From my posting on mailing list : Thu Nov 13, 2003 7:58 am
Baru dapet pinjeman dari Om George nan Marillion pol, buku karangan Jon Collins ini. Konon buku ini berdasarkan research yang mendalam dan dpt dipertanggungjawabkan, authorised by Marillion juga lho!
Sumprit – gw gak nyangka buku yang desainnya kayak text book ilmiah ini, dicetak hitam putih semuanya, ternyata bener2 memikat mata dan hati. Abis sahur gw buka2, mau liat gambarnya aja namun … wuaduh biyung mana tahan …. mata gw tertahan ampe gak tidur lagi krn kesengsem abis.
Gw terpesona biyanget baca kisah Marillion ini mulai dari kere ‘n’ mbambung sampe sekarang, bak kayak baca Babad Mataram gitu – jan nuansamatik puol. Bacanyapun gw sambil pasang disc 2 Script yang ada lagu2 demo sebelum jadi album. Grendel-nya pun yang aneh kibornya. Yang menarik dari story tersebut adalah:
1. Salah seorang sumber dalam buku, manager turnya, bilang bahwa Marillion tidak bakal sukses sampe sekarang kalau gak ada Fish yang suka nge “push” anggota band yang lain untuk lebih disiplin dan persisten. Si Fish ini tahan duduk seharian menelpon club manager dan gig manager untuk mendapatkan kesempatan manggung di club / pub. Hasil kerja kerasnya adalah Marillion bisa manggung 4 kali seminggu, sebelum mereka terkenal dan bikin album. Mau tahu penontonnya berapa banyak? Lima belas (15) thok! Jaman itu, band yang gak punk gak ada yang mau nonton. Marillion main bersama (sepanggung) dg grup punk. Giliran Marillion main, penonton semuanya pulang – kecuali 15 orang itu.
2. Yang menarik, salah satu dari 15 penonton itu ada seorang bocah berusia 11 tahun yang sebelumnya suka Iron Maiden, bernama Steven Wilson (yg kemudian kondang dg grupnya Porcupine Tree) yang sejak pertunjukan yang ditonton 15 orang tsb. sampai sekarang menjadi penggemar Marillion. Gak heran kalau Wilson membantu solo Fish dan juga album Marillion H era.
3. Yang juga gak kalah menariknya adalah seorang cwq (di fotonya sih keliatannya cantik) bernama Lucy Jordache. Ini cwq punya gairah thd musiklebih kental ketimbang sekolah, shgg begitu lulus, dia ngelamar kerja di EMIsebagai staff penjualan. Tadinya dia gak ngerti musik Marillion. Namun begitu nontonlive performance Fish dkk. dia takjub dan tunduk menjadi die-hard fan Marillionhingga kini. Nah, cwq ini sekarang kerja di Marillion.com merangkap sebagaisekretaris Marillion sampai saat ini. Cwq ini pula yang pernah nyuratin Rizal FedEx,ngasih tahu bahwa bulan December 2002 y.l. sebenernya Marillion rencana manggung diJkt. Namun karena situasi keamanan, batal. Rizal ini suka surat2an ama dia.Yg gw seneng, dia konsisten: cari kerjaan yang sesuai hobinya dia: musik!Wah … kalah nih kita ….
4. Kalau gak karena persistensi Fish, deal dengan EMI gak bakal terwujud.Fish ini ternyata tegas pol. Saat band maju dan dia melihat ada anggota bandyang “dianggap” gak kompeten, dia pecat, meskipun itu temen deketnya yangngajakin dia gabung di Marillion: Diz Minnitt (bass). Gak brenti disini: MickPointer (drummer) yang mrekrut Fish pada saat Audisi, dipecat pula samaFish. Masuklah Trewavas (bass) dan Moseley (drum). Wis gemblunk pol Fishiki – tapi tuooobbbb!!! Terbukti album kedua Fugazi, gebugan drumnya lebihdinamis.
Wis pokoke sueneng pol baca buku ini, meski gw bacanya baru sampe hal 27.Tapi jan memikat tenan.

Peace on earth and mercy mild
Mother Brown has lost her child
Just another … FORGOTTEN SONS!!!!
Salam,
gatot
np “Age of Innocence” – Iron Maiden.
Lho? Opo tumon? Review Marillion kok lagune IrMa? Yo ben! Sing penting Marillion top!
5. Setelah manggung sebanyak 100 kali di berbagai club dan belum memilikialbum, Marillion berniat membuat demo tape untuk dikirim ke beberapa record label. Ada 15 record label yang dikirim, hampir semuanya menolak kecuai satu label: EMI (in the name of Ashleigh Godaal, karena dia sempat nonton live Marillion di Marquee bbrp bulan sebelumnya). Sebenarnya Charisma juga tertarik. Namun pada saat nego akhir, Tony Stratton Smith (Charisma) sedang cuti dan mendelegasikan nego ke anak buahnya. Mark Kelly berkomentar “Charisma menawarkan kontrak untuk 2 buah single, sementara EMI menawarkan kontrak untuk lima buah album. Jadi, jelas dong siapa yang kami pilih?”.
6. Adalah Fish yang “ngotot”, persisten untuk meyakinkan semua anggota band bahwa kesibukan live performance harus dilakukan setiap saaat, sehingga pada live 100, mereka makin pede untuk membuat demo tape.
7. Fish juga yang ngotot bahwa Diz Minnit (temen deketnya, yang membawanya ke Marillion) fungsinya di band hanya sebagai “penumpang”, bukan “kontributor” dan harus digantikan. Marillion mempertimbangkan Pete Trewavas (pemain bassnya The Metros, new wave) dan hampir gagal karena si Pete ini gak ngeprog blas dan ndak tahu musik Genesis, etc. Tapi Fish melihat Pete ada potensi untuk gabung Marillion. Maka, saat audisi pun, Pete disuruh pakai equipment nya Diz utk membandingkan. Kemudian, Pete disuruh ikut dalam live Marillion barengan sama Diz. Diz ndongkol juga meski akhirnya dia mengakui bahwa musical style nya dia gak pas sama anggota Marillion yang lain. Pete kemudian disuruh mempelajari semua lagu2 Marillion dan terakhir, saat penulisan Chelsea Monday usai, Pete udah gabung dengan Marillion dan langsung perform di live nya Marillion.
Salam,
Gatot
NP “21st Century of Schizoid Man” KC

