Archive for March, 2008

“Last Train to London” by ELO

March 31, 2008

It was 9-29,9-29 back street big city.
The sun was going down,there was music all around
It felt so right.

31032008463.jpg

It was one of those nights,one of those nights when
You feel the world stop turnin,you were standing
There,there was music in the air.i should have been
Away,but I knew Id have to stay.

31032008472.jpg

Chorus

Last train to london,just headin out,
Last train to london,just leavin town.
But I really want tonight to last forever
I really wanna be with you.
Let the music play on down the line tonight.

31032008466.jpg

It was one of those nights,one of those nights when
You feel the fire is burnin,everybody was there,
Everybody to share,it felt so right.

31032008470.jpg

There you were on your own,lookin like you were
The only one around,i had to be with you,
Nothin else that I could do,
I should have been away,but I knew Id have to say.

31032008471.jpg

Repeat chorus

Underneath a starry sky,time was still but hours
Must really have rushed by,i didnt realize
But love was in your eyes I really should have
Gone,but love went on and on…

31032008460.jpg
Last Train to Senen …
 31032008461.jpg

Nonton Pensi LABS Project

March 31, 2008
29032008399.jpg

Ini adalah acara hajatannya anak2 SMA Labs School dengan menggelar pensi di Istora Senayan tanggal 29 Maret 2008 yang lalu. Headlinersnya 5 band: Tony Rastafara, RAN, Project Pop, Naif dan The SIGIT. Saya pun gak rencana nonton, lha wong didaulat sama anak saya, Dian, buat nganterin dia. Ya udah pergi lah saya menemani dia. Pas sampai venue, Tony Rastafara sedang mulai main lagu pertama. Meski saya tidak begitu hobi banget sama reggae, penampilan Tony Rastafar cukup menarik dan bisa membakar publik penonton melalui atraksi menarik: tabla solo dan drums solo. Saya juga senang mendapati unsur musik Bali di masukkan ke musik Tony Rastafara. Project Pop tampil tidak menarik bagi saya. Band ini mencoba memaksa penonton ketawa tapi menurut saya maksa banget. Musiknya pun sama sekali tidak menarik saya dan gak ada gunanya dibahas wong saya ndak tertarik blasz! RAN, kelompok yang saat ini banyak digandrungi remaja, membawakan musik R&B yang bagi selera saya “kurang” menggairahkan. Penampil ke 4 adalah band yang saya tunggu2: The SIGIT. Jreng! Yeah!

29032008412.jpg

Saya sudah lama bgt punya cdnya the SIGIT namun baru td malem liat penampilan mrk. Luar biasa! Penonton spt dibius oleh musik mereka dan pada ikut tereak nyanyi dan goyang selama mrk tampil. Sound nya sangat 70an dan saya seneng banget bhw ternyata anak2 SMA menyukai sekali musik claro ala Led Zeppelin. Pada saat kelompok2 lainnya tampil, sambutannya tidak segegap gempita The SIGIT. Penonton terdengar hafal dengan lirik2 The SIGIT yang semuanya berbahasa Inggris. Saya juga sudah lupa lagu2nya meski ada CD nya di rumah.

The SIGIT tampil mempesona. Sang gitaris (merangkap vokalis) berada di depan panggung, jarak dekat dengan penonton. Tiga pemain lain tampil di altar, dengan raised floor. Secara musikalitas, mungkin gak ada yang baru ditawarkan oleh musik band Bandung ini. Namun, di saat dunia musik dibanjiri oleh musik2 terkini, kehadiran The SIGIT bisa memberikan dampak sangat positif dalam mengenang keindahan musik classic rock 70an. Mereka memainkan sekitar 10 lagu, termasuk ada satu lagu baru yang belum dirilis. Saya kagum sekali melihat anthusiasme penonton selama The SIGIT ini tampil memukau penggemar dan penontonnya. Jumlah penonton malam itu menurut saya sekitar 7 ribu orang. Lagu-lagu The SIGIT rupanya sudah dihafal liriknya oleh penonton malam itu. Sungguh, merupakan pengalaman gegap gempita yang menyenangkan.

Tampil dengan formasi berempat, band ini cukup membanggakan karena anggota2nya relatif masih muda. Lafaz Inggris yang diucapkan vokalis pun terasa seperti band asing saja. Musik The SIGIT sebenarnya tergolong kurang berani menampilkan riff yang penuh kesan. Sepertinya mereka masih kurang berani mengeksplor riff. Selain itu, gitar solo juga relative pendek sekali atau nyaris tidak ada. Disayangkan, stage act ke empat personil band ini juga masih kurang. Hanya sang vokalis / gitaris saja yang cukup dinamis. Pemain lainnya tidak ada yang berani melakukan stage act. Meski tidak mengganggu keseluruhan penampilan, namun ada baiknya gitaris yang satunya lagi juga ikut “pencilakan”. Rocker kok diem .. opo tumon?

Menelusuri Jaman Kaset

March 31, 2008

JRENG!

Sabtu lalu, 29 Maret 2008, memang jadwal padat sekali buat saya. Dari acara njemput anak di SMA 28, Pasar Minggu sampai ke pertemuan paguyuban Madiunan yang bernama G@mers dan berakhir dengan menonton acara musik Labs Project di Istora Senayan yang .. syukur Alhamdulillah membawa saya menikmati penampilan asik (pol!) dari The S.I.G.I.T. (singkatannya lupa … maklum sebagai wong Jowo sulit menghafal singkatan berbasis Londo. Yang saya tahu singkatan indonesianya ajah: SIngkat dan menggiGIT. Lho? Iya .. lagu2nya singkat, gak ada yang panjang, namun menggigit kualitasnya coy!). Melelahkan sih .. tidur malam itu jam 2:00. Tapi puas …

Nah .. yang saya mau bahas di thread ini adalah masalah ketemuan dengan GAM (Gabungan Anak Madiun) di Waroeng Solo, Jeruk Purut, Jak Sel. Banyak yang hadir, ada 17 orang dan ngobrolnya gayeng kumayeng kumampleng tenan … (kalo gak ngerti artinya, diambil aja maknanya meski kurang greget jadinya: “asik sekali” .. cuman sayang kurang ekspresif. Itulah .. boso Jowo itu jauuhhh lebih ekspresif dibanding bahasa apapun di dunia ini). Sopo nyono … dalam pertemuan itu saya ketemu ikon jaman dimana kaset (baca: “kaset bajakan” tapi jangan kenceng2, ntar kedengeran Bob Geldof!) merajai negeri kita. Sampe2 saat itu saya punya semboyan kok .. “gak beli jajan, asal beli kaset .. gak masalah”! Jajan bisa ditahan, tapi kalo kaset? Kagak mungkin jek! Siapakah ikon itu? Dia adalah mas Yanto dan istrinya Atty. Atty ini sekolahnya di Madiun, setahun di bawah saya. Lha kok baru aja saya tahu bahwa pasangan suami istri ini merupakan tokoh penting yang meracuni kegilaan kita dengan kaset jadul. Lho, kok bisa???

Begini … (sambil ngatur posisi duduk biar bisa jigang kakinya … Sayang lagi shaum nih .. kalo gak sambil nruput kopi tubruk Banceuy pasti muantabzzzz ….)

29032008390.jpgRupanya, suami istri ini pernah bekerja di sebuah perusahaan penerbit kaset yang terbesar di Indonesia, bahkan produksinya juga ada di Abu Dhabby untuk pasar middle east. Di Indonesia namanya King’s record. Pada tahun 1980 sd 1989, mereka berdua ditugaskan di London dengan pekerjaan utama: mengumpulkan segala macam informasi terkait dengan perkembangan musik yang ngetrend saat itu dan … (ini yang utama!) membeli PH (piringan hitam) dari keluaran band atau artis yang paling GRES! Uediyaaaannnn …!!! Lha pekerjaan kayak gini ini yang saya suka pol! Kenapa kok bukan saya ya yang dipilih ?? Waduh .. nyesel gw! Apa bisa waktu diputar balik yah? Ha ha ha ha ha …

Cerita2 mas Yanto dan Atty berkaitan dengan perburuan PH ini seru banget. Suami istri ini menjadi “MAJOR CLIENT” dari beberapa toko PH terlengkap yang ada di London, bahkan mereka di kontak seminggu sebelum PH dari artis akan dikeluarkan saat released date nya. Dan ternyata, faktor “pride” dari perusahaan perekam itu tinggi sekali sehingga mereka harus bisa memangkas cycle time pengiriman plat (PH) secepat mungkin. Mereka bangga bila perusahaan labelnya bisa memunculkan kaset paling dulu di Indonesia ketimbang perekam lainnya. Atty menceritakan bahwa Phil Collins album “Face Value” dan juga Micahel Jackson “I’m Bad” dulu kasetnya hanya beda satu hari dengan released date resmi diyanto-atty.jpg London. Critanya, sebelum released date suami-istri ini sudah memesan di toko plat langganan dan yang di Jakarta sudah menyiapkan dulu kemasan awalnya. Begitu plat di tangan, Atty langsung membawa ke kru sebuah maskapai penerbangan untuk “hand carry” ke Jakarta. sampai di airport, plat langsung pindah tangan ke perusahaan label dan JRENG langsung dibuat master dan di duplikasi dengan total waktu 3 jam. Makanya, beda antara London dan Jakarta hanya 1 hari! Apa gak gila kita jaman itu, bisa mendapatkan kaset rekaman hanya beda sehari dengan negeri asalnya? rasanya bener2 bangga karena masih segar, fresh from the oven, masih kemedhul (“berasap” – red.).

Itu baru cerita tentang kaset. Yang bikin saya ngiler sampek ndlodhosz .. itu lho .. kesempatan menonton konser “langsung” dari pertunjukan musik rock. Diyancuk! Ngiri tenan saya! Mas Yanto cerita bahwa saat Live Aids, Pink Floyd mainnya paling dahzyat dan setelah main di London, mereka langsung naik chopper ke airport dan langsung diterbangkan dengan Concorde ke New York buat main di Live Aids juga, tapi di New York. Uediyannn!!!!

Udah deh pokoknya saya ngiri abis waktu dicritain mas Yanto sama Atty ini, mengnai kehidupan mereka di London. Oh ya .. satu lagi … Atty pernah cari plat dan persis di depannya dia adalah Robert Plant yang juga sedang cari plat. Aduh, gila! Terus juga saat peresmian record store nya Richard Branson, Atty dengan Richard hanya berjarak satu lengan saja.. .. hue heh heh .. bikin orang ngiri aja …

Pokoke top dah kerjaan mereka ini. Selama mereka di London, dalam seminggu mereka membeli sekitar 50 plat dan membaca puluhan majalah musik yang terbit di London, buat memantau perkembangan rekaman musik terbaru. Juga, mereka memiliki koleksi rekaman live ratusan band / artis dari siaran tv, kualitas stereo.

Ngiler …

Koes Plus di Empat Mata

March 29, 2008

27032008350.jpgKemarin lusa (27 Maret 2008) Trans TV menggelar Empat Mata dengan tema (bintang tamu) Koes Plus. Sejak seharian, menyambut acara langka ini, temen2 di SMS Blast nya Bang Ijal udah diprovokasi tentang ”membangun nuansa” menyambut menikmati tayangan jadul ini di layar kaca. Di SMS Blast ada yang mengatakan akan menonton sambil nenggak Fanta Grape dan Green Spot – minuman yang dulu ngetop saat Koes Plus popular di masa kecil mereka; ditambah mau mengenang kejayaan listrik 110 V. Saya sendiri mengenang Koes Plus dengan ”Limun Cap KUDA SEMBRANI” yang jaman itu di Madiun, masa kecil sampai remaja saya, memang minuman palin top sebelum minuman global Coca Cola melindas limun lokal. Pokoknya segala macam atribut disiapkan untuk ”sekedar” menonton tayangan di tv dengan bintang tamu yang sangat istimewa bagi kami ini.

Betapa tidak, tahun2 itu, sekitar awal tujuhpuluhan sampe akhir, saya memang secara pribadi sangat menggandrungi lagu2 Koes Plus dan pada saat bersamaan juga menyukai Led Zeppelin, Black Sabbath, Deep Purple, Genesis, Yes, Grand Funk, Shocking Blue, The Moody Blues, Pink Floyd, Jethro Tull selain sederetan band lokal Gembel’s, The Mercy’s, PanBers, Golden Wing, AKA, SAS, Rawe Rontek, Giant Step, Favourite’s, God Bless, De Hands, Yeah Yeah Boys, Kecik Boys Band (band Madiunan), Radjawali Selatan (Rasela), The Rollies, Freedom of Rhapsodia, Trenchem, NoKoes, Mus Mulyadi (yang beken dengan ”Rek Ayo Rek”). Wis pokoke, semua band tujuhpuluhan menghiasi kehidupan kecil hingga remaja saya. Masih ingat saya, dengan sambil ngonthel sepeda jengki Forever warna hijau tua, saya bersenandung ”Keroncong Pertemuan” atau ”Nusantara” atau ”Diana” (favorit) atau ”Main Belakang” (favorit puol!), dan yang sangat menakjubkan: ”Bunga Di Tepi Jalan”. Wis jan pokoke nuansamatik nostalgik kemlithik tenan!

Masih membekas sekali di ingatan saya, saya sering sepedaan di desa-desa, misalnya di Winongo, tapi mengambil jalur ”jalan setapak” yang merupakan tanah gundul di antara semak atau rerumputan. Rasanya, kalo ngonthel sepeda di jalan27032008354.jpg setapak, ban terasa ”nglenyer” (maaf .. gak ada bahasa Indonesia satu kata yang bisa mewakili kata ”nglenyer” ini. Intinya, terasa roda sepeda menggelinding di tapak jalan tanpa hambatan sehingga gak ada usaha keras mengayuh sepeda, dan di setang sepeda pun terasa tidak ”nggronjal” alias bergetar gitu ….. Pokoke nglenyer tenan …). Sambil bersepeda itulah saya sering bersenandung lagu2 Koes Plus .. (maaf jek, jaman itu belum ada yang namanya ”walkman” dan telinga terasa emas sekali tidak dirusak suara headphone … ha ha ha ha …). Tapi justru itulah kenikmatannya .. melintasi pematang sawah .. sambil bersenandung, kadang dalam hati dan kadang sambil nyanyi di atas sadel sepeda ”Bunga di tepi jalan .. alangkah indahnya …” .. atau ”Diana Diana kekasihku .. bilang sama orang tua mu …” atau lagu PanBers ”Awal dari cinta / hidup tanpa bahagia ….” wuaduh maaaaakk … kejlungup ngguweblak saya kalo mengingat masa kecil nan super duper indah lan memorable itu .. Huwediyaaaaaaaaaannnn!!! Gusti Alloh nyuwun ngapunten …!!! You brings great memory of old days! Ah .. jadi inget lagu Chicago “Old Days” dari Chicago 7 yang juga nuansamatik nostalgic kemlithik itu …. Gila juga, ngomongin masa kecil ternyata bisa memorably orgasm tenaaaannnn … Diyancuuuuukkkkk!!! (maaf ini bukan dimaksudkan vulgar, hanya ekspresi gila aja .. so what gitu loh ….!!!).

Harus saya akui .. musik sudah menjajah saya sejak saya masih SD, bahkan mungkin saya masih kecil saat saya pertama kali denger lagunya Percy Sledge ”Warm and Tender Love” dan ”When A Man Loves A Woman”. Lucu banget, saat itu saya tahu lagu tersebut dari ibu saya (yang juga kemudian suka Uriah Heep album ”Demons and Wizards”) lantaran di siaran radio Moderato Madiun, saya tanya ”bu, iki lagune sopo?”. Ibu saya njawab ”Percy Sledge”. Lha dasar saya belum tahu boso londo .. saya protes …”Bu, mosok nama orang kok gitu .. yang bener ah bu ..”, terus ibu menjawab sabar : “Iya .. bener Toooottt …”. Saya cuman bengong karena saya ”nggumun” (heran – red.) lha kok nama orang jorok .. waktu itu yang ada di kepala saya nama penyanyi tersebut ”Persis Silid” (Maaf, sungguh, saya tidak bermaksud jorok .. ini artinya ”mirip anus” – red.). Karena memang boso Jowo itu maksudnya ya itu tadi. Baru setelah SMP saya ngeh bahwa itu Percy Sledge. Walah! Hua ha ha ha .. goblog banget saya ini ya???

Kalo ndak salah …liriknya saya nyanyikan gini saat itu ”Kek singkek nduwe mripat … and tender love .. yeeahhh ..” lha ternyata , koyone, bunyi liriknya gini: ”Let me wrap you in my heart .. and tender love .. yeeahhh …” .. huah ha ha ha ha ha ha ha .. ngguyu pol saya kalo inget masa kecil dulu. Ah .. jadi pengen nyetel CD nya Percy Sledge nih …

Lho kok ngomongin Koes Plus jadi ngelantur ke Percy Sledge. Ya ndak papa, namanya juga wong prog, kalo ngomong kudu ngak terstruktur .. lha mussiknya aja ruwet kayak ”Gates of Delirium” nya Yes .. ya otaknya ikut kusut to? Hua ha ha ha ha ….

 

Nah .. acara Koes Plus an di Empat mata kemarin lusa mengobati rasa rindu melihat kelompok ini meski mereka udah20032008076.jpg uzur. Sayang sekali yang hadir di studio hanya mas Yok Koeswoyo, sedangkan Yon dan Murry hanya diwawancara. Beberapa hari sebelumnya Kompas mengulas Yon Koeswoyo dan rumahnya yang asri, namun sayang Yon gak hadir di studio. Jangan2, mereka berseteru yah? Aduh, sayang banget .. karena menurut semboyan saya: ”Music Unites People” dan bukan sebaliknya. Tapi ya semoga itu hanya syak wasangka saya.

 

 

 

20032008077.jpg
Foto2 Yon Koeswoyo diambil dari Kompas.
 20032008081.jpg
Foto Yok Koeswoyo dijepret dari siaran Trans7.

 

27032008356.jpg

Saya senang sekali di acara tersebut ditampilkan cuplikan konser Koes Plus jadul dari TVRI dan juga perjalanan karir mereka jaman dulu, dituturkan tidak terstruktur karena ”terganggu” dengan lawakan Tukul yang ”njelehi” karena suka memotong jawaban Yok Koeswoyo. Rekaman peristiwa penting karir mereka sungguh mengagumkan apalagi mereka sampai saat ini telah merekam 89 (delapan puluh sembilan!) album musik. Luar biasa!!! Mungkin inilah satu2nya band di dunia yang memiliki album buanyak sekali. Mungkin yang bisa mengalahkan hanya Rick Wakeman, pemain kibor Yes yang bersolo karir hingga kini.

Yang sangat disayangkan adalah bahwa Tukul tidak ”menghayati” nuansa tujuhpuluhan dari lagu2 Koes Plus dan konsentrasi nya dia hanya terfokus pada ”grrrr ..” membuat lawakan yang menurut saya jadi malah merusak suasana, membunuh nuansa. Saya sudah 30 menit sebelum acara ”nyenuk” (duduk manis) di depan teve menjadi merasa betapa kurang JOSZ nya acara tersebut. Liat aja, pada saat Yok akan menjelaskan pengalaman Koes Plus di dalam PENJARA, belum juga Yok tuntas cerita, udah disela sama Tukul. Dasar lu ah Tukul! Kagak ngerti dunia musik blas! Makanya .. saya pengen banget acara ini diangkat aja lagi di acara yang lebih khusyu’ gitu loh. Ada temen saya mengusulkan, agar dibedah aja di acara KICK ANDY.

Pokoknya … Koes Plus jan top markotop kemlotop barokotop bak toyota hardtop .. hua ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ….

Btw, saya suka miris dengan lirik ini:

Telah lama, telah lama ku menunggu

Bersamamu, bersamamu ku selalu

Ku tak mau, ku tak mau .. hanya mimpi ..(aaah)

Hari ini, hari ini .. kau kembali

Terus reff nya huenak tenan buat genjrengan gitar akustik:

Kembali, kembali kita bersama sama lagi

Kembali kita bersama-sama lagi

Sampai akhir waktu nanti ….

Oooo .. Oooo Ooo… (kembali ke reff lagi)

Duh Koes Plus memang tangguh!

Salam,

G

 

Jazz di Kantin

March 27, 2008

Ini mungkin sudah kali kedua saya ngopi tubruk di kantin indosat, setelah makan siang, sambil terdengar sayup musik jazz mainstream dengan solois piano. Gak tahu dah siapa yang bawain – who cares? Tapi kok ya enak aja yah? Ha ha ha …..sebenernya saya ini progger atau jazzer sih? Who cares man! As far as the music stirs my emotion, it’s totally oke.

Rasanya memang teduh nih musiknya, renyah banget, damai. Meski piano adalah instrument utama dan instrument lainnya hanya sbg pengiring, cukup membuat hati tenteram. Ini juga sebenernya ciri musik jazz: menonjolkan solois. Sedangkan di musik prog, memang ada solonya, misalnya di “Firth of Fifth” nya Genesis; ada kalanya flute Gabriel ambil bagian solo di interlude, dibarengi sentilan gitar Hackett. Namun pada saatnya Hackett memainkan solo meraung-raung yg memabukkan dan bikin ngguweblak! Namun solo di prog bukan ditonjolkan terus menerus dan ada akhirnya.

Sedangkan di jazz spt yg saat ini saya dengar, dr awal ampek akhir pianonya nyerocos main terus tanpa bosen. Pikir2 jazz ini musiknya org egois ya? Lha ini contohnya, kok piano muluk. Satu lagu dg lainnya terasa sama. Tapi jangan salah, sy menikmatinya lho, meski kurang menantang. Kalo mbak Didy (yang pembalap Z4 itu) bilang, musike “menyek2″ …hua ha ha ha ha …..

Ya segitu aja dulu … Ini kopi tubruknya udah habis soalnya … Balik kerja ah …. Hehehe……

Classic Rock April 2008 Jan Prog Tenan!

March 26, 2008

Hawrakadddrrraaahhhhhhhhhh …….!!!! Nggeblak aku dibuatnya ketika siang tadi kuambil “oleh2″ dari temen kuliah (yang juga progger), ERWIN PRAYUDI, yang dengan baik hati .. ditengah kesibukannya mengikuti meeting puenting di Singapore, masih menyempatkan diri mencarikan majalah kesukaan saya ini: Classic Rock (April 2008) yang bertajuk: BRITISH INVASION. Memang .. ini majalah jan nuansamatik tenan, dan seringkali progmatik .. lha wong saya pernah beli yang edisinya KHUSUS membahas album Genesis terbaik dan legendaris “The Lamb Lies Down on Broadway” kok, opo ora edann???

26032008330.jpg

Meski judulnya BRITISH INVASION .. ternyata .. di dalamnya ngeprog banget! Ada ulasan mengenai SELLING ENGLAND:

26032008327.jpg

Juga .. bagi penggemar FISH nya Marillion, ada ulasan interviewnya: (liat dong ngakaknya Fish yang lepas abis .. apalagi album terakhirnya 13th Star bener2 markotop!!!)

26032008328.jpg

Wis pokoke jan mak JRENG GEMRENJENG tenan nih edisi kali ini! Langsung tadi saya KLIK berlangganan selama setahun (13 issues) supaya gak miss edisi selanjutnya. Udah gitu dapet BONUS DVD berisi 15 stage performance dari legendary bands!!! Tuuuuuuuuuuuuoooooooooobbbzzz!!!

Salam,

G

Kopdar dengan Legendary Rocker

March 25, 2008

Kemarin sore, abis ngasih training di ConocoPhillips, Ratu Prabu 2 di TB Simatupang, janjian ketemuan sama “legend” pitung-puluhan : Benny Soebardja di Citos! Waduh .. rasanya kayak ngimpi aja bisa ketemu dan ngobrol dengan seorang maestro musik rock di tahun 70an ini. Jaman dulu, saat masih numpang baca majalah AKTUIL dimana kakak saya, Henky, berlangganan dari Toko KAJI yg berlokasi di pojokan Jl. Sumatra Madiun, saya sering baca berita tentang mas Benny ini. Seru banget dulu itu, sampe ada duel antara penggemar rock dan dang-dut yang ramai dibicarakan di Aktuil dan juga majalah Top. Intinya, dua tokoh aliran ini: Rhoma Irama (dangdut) dan Benny Subardja (rock) dikabarkan berseteru. Ketika saya konfirmasi ke mas Benny tadi malam, ternyata itu cuman ulah media aja … halah!

 

24032008304.jpg

Asik juga ngobrol dengan sang Legenda ini, mulai dari obrolan musik, bisnis, bahkan agama. Bahkan, kita sempat shalat Maghrib bareng berjamaah. Saya juga senang sekali mendapatkan CD SHARK MOVE rilisan Shadoks, Germany. Yang menggelitik saya adalah foto di sleeve note nya yang nuansamatik sekali. Fotonya bener2 jadul item putih nuansamatik nostalgik kemlitihk pol!

 

24032008307.jpg

 

Salam,

G

Menikmati Alam sambil Nyetel Musik

March 22, 2008

21 Mar 08, Giri Tirta , sore hari menjelang Magrib

Menikmati kebesaran Allah swt melalui pemandangan pegunungan dan sawah nan indah …subhanallah …sambil menikmati Dream Theater “Forsaken” dr Communicator E90, volume samar2 ..,.hmm … What a life man! Sambil duduk di kursi ini:

 

22032008193.jpg

dan pandangan mata menerawang jauh ke indahnya alam seperti ini:

 

21032008166.jpg

Puas dengan hentakan “Forsaken”, sekarang pindah ke Robert Plant “Midnight in Samosa” nan indah syahdu merasuk sukma, nunjek kalbu, menohok empedu …suara gitar akustiknya itu lho! Apalagi alunan melodik suara sexy Plant ….aduh biyung Gusti Allah nyuwun ngauro….! Ini mah huenaaaaak tenan. Angin malam mulai merasuk kulit nih …semilir sejuk…. Asik banget hidup ini. Sesuai urutan, sekarang masuk “Nocturno” nya Kantata Takwa yang ngerock abis itu. Olah tutur yang dilantunkan Iwan Fals di lagu ini sungguh dalem: “orang miskin atau kaya, sama ganasnya thdp harta …”, memang bener sih. Biyuh gitar solonya Totok Tewel ganas banget nih … “Sialan …godaan … Sogokan!”.

Kemudian masuk lagu bertajuk “Northern Lights” yang beraliran power metal ala Rhapsody atau Stratovarious yg dibawakan kelompok dr Jepang bernama 403. Gak jelas, apakah ini nama band atau kode dari pemainan game di PS2 krn memang ini sy dapet dari anak Jepang yang suka Play Station … ha ha ha ha . Semangat abis dah.

Track selanjutnya pasti gak asing lagi: “Old and Wise” dari The Allan Parsons Project. Nuansamatik banget nih lagu. Jadi inget sekitar th 95 saat ada proyek di Japati, Bandung, Telkom. Kami, konsultan dr Price Waterhouse saat itu krisis air di kos2an kami di Geger Kalong. Akhirnya kami akaln dengan membeli 10 galon Aqua buat mandi! Hua ha ha … Nostalgik pol! Selain lagu ini, saat itu saya jg sdg suka Bon Jovi “These Days”. Opo tumon, progger kok doyan Bon Jovi? Yo ben! Sekarang masuk Cordova “Putaran Waktu” …. Waduh kocokan gitarnya kang Sangkan muantabbbbzzzzz! Kangen banget sy dengan lagu ini, apalagi pas gitar solonya …claro abisz dah! Kemarin Cordova ultah dan hari ini terasa pas menikmati lagunya… Top markotop!

Nyambung kemudian dg riff halus namun menawan dari Piyu dalam intro “Sang Penghibur” yg komposisinya indah menawan. Sumpah, saya suka pol kumompol ama lagu doahzyat ini. Uediyaaaannn …”Oh, bukankah ku pernah melihat bintang?” …renyah banget suara Fadly di lagu ini. Apalagi saat gitar solo di interlude nya …wuih ngguweblak! Lagu selanjutnya: “Sarabande” nya Jon Lord-….wah jan ciamik kemawik pol ini musik nya, apa lagi orkestrasinya. Muantabsz!

Waktu Maghrib tiba … Ya udah saya shalat dulu ya …

Abis magriban, sekarang sambil nunggu pesanan makan malam, lanjut menikmati musik lagi …. Nah sekarang masuk lagu baru tapi kuno karena diciptakan oleh Chris Squire dan Jon Anderson pada saat album Yes “Fragile” dirilis. Th 2007 lagu ini di aransemen ulang oleh Glass Hammer dengan vokalisasi oleh Jon Anderson. Apalagi kalo bukan “South Side of the Sky” … Ya nggak ?! (sambil alis mata naik turun 3x saat mengucapkan ini). Dengan aransemen baru, lagu ini tetap saja menawan dan membuat kuping dan hati makin tertambat aja ama kedahsyatan musik jaman normal ini )(istilah Bang Ijal). Wuiiiiih ……..muantab jumantab tenaaaaan …..

“I need you and you need me …” begitulah Khan mengawali “Space Shanty” di kegelapan malam suasana pedesaan Gunung Pancar nan asri ini …. Suara kibor Dave Stewart yg mendayu dan meliuk-liuk indah ini seolah menelikung suasana malam penuh bunyi jangkrik ini …. makin nikmat aja mendengarkan lagu legendaris ini melalui dua speaker super duper kecil dari Communicator E90 ini. Asik juga, nulis buat blog tanpa laptop, meski kibor kecil namun praktis kemlithis tenan. Biyuh … sekarang Steve Hillage ngamuk dgn gitar solonya!!! Mati ngadheg aku! uediyaaaaaaannnnnnnnnn……hawrakaddahhhhhhh…… Ampuuuuuunnnn …..

Apa gerangan lagu selanjutnya? It’s a great howling keyboard sound in an uplifting mood. Yeah! It’s God Bless “Suara Kita”. It’s really jreng gemenjreng man! I love this track and i am  proud that Indonesian band can play this great rock song! trus nyambung ke “The Lamia” nya Genesis yg legendaris itu. Aduh asik man! enak juga menikmati musik tanpa mengetahui “what’s next”. Mengalir aja gitu loh ….

Salam,

G

Merajut Makna Melalui Prog Rock (16 of 99)

March 21, 2008

Uang : Berkah atau Mudharat?

 

Pastilah Anda semua khatam lirik nuansamatik legendaries dari kelompok jadul Pink Floyd ini:

Money, get away.
Get a good job with good pay and youre okay.
Money, it’s a gas.
Grab that cash with both hands and make a stash.
New car, caviar, four star daydream,
Think Ill buy me a football team.

Money, get back.
I’m all right jack keep your hands off of my stack.
Money, it’s a hit.
Don’t give me that do goody good bullshit.
I’m in the high-fidelity first class traveling set
And I think I need a lear jet.

 

Memang, saya yakin kita semua mafhum bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan namun hanya bias memberikan comfortable life ke kita. Namun, terlalu banyak berorientasi ke uang, juga tidak akan memberikan kebahagiaan bagi kita. Pink Floyd aja bilang: Money, it’s a gas (biyuh .. muantebb kemreteb tenan saat Waters menyanyikan bagian ini …!!! Nggeblak pol!). Bisa panjang kita bahas hal ini karena memang banyak contoh2 kehidupan yang akhirnya memberikan pelajaran pahit.

Tulisan ini dipicu oleh tiga hal (musically): 1. Lagu berjudul ”Money” dari Pink Floyd, 2. Lagu pembuka rock opera “Ken Arok” dari alm. Harry Roesli, dan 3. Lagu ”Di Deretan Rel-Rel” dari Leo Kristi. Secara non musikal, tulisan ini dipicu oleh pengalaman pribadi saya mencairkan deposito buat keperluan uang sekolah anak ke dalam mata uang dinar yang baru saya lakukan Oktober 2007 yang lalu. Nah .. apa hubungannya?

Begini …. (wuih! Sok tahu banget ye gw! Ha ha ha ha ha …)

Tadi malam saya nyetir (kebetulan sendiri) sambil nyetel album Leo Kristi ”Nyanyian Fajar” yang nuansamatik nostalgik itu. Kalo tahun 70an Anda udah lahir dan ndak tahu album ini, gak usah baca deh blog ini … buat apa? Buang2 waktu aja. Kesiyan banget deh Anda kalo ndak tahu album bergambar bayi ini. Saya dapet kasetnya juga baru beberapa tahun lalu dari Pak Ali Gunawan (kolektor musik kelas wahid di Indonesia – sama dengan pak Jusuf Giwankoro di Surabaya koleksinya. Uediyan!). Dulu kaset ini di 70an dibeli oleh kakak saya Henky dan saya sering numpang nyetel lagu ”Lenggang Lenggung Badai Lautku” yang keren itu. Tadi malem, saya tersentak saat bang Leo melantunkan lirik: ”Dengan uang seratus rupiah dikantong, kudapatkan rokok keretek, kopi panas dan pisang goreng ..” di lagu ”Di Deretan Rel-Rel” yang merupakan track ke 3. Kalo itu dilantunkan pada tahun 76 (saya lupa tepatnya album ini dirilis kapan), berarti sudah 32 tahun yang lalu. Kalo tahun 2008 ini saya beli kopi panas, setidaknya harganya sudah Rp. 2.000,- dan pisang goreng Rp. 500,- . sayangnya saya bukan perokok (progger kok ngerokok, opo tumon???) anggaplah total Rp. 3,000,- buat membeli ketiga hal tersebut. Berarti rupiah telah mengalami penurunan nilai sebesar 30 kali lipat!

Untuk validasi, saya kok ujug2 mak gedhandhut inget lagu Harry Roesli di tahun 76 yang mengatakan bahwa harga kaset ”Ken Arok” rock opera saat itu Rp. 800,- Sedangkan harga kaset Indonesia sekarang ini berapa? Katakanlah Rp. 15.000,- maka sudah ada penurunan nilai rupiah sebesar 19 kali lipat. OK, kita ambil angka yang ini aja dah biar mudah, bukan yang 30 kali lipat di atas, karena kok terlalu bombastis.

Sekarang kita bandingkan dengan mata uang yang benar (menurut Al Quran), yaitu dinar. Pada sekitar 1400 tahun yang lalu di jaman rasulullah, harga seekor kambing adalah 1 (satu) dinar. Sekarang (2008) harga seekor kambing berkisar antara Rp. 800.000,- sampai Rp. 1.200.000,-. Kurs dinar menurut http://geraidinar.com/ adalah sekitar Rp. 1.200.000,-. Ini membuktikan bahwa nilai tukar dinar itu konstan sejak jaman nabi hingga dewasa ini bahkan sampai akhir jaman sekalipun! Subhanallah!!!! Coba bandingkan dengan rupiah. Jauh sekali dalam hal kestabilannya. Ini semua karena rupiah dan juga mata uang kertas lainnya yang dewasa ini tidak dijaminkan dengan emas (sejak Brettonwoods convention, 1944) tidak bisa dipakai sebagai rujukan yang aman. Dollar pun juga mengalami kemerosotan nilai karena basisnya adalah uang kertas (fiat money) yang tidak bisa dipercaya. Wah .. saya tidak bisa mengulas lebih dalam karena ada ahlinya: Bang Ijal dan juga pak Muhaimin Iqbal dari Gerai Dinar.

Pengalaman saya juga membuktikan hal yang sama. Bulan Oktober 2007 saya mengkonversikan semua tabungan saya buat sekolah anak2 saya ke dinar. Waktu itu kurs nya masih Rp. 944.000,- per dinar. Hitung aja sendiri berapa persen apresiasinya karena harga dinar hari ini (Maret 2008) sudah berkisar di atas Rp. 1.250.000,- (lebih dari 25% apresiasi dalam jangka waktu 5 bulan!). Subhanallah….

Selain untuk keamanan masa depan tabungan (untuk sekolah anak2; maklum saya kan pengusaha gurem yang labil terhadap pendapatan), menyimpan dinar merupakan tindakan penuh berkah. Setidaknya, saya menghindar ”sebagian” dari sistem ribawi.

Dengan memiliki dinar, saya merasa aman dan terhindar dari jeritan Pink Floyd: Money, it’s a gas! Karena dinar adalah berbasis emas yang super duper stabil. Kenapa stabil? Karena diciptakan oleh MAHA PENCIPTA .. Allah SWT.

So, jangan biarkan tabungan Anda dalam rupiah … simpanlah dalam dinar meski hanya satu dinar, atau Anda bisa memulai dengan uang perak alias Dirham yang juga sangat aman. Saya bukan ahlinya, tapi silakan sendiri baca di http://geraidinar.com/.

Mari kita kembali ke fitrah ekonomi yang sebenarnya, supaya kita mendapatkan berkah dari Allah SWT dan terhindar dari kemudharatan ….

Salam,

G

Catatan:

Ternyata hari ini harga Dinar terhadap rupiah  turun drastis ke angka di bawah Rp. 1.200.000,-. Namun jangan kuwatir, karena fitrahnya adalah emas, harganya akan kembali normal. Memang kita tidak boleh spekulasi dengan dinar. Kalo memang berminat terhadap Dinar, peganglah selama (minimum) satu tahun, karena rata2 Dinar mengalami kenaikan terhadap rupiah sebesar 30% per tahun. Jadi .. tenang aja kalo hari ini turun. Malahan baik, selagi turun begini, mendingan Anda beli Dinar sekarang dan insyaAllah akan membaik kembali, seperti yang sudah-sudah. Analisa mengenai dinar ini bisa dilihat di http://geraidinar.com/.

 

 

CORDOVA Ulang Tahun

March 21, 2008

Temen2 pencinta musik rock …. sekedar mengingatkan saja bahwa kemarin (20 Maret) Cordova ber-ulang-tahun. Ini postingan nya, saya cut & paste yah :

ChankS Says:
March 19, 2008 at 9:42 am edit

Yth. Bp Gatot……
Ini ada amanah dari Management CORDOVA….mengundang dgn hormat, Bapak Gatot diacara kumpul-kumpul dari keluarga besar CORDOVA, tgl. 22 Maret bada’ Magrib!
Rencana di Komp.Perumahan Adhyaksa, Lb. Bulus…..yaa kita mo daulat Bapak kasih pencerahan ala Prog.Rock Pak!
Banyak terimakasih sebelumnya Pak….
Salam dari Kel. Besar CORDOVA
nb.:
Mohon maaf dengat sangat yah Pak…., kalau ada yg salah kata……
Teman-tman I-Rock yg lain (Sir Steve & Mas Adhi)….kalo nngak liburan…..dengan senang hati….kita tunggu, salam & sampai ketemu!

Saya ucapkan:

SELAMAT ULANG TAHUN buat Cordova!!!!!!!

Keep on rockin’ …!!!!

Mohon maaf karena bentrok dengan acara di Bogor, saya besok tidak bisa menghadirinya. Semoga Cordova terus maju. tambah kompak, dan album kedua ditunggu!!!

Salam,

G

Tulisan di blog ini tentang Cordova silakan KLIK :

Cordova “Putaran Waktu”

June 4, 2007

Cordova Tampil Memukau

June 9, 2007


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 150 other followers