Archive for February 11th, 2008

The Police Reunion Concert 2008

February 11, 2008

Fenomena Telur & Ayam yg Absurd 

Friends,

andre-di-karockean.jpgSebenernya ga niat mo nulis reportnya The Police Reunion Concert ini, krn memang sebenernya gw Tidak Di Anugerahi  Kemampuan untuk menulis review seperti temen2 yg lain dimilis, tp berhubung ada request dr beberapa temen sebelum berangkat, maka terpaksa dg extra effort, gw coba utk menulis dr perspektif yg sedikit berbeda, walaupun tidak dg struktur bahasa yg baku dlm satu review, jadi mohon dimaklumi yah…

“Kalo boleh dibilang, Trend cari Duit dr group2 lawas dg model2 Reunian spt ini bener2 lagi marak dlm 5 tahun terakhir, sebut saja mulai dari KISS, Motley Crue, Genesis, Led Zeppelin, Van Halen sampai Trio Gaek The Police, hal yg menarik dr model konser2 spt ini, adalah uang yg dikeruk dr hasil manggung ternyata sangat Luar Biasa, bayangin utk acara Reunian spt ini, trio dr England ini bisa meraup US $ 133.2 juta dr tahun 2007 saja (based on Forbes Business Report 2008), fenomena ini tentu sangat menggiurkan buat group2 yg pernah eksis & sempet bubar, karena Fenomena Telur & Ayam jadi sangat Absurd (logikanya, satu group musti eksis dr penjualan album dulu, baru menuai sukses dr perjalanan Live Concertnya & teori ini tentu ga berlaku buat group2 gaek, yg memang sdh punya fans based cukup besar & tdk perlu untuk membuat album baru utk memulai satu tour, bahkan dg reuni spt ini, mereka bisa mengcreate satu album baru yg bertajuk : Reunion Concert yg bisa mencetak fulus luar biasa dr produksi CD, DVD sampai Pernik2 Merchandise, selain Concertnya itu sendiri.

Kembali ke fokus The Police, group yg dulu sangat luar biasa di medio 80an, ternyata jg melihat celah menggiurkan ini, hal ini ternyata bisa menyingkirkan Idealisme, Friksi Personal dan segala macam atribut Egoisme demi mencetak tambang dollar yg lama tidak pernah mereka rasakan sejak memutuskan untuk jalan2 masing2 secara individual. Buat mereka, teori bahwa Fans yg 20 tahun lalu masih culun, tentunya sekarang sdh punya Buying Power yg sangat tinggi, sehingga berapapun Penawaran yg mereka ajukan, pasti akan ter-absorb oleh target pasar mereka  & teori itu ternyata terbukti, salah satunya adalah di Konser The Police di Singapore ini.

Konser tgl 4 February ini adalah salah satu contoh Sold Out event tahun 2008, dimana sekitar 2 minggu sebelum hari H, ticket sdh ga tersedia di ticket2 box resmi, kecuali di e-bay yg ditawarkan dg harga berlipat-lipat. Yang sebenernya tidak mengejutkan adalah, fenomena dimana hampir 40% penontonnya, berasal dari Indonesia.  Hal ini sudah sangat disadari oleh promotor2 Singapore sejak 3 tahun terakhir ini, apalagi mereka memang didukung penuh oleh Government Tourism Board, sehingga langkah mereka (baca Promotor2 Singapore) untuk bisa memonopoli artis2 bagus utk “hanya” manggung di Singapore bisa berjalan mulus, karena bisa dibayangkan, berapa duit yg berputar dr penyelenggaraan konser seperti ini, mulai dari Transportasi,  Akomodasi & bisnis2 penunjang lainnya, bisa menikmati “gurih”nya gemerincing Rupiah yg sudah berubah bentuk menjadi Singapore Dollar .

Balik ke cerita konser, sejak jam 19.00, Venue (Singapore Indoor Stadium) sudah dipadati oleh ribuan fans The Police, gw masuk ke dalam sekitar jam 19.30, penonton masih sekitar 35% yg masuk, tp begitu jam 20.00, tiba2 band pembuka ( Fiction Plane) langsung  menggebrak (nama band ini tidak tercantum di publikasi acara ) & langkah ini cukup jitu untuk memaksa penonton yg masih Hang Out diluar Venue, buat cepet2 cari tempat duduk masing2,  sehingga venue bener2 penuh, opening band beraksi sampe sekitar jam 20.45, dan dengan tata panggung seadanya (tanpa Backdrop) mereka berusaha main secara maksimal, tp berhubung ga ada penonton yg tahu lagu2nya mereka, jadi applaus cuman jd cerita basa-basi ala orang timur.

The Police sendiri mulai naik panggung jam 21.15, Jreng! Langsung panggung digebrak ama “Message in The Bottle, Synschronicity II & Don’t Stand so Close to Me” Jujur aja, gw ga begitu hafal lagu2 The Police album per album, referensi gw cuman satu Album the Best (karena gw pikir ini Tour Reuni (bukan Tour Album baru), jadi pasti lagu2nya ga jauh2 dr kompilasi terbaiknya yg sudah beredar dlm berbagai versi & teori bahwa ga usah repot2 ngapalin satu persatu pelajaran dr masing2 album, cukup ambil kumpulan soal2 dr bank soal (he…he ini pengalaman sbg pelaku generasi praktis) ternyata teori ini bener adanya), karena hampir semua lagu di album The Best ini, bener2 dimainin oleh mereka. Jujur aja, enaknya melihat group Legend manggung adalah terletak pd kemampuan mereka untuk “Berkomunikasi” dg penonton, satu hal yg jarang dipunyai oleh band2 pemula (rata2 band muda, masih melihat tour panjang sbg ajang “Kejar Setoran” dibanding bermain sebagai bentuk aplikasi Seni & Kesenangan).

Dari ketiga personel :Sting (Gordon Sumner), Steward Copeland & Andy Summers,  kemampuan Copeland inilah yg bener2 mendominasi konser selama  1.5 jam, menurut gw, dialah “Komandan” yg sebenarnya dari pasukan Polisi ini, walaupun jenderalnya masih di pegang oleh Sting, sedangkan fungsi Andy Summers lebih sebagai “Penjaga Ritme Musik” saja.

Konser ini bener2 jadi ajang pamer Copeland untuk unjuk kebolehan dalam menabuh segala macam bentuk Perkusi (ada Puluhan set Perkusi di belakang set Drumnya dia), bahkan di lagu ‘Wrapped Around Your Finger”, dia bener2 memperkosa semua bunyi2an perkusi yg dibawa & dua jempol untuk kualitas sound malam itu, dimana gemerincing symbal kecil yg dipukul, bener2 bisa didenger oleh kuping yg kurang peka sekalipun. Ga salah kalo di paruh konser, Sting bilang “Welcome To The Steward Copeland’s show”.

Total sekitar 18 lagu dibawain trio ini & seluruh penonton di Indoor Stadium, bener2 dipaksa bergoyang mengikuti Improvisasi mereka yg dicampur aduk antara Adonan Jazz, Reagge, New Wave & Punk.

Yg menarik dari konser ini, selain Kualitas Sound yg prima,adalah Kecanggihan Lighting Systemnya (walaupun stagenya sederhana & tanpa backdrop (hal ini ternyata untuk memberi kesempatan penonton dibelakang panggung( yg ternyata cukup penuh), untuk bisa menonton aksi mereka), total sekitar 27 Moving Head di area bawah panggung & 42 set disisi atas, menjadikan panggung malam itu semacam Kolam Pemandian Cahaya yg sangat atraktif (ada sekitar 8 set lighting yg diatur secara Hidrolis naik turun mengikuti jenis lagunya).

 Secara singkat, konser ini bener2 menjadi ajang Sidang Paripurna Kepuasan sekitar 8.000 Penonton, hampir semua orang yg hadir, bener2 puas bisa berjingkrak, bergoyang tanpa mengingat Gender, Umur & Status.

Satu hal yg gw pelajari dr konser ini adalah, keseriusan Singapore dalam mempersiapkan Konser2 spt ini sebagai salah satu bentuk Industri yg Berkesinambungan, sebagai contoh sebelum konser dimulai, disetiap kursi, disisipkan Flyer tentang event Formula 1 yg akan segera diselenggarakan di penghujung 2008 ini, kemudian di Giant Screen jg ditampilkan iklan utk Konser Santana di tgl 18 february ini.  Gw cuman membayangkan, betapa Goverment ternyata bisa menjadi media yg baik buat para pelaku bisnis yg terlibat dalam rangkaian event2 semacam ini, sehingga menjadikan Singapore seakan sebagai satu tempat Impian yg bisa menjadikan Ajang pemenuhan semua kebutuhan baik dr sisi Bisnis maupun Entertainment secara komprehensive, gw cuman bisa berkhayal, kapan Pemerintah kita bisa mengkoordinasikan kegiatan2 sejenis dg para pelaku bisnis lokal, sehingga Pencanangan “Visit Indonesia Year 2008″ bukan sekedar slogan belaka ( tanpa adanya langkah kongkrit menuju kesana).  Padahal kalo pemerintah mau menjadi mediator yg baik & setiap komponen promotor bisa saling mengisi setiap kegiatan dg terkoordinasi, maka akan tercipta banyak peluang bisnis yg cukup besar disini (bayangkan dalam satu kegiatan event, berapa orang yg bisa terserap dr kegiatan pencetakan poster , flyer & spandu, kemudian berapa orang yg terserap untuk prodses pencetakan ticket pertunjukan, trus berapa orang yg bisa mendapatkan rejeki dari pemasangan baliho2 event, berapa pula penjual teh Botol & makanan, tukang parkir serta Calo Ticket yg bisa mendapatkan fulus dr penyelenggaraan event2 semacam ini, yg jelas, kegiatan seperti ini, akan menciptakan peluang2 bisnis yg berkesinambungan, yg akhirnya akan membuka banyak lapangan kerja utk saudara2 kita).

Layaknya Singapore sebagai satu Cafe, yg harus mengisi dg kegiatan2 supaya Cafenya tetap rame, mereka cukup berhasil dg salah satunya acaranya & pengisi acara malam itu adalah The Police, sayangnya lamunan gw terpaksa sirna, seiring dg beringsutnya penonton mencari pintu keluar dr venue”

Complete Setlist (sorry mungkin ada yg ga berurutan) :

·         Message in a Bottle

·         Synchronicity II

·         Don’t Stand so Close to me

·         Walking On The Moon

·         Voices Inside My Head

·         When The World Is Running Down

·         Driven To Tears

·         Hole In My Life

·         Every Little Thing She Does Is Magic

·         Wrapped Around Your Finger

·         De Do Do Do De Da Da Da

·         Invisible Sun

·         Can’t Stand Losing You

·         Roxanne

Encore:

·         King Of Pain

·         So Lonely

·         Every Breath You Take

·         Next To You

 

Oleh ANDRE SOLUCITE, diposting di i-rockmusik@googlegroups.com

 

AKA nan Nuansamatik!!!

February 11, 2008

Terima kasih kepada majalah Rolling Stone Indonesia, terutama Denny MR, yang telah memuat artikel tentang AKA yang selama membacanya saya ndhredheg mbrebes mili inget masa kecil dan muda saya. banyak kisah yang bener2 menyentuh emosi saya. Ini apresiasi yang bagus sekali dari RSI terhadap musisi lokal jaman mbiyen (jadul – red.) . Bravo RSI! Saya jadi inget masa kecil saya …. my right-placed childhood

lahar-panas-aka.jpg

Masa kecil saya selalu tidak pernah lepas dari dunia musik – sembarang kalir aliran, baik itu pop, disco, rock, jazz .. semuanya tumplek bleg dalam satu cita. Kalo memang pada akhirnya mengerucut ke prog dan rock, itu hanya karena masalah preferensi belaka. Mungkin juga musik rock pertama yang saya dengar ya “Fools” nya Deep Purple yang saya dengar saat saya liburan ke Jakarta dan kakak saya, mas nDoet, memiliki kaset DP “Fireball”. Luar biasa itu kibor solo di tengah lagu disertai gebugan drum Paice.

Kemudian pas manuk saya disunat, ibu saya mengadakan syukuran kecil2an diantara handai-tolan. Mulyono (plesetan dari lumayan yang kalau dibaca kebalik gaya arek Malang menjadi ‘nayamul’ .. terus biar enak lagi maka jadilah ‘mulyono’. Maap bagi temen2 yang namanya Mulyono. tapi harusnya Anda berbangga karena tanpa melihat apapun anda udah dikategorikan ‘lumayan’ .. ha ha ha ha h)-lah … di akhir syukuran, dari amplop yang terkumpul kok saya dapet uang yang bisa dibelikan tape recorder mono Panasonic warna abu2. Dibeli di Pasar Kawak, Jl. Bogowonto, Madiun. Sekalian ada 6 kaset yang dibeli (dipilihkan) oleh kakak saya no. 2, mas Henky: Uriah Heep “Demons and Wizards” (side B nya Khan “Space Shanty” dan Lucifer’s Friend “Where The Groupies Killed The Blues”) rekaman Starlite Surabaya, Santana (rekaman Nirwana), Deep Purple “Who Do You Think We ARe” yang ada Woman From Tokyo (rekaman Nirwana) sama tiga kaset grup lokal, kalo ndak salah: RASELA, The Gembel’s sama The Mercy’s.  Kontan .. tiap hari muter kaset2 tersebut sampe ibu saya (sekarang 81 tahun) juga suka Uriah Heep .. ha ha ha ha …

Singkat kata.. saya akhirnya koleksi musik rock termasuk kaset “Do What You Like” dari kelompok Suroboyoan AKA.aka.jpg Biyuh .. lagu “Do What You Like” itu jan keren mukeren tenaaaaannn!!! Saya yakin, kalo disandingkan satu panggung dengan Grand Funk Railroad masing2 membawakan repertoire sendiri .. Mark Farner bakalan jiper melihat penampilan AKA nan top markotop itu! Sejak saat itu saya keranjingan sama lagu2 AKA dan mengumpulkan kaset2nya.

Senengnya lagi, beberapa bulan kemudian terbetik kabar bahwa AKA akan mengadakan pertunjukan di Stadion Utama Madiun .. whhhHHHHoooAAAAA …..!!! hati ini bungah tenan …. udah lagunya keren, berita2 di AKTUIL (referensi utama saya) tentang atraksi panggungnya AKA memang dahsyat .. wuiiiihhhh …. Beberapa minggu sebelum konser digelar, saya ngonthel wira-wiri dari rumah saya di Jl Sumatra ke Stadion Utama (sekitar 10 KM pulang pergi) mengantisipasi keadaan dan dimana nantinya saya akan duduk atau berdiri menonton konser AKA. Kadang saya menirukan gaya Arthur Kaunang memainkan bass gitar padahal saya ndak bisa main gitar .. lha wong masih SD saat itu…

aka-ucok-arthur.jpg

Hari yang dinanti-nantikan tiba … saat konser digelar dan saya udah dag dig dug pengen liat muka2 personel AKA di atas panggung .. wuuihhh pasti nggajak (keren – red.) tenan ..!! Saya lupa mereka membuka atraksi dengan lagu apa .. kayaknya lagunya James Brown atau Joe Tex (ha ha ha ha .. masih inget nama ini? Nuansamatik nih nama!). Jancuk keren banget atraksi mereka. Si Arthur gayanya pake nendhank kaki ke atas sambil mbetot bass gitarnya .. si Ucok juga gila dengan orgel nya – njungkel kesana-kemari. Di depan panggung memang ada tiang gantungan yang siap dipakai Ucok buat atraksi gendhenk nya. Juga ada peti mati. Terus terang .. untuk urusan ini saya paling takut dan saat atraksi peti mati, mata saya bener2 merem tapi ngriyip (ngintip sedikit dari stengah merem – red.) karena penasaran. Memang atraktif sekali bang Ucok Harahap ini! Gak jelas lagunya apa yang dibawakan – wong saya cumak apal “Do What You Like” aja kok .. tapi tetep permainan AKA di panggung bener2 spektakuler!! (Bener juga Ucok mengatakan bahwa konser musik itu konsepnya: 60% buat mata dan hanya 40% buat telinga). Wisss .. pokoke muanteb kemretebhz tenaaannn …!!! Saya lupa apakah waktu itu ada opening act ya? Rasanya iya .. kalo ndak salah band Madiun yang namanya Kecik Boys yang main. Tapi pokoke konser malam itu bener2 nuansamatik nostalgik memorablik pol! Yang seru .. pas buabaran konser … jalan raya di depan stadion utama (sekarang Jl. Kol. Mahardi) penuh sesak dengan manusia berjalan sampai sepanjang 2 KM dan baru agak lega jalannya saat udah deket perempatan Pasar Gede. Bener2 mbludag dah itu konsernya.

aka-on-stage-1.jpg
aka-on-stage-2.jpg

Oh ya .. mengenai Kecik Boys .. itu sebetulnya nama geng di Madiun. Ngetop banget saat itu di tahun 70an. salah satu pentholannya bernama Bagio, wajahnya keren dan tubuhnya ceking. Mereka suka ngeband di Jl. Pahlawan dan saya suka banget nonton mereka latihan, apalagi kalo bawain lagunya Santana “No One To Depend On” ,… wualaaahhhh …!!! Top markotop kemlotop barokotop tenannnnnn!!! Mas Bagio inilah yang ngedrum. Merka udah tingkat SMA saat saya SD, jadi ya reken2 mereka ya “mas mas” lah .. lha wong seusia kakak saya mas Henky. Kalo ndak salah juga, band ini juga jadi opening act nya Yeah Yeah Boys … ha ha ha … band jadul lainnya tuh … saya gini2 juga pernah nonton lho. Yang saya penasaran sebetulnya Rawe Rontek yang pake atraksi debus. Beritanya di Aktuil heboh banget band ini, tapi saya ndak pernah nontok.

Kembali ke AKA, saya bersyukur punya kenalan bernama Ali Gunawan – kolektor piringan hitam paling lengkap di Indonesia, dengan 13 ribu koleksi! Ediyan tenan! Sehingga pada sekitar tahun 2000an saat masih ada radio classic rock M97, saya main ke rumahnya di Pasar Baru dan beliau dengan sangat baiknya merekamkan saya lagu2 top AKA dan SAS dari PH ke CDR. Lha ini .. saya nulis sambil menikmati “Baby Rock”, “Do What You Like” ama “Crazy Joe” .. muantabzsss ….

aka-pop-melayu.jpg

Sekali lagi, terima kasih Rolling Stone Indonesia yang membantu menegakkan emosi masa kecil dan muda saya. Ulasannya bener2 muantab! Jangan sebut Anda rocker kalo ndak beli majalah ini edisi terakhir. Lho? Kok promosi? Ndak kok .. saya ndak ada urusan komersil apa2 sama Rolling Stone .. saya cumak seneng aja band jaman mbiyen masih diulas jugak .. Saluuutttttt!!!!

aka-diskografi.jpg

Oh ya .. terakhir kali saya nonton adalah Arthur Kaunang main bertiga bawain “Legend of The Month” GRAND FUNK RAILROAD di Waroeng Kemang, Jakarta. Muantab tenan! Sebelumnya, sekitar 81-an saya nonton Arthur satu panggung dengan Yuke Semeru (G’Brill) main di Gelora Saparua .. pake atraksi bakar gitar segala ,… gendhenk tenan!

Keep on rockin’ ..!!!

NB. Foto2 saya jepret langsung dari majalah Rolling Stone – tanpa ijin, maap. Biar seru aja kok .. tanpa ada maksud melanggar copy act right …. jiwa rocker aja. Nyuwun sewu njih …

Cerita Pendek Tragedi Berdarah Konser Beside

February 11, 2008

Pengantar : MUSIK ROCK INDONESIA BERDUKA …. Ini memang suasana berkabung dari tragedi yang baru sajadsc00232.jpg terjadi di Bandung pada Sabtu lalu yang merenggut 10 korban meninggal dunia. Tragis. Cerpen ini ditulis oleh Eben, gitaris kelompok BURGER KILL dari Bandung. Kejadian ini perlu kita renungkan agar di kemudian hari penyelenggaraan konser musik, terutama rock, berjalan jauh lebih tertib dan aman. Saya sendiri sudah beberapa kali menjadi MC konser metal dan rock, namun selama ini saya lihat mereka (penonton) cukup tertib. Penuturan Eben ini diposting sama temen saya Supriyanto di milis i-rockmusik@googlegroups.com. Minggu depan, 22 Feb 2008, konser Helloween digelar dan Burger Kill juga main sebagai opening act. Semoga tidak ada pembatalan penyelenggaraan konser ini karena tragedi berdarah di Bandung. Juga konser internasional lainnya akan digelar: Bjork, Incubus, Skid Row. Semoga semua berjalan lancar.

————–

Bandung, 9 Februari 2008
Cerita pendek Tragedi Berdarah konser musik Beside.

Tepat jam 19.00 wib saya tiba di gedung AACC di jalan Braga Bandung, tempat dimana launching album perdana band metal asal kota kembang Beside digelar. Suasana diluar gedung sangat ramai dipenuhi teman-teman dari komunitas yang berkumpul untuk menyaksikan konser tunggal dari band yang baru saja meluncurkan album bertitel “Against Ourselves” ini. Di depan gerbang gedung yang berkapasitas 500 orang ini saya melihat ratusan metalhead yang terus mengantri berusaha masuk kedalam gedung, terlihat juga beberapa orang aparat keamanan yang sedang bersantai duduk diatas motor yang diparkir di depan gedung. Tidak lama kemudian dari luar terdengar Beside sudah mulai menggeber lagu pertama dari set list konser mereka malam ini, tanpa banyak menunggu saya langsung masuk melalui pintu samping gedung yang dikhususkan untuk para undangan dan teman-teman media.Dari pinggir panggung saya melihat hampir 800 metalhead memadati crowd yang intens berpogo ria diiringi penampilan Beside yang powerfull, setelah saya perhatikan nampaknya pihak panitia telah menjual jumlah tiket yang melebihi kapasitas gedung. Sempat beberapa kali saya melihat beberapa penonton yang mabuk dan pingsan dehidrasi dikarenakan kurangnya sirkulasi udara segar di dalam gedung, tapi sangat disayangkan pihak panitia tidak sigap menyediakan bantuan yang maksimal seperti PMI atau tim khusus untuk menangani kejadian seperti ini, sehingga beberapa penonton yang pingsan hanya dibiarkan tergeletak di lorong samping panggung tanpa pertolongan yang benar.

Memang udara didalam gedung sangat panas dan pengap hingga dipertengahan konser saya berjalan keluar melalui jalan samping untuk membeli minuman dingin. Dari depan pintu samping saya melihat kerumunan penonton tanpa tiket yang beramai-ramai berusaha merubuhkan gerbang utama gedung AACC ini, namun sayangnya para aparat yang berada di sekitar gerbang tidak melakukan tindakan antisipasi dan hanya berdiri merokok menyaksikan kejadian tersebut. Sempat saya mengingatkan salah seorang aparat untuk segera bertindak tapi hanya sebuah jawaban sederhana yang saya terima, “Udah biarin aja ada panitia yang jaga, kamu ga usah ikut-ikutan” tuturnya. Aneh mendengarnya, seharusnya mereka lebih sigap dan segera mengamankan kejadian tersebut. Merasa tidak digubris saya kembali masuk kedalam gedung dan memberi tahu kondisi diluar gedung ke pihak panitia yang berjaga didalam, akhirnya beberapa panitia berlarian keluar untuk ikut membantu.

Setelah pemutaran video klip “Holyman” melalui big screen di kanan kiri panggung para personil Beside terlihat membagikan beberapa gelas bir kepada penonton yang berada di barisan depan panggung, tentunya suguhan ini dengan gembira ditanggapi oleh para penonton yang memang kehausan setelah terus berpogo. Tak berselang lama Beside kembali bersiap dan melanjutkan konser mereka. Sekitar jam 20.30 konser yang berjalan lancar ini berakhir, kerumunan penonton yang mengantri untuk keluar pun terlihat aman dan tertib. Didalam gedung terdapat beberapa penonton yang kelelahan dan beristirahat sambil menunggu antrian yang cukup panjang. Dan tragedi buruk ini pun dimulai, tidak lama kemudian saya mendapat kabar bahwa diluar ada dua orang penonton yang meninggal karena kehabisan nafas.

Tiba-tiba seorang aparat tanpa seragam naik ke atas panggung dan langsung berteriak-teriak menyuruh semua penonton yang ada didalam gedung untuk segera keluar. Tanpa basa-basi pun beberapa polisi lainnya ikut masuk kedalam dan dengan kasar mengusir semua penonton yang tersisa. Kembali saya coba mengingatkan para aparat untuk tidak bertindak kasar dan menerangkan bahwa diluar antrian penonton masih panjang. Namun sekali lagi omongan saya tidak digubris dan mereka terus bertindak seenaknya mendorong dan menendang para penonton, dan akhirnya suasana antrian menjadi tidak terkendali.

Beberapa penonton dibagian belakang terus mendorong kedepan karena takut terkena pukulan para aparat yang terus memaksa keluar, sangat jelas terlihat bertambahnya korban yang pingsan karena terinjak-injak antrian yang terus menumpuk. Dalam kondisi panik saya berusaha membantu seorang penonton yang tergeletak pingsan didepan gedung dan membopongnya untuk dibawa kedalam mobil salah satu panitia. Tiba-tiba salah seorang teman saya yang juga ikut membantu korban dipukul wajahnya oleh seorang oknum aparat tanpa alasan yang jelas, dengan sigap saya berusaha melerai mereka. Dan sekali lagi sikap angkuh dan sok jagoan dari seorang oknum aparat pun dipertontonkan, dengan sikap yang kampungan hampir 20 orang aparat langsung menyerang saya dan mengeroyok membabi buta seperti segerombolan preman yang haus berkelahi.

Akhirnya suasana kembali tidak terkendali dan kerusuhan pun terjadi, beberapa teman yang ikut melawan dan melindungi saya pun ikut terkena pukulan dan tendangan dari oknum-oknum aparat yang terus bertambah sehingga kami semua berpencaran berlari jauh untuk menghindar. Dari kejauhan saya melihat beberapa korban yang pingsan didepan gedung diusir dengan kasar oleh beberapa aparat, dan mereka pun langsung memasang Police Line agar tidak ada lagi penonton yang masuk kedalam gedung. Tak lama kemudian saya mendapat kabar bahwa beberapa teman saya dibawa ke Polwiltabes Bandung sebagai saksi untuk dimintai keterangan perihal kejadian tersebut, dan saya pun langsung menuju kesana untuk mencari tahu kepastian beritanya.

Sesampai di kantor polisi saya melihat beberapa panitia yang berkumpul sambil menunggu giliran untuk di interogasi. Saya mencoba menghampiri dan bertanya kepada mereka tentang berita terakhir korban tragedi tersebut dan ternyata jumlah korban yang meninggal sudah mencapai 10 orang yang tersebar di 2 Rumah Sakit. Beberapa korban yang tidak tertolong meninggal di RS Bungsu dan RS Hasan Sadikin Bandung, dan menurut panitia yang ikut mengantar ke rumah sakit bercerita setibanya di rumah sakit hampir sebagian besar korban tidak dilayani dan hanya dibiarkan saja oleh pihak rumah sakit hingga akhirnya mereka meninggal dunia. Mungkin hal ini terjadi dikarenakan pihak rumah sakit takut akan tidak selesainya urusan admistrasi dari masing-masing korban. Sungguh kondisi yang sangat mengecewakan dan menyesakan dada, namun apa daya semuanya sudah terlewati dan kami sudah tidak bisa membantu lebih banyak lagi.

Dunia musik Indonesia kembali berduka, sebuah konser musik yang menelan korban jiwa kembali terjadi. Lalu siapa yang bisa disalahkan? Apakah buruknya persiapan antisipasi panitia yang nakal dengan menjual tiket diluar kapasitas gedung? Apakah juga bobroknya sikap aparat sebagai pihak yang seharusnya mengatur keamanan di lokasi konser? Atau terlalu banyaknya teman-teman kita yang terlalu mabuk ketika menonton konser? Lalu bagaimana dengan parahnya pelayanan di rumah sakit yang terkesan acuh untuk menangani korban? Saya rasa semua itu bisa menjadi penyebabnya, dan kita hanya bisa menyesalinya. Tentunya setelah tragedi ini rasa pesimis teman-teman di komunitas akan sulitnya izin untuk bisa menyelenggarakan konser-konser akan semakin bertambah.

Dengan adanya tulisan pendek ini mudah-mudahan berita miring di media yang terkesan memojokan teman-teman komunitas atas tragedi ini dapat sedikit diluruskan, dan kejadian ini dapat dijadikan contoh kasus yang perlu diteladani dan disikapi dengan benar oleh semua pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan sebuah konser musik. Tulisan ini hanya sebuah pandangan dan opini seorang musisi, teman, dan penikmat musik yang sangat mengharapkan suasana yang kondusif dari sebuah konser. Dari lubuk hati yang paling dalam saya mewakili komunitas musik sejagad Indonesia turut merasakan prihatin dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas tragedi ini. Semoga teman-teman kami yang telah pergi dapat beristirahat dengan tenang dan segala kebaikannya diterima disisi Allah SWT, Amien…

Live hard, die hard… Rest In Peace Brothers, we’re gonna miss u…

Posted by Megabenz.(Eben BKHC)


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 69 other followers