Fenomena Telur & Ayam yg Absurd
Friends,
Sebenernya ga niat mo nulis reportnya The Police Reunion Concert ini, krn memang sebenernya gw Tidak Di Anugerahi Kemampuan untuk menulis review seperti temen2 yg lain dimilis, tp berhubung ada request dr beberapa temen sebelum berangkat, maka terpaksa dg extra effort, gw coba utk menulis dr perspektif yg sedikit berbeda, walaupun tidak dg struktur bahasa yg baku dlm satu review, jadi mohon dimaklumi yah…
“Kalo boleh dibilang, Trend cari Duit dr group2 lawas dg model2 Reunian spt ini bener2 lagi marak dlm 5 tahun terakhir, sebut saja mulai dari KISS, Motley Crue, Genesis, Led Zeppelin, Van Halen sampai Trio Gaek The Police, hal yg menarik dr model konser2 spt ini, adalah uang yg dikeruk dr hasil manggung ternyata sangat Luar Biasa, bayangin utk acara Reunian spt ini, trio dr England ini bisa meraup US $ 133.2 juta dr tahun 2007 saja (based on Forbes Business Report 2008), fenomena ini tentu sangat menggiurkan buat group2 yg pernah eksis & sempet bubar, karena Fenomena Telur & Ayam jadi sangat Absurd (logikanya, satu group musti eksis dr penjualan album dulu, baru menuai sukses dr perjalanan Live Concertnya & teori ini tentu ga berlaku buat group2 gaek, yg memang sdh punya fans based cukup besar & tdk perlu untuk membuat album baru utk memulai satu tour, bahkan dg reuni spt ini, mereka bisa mengcreate satu album baru yg bertajuk : Reunion Concert yg bisa mencetak fulus luar biasa dr produksi CD, DVD sampai Pernik2 Merchandise, selain Concertnya itu sendiri.
Kembali ke fokus The Police, group yg dulu sangat luar biasa di medio 80an, ternyata jg melihat celah menggiurkan ini, hal ini ternyata bisa menyingkirkan Idealisme, Friksi Personal dan segala macam atribut Egoisme demi mencetak tambang dollar yg lama tidak pernah mereka rasakan sejak memutuskan untuk jalan2 masing2 secara individual. Buat mereka, teori bahwa Fans yg 20 tahun lalu masih culun, tentunya sekarang sdh punya Buying Power yg sangat tinggi, sehingga berapapun Penawaran yg mereka ajukan, pasti akan ter-absorb oleh target pasar mereka & teori itu ternyata terbukti, salah satunya adalah di Konser The Police di Singapore ini.
Konser tgl 4 February ini adalah salah satu contoh Sold Out event tahun 2008, dimana sekitar 2 minggu sebelum hari H, ticket sdh ga tersedia di ticket2 box resmi, kecuali di e-bay yg ditawarkan dg harga berlipat-lipat. Yang sebenernya tidak mengejutkan adalah, fenomena dimana hampir 40% penontonnya, berasal dari Indonesia. Hal ini sudah sangat disadari oleh promotor2 Singapore sejak 3 tahun terakhir ini, apalagi mereka memang didukung penuh oleh Government Tourism Board, sehingga langkah mereka (baca Promotor2 Singapore) untuk bisa memonopoli artis2 bagus utk “hanya” manggung di Singapore bisa berjalan mulus, karena bisa dibayangkan, berapa duit yg berputar dr penyelenggaraan konser seperti ini, mulai dari Transportasi, Akomodasi & bisnis2 penunjang lainnya, bisa menikmati “gurih”nya gemerincing Rupiah yg sudah berubah bentuk menjadi Singapore Dollar .
Balik ke cerita konser, sejak jam 19.00, Venue (Singapore Indoor Stadium) sudah dipadati oleh ribuan fans The Police, gw masuk ke dalam sekitar jam 19.30, penonton masih sekitar 35% yg masuk, tp begitu jam 20.00, tiba2 band pembuka ( Fiction Plane) langsung menggebrak (nama band ini tidak tercantum di publikasi acara ) & langkah ini cukup jitu untuk memaksa penonton yg masih Hang Out diluar Venue, buat cepet2 cari tempat duduk masing2, sehingga venue bener2 penuh, opening band beraksi sampe sekitar jam 20.45, dan dengan tata panggung seadanya (tanpa Backdrop) mereka berusaha main secara maksimal, tp berhubung ga ada penonton yg tahu lagu2nya mereka, jadi applaus cuman jd cerita basa-basi ala orang timur.
The Police sendiri mulai naik panggung jam 21.15, Jreng! Langsung panggung digebrak ama “Message in The Bottle, Synschronicity II & Don’t Stand so Close to Me” Jujur aja, gw ga begitu hafal lagu2 The Police album per album, referensi gw cuman satu Album the Best (karena gw pikir ini Tour Reuni (bukan Tour Album baru), jadi pasti lagu2nya ga jauh2 dr kompilasi terbaiknya yg sudah beredar dlm berbagai versi & teori bahwa ga usah repot2 ngapalin satu persatu pelajaran dr masing2 album, cukup ambil kumpulan soal2 dr bank soal (he…he ini pengalaman sbg pelaku generasi praktis) ternyata teori ini bener adanya), karena hampir semua lagu di album The Best ini, bener2 dimainin oleh mereka. Jujur aja, enaknya melihat group Legend manggung adalah terletak pd kemampuan mereka untuk “Berkomunikasi” dg penonton, satu hal yg jarang dipunyai oleh band2 pemula (rata2 band muda, masih melihat tour panjang sbg ajang “Kejar Setoran” dibanding bermain sebagai bentuk aplikasi Seni & Kesenangan).
Dari ketiga personel :Sting (Gordon Sumner), Steward Copeland & Andy Summers, kemampuan Copeland inilah yg bener2 mendominasi konser selama 1.5 jam, menurut gw, dialah “Komandan” yg sebenarnya dari pasukan Polisi ini, walaupun jenderalnya masih di pegang oleh Sting, sedangkan fungsi Andy Summers lebih sebagai “Penjaga Ritme Musik” saja.
Konser ini bener2 jadi ajang pamer Copeland untuk unjuk kebolehan dalam menabuh segala macam bentuk Perkusi (ada Puluhan set Perkusi di belakang set Drumnya dia), bahkan di lagu ‘Wrapped Around Your Finger”, dia bener2 memperkosa semua bunyi2an perkusi yg dibawa & dua jempol untuk kualitas sound malam itu, dimana gemerincing symbal kecil yg dipukul, bener2 bisa didenger oleh kuping yg kurang peka sekalipun. Ga salah kalo di paruh konser, Sting bilang “Welcome To The Steward Copeland’s show”.
Total sekitar 18 lagu dibawain trio ini & seluruh penonton di Indoor Stadium, bener2 dipaksa bergoyang mengikuti Improvisasi mereka yg dicampur aduk antara Adonan Jazz, Reagge, New Wave & Punk.
Yg menarik dari konser ini, selain Kualitas Sound yg prima,adalah Kecanggihan Lighting Systemnya (walaupun stagenya sederhana & tanpa backdrop (hal ini ternyata untuk memberi kesempatan penonton dibelakang panggung( yg ternyata cukup penuh), untuk bisa menonton aksi mereka), total sekitar 27 Moving Head di area bawah panggung & 42 set disisi atas, menjadikan panggung malam itu semacam Kolam Pemandian Cahaya yg sangat atraktif (ada sekitar 8 set lighting yg diatur secara Hidrolis naik turun mengikuti jenis lagunya).
Secara singkat, konser ini bener2 menjadi ajang Sidang Paripurna Kepuasan sekitar 8.000 Penonton, hampir semua orang yg hadir, bener2 puas bisa berjingkrak, bergoyang tanpa mengingat Gender, Umur & Status.
Satu hal yg gw pelajari dr konser ini adalah, keseriusan Singapore dalam mempersiapkan Konser2 spt ini sebagai salah satu bentuk Industri yg Berkesinambungan, sebagai contoh sebelum konser dimulai, disetiap kursi, disisipkan Flyer tentang event Formula 1 yg akan segera diselenggarakan di penghujung 2008 ini, kemudian di Giant Screen jg ditampilkan iklan utk Konser Santana di tgl 18 february ini. Gw cuman membayangkan, betapa Goverment ternyata bisa menjadi media yg baik buat para pelaku bisnis yg terlibat dalam rangkaian event2 semacam ini, sehingga menjadikan Singapore seakan sebagai satu tempat Impian yg bisa menjadikan Ajang pemenuhan semua kebutuhan baik dr sisi Bisnis maupun Entertainment secara komprehensive, gw cuman bisa berkhayal, kapan Pemerintah kita bisa mengkoordinasikan kegiatan2 sejenis dg para pelaku bisnis lokal, sehingga Pencanangan “Visit Indonesia Year 2008″ bukan sekedar slogan belaka ( tanpa adanya langkah kongkrit menuju kesana). Padahal kalo pemerintah mau menjadi mediator yg baik & setiap komponen promotor bisa saling mengisi setiap kegiatan dg terkoordinasi, maka akan tercipta banyak peluang bisnis yg cukup besar disini (bayangkan dalam satu kegiatan event, berapa orang yg bisa terserap dr kegiatan pencetakan poster , flyer & spandu, kemudian berapa orang yg terserap untuk prodses pencetakan ticket pertunjukan, trus berapa orang yg bisa mendapatkan rejeki dari pemasangan baliho2 event, berapa pula penjual teh Botol & makanan, tukang parkir serta Calo Ticket yg bisa mendapatkan fulus dr penyelenggaraan event2 semacam ini, yg jelas, kegiatan seperti ini, akan menciptakan peluang2 bisnis yg berkesinambungan, yg akhirnya akan membuka banyak lapangan kerja utk saudara2 kita).
Layaknya Singapore sebagai satu Cafe, yg harus mengisi dg kegiatan2 supaya Cafenya tetap rame, mereka cukup berhasil dg salah satunya acaranya & pengisi acara malam itu adalah The Police, sayangnya lamunan gw terpaksa sirna, seiring dg beringsutnya penonton mencari pintu keluar dr venue”
Complete Setlist (sorry mungkin ada yg ga berurutan) :
· Message in a Bottle
· Synchronicity II
· Don’t Stand so Close to me
· Walking On The Moon
· Voices Inside My Head
· When The World Is Running Down
· Driven To Tears
· Hole In My Life
· Every Little Thing She Does Is Magic
· Wrapped Around Your Finger
· De Do Do Do De Da Da Da
· Invisible Sun
· Can’t Stand Losing You
· Roxanne
Encore:
· King Of Pain
· So Lonely
· Every Breath You Take
· Next To You
Oleh ANDRE SOLUCITE, diposting di i-rockmusik@googlegroups.com

Biyuh .. lagu “Do What You Like” itu jan keren mukeren tenaaaaannn!!! Saya yakin, kalo disandingkan satu panggung dengan Grand Funk Railroad masing2 membawakan repertoire sendiri .. Mark Farner bakalan jiper melihat penampilan AKA nan top markotop itu! Sejak saat itu saya keranjingan sama lagu2 AKA dan mengumpulkan kaset2nya.




terjadi di Bandung pada Sabtu lalu yang merenggut 10 korban meninggal dunia. Tragis. Cerpen ini ditulis oleh Eben, gitaris kelompok BURGER KILL dari Bandung. Kejadian ini perlu kita renungkan agar di kemudian hari penyelenggaraan konser musik, terutama rock, berjalan jauh lebih tertib dan aman. Saya sendiri sudah beberapa kali menjadi MC konser metal dan rock, namun selama ini saya lihat mereka (penonton) cukup tertib. Penuturan Eben ini diposting sama temen saya Supriyanto di milis i-rockmusik@googlegroups.com. Minggu depan, 22 Feb 2008, konser Helloween digelar dan Burger Kill juga main sebagai opening act. Semoga tidak ada pembatalan penyelenggaraan konser ini karena tragedi berdarah di Bandung. Juga konser internasional lainnya akan digelar: Bjork, Incubus, Skid Row. Semoga semua berjalan lancar.