabannya ya mudah sekali: sangat mungkin. Banyak kok orang yang memulai hari tanpa pengharapan apa2. Istilah kerennya ”go with the flow” alias bahasa Inggrisnya ”mengalir sajalah…”. Temen saya ada yang bilang ”nikmati saja” (dengan intonasi pengucapan yang penuh penekanan). Banyak orang menikmati hidup dengan menjalaninya tiap hari dengan menapakkan jejak langkahnya mengikuti apa yang dibawa alam atau lingkungan diseputar kehidupannya. Makanya ada yang bilang bahwa hidupnya adalah sebuah kerutinan ”from 8 to 5” (jam kerja kantor) dan perlu dinikmati. Ya, saya salut dengan orang2 yang menganut aliran ini karena sebagian besar dari mereka yang saya kenal, tidak banyak mengalami tekanan (stress) dalam hidupnya. Dan jangan salah, banyak yang ”berhasil” dalam karirnya dengan menikmati setiap jengkal profesinya asalkan dibarengi dengan ketekunan.
Apapun bentuknya, sesuatu yang bernama ”hari” itu bener2 penuh misteri dan hanya satu Dzat yang maha mengetahui misteri itu, yaitu Allah SWT. Jangankan sebuah hari, sebuah daun kecil yang terjatuh dari pohon di belantara hutan pun Allah Maha Mengetahui kok. Dia juga Maha Kuasa sehingga bila berkenan, apapun bisa terjadi dalam sekejap: hari yang penuh kecerahan, hari penuh bencana atau hari yang ”biasa-biasa saja”. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini tunduk terhadap apapun titahnya karena Dia adalah Maha Diraja yang Paling Berkuasa dan tidak ada satu hal pun di alam semesta yang menyamai atau bahkan mendekati kuasaNya. Namun, Dzat yang satu ini berbeda dengan manusia yang bila mendapat kuasa malah cenderung sombong dan mendholimi makhluk lain. Dzat ini justru sangat menyayangi semua isi alam semesta ini terutama bagi mereka yang patuh terhadap perintahNya dan menjauhi semua laranganNya.
Dia sangat Pemurah terhadap ciptaanNya yang patuh. Alkisah pada hari perhitungan, tinggal dua orang yang setelah dihitung amalan dan maksiatnya akhirnya diputuskan oleh Allah SWT keduanya masuk neraka. Dalam perjalanannya menuju neraka, salah satu dari dua orang ini menoleh ke surga dan Allah menanyakan mengapa ia melongok menoleh surga. Orang tersebut menjawab bahwa ia menyangka Allah akan memasukkannya ke surga. Mendengar jawaban orang ini Allah SWT memerintahkan malaikat untuk memasukkan orang ini masuk surga. Ini menunjukkan bukti bahwa bila kita berbaik sangka kepada Allah, insya Allah memberikan rahmatNya kepada kita.
Dalam misteri hari, saya cenderung memilih school of thoughts yang mengatakan bahwa apapun yang kita lakukan di dunia ini harus diawali dengan sebuah harapan. Harapan adalah cahaya yang memberikan semburan kecerahan dalam menentukan arah yang kita lakukan agar tidak ”in limbo” dan terbawa arus. Mengapa? Karena kita semua tahu bahwa
hidup adalah untuk mati pada akhirnya. Visi manusia hidup itu jelas: kematian. Tentu, kematian yang bermartabat, yaitu kematian yang membebaskan kita dari siksa alam kubur dan membawa kita ke surga. Saya justru menyikapi rintihan Edgar Winter dalam lagu “Dying To Live” yang menyuarakan “Why am I dying to live if I’m just living to die?” dengan kerangka : karena saya ingin mati bermartabat, mati yang khusnul khotimah, karena hidup ini hanya sementara dan hanya ada satu kehidupan kekal, yaitu akherat.
Sementara itu kelompok YES dalam album “Union” membuat komposisi indah bertajuk “Without Hope, You Cannot Start The Day” yang menurut saya temanya sangat menggugah. Saya ibaratkan lirik lagu ini merupakan dialog dengan Allah dalam shalat Dhuha untuk memulai sebuah “hari”. Dalam setiap segmen gerak shalat, sebagai manusia lemah, saya merasa seolah saya ini egois sekali karena selalu saja dalam shalat saya lebih banyak meminta kepada Sang Penguasa, dan Allah seolah berkata (seperti dalam lirik di lagu ini):
I can see what you’re thinking of
I can see what you think you need
I can see what you’re thinking of
I can see that it must be love
Dalam gerak sujud saya, seolah tutur kata seperti itu dikatakan Allah kepada saya yang (sekali lagi) selalu saja meminta
kepadaNya. Tentu Allah mengetahui apa yang saya pikirkan dan juga yang saya butuhkan persis seperti lirik lagu di atas. Dan tentu saya lakukan ini karena cinta saya kepada saya (uh .. betapa egoisnya saya!), kepada anak-anak saya yang sudah dewasa dan saya kurang dalam mendidiknya menjadi anak yang soleh (ini yang mengganggu saya, karena ini sama aja dengan saya mendurhakai anak saya), kepada keluarga saya. Semuanya saya mintakan ampun kepada Allah SWT tanpa rasa malu bahwa saya tidak banyak berbuat di jalanNya. Sudahkah saya menjalankan semua perintahNya? Sudahkah saya meninggalkan semua laranganNya? Sudahkah saya membimbing keluarga saya ke jalan Nya? Sudahkah saya bersedekah? Semakin saya challenge diri saya dengan pertanyaan tersebut, saya menjadi semakin kecil dan tidak ada apa-apanya sama-sekali!!!!!! Ya Allah .. ampuni semua wrongdoings yang telah saya lakukan karena terlena dengan kenikmatan dunia yang sungguh sangat menawan dan menggoda ini. Berapa kali saya “cuekin” panggilan shalat berjamaah di masjid yang Kau suarakan lewat bhilal di masjid sebelah rumah, demi kenikmatan mendengarkan “South Side of The Sky” nya Yes yang musiknya menawan? Belum lagi bila aku tergila-gila menyanyikan “Script for A Jester’s Tear” nya Marillion atau “Fly on a Windshield” nya Genesis? Meski kadang saya juga memutar lagu yang membesarkanMu seperti “The Revealing Science of God” nya Yes; tetep aja saya cuekin adzan itu. Berapa kali saya menolak memberi makan anak yatim? Berapa kali saya menolak pengemis? Berapa kali saya mengeluh “ah!” kepada ibunda tercinta dimana surga ada di telapak kakinya? Sejuta dosa telah saya akumulasikan …. kok saya tetep minta kepadaMu ya Allah? Betapa tidak tahu dirinya saya …
Penggalan lirik I can see what you think you need sungguh bermakna sangat dalam bagi saya, karena saya sering-kali “sok tahu” apa yang saya butuhkan. dan biasanya, ke”sok-tahu”an saya itu tak jauh berkisar pada hal2 yang sifatnya fisik materiil: bisa beli CD yang buanyak, punya rumah yang besar dan asri, punya mobil, punya banyak uang, tabungan berlimpah, bisa jalan2 ke luar negeri, bisa nonton konser Pain of Salvation atau Dream Theater atau King Crimson .. dan sejuta “bisa” lainnya. Ini membuktikan rasa kekurangbersyukuran saya dalam menikmati apa yang sudah ada. Diberi mata yang sempurna, tapi tidak diamini dan disyukuri, malah dipakai buat nonton yang maksiat,bukan buat membaca kitabNya. Diberi tangan dan kaki sehingga bisa bersepeda, berlari, naik gunung, namun gak bersyukur. Itulah … saya suka sok tahu terhadap “what I think I need” yang sebetulnya justru Allah lah yang MAHA MENGETAHUI apa yang saya butuhkan.
Allah sendiri sebenernya sudah memberi kesempatan kita mulai sejak matahari belum terbit dengan shalat Subuh yang bisa kita gunakan memohon rahmatNya untuk masa depan kita dan memulai berangkat kerja dengan rahmatNya. Pada saat di tempat kerjapun, sebelum memulai segala macam kegiatan pekerjaan, kita diberi lagi waktu melalui shalat Dhuha untuk memohon rahmat agar apapun yang kita kerjakan pada hari tersebut merupakan jalan ibadah kepadaNya. Makanya lantunan Jon Anderson dalam “Without Hope, You Can Not Start The Day” sungguh nikmat buat memulai bekerja.
Salam,
G
Lirik lengkap “Without Hope, You Can Not Start The Day”
Hold still now for the moving information close to you.
You could never force it in your life: this decision to break it.
Without hope, you cannot start the day.
It’s coming clear I’ve noticed;
It’s a different face you’re showing.
It’s another “Welcome Back”.
I don’t imagine it could be this way — So jealous!
Only you can tell it; tell me why.
Only you call tell it.
Only you can say.
In between this moving out to save your soul it came away,
And took it out;
Oh why?
Fire burning wild, burning in the night, chasing in the wind;
Shadows always dance in the rain, ringing into the fire.
Doesn’t matter who, who can see in the smile.
Hope in the rain, open the flame, coming back in the night.
I can see the rhythm of the rain; I can see it shout back under:
I can see what you’re thinking of
I can see what you think you need
I can see what you’re thinking of
I can see that it must be love
Shadows come alight from the vision that flowed;
Shake it off – Passion is the flame that fired.
Does it matter? Can you give? Can you hear it come?
Can you see you’re like?
What’s the matter? Don’t you want to risk? Don’t you want to hold me?
Hold me, dance in the rain.
I can see the love in your eyes; I can see you coming.
I can see what you’re thinking of
I can see what you think you want
I can see what you’re thinking of
I can see that it must be love
Sweet suffering, love protection: Need it, You need; Come to me.
Believe it, better by far, your heart is there;
Most of all: Believe it.
Perfection Reaction…
March 19, 2008 at 2:15 am |
Topicnya mantafh nih. dalem bangetss
thanks pak Gatot..
saya juga ingat liriknya ayreon diiii….. albummm…(lupa euy) .. (googling dulu)
gotcha …Into the Electric Castle
lagunya berjudul tower of hope (serem ya ??)
excerpt lyricnya begini :
We’re climbing up the stairs
And hope is flowing through our veins
lagu ini sebenarnya adalah dialog antara si Hippie dan Futureman (2 dari 8 stereotype character dari epic ini) setelah mencapai ‘castle’ , dari perjalanan panjang pencarian dengan berbagai gangguan dari dirisendiri (rasa takut, putus asa dan perasaan negatif lainnya)dan tidak semuanya menemukan dan mencapai castle yang di janjikan oleh suara ‘langit’ untuk mengembalikan mereka ke dimensi yg sebenarnya , karena dimesi yg sekarang adalah dimensi yg built on dreams and fears.
hope adalah salah stu faktor mereka menemukan kembali dimensi yg sebenarnya , dimensi khitah, fitrah kita sebagai manusia dalam hubungannya dengan Sang Pencipta , Robb .
Gak usah malu selalu meminta , berdoa memohon sesuatu kepada Robb karena … fitrahnya kita manusia sebagai ciptaanNya ya begitu.. kalau kita malu dan gak pernah meminta … dialog itu tidak akan pernah terjadi dan sepertinya bukan itu yang di kehendakiNya.
Tapiii.. itu kembali ke masing2 , saya hanya berbagi yg saya ketahui he he he , kalau dianggap sok tahu ya wajar.. kalau ga sok tahu kita ga ‘hidup’.
sampai ketemu nanti malam..
“The secret of success is learning how to use pain and pleasure instead of having pain and pleasure use you. If you do that, you’re in control of your life. If you don’t, life controls you.” ~Anthony Robbins
Rgds
Procol Harum – Strangers in Space now listening
Procol Harum – (You Can’t) Turn Back the Page just listened
March 19, 2008 at 3:17 am |
kalo baca pak gatot lagi berfilsafat gini, saya kok jd mrinding ……….
March 19, 2008 at 5:28 am |
memang banyak orang yang ketakutan akan masa depannya bahkan apa yang dihadapi saat ini ,mungkin inilah yang disebut Without hope We Can Not Start The Day karena mereka tidak punya tempat bergantung yang dapat memberikan keyakinan akan masa depan oleh karenanya banyak orang jadi stress hingga bunuh diri …
They thought with horor of their present life, lost opportunities, dead hope and wrecked ambitions.. padahal optimisme itu harus selalu ada…”Tebarkan benih walaupun esok kiamat!”… kata nabi SAW.
Salam
March 19, 2008 at 6:09 am |
Walah You kok jadi We ya?! ngelamun kale aye…ha.. ha..ha.ha.ha
March 19, 2008 at 3:28 pm |
hehehe…Mas Gatot paling top kalo berfilsafat….dan kayaknya memang bener Allah SWT mengajarkan pada umat manusia untuk tidak berputus asa dan menjalani hari esok yang lebih baik…….dan memang “Without Hope You Cannot Start The Day”……sebuah ungkapan yang pas…agar kita selalu optimis dan berpikir positif dalam menyongsong masa depan kita sampai kiamat datang sekalipun…..heheehehe…Great Philosopy, Mas Gatot…..
Salam
Fridie
March 21, 2008 at 12:27 am |
@ Mas Priyo ..
Wah … ini album Ayreon termasuk yang sudah beberapa tahun ini tidak saya dengarkan. Tapi gara2 postingan ANda ini, kemarin malam abis ProgRing #1 digelar, saya buka liriknya dan baca sebaik-baiknya … waduh asik banget .. AKhirnya CD2 saya putar lagi dari awal … waduh mak nyus sekali rasanya. GLEGEK. Musiknya memang spacey metal gitu dan memang banyak narasi yang sy suka. Terima kasih mas, buat mengingatkan saya nyetel lagi koleksi cukup lama ini. Lagu ini bisa masuk dalam setlist THE RELIGIOUS SIDE OF PROG ROCK part 3 nih .. bang Ijal .. ha ha ha ha …
Ya mas, gak usah malu, cuman sering saya berpikir kok saya ini minta2 muluk. Apa bedanya dengan pengemis? He he he …
@ Mas Adi, Mas Fridie,
Waduh .. saya bukan seorang filsuf lho .. itu hanya ungkapan pribadi aja .. didasarkan atas kegundahan juga sih …
@ Pak Alfie
Yang punya gantungan harapan aja kadang masih ragu melangkah kok pak .. he he he he …
Wass,
G
March 21, 2008 at 8:26 am |
hahaha…..tp Mas Gatot bisa juga jadi filsuf…..tp paling tidak tulisan anda mungkin bisa mengingatkan saya dan temen2 bahwa dimanapun kita bisa bersyukur atas nikmat Allah SWT, bahkan lewat lagu2 progressive sekalipun, tp memang kita lebih sering lupa untuk bersyukur……yaaa paling tidak saya bersyukur masih bisa baca tulisan Mas Gatot…hehehehe…..dan jadi inget lagi kalo kita harus lebih banyak berterimakasih pada Allah SWT….atas segala rahmatnya……thanks
Salam
Fridie
March 22, 2008 at 10:34 am |
Ha ha ha ha .. Jadi filsuf? Wah .. berat itu mas .. lha wong saya cumak bisa merenung aja kok, sambil menikmati musik prog, nyeruput kopi tubruk agak manis …. duduk jigang … ngelamun … biyuh … markotop tenan mas ….!!
Saya juga bersyukur mas .. punya temen2 yang bisa diajak ngobrol GAYENG KUMAYENG koyok mas Fridie ini meski gak pernah tatap muka yo mas .. Gak popo mas .. tatap aja album Phil Collins “Face Value” mas .. ha ha ha .. opo hubungane? Ora ono! Wong prog yen ngomong sook sak enak udele mbahe mas .. hua ha ha ha ha ha …
Ya mas sFridie.. kita harus pandai BERSYUKUR ..
Salam,
G
March 22, 2008 at 4:30 pm |
hahahaha……memang mas….kita kudu bersyukur sek dike-i kuping sing apik sing iso ngrungokno progressive dengan jelas……ahaahahahahha….meskipun setelah ngrungokno akhire dadi uuuuueddddiyaaaaan kabeh…….wuahahahahahahhaha……
Salam
Fridie
April 11, 2008 at 2:35 pm |
itulah bedanya, fanatik progrock sama heavy metal. pencinta progrock pastilah ada sisi lembutnya, yang pasti di sisi selatan dari lever
kadang manusia perlu merenung, introspeksi diri… yg jelas kita tumbuh bersama di era progrock yang gemerlap. tak disangka tak dinyana, mr. g-tot pendalaman agamanya begitu faseh (kapan kasih ceramah saat concert…?). to tell you the truth, aku pibadi sungguh ‘kena’ dan ‘tersindir’, tapi tak apalah….suatu pembelajaran saja aku anggap. from 8 to 5 ? bukankah kata ‘led Zeppelin’ from 7 to 11 ?
April 12, 2008 at 9:15 pm |
Mas Tom Crimson …. walah … saya sedang merangkak belajar mendalami agama. Sebetulnya semakin kita mengenal diri kita, maka kita semakin mengenal Tuhan (kata Jalaluddin Rumi) dan .. semakin kenal agama tentunya … he he he …
Waduh … mohon maaf .. kalau “tersindir” .. karena bukan maksud utamanya kok …
Salam,
G