Pelajaran dari Banjir
Jumat mustinya jadwal saya naik sepeda ke kantor proyek. Namun tidak halnya pada tanggal 1 Februari 2008 yang lalu.
Langit mendung dan kereta api lumpuh. Akhirnya, saya terpaksa mengalah dari ritual saya bersepeda setiap Selasa dan Jumat dengan naik mobil. Hujan memang mengguyur Jakarta dan dari lantai atas gedung Indosat di Medan Merdeka Barat (kantor proyek saya sebagai konsultan), terlihat jelas bundaran Indosat terrendam banjir dan banyak mobil yang terjebak. Beruntung saya sudah lebih dari satu tahun berkantor di lantai ini dan menghadap ke jalan raya. Banyak peristiwa ”penting” bisa saya amati kegiatan di bunderan Indosat, mulai dari maraknya bermacam-macam demo (terakhir dari Serikat Pekerja PLN) dan pelanggaran lalu lintas di bundaran Indosat yang kerap diikuti aksi “mojok” penuh senyum dari aparat dengan pengendara mobil yang diajak mojok. Pernah kawan saya iseng menghitung dalam satu hari aja aksi mojok ini bisa mencapai 53 kali pada hari kerja, termasuk yang tidak teramati karena kesibukan kerja. Tinggal dikalikan saja per aksi mojok menghasilkan berapa sehingga RPD (revenue per day) bisa ditaksir, Tapi ya sudahlah .. bukan itu yang mau saya bicarakan dan renungkan. Tapi ya tentang banjir itu sendiri.
Karena musik sudah ada di darah saya sejak masih usia SD, setiap ada kejadian penting saya selalu mencoba menyenandungkan lagu yang mengingatkan pada kejadian tersebut. Nah, kalo urusannya banjir, saya selalu ingat dengan lagu Peter Gabriel dari album pertamanya bertajuk ”Here Comes The Flood” yang arti harafiahnya memang banjir. Namun, apakah Peter Gabriel menulis larik lirik ini ditujukan buat banjir? Kayaknya terlalu naif kalo kita menyimpulkan ini karena Peter Gabriel terkenal dengan liriknya yang absurd sehingga kawan2nya sendiri di Genesis banyak yang kurang paham terhadap lirik album fenomenal mereka ”The Lamb Lies Down on Broadway” yang merupakan album terbaik Genesis ini. Tracy Maryann Kaplan mengatakan: (October 30th, 1995)
This song means that we have two paths to choose in life.
One is your own path and one is the path of God or love.
Eventually you figure out which path is best for you. Some
are fortunate enough to find their way early in life. Others
have to suffer and find it later. Some never find their way.
Mengapa saya kutip pernyataan Tracy ini? Karena penafsiran dia terhadap makna lagu ini hampir sama dengan yang saya pahami. Saya selalu menganggap bahwa melalui lagu ini kita bisa mengambil makna sebagai ”peringatan” dari Allah SWT kepada umat manusia. Bukankah setiap bencana yang menimpa kita diakibatkan dari kelalaian kita dalam mengelola nikmatnya? Coba saja kita telusuri praktek-praktek kehidupan yang kita lakukan dalam pengelolaan sampah, misalnya. Saya sering geram sekali melihat mobil di jalan raya yang dengan enaknya membuang kulit kacang, kulit rambutan, dan bahkan (astaghfirullah ..) bungkus nasi Padang! Kalo saja kontrol sosial di negeri ini jalan, mestinya saya bisa jepret pake kamera handphone dan kirimkan nomer polis mobil yang membuang sampah seenaknya itu ke lembaga yang berwenang untuk ditindak. Uuuhhh!!! Saya suka gerrrrrrraaammmmmm sekali! Perilaku kita masih kurang terpuji dalam memperlakukan alam ciptaan Allah SWT ini. Seperti tersurat di dalam Al Quran:
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.
(An Nisaa’ (4) ayat 79)
Mungkin kita kurang bersyukur dengan nikmat bumi dan alam yang telah dianugerahkan Allah kepada kita semua dan tidak menjaganya dengan baik. Pada saat bencana datang sebagian orang mengeluh dan menyalahkan pemerintah yang tidak menangani pembuangan air dengan benar. Memang enak menyalahkan orang lain tapi kita sendiri lupa bahwa kita pun punya andil dalam hal ini. Ada yang berseloroh bahwa “Visit Indonesia Year” bagi turis cukup sampai di bandara saja karena tidak perlu jauh-jauh ke Danau Toba karena di bandara sudah penuh lautan air. Seloroh yang bermakna dalam.
Pas saya sedang menulis, saya tengok milis hari ini. Seorang teman rocker bernama Mamak “Gillan” Kusuma mengumpat kondisi banjir ini di milis irockmusik@googlegroups.com:
salah siapa kah ini? ????
gw yang sudah sejaklahir ceprot di jakarta, tepatnya kebayoran baru
lebih dari 50 tahun yg lalu … tau banget keadaan lingkunganku saat
itu … sekarang ini brantakan … bangun toko bangun ruko bangun
kantor bangun hotel…ijin rumahtinggal.. jadi toko…jadi
salon…jadi lestoran…semen sini semen sana biar gak becek…..jalur
hijau di aspal buat parkir…buat pompabensin….gali comberan sini
gali sana …urusan lebar dalemnya sudah sama ato belum….kagak
perlu….MAKAnya banjiiiiir … bener yang di bilang Allah di kitab
suci … yang bikin rusak dunia yaaa manusianya sendiri.
salam
(maaaap yah…gw lagi gedeg bener dengan kelakuan bangsa sendiri)
Klop! Apa yang dinukil dari Al Quran disebutin juga oleh Mamak. Dan mungkin ada baiknya kita lihat penggalan lirik dari Peter Gabriel tentang hal ini. Mari kita kupas bait pertama dari liriknya:
When the night shows
the signals grow on radios
All the strange things
they come and go, as early warnings
Stranded starfish have no place to hide
still waiting for the swollen Easter tide
There’s no point in direction we cannot
even choose a side.
Ini seperti sebuah keadaan dimana kita sudah diberi peringatan awal (early warnings) dari Allah tentang beberapa kejadian banjir yang sudah berkali-kali terjadi di Jakarta. Namun pada akhirnya kita disibukkan dengan rutinitas harian dan melupakan pekerjaan rumah kita untuk memperbaiki situasi hingga akhirnya kita terjebak tanpa pilihan selain menerima bencana banjir.
I took the old track
the hollow shoulder, across the waters
On the tall cliffs
they were getting older, sons and daughters
The jaded underworld was riding high
Waves of steel hurled metal at the sky
and as the nail sunk in the cloud, the rain
was warm and soaked the crowd.
Pada bait kedua ini melukiskan keadaan dimana kita harus struggle (berjuang mati2an) terhadap situasi tanpa pilihan ini,
menyusuri air dengan ketakberdayaan (dilukiskan Gabriel dengan “hollow shoulder”). Coba Anda perhatikan bagaimana Gabriel melukiskan keadaan dimana sebuah paku tajam menusuk awan dan menjatuhkan hujan. Bayangkan sebuah balon berisi air yang digambarkan Gabriel sebagai awan (cloud) ditusuk paku sampe mbeledhos (pecah – red.) kemudian air muncrat dalam bentuk hujan. Persis seperti kejadian Jumat dimana banjir dimana-mana, hujan mengguyur lebat, dan kita tak punya pilihan apa-apa.
Chorus dari lagu ini memiliki lirik yang nunjek ulu ati dan menohok sukma sampe jiwa kita nggeblak nggulung koming babak bundhaszzz …:
Lord, here comes the flood
We’ll say goodbye to flesh and blood
If again the seas are silent
in any still alive
It’ll be those who gave their island to survive
Drink up, dreamers, you’re running dry.
Setiap kata dalam larik lirik ini bermakna dalam sekali diawali dengan penyerahan diri kepada Allah SWT tentang ketakberdayaan kita sebagai ciptaannya menghadapi bencana yang disebabkan karena ulah kita. Seolah kita melapor ke Tuhan padahal Tuhan mengetahui setiap detil kecil yang terjadi di jagad raya dan alam semesta ini. Subhanallah! Coba resapi makna kalimat If again the seas are silent in any still alive yang merupakan peringatan bahwa kita tak boleh meremehkan laut yang sepertinya diam tapi bisa meluapkan amarahnya.
Larik selanjutnya saya uraikan di bawah ini dan silakan dicermati sendiri maknanya karena sudah cukup jelas dari liriknya:
When the flood calls
You have no home, you have no walls
In the thunder crash
You’re a thousand minds, within a flash
Don’t be afraid to cry at what you see
The actors gone, there’s only you and me
And if we break before the dawn, they’ll
use up what we used to be.
Lord, here comes the flood
We’ll say goodbye to flesh and blood
If again the seas are silent
in any still alive
It’ll be those who gave their island to survive
Drink up, dreamers, you’re running dry.
Lagu penuh makna ini mengajak kita kembali kepada peringatan-peringatan yang sudah difirmankan oleh Allah SWT bahwa kita harus menjaga bumi ini dengan baik dan jauhkan dari ketamakan-ketamakan duniawi karena hidup di dunia ini hanya sebentar. Tulisan ini saya buat sebagai bahan renungan kita semua dan mudah-mudahan bis memiliki daya gerak yang dahsyar sehingga kita bisa tindak-lanjuti dengan perilaku konkrit tentang mengelola bumi secara benar. Dan .. saya harus akhiri karena sudah jam 10 pagi dan belum shalat Dhuha …. Setelah itu balik kerja lagi ….

Salam,
G
4 Feb 2008
February 5, 2008 at 4:21 am |
saya baca tulisannya sambil denger here comes the flood versi kolaborasi PG dan Robert Fripp dari album exposure…
sambil nyruput kopi ..
enaaakkk tennaannn..
melupakan kondisi banjir di luar sana
February 5, 2008 at 4:58 am |
Gabriel memang tob tenan,
gara2 Growing Up & secret World, setiap sepedaan keliling RT saya musti nyanyi Solsbury Hill dulu…wakakakakak..
Gara2 cover album self tittle, setiap buka jendela mobil saya jadi ‘mendelik’ dulu…wekekekekekek…
February 5, 2008 at 6:32 am |
Hua ha ha ha .. mas Fridie ini bisa aja … kesukaannya kok sama dengan saya … nyruput kopi sambil menikmati musik prog .. wah .. suedaaaaapppp ….
Mas Haris .. ati2 kalo mendelik, matanya coplok lho! ha ha ha ha ha
Salam,
G
February 5, 2008 at 3:57 pm |
hmm….banjir…..hehehe….mungkin juga harus dengerin Blues juga tuh…..tentang banjir sih…. “TEXAS FLOOD”-nya Stevie Ray Vaughan…hehehehe…….ternyata TEXAs juga bisa banjir kok…..
February 6, 2008 at 8:30 am |
Wah sampeyan seleranya kok sama ya sama saya .. SRV itu top markotop mas Fridie!!!
Salam,
G
February 8, 2008 at 8:14 pm |
hehehe…..kadang2 asik juga dengerin Blues mas….buat selingan, biasane yoo dengerin Bluesnya SRV & The Double Trouble sekali2…..sambil minum kopi dan rokok-an di malang sini…pas adem2 ambek udan2…….wuuuuuaddduhhh..wes koyo nang surgo gang 7……..
Salam
Fridie
February 9, 2008 at 5:13 pm |
Lho .. kok ngomongin Surgo Gang 7 .. aku duwe konco arek malang pake email address Gang Wolu .. kenal juga? Namanya Arman, kerja di SCTV, rambut bothak alias plonthos metal .. ha ha ha ha ….
Kalo nyetel blues paling mantep ya AND LONELY nya Climax Chicago Blues Band atau TOO MUCH THINKING nya KEEF HARTLEY tapi versi blues nya rekaman YESS , including desis .. wuaaahhhh nuansamatik nggeblak tenan mas …!!! Opo meneh nggawe kopi tubruk banceuy .. biyuh .. surga dunia pol ..!!!
Salam,
G
February 9, 2008 at 7:44 pm |
hahahaha…..iki wes mulai ngelantur nang Blues……rodok bahaya iki…..Mas Gatot wauhaahahhhaha…….tadi malem saya sendiri di kantor…ngrungokno Sonata Arctica “Caleb”….karo rokokan plus kopi sak gelas….cangkruk di balkon lantai 2..ndelok udan…wah…..wes…uuueeeediyaaaan…tenan…….hehehhehe…sampeyan pasti pernah ngrungokno juga…….hehehe…
Salam
Fridie
February 10, 2008 at 10:45 am |
Saya juga suka SONATA ARCTICA mas .. itu muanteb banget symphonic power metal … kerennnn!!!
February 12, 2008 at 2:05 am |
kera ngalam nyoker ambek ngombe ikop…
ikop karo soke-e wak kaji mantenan….
wakakakakakakakkk…..
February 12, 2008 at 2:45 am |
Mulane kera Ngalam itu tahes-tahes sam …
February 16, 2008 at 8:45 pm |
hahahaha…..sampeyan yo tahes2-ae mas…..soale ben dino…..ngombe “obat progressive”….3x sehari…..resep teko dokter FISH….hahahaha…….obate gak onok nang apotek……tapi nang toko kaset…
Salam
Fridie
February 18, 2008 at 1:34 am |
Jadi kalo setiap hari nenggak prog pasti tahes yo mas??? Tapi kalo gak pake kopi kayaknya gak tahes mas … hua ha ha ha ….
Salam,
G