Archive for January, 2008

Ketika Tangan dan Kaki Berkata

January 31, 2008

dsc00050.jpgIni bukan iklan buat membeli majalah Sabili, tapi masih terkait musik juga. Setelah salat dzuhur berjamaah di lantai 23 Indosat, saya melihat majalah Sabili yang sangat jarang saya beli. Tapi iseng2 buka, ternyata ada artikel menarik di halaman 64 bertajuk “Ketika Mulut, Tak Lagi Berkata” oleh Taufiq Ismail. Karena saya memang suka lagu ini, saya beli juga majalah kecil ini.

Subhanallah! Isinya memang penuh dengan sentuhan terkait dengan lagu Chrisye bertajuk “Ketika Tangan dan Kaki Berkata”. Beberapa kali saya sudah pernah mendengar kisah penulisan lirik lagu ini yang konon tidak mudah. Namun membaca artikel singkat ini hati saya semakin ngilu rasanya terutama saat membaca bagian dimana Chrisye berulang kali gagal menyanyikan lagu yang liriknya diambil dari surah Yasin ini. Sungguh menggugah. Bahkan, konon, Chrisye memang baru satu kali berhasil menyanyikan lagu tersebut sepenuhnya seperti yang kita dengar di kaset tanpa ada re-take, dan sesudahnya dia tak bisa menyanyikannya lagi. Luar biasa. Saya ikut merasakan isak tangis Chrisye dalam membawakan lagu ini.  Sebuah artikel penuh makna yang menjadikan peringatan bagi kita semua bahwa pada hari akhir tak ada lagi yang kita bisa lakukan. Tobat kagak ada gunanya lagi.

dsc00053.jpg

Artikel ini juga menyinggung bagaimana Iin Parlina juga hanya sanggup menyanyi dua baris saja dari lagu Rindu Rasul. Sebuah pengalaman spiritual yang penuh makna dan bisa kita tarik manfaatnya bagi kita.

dsc00052.jpg

Chrisye memang telah pergi dari dunia yang fana ini. Namun, pesan yang ia nyanyikan dari lirik yang ditorehkan Taufiq Ismail dan bersumber pada AL Quran ini sungguh memberikan makna yang dalam. Memang, ini bukan musik prog, namun lagu ini elok sekali komposisinya – apalagi dengan lirik yang sangat menggugah. Subhanallah.

dsc00051.jpg

Bob James “One” by Perina

January 31, 2008

Saya rasa tahun 70ansemua jenis musik melebur jadi satu baik itu rock, disco, jazz maupun pop. Maraknya kaset bajakandsc00064.jpg membuat kita semua pada tahu ada band atau artis apa aja di setiap jenis musik. salah satu yang ngetop saat itu ya Bob James yang tergolong musisi jazz. Saya masih simpan kasetnya dan masih mulus sampe sekarang. saya malahan tidak pernah punya CD Bob James karena masa itu sudah lewat. Sekedar nostalgia, bolehlah nyetel kasetnya. Keren juga, saya hampir lupa bahwa duku ada drummer namanya Idris Muhammad – kemana ya beliau ini? Kalo Grover washington saya juga punya kasetnya album “Mister Magic”. Yang keren lagi, side B nya adalah Johny Hammond yang saya gak tahu siapa dia. Tapi pendukungnya keren juga: ada Billy Cobham (drums) dan Hubert Laws (flute). Wah … jadi inget dulu ada penyanyi pop Lou Rawls .. kemana juga ya beliau? Ha ha ha .. kaset jadul pancen rule tenan.

Waktu SMA saya punya gang namanya Thunderstorm dan pernah bikin kaos logonya cover artwork album Bo James “Two” yang gambarnya tangan pegang apel itu lho!!! .. ha ha ha .. nuansamatik tuh cover!

dsc00065.jpg

Selamat Jalan, Kaset dan Mantan Presiden

January 31, 2008
Pengantar:
Ini murni bukan tulisan saya, tapi saya comot tanpa ijin dari postingan Bayu Indra di milis i-rockmusik@googlegroups.com. Sebetulnya ulasan panjang di bawah ini tidak bertutur melulu tentang musik namu, seperti credo blog ini “Music for Life” kisah yang ditulis Pak Anwar Holid ini sungguh menyentuh dan beliau mempraktekkan (baca: mengalami) sesungguhnya apa makna “Music for Life” ini saat melepas kaset2 kesayangannya. Duh, saya mbrebes milis membacanya, trenyuh. Bukan hanya itu, tabiat pak Anwar Holid ini sama persis plek sama saya: suka ngelus2 kaset, merawat, ngelap permukaannya .. dan yang penting .. suka baca2 sleeve nya. Namun tidak itu yang membuat tulisan ini bermakna, tapi perenungan beliau tentang kehidupan, ini yang lebih penting. Salut buat pak Anwar Holid! Selamat menikmati …. [catatan: foto2 ini saya tambahin sendiri untuk menciptakan nuansa saja ... karena saya juga suka banget kaset yang disebut pak Anwar, dan Soeharto juga mantan presiden saya ... ha ha ha ha ..].
——————————————
Pada hari Senin, 28 Januari 2008 ketika semua koran dan televisimenyatakan selamat jalan kepada pak Harto, aku mengucapkan selamatjalan kepada 36 kaset favorit yang aku jual ke toko musik second.Honor-honor yang aku nanti datang dari beberapa pihak ternyata belumngalir juga, sementara kami sekeluarga sudah kehabisan beras, harus
beli sayur mayur, dan bayar pembantu setiap Senin. Di antara koleksiitu ialah sejumlah album Peter Gabriel, Pink Floyd, Joe Satriani, TheCult, Steve Vai, Counting Crows, Matchbox Twenty, Fates Warning,Lokua Kanza, dan album musik klasik: Wagner, Sibelius, dan lagu-laguadagio aransemen Herbert von Karajan. Uang yang aku dapat memang dibawah harapan (sudah aku duga sejak awal), tapi alhamdulillahsetidaknya aku bisa beli beras, biskuit, dan di hari-hari ke depan kami bisa makan dengan pantas.

kaset-kaset-ku.jpg
Aku beli koran murah (Rp.1.000,-), Tribun Jabar, untuk mendapatinformasi tentang kematian pak Harto. Tertulis headline: The End:13.10 WIB. Aku membatin, ingat ungkapan sebuah lagi The Doors: Thisthe end, my only friend. Thedsc00055.jpg end. Aku rasanya juga ingat sebuah lagutentang perpisahan, tapi entah apa itu. Atau sebenarnya aku hendakbilang begini: Good bye Mr. Former President and my cassettes— sambil teringat sebuah judul cerpen Gabriel García Márquez. Kematianpak Harto hanya berdampak dua hal saja buatku, yaitu (1) berhasilmembuat aku beli koran, dan (2) bisa menggerakkan aku menulis esai.Kematian pak Harto kalah menghenyakkan dibandingkan berita kematian Freddie Mercury yang dulu aku dengar via TVRI malam-malam. Inimenyiratkan betapa aku memang boleh dibilang bersih dari pengaruhmaupun ketertarikan terhadap negara, presiden, dan politik. Berita kematian pak Harto pertama kali aku simak pada hari Minggu, 27 Januari 2007, kira-kira jam 14.30-an, waktu kami sekeluarga makan siang di warung makan serba ada yang kurang enak, sehabis menemani Ilalang dapat tambahan les main perkusi di Jendela Ide. “Wah… pak Harto sudah mati tuh,” kataku, langsung terpaku pada tv yang juga tengah dikerubungi semua pengunjung dan pegawai warung. Waktu itu siaran sedang meliput sekitar rumah beliau di jalan Cendana (entah di mana letak persisnya) yang ricuh oleh pengunjung dan petugas. Setelah beberapa menit perhatian ke tv, aku mengasuh Shanti biar istriku bisa makan dengan tenang. Setelah itu aku makan nasi + ayam goreng dengan sambal terlalu pedas. Samar-samar terdengar berita kematian dia terus disiarkan tv sampai kami pulang. Sehabis magrib, di sela-sela ngobrol segala hal, istriku tanya, “Kamu percaya nggak sih kalau Soeharto itu korupsi?” Aku rada bingung dengan pertanyaan itu, apa juntrungannya dengan kami sekeluarga. Rupanya dia ingat laporan khusus majalah Tempo tentang hal itu. “Kalau aku baca dari media, berdasar pada
investigasi mereka, aku percaya dia korupsi,” kataku. “Tapi kalau ditanya apa buktinya dan siapa saksinya, aku nggak tahu. Aku nggak pernah lihat dia melakukannya.” Beberapa menit kemudian aku menyergah, “Eh, apa sih hubungannya ini dengan kita semua?” Rasanya lebih suka kalau kami beralih ke topik lain. Malamnya, aku tegang menyaksikan pertandingan penyisihan Piala FA antara Manchester United vs Tottenham Hotspurs; 3-1 buat MU.Bagi orang Indonesia kelahiran 1973-an seperti aku, Soeharto jelas bakal tertatah kuat dalam memori kami. Ketika tumbuh, langit kami cuma satu, penuh berisi Soeharto. Dia Bapak Pembangunan, perancang Pelita, yang sudah jalan memasuki periode ke-5, sudah mencapai tahap ‘tinggal landas’, namun akhirnya ternyata kandas. Setelah itu cuaca langit kami berganti-ganti begitu drastik, mulai dari Habibie, Gus Dur, Megawati, dan sekarang Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang di foto Tribun Jabar terlihat memberi hormat dengan gaya resmi di depan keranda jenazah pak Soeharto. Wah… sinismeku langsung mendidih. Bagaimana mungkin presiden seperti itu, yang jelas kelihatan inferior bahkan di depan mayat seniornya, bakal punya iktikad mengadili kontroversi seputar status hukum Soeharto. Aku yakin harapan M. Fadjroel Rachman dan kawan-kawan agar keadilan tetap hidup bakal seperti pepesan kosong.

Aku ingat, dulu waktu SD kami bahkan sampai hapal semua menteri yang jadi pembantu Soeharto, habis bakal masuk ulangan. Apa nggak gila tuh? Kami ingat TVRI menyiarkan laporan khusus berisi kunjungan Soeharto ke daerah atau ladang pertanian dan sawah, Kelompencapir (yang namanya selalu dikritik oleh Pusat Bahasa), atau sidang-sidang
beliau dengan para menteri. Baru pada 1998 era itu tamat, dan siapa sangka, jelas di luar dugaanku, betapa begitu lama beliau mewarnai sebuah kanvas bernama Indonesia, sampai akhirnya boyak-boyak, sebagian rombeng dan kusam di sana-sini. Sisanya ialah sekarang; ‘pembangunan’ jelas ada jejaknya, dan berlanjut, dengan pola mirip… mungkin dikerjakan sembarangan, karena entah kenapa mudah sekali memicu prasangka dan sinisme. Sebagian orang yang bertentangan dengan Soeharto atau pihak yang tak punya kaitan dengan dia berani lantang bilang bahwa dia diktator, misalnya para
demonstran pro demokrasi atau media massa seperti CNN dan Time. Aku sendiri takut dan tak punya dasar untuk bilang bahwa dia seorang diktator. Faktanya ialah dia mantan presiden Indonesia, negeri tempat aku terdaftar sebagai warga negara. Dulu, aku sesekali ikut demo bareng teman menuntut keadilan atau keterbukaan; tapi keadilan harus diupayakan sendiri dan keterbukaan ternyata datang sendiri. Yang paling mengasyikkan ialah jadi bagian massa waktu kami demo besar-besaran selama masa awal-awal menegakkan Reformasi di Gasibu (sebagian kawanku demo di gedung MPR/DPR), sampai akhirnya rezim dia tumbang, dan sejak itu reputasi pak Harto beserta kroni dan keluarganya melorot ke kubang terendah dan penuh masalah, namun tetap saja tetap menarik diberitakan. Yang paling akhir tentu saja skandal yang muncul dari para anak-anaknya, rebutan harta dan kuasa antara istri pertama dan madu salah satu anaknya, perempuan yang sampai rela- rela ngaku dihamili anaknya—entah dengan motif apa, atau artis yang kawin dengan cucunya. Wah… sebenarnya aku cukup sibuk dengan diri sendiri, bertahan hidup atau meningkatkan standar, dan tak peduli dengan peristiwa terkait Soeharto… toh nyatanya aku selalu samar- samar mendengar atau mendadak punya kesempatan baca informasi tentang mereka. Tadi saja, waktu menuju toko kaset bekas itu, tiga gadis mahasiswa aku dengar bicara, “Kamu sedih nggak pak Harto meninggal?” “Enggak, lebih sedih waktu kakek gue meninggal tuch.” “Iyalah, coba kamu bakal dapat warisannya. Pasti sedih.” Salah satu gadis itu langsung menyergah, “Dapat warisan mah senang, bukannya sedih…” Serentak mereka tertawa. “Aku mah pengen lihat upacara pemakamannya euy. Yang pakai tembak-tembakan itu.” (Namanya salvo, neng, kataku dalam hati.)

Aku bukan PNS dan ketertarikan atau kepedulianku pada negara boleh dibilang nol. Aku lebih pusing memikirkan bagaimana meningkatkan karir dan pendapatan di tahun ini daripada sibuk mendengar analisis politik bila The Smiling General (ini kayaknya bukan oksimoron) meninggal dunia dan mewariskan banyak buntut persoalan. Aku lebih merasa dekat dengan kaset-kasetku daripada dengan pria berusia 87 tahun itu, meski dia pernah jadi presidenku. Begitu kondisi dia kritis di rumah sakit minggu-minggu lalu, aku dengar analisis politik bahwa Indonesia bisa-bisa bakal makar begitu dia meninggal. Wah… aku malas dengar gosip keterlaluan itu. Satu-satunya berita yang aku sukai ialah analisis ini: Bila status hukum dia ditetapkan salah, maka itu kesempatan menyeret persoalan hukum yang dilakukan keluarga, kroni, dan orang-orang sekelilingnya akan terbuka. Keadilan jadi ditegakkan. Frasa yang menarik; “Keadilan jadi ditegakkan.” Keadilan seperti apa? Apa bakal berdampak buat aku? Wah… aku ragu. Apa bila “Keadilan jadi ditegakkan” aku bisa optimistik tak perlu jual kaset favorit buat beli beras? Wah Wartax, kamu jadi kekanak-kanakan! Mungkin ini akibat aku buta politik dan nggak kritis sejak remaja. Lebih baik aku menghindari persoalan yang aku sendiri nggak tahu. Biarkan itu jadi urusan orang yang memperkarakan dia, terutama bekas lawan politik dia yang masih hidup dan bersemangat menyeret dia ke pengadilan dan ingin agar harta hasil korupsi itu dikembalikan ke negara. Aku jelas lebih suka andai tetap punya kaset dan kondisi keuanganku baik-baik saja. Tapi faktanya aku harus kehilangan mereka.

kaset-genesis-versi-yess.jpgAku sangat setia pada kaset-kaset itu. Aku rawat dengan baik, menjaga jangan sampai kusut, tetap sempurna bila disetel, meski itu semua gagal menaikkan harga jual. Aku selalu suka melihat-lihat sleeve, membaca-baca segala info yang ada di sana. Mereka berisi pemusik yang aku sukai karya-karyanya. Kini kotak kasetku berisi pemusik yang jauh kurang populer dibanding album yang aku jual sekarang. Di sana masih ada Chroma, Jaduk Ferianto, Bidjeh, Ravi Shankar, Youssou N’Dour, Sinead O’Connor, The Stage Bus… Entah berapa lama aku akan tetap bisa bertahan dengan mereka; entah berapa harga jual mereka di toko kaset bekas, lepas dari betapapun mereka bagus atau legendaris. Di tangan penjual loak, semua barang pasti direndah-rendahkan. Melankoli dan legenda cuma jadi cerita. Kalah oleh kebutuhan akan uang.

Aku rela dan senang-senang saja kehilangan kaset itu, akhirnya. Apalagi dari situ aku merasa memberi bakti pada keluarga. Aku kehilangan mereka tepat di saatnya. Sudah waktunya. Bisa jadi begitu juga Indonesia terhadap pak Harto. Dia sudah tua dan sakit-sakitan. Wajar dia meninggal dunia. Jelas keterlaluan berharap dia bakal sehat wal afiat seperti sedia kala ketika masa jaya atau bisa bertahan lebih dari lima belas tahun ke depan. Nyawa bisa dicabut izin penggunannya kapan saja, datang begitu saja tanpa perlu perjanjian lebih dulu. Sebagian orang, banyak orang, terisak-isak oleh kepergian
beliau; sebagian orang mungkin bingung apalagi agenda hukum yang bisa dijalankan; orang seperti aku, yang tak terkait dengan semua itu, heran, kenapa mereka semua heboh dengan kematian satu jiwa. Mendadak aku ingat dulu ada orang di Jakarta yang menyeret-nyeret mayat karena tak punya biaya kubur. Kematian seorang mantan kepala negara sudah
disiapkan dengan sempurna, mulai dari kepergian dan upacara. Dia merepotkan banyak sekali orang; dan orang entah rela, pura-pura, atau terpaksa dan karena tata krama, hirau dengan kepergiannya. Kematian ini lebih heboh dan seru dibandingkan delapan besar Liga Indonesia yang ricuh. Apa ini tanda kehebatan seseorang, bahkan dalamkematiannya pun dia bikin guncang, tetap dihormati banyak sekali orang, dihadiri sosialita paling terkemuka? Wah, entah ya.

Dari dulu aku membayangkan kematian yang sederhana. Aku ingin nanti nisanku tak ditandai apa-apa, biar lama-lama hilang dan rata dengan tanah. Aku ingat ayahku membiarkan patok tanda kuburan kakakku lama-lama hancur oleh waktu dan sebagian habis dimakan rayap. Dibersihkan bila berziarah saja. Terakhir kali kami ke sana, gundukan tanahnya sudah nyaris rata. Aku agak yakin sekarang tentu sudah rata. Aku sulit membayangkan ada semacam kompleks istana untuk mayat-mayat yang sudah selesai berurusan dengan dunia. Untuk apa ya semua itu dibangun?

Hari ini aku kehilangan kaset; esok hari siap-siap aku kehilangan nyawa. Dalam beberapa hari ke depan aku masih bisa menyelamatkan keluarga; pasti suatu hari nanti aku yang malah repot menyelamatkan jiwa sendiri.[]0:11 30/01/08

ANWAR HOLID, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.

KONTAK: 08156140621 – (022) 2037348 | wartax@yahoo.com | Panorama II No. 26 B, Bandung 40141

Pertama Kali Kenal MARILLION

January 30, 2008
Di tahun 1983 musik prog lagi hancur lebur, luluh lantak berantakan. Yes menelorkan “90125” yang beda konsep denganscript-marillion.jpg musik akarnya dia, Genesis dengan “abacab” yang juga beda. Kabarnya grup prog kena imbas aliran punk dan gelombang baru (new wave) dengan adanya The Police, Mo, OMD, Duran Duran dsb. Tiap hari saya memantau perkembangan musik dengan nangkring di jl Veteran Bandung, markas besar YESS music cassette. Hampir tiap hari saya ke toko ini gak pernah ada yang baru yang menyenangkan hati.
Sampai suatu hari pas saya ke situ, si I’an bilang: “Tot, ada band baru namanya …” (dia nyebutin nama tapi saya gak ngeh, yang saya denger pokoknya belakangnya ‘ion’ gitu). “Nih, kamu dengerin yah ..” dia memasukkan kaset ke dalam tape deck TEAC telanjang yang ada di tokonya, sambil membesarkan volume ampli merek LEAK nya. Terus mengumandanglah sebuah olah vokal aca pella merdu dengan suara vokal yang mengingatkan saya ke Peter Hammill (Van der Graff Generator), Derek Shulman (Gentle Giant) dan Peter Gabriel (Genesis). Indah banget suaranya dan melantunkan lirik pembuka yang kemudian saya tahu bunyinya seperti ini:
So here I am once (teng!)

In the playground of the broken hearts
One more experience, one more entry in a diary, self-penned
Yet another emotional suicide
Overdosed on sentiment and pride

Too late to say I love you
Too late to restage the play
Abandoning the relics in my playground of yesterday

(terus bunyi kibor menyayat hati, nunjek kalbu, nohok sukma membuat nggeblak jiwa …)

I’m losing on the swings
I’m losing on the roundabouts
I’m losing on the swings
I’m losing on the roundabouts
Too much, too soon, too far to go, too late to play
The game is over, the game is OOOOOVERRRRRR …!!!!

The game is OOOOOverrrrrr …. JRENG JRENG JRENG JRENG!!!! biyuuuuuuuh nngueblaaakkkkk!!!!

Langsung dah itu kaset telanjang tanpa bungkus, saya bawa pulang dan bilang ke I’an: “Ini musik keren kudu segera di produksi!!!”.

Sampe kos2an .. saya setel satu kaset bolak-balik selama 3 jam tanpa ada jeda mau ke belakang pipis sekalipun saya tahan .. lha musike top markotop tenaaaaaaaaaaaaaaaannn!!!! Uediyan dah!!! Lega banget menikmatinya!

Salam,

G

script-inlay.jpg

Mo “Fred Astaire” by Aquarius

January 28, 2008

Penggemar prog kok mendengarkan new wave! Opo tumon? Yah .. begitulah jaman. saat kaset bajakan dulu begitu mewabah dan awal 80an grup new wave menguasai pasar, mau ndak mau dah .. kuping kita dicekokin juga ma lagu2 begitu baik di radio maupun di toko kaset. Saya masih ingat beli kaset The Police “the best” rekaman King’s Record soalnya “including lyrics” .. ha ha ha ha ha ….

mo-cover.jpg

Terus ada juga kaset kompilasi New Wave volume 1 dan 2 yang antara lain berisi lagu2 dari Orchestral Maneuver In The Dark (OMD), Ultravox, B52’s, Robert Palmer, etc. Salah satu yang top banget waktusaya kuliah dulu ya lagu “Looking For Clues” nya Robert Palmer. Nah terus ada grup menamakan dirinya MO dan ada lagunya yang huenak tenan … sering diputer di radio2 di Bandung waktu itu, termasuk radio OZ. Kontan deh saya beli kasetnya rekaman Aquarius. Biyuh enak tuh lagu. Masih inget kan? Mosok lali?Ha ha ha ha …

Terus ada lagi Phil Collins dan Fryda juga ya saat itu? Selain juga “Easy Lover” nya Collins and Bailey. Terus saya pernah jatuh cinta sama lagunya Ultravox berjudul “Ne European” .. wah keren banget nih lagu. Cuman sayang .. kagak liat CD nya. Ada yang tahu dari album Ultravox yang mana lagu ini? Wis pokoke nuansamatik lah!

dsc00060.jpg

Oh ya .. ini kaset including lyrics juga. Ini ada lirik lagu Fred Astaire ….

mo-lyrics.jpg

Salam,

G

“The Best of” Steve Hackett by Yess

January 28, 2008

Ini adalah seri the best versi Yess yang lain lagi:

dsc00040.jpg
Dari kompilasi ini saya belajar banyak musik Hackett selain yang mainstream ….
dsc00042.jpg
Dibeli 14 Dec 1987 – berarti pada saat beli, sekalian saya juga dikasih kaset Marillion “Loreley”

“The Best of” Genesis by Perina Aquarius

January 28, 2008

Yang ini, pasti sebagian besar dari ANda yang ngaku suka musik rock legendaris, pasti punya dong … kalo gak .. kebangetan tenaaaannn!!! Jangan baca blog ini ah .. malu2in … ha ha ha ha ha …

dsc00054.jpg

Including Lyrics nya itu loh .. mana tahaaaannnn …..???

dsc00055.jpg

Gila gak sih ini foto? Mosok Peter Gabriel bisa mabur? ha ha ha ha .. keren bok!

dsc00056.jpg

Ini sebenernya bukan kaset saya, tapi punya kakak saya mas Jokky W. Hidayat. Dulu kita tinggal serumah di Tebet Timur sama ibu. Mas Jokky ini kamar nya di depan dan ada sound system amplifier NAD 3080 dan speaker AR 28, cassette deck nya kalo ndak salah Fisher. Tiap akhir pagi (apalagi sabtu) mas Jok nyetel kaset ini dengan volume kenceng same tetangga gang sebelah pun denger. ha ha ha ha ha … Apalagi kalo BURNING ROPE .. kita tereak2 barengan .. wesss muantabzzz .. uediyaaannnnnnnnnnnnnnnn …..!!!! Mas Jokky udah lama gak koleksi CD tapi hobi main sekuter. tempo hari puluhan CD saya tak kirim ke rumahnya, langsung di “rip” ke iPod nya … Suatu hari dia SMS ke saya: “Wuih ,… mlaku2 make sekuter sambil di iPod menikmati Jethro Tull Aqualung nikmaaatttt …” Syukur Alhamdulillah dia masih di jalur yang benar .. ha ha ha ha ha ….

dsc00057.jpg
dsc00058.jpg

Hidup kaset jadul!!! Kalo ndak ada kaset bajakan, gimana gw bisa kenal musik prog man???!!!!

Salam,

G

Marillion “Live from Loreley” by Yess

January 28, 2008

Kalo yang ini ANda cari sampek budheg juga kagak bakalan ketemu. Di dunia ini hanya diproduksi satu biji buat gw aja! Critanya jaman doeloe saat sulit dapetin video, si Ian Yess dapetin VHS version dari konser nuansamatik ini. Sangking baiknya I’an sama gw, langsung aja gw direkamin “khusus: dari VHS ke kaset. Hasilnya? Kueren pol!!!!!!!!! Wes pokoke sak ndonya ndak ada yang punya kaset very very very special edition dari Yess ini:

dsc00037.jpg
dsc00036.jpg

Itu ada tanggalnya lagi .. 14 Dec 1987. Sekarang mah udah punya DVD nya … malu atuh ngaku penggemar Marillion era Fish kalo ndak punya DVD ini. Wajib biyanget!

Salam,

G

Marillion Hits Single 1982-1988 by Yess

January 28, 2008

Menikmati musik lewat kaset jadul sungguh nyamlenk suromenggolo tenaaannn …. !!!

Sekarang giliran puter Marillion “Hits Single 1982-1988″ rekaman Yess yang pada dasarnya berisi lagu2 top era Fish. Wah jan nuansamatix tenan. Saya nyetelnya pake walkman, terus di connect ke speaker Altec Lansing (active). Wah .. suaranya jan jumleger tenan .. tapi ya jangan dibandingkan dengan CD, kuwalat!

Ini gambar depannya:

dsc00030.jpg

Dulu saya malah punya kalendernya lho, dari I’an Arliandy juga. Keren banget nih kalender.

Terus cover tersebut kalo saya jlembrengkan menjadi seperti ini:

dsc00033.jpg

Memang dulu YESS hanya mengeluarkan kaset jenis ini seingat saya hanya empat jenis selain Marillion ini: Fire In Harmony, Steve Hackett, Camel. Semuanya saya punya dan masih kinclong2 .. saya simpan rapi di lemari. Masuk dalam Museum Prog Rock versi saya .. ha ha ha ha ha ….

Daftar lagunya keren2 semua lho .. ini dia:

dsc00031.jpg

Anda liat gak, di sudut kanan atas ada tanggal belinya? Ha ha ha … jadul pol lah .. ha ha ha … Toty tuh nama panggilan kecil saya dulu, terus Hidayat itu family name gitu loh …

Tak kalah penting, ini juga INCLUDING LYRICS lho .. ini dia:

dsc00034.jpg

Last .. but not least .. desain kasetnya udah yang paling moderen dari Yess: (gak pake gambar double drums lagi, warna ijo, yang pertama keluar dulu)

dsc00035.jpg

Gimana? Cukup antik to?

Apalagi kalo dipasang di walkman kumplit dengan suara desisnya .. wuuuuuuuuiiiiihhh … uediyaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnn …!!! ngguueblaaaaaaakkkkk!!!!!! 

Salam,

G

Siapa Yang Memulai Istilah PROGRESSIVE?

January 25, 2008

Tempo hari saya nyetel kaset Jon Anderson “Song of Seven”. Bukan apa2, lha memang punyanya kaset, kagak ada CD nya alias saya ndak punya CD nya gitu … Setelah nyetel, saya menulis review di progarchives.

dsc00028-resized.jpgBukan isi reviewnya yang mau saya bahas, tapi istilah PROGRESSIVE ROCK. Kenapa? Ini soalnya nuansamatik sekali bagi saya. Critanya gini … Waktu jaman kuliah dulu memang saya keranjingan banget sama musik rock terutama yang rada gak lurus komposisinya , ya kayak Genesis, ELP, Pink Floyd, Yes dlsb.nya lah (you name it man!). Bahkan, periode tingkat 2 (setelah penjurusan masuk Teknik Industri) yaitu pertengahan tahun 1980 (kesiyan ye, gw udah tuwek banget!), kegilaan saya makin gak tertahan lagi. Hampir tiap hari saya tuh nangkring di toko kaset Veteran, markas besar kaset Yess. Saking seringnya ke situ, akhirnya saya kenal baik (hingga kini) dengan Wanto dan I’an Arliandy (kakaknya Wanto). Si I’an ini critanya arsiteknya kaset Yess. Grup mana yang boleh direkam ke kaset, itu semua atas instruksi Ian. Jadi ya jangan kaget kalo subyektip banget. Liat aja, mana ada album lengkap Led Zeppelin atau Queen atau Deep Purple di rekam Yess? (Ya ada, tapi bukan full semua album kayak Yes, Genesis, Pink Floyd).

Karena sering ke situ, akhirnya ide gila muncul. Salah satunya saya pernah usulkan YESS sebagai singkatan” “Young Energetic Sounds Society” (grammar nya bener apa ndak yo embuh .. lha wong yang ada waktu itu semangat eksklusivitas … ha ha ha .. pokoknya kalo punya kaset rekaman Yess, strata sosialnya lain .. begitulah sombongnya .. ha ha ha ha …). Kalo ndak salah singkatan iniakhirnya ditulis juga di kompilasiCamel sama Steve Hackett, dan juga Marillion deh .. lupa .. ntar saya liat lagi dah … Tapi akhirnya saya mikir juga ya .. sebetulnya jenis music yang saya dan I’an suka in apa sih? Mohon maklum dipersori .. saat itu hamba hanya tahu komputer Osbourne 64KB yang hanya bisa buat bikin program BASIC di Lab Komputer TI ITB… jadi belum ada internet. Akhirnya saya usulkan ke I’an namanya PROGRESSIVE MUSIC. Sengaja saya hilangkan ROCK karena saat itu saya juga gandrung Return To Forever, Mahavishnu Orchestra, Jean Luc Ponty, AL Di Meola yang ada bau jazz nya juga. JRENG! … kok rasanya saya sreg gemreseg dengan istilah PROGRESSIVE MUSIC yah? Langsung dah besoknya saya ke tukang setempel di Balubur, bikin tulisan gini:

GATOT W. HIDAYAT

Progressive Music

Kalo ndak salah harganya Rp. 1.100,- bikin setempel itu. Wuih … nggajak tenan (keren – red.) setelah setempel jadi. Langsung deh, semua kaset rekaman Yess saya setempel dengan tulisan tersebut. Ini contohnya:

dsc00029-cut-paste.jpg

Kalo Anda perhatikan, kaset tersebut ada tanggal belinya yaitu 15 Mei 1981. Artinya apa? Jauh sebelum istilah PROG dikumandangkan di tahun 90an saat internet udah mewabah, seorang anak manusia yang lahir dari kota kecil Mediyun, sudah memakai istilah itu! Ha ha ha ha … seneng juga saya. Saya baru “ngeh” bahwa di dunia dipake istilah progressive music itu ya saat bergaul dengan temen2 di m-claro, terutama yang sering ke Borobudur 10, siaran di M 97 (radio classic rock yang sekarang almarhum itu). Saya yakin bahwa istilah itu saya pake bukan tahun 81, tapi malahan tahun 1980 saat saya mulai tergila-gila tapi ndak nggilani blas dengan musik yang saat itu saya sebut progressive!

SOPO NYONO? Cah Mediyun memakai istilah yang nantinya umum dipake orang? Ha ha ha ha ha …. Jangan2 memang aslinya dari saya yah? Soalnya gini .. di sekitar tahun 1985, say tuh mengirim surat pujian kepada MARILLION bahwa saya kagum sekali dengan mereka saat musik “progressive” lesu, mereka menyeruak menghentak pasar dengan album legendaris “Script for a Jester’s Tear” (1983), “Fugazi” (1984) dan “Misplaced Childhood” (1985). Kenapa baru 1985 saya menulisnya? Karena ada 2 alasan:

  1. Tahun itu saya mulai bekerja di Pt McDermott Indonesia, Batam, dimana saat saya diinterview oleh boss nya, wong londo, yang namanya George Stapleton,merupakan pertama kali saya bicara boso Inggris sama wong londo beneran. Sebelumnya saya gakmudeng boso Inggris blas! Gak hanya itu, itulah pertama kali saya terbang dengan montor mabur (pesawat) dimana saya sempat tegang … ha ha ha ha ha …. Memang saya hafal lirik Pseudo Silk Kimono – Kayleigh – sampai Heart of Lothian. Tapi diajak bicara wong londo? saya hanya bisa bilang YES. Makanya ditawari gaji Rp. 500.000 plus 20% outstation allowance pun saya bilang “Yes, Mr. George Stapleton!”. Ha ha ha ha …. Lha wong “I was borne with the heart of Lothian” je! Siapa takut? Nah .. sejak ketemu George itulah saya mulai sombong dan congkak .. dikit2 boso Inggris .. wis jan kemethak (sombong – red.) tenan. Makanya, saya berani nulis surat ke Fish di Surrey.
  2. Marillion sudah menelorkan 3 album yang consistently damn excellent and masterpiece .. jadi udah saatnya dong dipuji … Makanya baru tahun 1985 saya nulis ke Fish. Surat (bukan email lho!) saya pos kan dari Kantor Pos Nagoya, Batam dengan hati “dag-dig-dug” trenyuh karena berani nulis ke band kesayangan!
jester-is-sneaking-out.jpg

Mungkin juga sejak saya nulis itu .. Fish crito2 ke orang “Eh .. ada orang dari Mediyun pake istilah PROGRESSIVE nih menjuluki musik kita dan juga Yes, Pink Floyd serta Genesis .. yul kita pake istilah ini aja yuk buat kita dan penggemar musik kita dan yang sejenis … Sounds a great idea!” .. dia bisikin ke Mark Kelly, Steve Rothery, Ian Moseley, dan Pete Trewavas. Makanya istilah PROG jadi populer di tahun 90an …..

Itu kata saya ….. selebihnya… saya serahkan ke Anda ….

Salam,

G


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers