Archive for September, 2007

Chicago Live at Carnegie Hall

September 22, 2007

Dulu saat kuliah di Bandung, saya kebetulan menemukan sebuah radio gelap (amatir) yang suka memutar lagu2 rock gila tahun 70an termasuk Chase, Chicago Transit Authority, Uriah Heep “Salisbury” dll. masih banyk grup classic rock 70an lainnya lagi. Nama radio tersebut unik: Blue Jean Racing. Aneh, tapi begitulah. Salah satu yang saya suka, radio ini sering pasang album live Chicago di Carnegie Hall. Gara-gara radio inilah saya menjelajah lagi musik awal 70an termasuk Chicago ini.

Salah satu koleksi berharga saya ya 2 buah kaset rekaman Yess dengan tajuk Chicago Live at Carnegie Hall vol. 1 dan vol. 2. Saya bangga sekali memiliki kaset yang penampilannya udah bulukan tapi kualitasnya masih prima, rekaman lama dari Yess ini. Hingga udah punya CD nya pun, saya masih suka nyetel kaset ini. Top markotop kemlotop barokotop tenan! Musiknya juga dahsyat, masih ada Terry Kath alm. Pokoknya keren deh, dan gak seperti Chicago yang belakangan lagu2nya mehek-mehek itu ….

Merajut Makna Melalui Prog Rock (5 of 99)

September 22, 2007

Kekaguman Pada Keindahan Alam Yang Melahirkan Komposisi Dahsyat!

Beberapa bulan yang lalu, sebuah paket dari MissingPiece nyampe di rumah saya, isinya: REFUGEE Live in Concert, Newcastle City Hall, 1974. Whoa … adrenalin saya langsung muncrat begitu membuka kemasannya. Langsung saya putar JRENG! Dan merindhink lah bulu roma saya menikmati alunan musik indah dan dahsyat dari kelompok Patrick Moraz sebelum bergabung dengan YES ini. Seminggu kemudian, saya sudah menulis reviewnya secara lengkap di www.progarchives.com. Sebuah torehan yang nuansamatik.

Refugee memang memiliki arti khusus bagi saya. Pertama kali denger musiknya saat kakak saya, Jokky, memiliki kaset dengan label Patrick Moraz (tanpa ada tulisan Refugee) rekaman Perina Aquarius hitam-putih jaman kaset bajakan sekitar tahun 1975an waktu itu. Wah … saya ndak bisa melupakan kaset ini yang bahkan akhirnya saya simpan hingga beberapa tahun yang lalu karena begitu langkanya kaset ini. Saya masih ingat, saya sering sekali memutar kaset mas Jokky ini berulangkali karena gak bosen-bosen juga. Semua lagunya dahsyat, apalagi yang judulnya Grand Canyon .. wah .. nggeblak dah saya kalo denger lagu ini! Lagu ini intronya miris mbrebes mili karena menghasilkan nada-nada miring perpaduan antara kibor, horn, bass gitar dan drum. Bahkan ada kesan musik Sumatera Barat (Padang) pada bagian intronya. Yang bikin nggeblak itu justru pada saat vocal mau masuk, waduh .. pianonya itu lho.. nunjek ulu ati paling dalam! Ternyata seorang Patrick Moraz tidak hanya piawai dalam kibor atau synthesizer tapi juga memainkan tuts piano dengan penuh perasaan. Tersentuh hati saya menikmati nada-nada indah diramu leawt jemari tangannya. Maha dahsyat!

Pada saat vokal Lee Jackson mulai masuk “When you go home and sleep this night. Dream of wings and astral flight ….” Wuaduh! Uediyan … ndhredheg mati ngadheg aku menikmati melodi nan indah merasuk sukma menunjek ulu ati ini. Lagu ini memang didasari pada kehendak Patrick Moraz untuk membuat komposisi yang mencerminkan kekaguman kepada keindahan alam semesta ciptaan Tuhan. Patrick meminta Lee Jackson menulis liriknya. Inspirasi lirik lagu tercipta saat Lee terbangun malam hari dan melihat buku dan peta dunia untuk menulis lirik lagu ini. Maka, jadilah lagu indah ini, yang tidak hanya menyuguhkan lirik indah namun ramuan melodi, tekstur dan aransemen yang berkualitas, mengalir dengan indahnya. Pada bagian dimana Lee Jackson menyanyi lirik “We swoop right up the Canyon wall. Then like an eagle down we’ll faaaaalll …” wuah keren abis dah! Rasanya bukan insane manusia kalo gak menangis menikmati keindahan bagian ini! Lagu inipun menjadi favorit pada saat mereka live show terutama dengan adanya permainan Alpine Horn oleh Patrick Moraz di bagian awal lagu yang terdiri dari 3 (tiga) movement ini.

Saking sukanya dengan album satu-satunya kelompok Refugee ini, saya pernah koleksi lagi kasetnya dengan rekaman Apple. Namun sayang, hanya ada tiga lagu yang direkam, itupun hanya sebagai side B dari The Nice. Memang kelompok ini sebetulnya adalah The Nice minus Keith Emerson yang keluar membentuk ELP. Nah .. pada saat radio classic rock M 97 masih jaya sekitar th 2000, saya mendapatkan rekaman CDR album ini dari PH nya Pipit (anak prog abis!). Kontan tiap hari saya setel ini album.Namun sayang, akhirnya CDR ini rusak dan saya cari versi aslinya. AKhirnya baru aja dapet dari The MissingPiece pada tahun ini. Lega dah mendapatkan album dahsyat ini dalam format CD remaster.

Sebetulnya, semua lagu yang ada di album ini tidak ada yang jelek, bahkan semuanya masterpiece, mulai dari Papillon, Someday, Ritt Mickley, dan Credo. Credo ini juga komposisi yang dahsyat luar biasa dan rasanya perlu sesi khusus buat ngebahas lagu ini. Yang menarik, meski Refugee ini tidak terkenal di Indonesia, namun dampaknya sangat kuat pada musik pop nasional. Kalau cermat diamati, album pop Badai Pasti Berlalu itu sangat dipengaruhi oleh Refugee, terutama dalam hal nuansa musiknya. Coba saja, anda simak album Refugee ini dan bandingkan dengan Badai Pasti Berlalu – pasti Anda akan menemukan dimana pengaruhnya. Memang, pengaruh Genesis di Badai Pasti Berlalu juga kental, namun Refugee juga memiliki pengaruh yang kuat. Selain itu, album solo Patrick Moraz “The Story of I” terutama lagu Best Years of Our Lives sangat kental pengaruhnya ke Badai Pasti Berlalu dan musik pop Indonesia.

Kembali ke Grand Canyon … Ini adalah komposisi dahsyat yang ditujukan terhadap natural wonder. Tak bisa dipungkiri, kekaguman terhadap alam bisa menghasilkan karya masterpiece seperti lagu ini tanpa harus menorehkan lirik cengeng tema cinta pria – wanita. Kalo dimaknai lebih dalam, Allah SWT menghendaki manusia ciptaanNya untuk merawat alam dengan sebaik-baiknya. Bukankah dalam shalat kita yang dimulai dengan membesarkan nama Allah melalui “Allahu Akbar” diakhiri dengan salam “Assalamualaikum wr wb” yang merupakan sapaan terhadap dunia dan seisinya, termasuk kecintaan kita kepada alam? Camkan itu!

 Jakarta, 11 Ramadhan 1428H / 23 Sept 2007

 

Merajut Makna Melalui Prog Rock (4 of 99)

September 12, 2007

Lagu njelehi yang membuat saya tercenung …

 

Abis subuh tadi pagi saya terima pesan lewat SMS dari Bang Ijal (Rizal B. Prasetijo) tentang grup band Kansas yang selalu memasukkan unsur religius ke dalam liriknya dan beliau menyebut Dust In The Wind. Howeeeekkkkk …!!! Rasanya mau muntah dah saya mendengarkan judul lagu ini disebut. Bukan apa-apa, saya sudah pada taraf menilai lagu ini “njelehi” (mbosenin) karena sudah seringnya saya mendengar lagu ini diputer baik di radio maupun di kompilasi kaset maupun CD. Rasanya udah “neg” dah pokoknya. Tapi getahu kenapa, setelah SMS dari Bang Ijal tadi saya merasa terusik dan sampai mengganggu saat saya bekerja. Tadi pada saat meeting dengan klien … saya secara gak sadar mengingat lirik lagu ini … I close my eyes … only for a moment and the moment’s gone … bla bla bla …. Saya gak apal persis kata2nya – lha wong udah “neg” banget ama lagu pop ini. Bak seperti ada yang menggerakkan (ada kekuatan lain yang menggerakkan) kok tiba-tiba saya Tanya Dr. Google mengenai lirik lengkap lagu ini dan inilah lirik tersebut:

 

I close my eyes, only for a moment, and the moment’s gone

All my dreams, pass before my eyes, a curiosity

Dust in the wind, all they are is dust in the wind

Same old song, just a drop of water in an endless sea

All we do, crumbles to the ground, though we refuse to see

Dust in the wind, All we are is dust in the wind

Don’t hang on, nothing lasts forever but the earth and sky

It slips away, all your money won’t another minute buy

Dust in the wind, All we are is dust in the wind

kansas-point-of-know-return.jpgSaya masygul .. tercenung ..pikiran saya tiba2 berhenti berputar sejenak … dan ujung-ujungnya … saya merenung ….merenung .. memutar pikiran … mengingat secercah memori dari sel otak yang mungkin bisa membantu saya dalm mengikat makna dari kejadian sederhana penuh makna yang saya alami hari ini.

 

Perhatikanlah kedalaman lirik ini bahkan sejak awal lagu yang diciptakan oleh Kerry Livgren ini dilantunkan oleh Stevek-livgren-fgallery3-1.jpg Walsh: I close my eyes, only for a moment and a moment’s gone … waduh .. sya merindhink habis! Pernahkah Anda terpikir untuk memejamkan mata hanya sekejap namun sekejap itupun “raib”. Innalillahi wa innailaihi roji’un …. Dan ini bisa terjadi kepada siapapun. Ustadz yang menjadi tamu di siaran Hikmah Pagi di TVRI pagi ini juga mengatakan hal yang sama :”kematian kalau sudah tiba saatnya tidak akan pernah bisa ditunda lagi kecuali atas kehendak-Nya”. Masya Allah. Saya menjadi makhluk seper nanomikron kuadrat kecilnya – sangat sangat kecil dibandingkan Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta ini.

 

Begitu dalamnya makna dari lirik ini, terutama menjelang Tanggal Satu Ramadhan yang insya Allah kita semua akan sambut besok pagi. Bagi saya pribadi, ini adalah sebuah peringatan keras bahwa bila Allah menghendaki saya bisa memasuki bulan Ramadhan yang ditunggu-tunggu umat Islam di seluruh dunia ini, maka saya harus benar-benar mempersiapkannya dengan baik. Dari pelajaran yang saya tahu, Nabi Muhammad bertutur: “Bila manusia tahu pahala dari mengerjakan shalat berjamaah pada waktunya terutama untuk Subuh dan Isya, merangkakpun akan dia kerjakan”. Dalam situasi Ramadhan kali ini mungkin saya harus pandai membagi waktu terutama saat ada undangan BUKA BERSAMA. Ada kecenderungan buka bersama yang saya hadiri seringkali membuat saya hanya tepat mengerjakan shalat Maghrib namun sering melalaikan Isya. Ya .. Isya waktunya panjang, bisa ditunda. Tarawih? Ah itu kan sunnah … belakangan saja. Mengingat mati yang gak bisa ditunda, saya berpikir, bila Allah memanggil saya setelah adzan Isya di bulan Ramadhan dan saya masih belum niat menunaikan shalat, betapa meruginya saya…. Ini harus saya renungkan dan saya praktekkan. Berat memang, tapi saya akan mohon pertolongan Allah SWT.

 

Allah SWT sangat menyayangi umatNya sehingga orang seperti saya pun masih diingatkan – melalui temen yang saya kenal dari jalur prog rock, Rizal B Prasetijo, seorang pakar investment banking yang saya kenal sebagai orang yang saleh. Kalau saja Bang Ijal tidak mengirim SMS tadi pagi, mungkin Dust In The Wind ini tidak akan pernah nyangkut di otak saya. Alhamdulillah. Terima kasih Bang Ijal.

 

Semoga Allah selalu membuka pintu ampunan bagi hambaNya yang kotor ini … Amin.

 

Wass,

GW, 12 September 2007

 

 

Merajut Makna Melalui Prog Rock (3 of 99)

September 2, 2007

 

Makna Kematian dibalik lagu PULL ME UNDER

Beberapa saat yang lalu saya pernah membedah habis lagu PULL ME UNDER dari Dream Theater. Bagian akhir lagu yang habis secara mendadak menorehkan arti bahwa kehidupan bisa berakhir kapan saja bila Allah SWT menghendaki. Maka, bersiaplah. Saya merinding mengingat habisnya lagu ini yang mendadak setelah musiknya secara indah mengalun dari awal dengan gagah perkasa. Analisis ini santa detil dan mengulas musik dan liriknya. Maaf masih berbahas Inggris karena dulunya akan diterbitkan secara international oleh penerbit rock, tapi saya tidak sempat menuntaskan secara utuh semua sejarah dan makna Dream Theater. Atau, sedang dalam proses .. begitulah …

Pull Me Under

(Images: Dream Theater, words: Moore)

 

The Music

Inspired by Shakespear’s “Hamlet”, this album opener begins with an atmospheric style through Petrucci’s acoustic guitar outfit followed by Portnoy’s drum sound that starts to roll into the music gradually, augmented with soft and melodic keyboard sound. This very opening is really a wonderful piece that lifts up listener’s emotions. Sometimes I repeat this tune because of wanting to have another chance for this only once occurrence musical piece – not being repeated anywhere else in the entire structure of this tune. It sets the whole tone of overall tune. This piece of music takes approximately one minute plus in the beginning.

 

The music builds up firmly in crescendo and turns into a faster tempo with guitar riffs [1:15]. The heavy riffs indicate the influence of Metallica. Drum beats remark the entrance of LaBrie’s vocal part [2:02] “Lost in the sky. Clouds roll by and I roll with them” nicely. Two things deserve attention here. First, the (relatively long) duration where the tom drum sound takes just before vocal enters, augmented with keyboard sound, has created a substantial impact for listener’s listening pleasure – yep, it does accentuate the tune. It projects an energy of the tune and at the same time sets an uplifting atmosphere for the next lyrical part. Second, on the opening lyrical part by LaBrie, it clearly sets the situation whereby the Prince Hamlet swore vengeance on King Claudius for murdering his father, the former King, and then marrying his mother, still Queen. It does not state how deep the vengeance was, but … at least it sets appropriate stage for the scene.

 

iawbook.jpgThe music firmly turns into faster tempo from “This world is spinning around me” with more energy and uplifting mood that depicts the anger Hamlet had accumulated. The music in this part reflects the more complex composition with excellent harmony music and tidy performance demonstrated by all musicians with their individual instrument. Each of them is virtuoso in his own instrument. Great musicianship, overall. The energy is rising up when LaBrie sings “Dust fills my eyes” [4:14]. Oh … what a great melody this piece is: he sings differently and it projects  full energy – be it positive or negative (represents Hamlet’s vengeance?) – of the overall tune. In here, I can sense the best blend between music and lyrical part; it’s so nice and uplifting! And the true pinnacle of this tune is when it reaches short guitar solo  [5:00] followed with title’s lyrical part “Pull me under. Pull me under. Pull me under I’m not afraid” that represents how Hamlet voiced his bravery out-loud and shed the light of revenge for his father’s death.

 

The transition segment in quieter passage[5:30] filled with a soft and nice keyboard work by Moore augmented with a simple acoustic guitar fills. It gives a break to the music for relaxing mood in a slower tempo. The drum sound enters gradually, gives a firmed beat and brings the music back to its original style with fast tempo. Again the guitar solo fills into the music and brings to “Pull me under” part.   

 

The ending part [7:13] is totally a metal vein characterized by heavy guitar riffs, power drumming, augmented beautifully with great keyboard work at the background. This keyboard sound provides a symphonic nuance of the tune and it enriches the composition. Hamlet’s famous soliloquy was the passage in which the conflict in Hamlet’s mind is detailed, and the ending part of this tune coincides thoroughly with it. The very end of the song LaBrie can be heard singing this lyrical part from Hamlet:

 

“Oh that this too, too solid flesh would melt.”

 

…and the music suddenly turns-off!

 

The first time I listened to this track, I thought there was something wrong with the master tape that resulted this unplanned stop of the track. But later I learned from www.DTFAQ.com when a fan asked why it was cut off suddenly. Two reasons:

 

First, the song intentionally cuts off like that, because part of the song deals with how sudden death can be. The sudden ending of the song is just like an unexpected death of a person.

 

Second, it was inspired by The Beatles’ Abbey Road side A ending, and Mike Portnoy explains that the melodies are building up and it just “pulls the carpet out from under you”.

 

The Message Beyond the Music

 

As in our day-to-day life, we are regularly posed with a multitude of challenges in any aspect of life: love, relationship, integrity, respect, dignity, etc. However, as human being, all of us have been given first birth-gift: “the freedom to choose” as Dr. Stephen Covey puts it in his seminal book “The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness”. According to Dr. Covey there is always “room” between stimulus and response whereby we can make up our mind on which pathway we’ll choose our life. In the case of Hamlet it turns out to be an anger that becomes a vengeance.

 

In other plot of life, we might picture the situation like an author Paulo Coelho put in his book “The Alchemist”: if you have cast an affirmative personal legend (in the words of Dr. Covey it’s called personal mission statement) and you have set your goals in life, all universe will conspire to help you achieve your dreams. Yep, in the process of receiving a stimulus of bad news or problems, there might be some anger as first reaction – which is human, I think – but this is a kind of a controlled anger where we can convert into a positive energy that will resolve the challenge or the problem.

 

In either case, the tune Pull Me Under can represent the situation. The next thing is when we are dealing with unwanted situations as results of our decision. The same cycle would apply and we’ll find the most effective response, it’s a continuous process improvement, basically. When we are posed with the sudden death – like what happens with the end of this tune – nothing we can do about. The song just visualizes the scene through the sudden stop at the end of the tune.

 

In summary, this tune may represent any situation in our life where problems challenge us and require us to decide on what sort of response we will take. The music represents a variety of situations and moods depicting the situation.

 

The Impact

 

Pull Me Under once became a radio hit and it has become fans favorite where the band has always played it in any live performance. Actually, it was not planned by the band as originally they planned Another Day as hit. But, the radio had never played it on air.

 

Because of the nature of this tune that has an uplifting mood and upbeat rhythm combined with simple lyrics, it has a significant impact in the mind of listeners. Many people have been inspired by the beats and nuances of this tune. I remember one day on Friday evening after office hours I watched the Images and Words video, live in Tokyo with my colleague. We’re stunned with the performance of these guys and we emulated the lyrical part while we’re watching this tune performed. Even after we completed watching the video, my friend and I sung aloud the tune. It’s so energetic and I can not help it to stop emulating the energy of this track – forget about the Hamlet story.

 

The title passage “Pull me under” (continued until “I’m not afraid”) becomes common yell among fans of the band in my environment. Whenever we meet, we raise one of our arms and moving it up and down while yelling this part. It’s a rocking yell!!!

 

Whenever lonely in the car, this tune is suitable to keep our energy afresh while we’re driving. Turn the volume loud and starts singing while the tune is played. It helps elevate our emotions and makes a very enjoyable driving. Try it!

 

Almost all lyrical parts are enjoyable. In addition to “Pull me under” passage, the following part is also very uplifting:

 

This world is spinning around me

This world is spinning without me

Everyday sends future to past

Every breath leaves me one less to my last

 

***


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 145 other followers