Archive for September 12th, 2007

Merajut Makna Melalui Prog Rock (4 of 99)

September 12, 2007

Lagu njelehi yang membuat saya tercenung …

 

Abis subuh tadi pagi saya terima pesan lewat SMS dari Bang Ijal (Rizal B. Prasetijo) tentang grup band Kansas yang selalu memasukkan unsur religius ke dalam liriknya dan beliau menyebut Dust In The Wind. Howeeeekkkkk …!!! Rasanya mau muntah dah saya mendengarkan judul lagu ini disebut. Bukan apa-apa, saya sudah pada taraf menilai lagu ini “njelehi” (mbosenin) karena sudah seringnya saya mendengar lagu ini diputer baik di radio maupun di kompilasi kaset maupun CD. Rasanya udah “neg” dah pokoknya. Tapi getahu kenapa, setelah SMS dari Bang Ijal tadi saya merasa terusik dan sampai mengganggu saat saya bekerja. Tadi pada saat meeting dengan klien … saya secara gak sadar mengingat lirik lagu ini … I close my eyes … only for a moment and the moment’s gone … bla bla bla …. Saya gak apal persis kata2nya – lha wong udah “neg” banget ama lagu pop ini. Bak seperti ada yang menggerakkan (ada kekuatan lain yang menggerakkan) kok tiba-tiba saya Tanya Dr. Google mengenai lirik lengkap lagu ini dan inilah lirik tersebut:

 

I close my eyes, only for a moment, and the moment’s gone

All my dreams, pass before my eyes, a curiosity

Dust in the wind, all they are is dust in the wind

Same old song, just a drop of water in an endless sea

All we do, crumbles to the ground, though we refuse to see

Dust in the wind, All we are is dust in the wind

Don’t hang on, nothing lasts forever but the earth and sky

It slips away, all your money won’t another minute buy

Dust in the wind, All we are is dust in the wind

kansas-point-of-know-return.jpgSaya masygul .. tercenung ..pikiran saya tiba2 berhenti berputar sejenak … dan ujung-ujungnya … saya merenung ….merenung .. memutar pikiran … mengingat secercah memori dari sel otak yang mungkin bisa membantu saya dalm mengikat makna dari kejadian sederhana penuh makna yang saya alami hari ini.

 

Perhatikanlah kedalaman lirik ini bahkan sejak awal lagu yang diciptakan oleh Kerry Livgren ini dilantunkan oleh Stevek-livgren-fgallery3-1.jpg Walsh: I close my eyes, only for a moment and a moment’s gone … waduh .. sya merindhink habis! Pernahkah Anda terpikir untuk memejamkan mata hanya sekejap namun sekejap itupun “raib”. Innalillahi wa innailaihi roji’un …. Dan ini bisa terjadi kepada siapapun. Ustadz yang menjadi tamu di siaran Hikmah Pagi di TVRI pagi ini juga mengatakan hal yang sama :”kematian kalau sudah tiba saatnya tidak akan pernah bisa ditunda lagi kecuali atas kehendak-Nya”. Masya Allah. Saya menjadi makhluk seper nanomikron kuadrat kecilnya – sangat sangat kecil dibandingkan Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta ini.

 

Begitu dalamnya makna dari lirik ini, terutama menjelang Tanggal Satu Ramadhan yang insya Allah kita semua akan sambut besok pagi. Bagi saya pribadi, ini adalah sebuah peringatan keras bahwa bila Allah menghendaki saya bisa memasuki bulan Ramadhan yang ditunggu-tunggu umat Islam di seluruh dunia ini, maka saya harus benar-benar mempersiapkannya dengan baik. Dari pelajaran yang saya tahu, Nabi Muhammad bertutur: “Bila manusia tahu pahala dari mengerjakan shalat berjamaah pada waktunya terutama untuk Subuh dan Isya, merangkakpun akan dia kerjakan”. Dalam situasi Ramadhan kali ini mungkin saya harus pandai membagi waktu terutama saat ada undangan BUKA BERSAMA. Ada kecenderungan buka bersama yang saya hadiri seringkali membuat saya hanya tepat mengerjakan shalat Maghrib namun sering melalaikan Isya. Ya .. Isya waktunya panjang, bisa ditunda. Tarawih? Ah itu kan sunnah … belakangan saja. Mengingat mati yang gak bisa ditunda, saya berpikir, bila Allah memanggil saya setelah adzan Isya di bulan Ramadhan dan saya masih belum niat menunaikan shalat, betapa meruginya saya…. Ini harus saya renungkan dan saya praktekkan. Berat memang, tapi saya akan mohon pertolongan Allah SWT.

 

Allah SWT sangat menyayangi umatNya sehingga orang seperti saya pun masih diingatkan – melalui temen yang saya kenal dari jalur prog rock, Rizal B Prasetijo, seorang pakar investment banking yang saya kenal sebagai orang yang saleh. Kalau saja Bang Ijal tidak mengirim SMS tadi pagi, mungkin Dust In The Wind ini tidak akan pernah nyangkut di otak saya. Alhamdulillah. Terima kasih Bang Ijal.

 

Semoga Allah selalu membuka pintu ampunan bagi hambaNya yang kotor ini … Amin.

 

Wass,

GW, 12 September 2007

 

 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 142 other followers