Archive for July, 2007

Marillion “Separated Out”

July 30, 2007

From my posting on mailing list : Thu Nov 13, 2003 7:58 am

Baru dapet pinjeman dari Om George nan Marillion pol, buku karangan Jon Collins ini. Konon buku ini berdasarkan research yang mendalam dan dpt dipertanggungjawabkan, authorised by Marillion juga lho!

Sumprit – gw gak nyangka buku yang desainnya kayak text book ilmiah ini, dicetak hitam putih semuanya, ternyata bener2 memikat mata dan hati. Abis sahur gw buka2, mau liat gambarnya aja namun … wuaduh biyung mana tahan …. mata gw tertahan ampe gak tidur lagi krn kesengsem abis.

kaset-marillion-versi-yess.jpg

Gw terpesona biyanget baca kisah Marillion ini mulai dari kere ‘n’ mbambung sampe sekarang, bak kayak baca Babad Mataram gitu – jan nuansamatik puol. Bacanyapun gw sambil pasang disc 2 Script yang ada lagu2 demo sebelum jadi album. Grendel-nya pun yang aneh kibornya. Yang menarik dari story tersebut adalah:

1. Salah seorang sumber dalam buku, manager turnya, bilang bahwa Marillion tidak bakal sukses sampe sekarang kalau gak ada Fish yang suka nge “push” anggota band yang lain untuk lebih disiplin dan persisten. Si Fish ini tahan duduk seharian menelpon club manager dan gig manager untuk mendapatkan kesempatan manggung di club / pub. Hasil kerja kerasnya adalah Marillion bisa manggung 4 kali seminggu, sebelum mereka terkenal dan bikin album. Mau tahu penontonnya berapa banyak? Lima belas (15) thok! Jaman itu, band yang gak punk gak ada yang mau nonton. Marillion main bersama (sepanggung) dg grup punk. Giliran Marillion main, penonton semuanya pulang – kecuali 15 orang itu.

2. Yang menarik, salah satu dari 15 penonton itu ada seorang bocah berusia 11 tahun yang sebelumnya suka Iron Maiden, bernama Steven Wilson (yg kemudian kondang dg grupnya Porcupine Tree) yang sejak pertunjukan yang ditonton 15 orang tsb. sampai sekarang menjadi penggemar Marillion. Gak heran kalau Wilson membantu solo Fish dan juga album Marillion H era.

3. Yang juga gak kalah menariknya adalah seorang cwq (di fotonya sih keliatannya cantik) bernama Lucy Jordache. Ini cwq punya gairah thd musiklebih kental ketimbang sekolah, shgg begitu lulus, dia ngelamar kerja di EMIsebagai staff penjualan. Tadinya dia gak ngerti musik Marillion. Namun begitu nontonlive performance Fish dkk. dia takjub dan tunduk menjadi die-hard fan Marillionhingga kini. Nah, cwq ini sekarang kerja di Marillion.com merangkap sebagaisekretaris Marillion sampai saat ini. Cwq ini pula yang pernah nyuratin Rizal FedEx,ngasih tahu bahwa bulan December 2002 y.l. sebenernya Marillion rencana manggung diJkt. Namun karena situasi keamanan, batal. Rizal ini suka surat2an ama dia.Yg gw seneng, dia konsisten: cari kerjaan yang sesuai hobinya dia: musik!Wah … kalah nih kita ….

4. Kalau gak karena persistensi Fish, deal dengan EMI gak bakal terwujud.Fish ini ternyata tegas pol. Saat band maju dan dia melihat ada anggota bandyang “dianggap” gak kompeten, dia pecat, meskipun itu temen deketnya yangngajakin dia gabung di Marillion: Diz Minnitt (bass). Gak brenti disini: MickPointer (drummer) yang mrekrut Fish pada saat Audisi, dipecat pula samaFish. Masuklah Trewavas (bass) dan Moseley (drum). Wis gemblunk pol Fishiki – tapi tuooobbbb!!! Terbukti album kedua Fugazi, gebugan drumnya lebihdinamis.

Wis pokoke sueneng pol baca buku ini, meski gw bacanya baru sampe hal 27.Tapi jan memikat tenan.
marillion-live-kaset.jpg
Peace on earth and mercy mild
Mother Brown has lost her child
Just another … FORGOTTEN SONS!!!!

Salam,
gatot
np “Age of Innocence” – Iron Maiden.
Lho? Opo tumon? Review Marillion kok lagune IrMa? Yo ben! Sing penting Marillion top!

 

5. Setelah manggung sebanyak 100 kali di berbagai club dan belum memilikialbum, Marillion berniat membuat demo tape untuk dikirim ke beberapa record label. Ada 15 record label yang dikirim, hampir semuanya menolak kecuai satu label: EMI (in the name of Ashleigh Godaal, karena dia sempat nonton live Marillion di Marquee bbrp bulan sebelumnya). Sebenarnya Charisma juga tertarik. Namun pada saat nego akhir, Tony Stratton Smith (Charisma) sedang cuti dan mendelegasikan nego ke anak buahnya. Mark Kelly berkomentar “Charisma menawarkan kontrak untuk 2 buah single, sementara EMI menawarkan kontrak untuk lima buah album. Jadi, jelas dong siapa yang kami pilih?”.

6. Adalah Fish yang “ngotot”, persisten untuk meyakinkan semua anggota band bahwa kesibukan live performance harus dilakukan setiap saaat, sehingga pada live 100, mereka makin pede untuk membuat demo tape.

7. Fish juga yang ngotot bahwa Diz Minnit (temen deketnya, yang membawanya ke Marillion) fungsinya di band hanya sebagai “penumpang”, bukan “kontributor” dan harus digantikan. Marillion mempertimbangkan Pete Trewavas (pemain bassnya The Metros, new wave) dan hampir gagal karena si Pete ini gak ngeprog blas dan ndak tahu musik Genesis, etc. Tapi Fish melihat Pete ada potensi untuk gabung Marillion. Maka, saat audisi pun, Pete disuruh pakai equipment nya Diz utk membandingkan. Kemudian, Pete disuruh ikut dalam live Marillion barengan sama Diz. Diz ndongkol juga meski akhirnya dia mengakui bahwa musical style nya dia gak pas sama anggota Marillion yang lain. Pete kemudian disuruh mempelajari semua lagu2 Marillion dan terakhir, saat penulisan Chelsea Monday usai, Pete udah gabung dengan Marillion dan langsung perform di live nya Marillion.

Salam,
Gatot
NP “21st Century of Schizoid Man” KC

Graffiti YES

July 30, 2007

yes-graffiti.jpg

Udah lama ngincer graffiti ini buat di foto. Jepret! Akhirnya kesampean juga kemaren saya foto. Asik banget. Kalo liat simbol ini mengalir deras adrenalinku, bahkan bakalan muncrat! Lha kalo sekedar kata “yes” mungkin artinya “ya” begitu aja. Tapi kalo Yes dengan “ukiran” seperi ini ya sudah pasti kelompok legendaris Inggris yang merupakan kesayangan saya. Asik ya graffitinya. Pasti yang nekat membuat graffiti ini bener2 die hard fan nya Yes. Congrats dah!

[i-Rock!] Perfect Releases of KAMELOT, SYMPHONY X, DREAM THEATER

July 25, 2007

Dear friends,

Review tiga album power metal ini saya ambil (dengan ijin, tentunya) dari mmailing list i-rockmusik@googlegroups.com. Ketiganya ditulis oleh orang yang memang menguasai power metal abisz, namanya Rufus. Silakan baca, dan komentari juga. Yang jelas, tulisan ini dikomentari banyak anggota milis i-Rock!

Have a pleasant reading …!!!

——————————————————

KAMELOT – Ghost Opera (5 of 5)

Pertama dapet CD ini udah terpesona dgn cover-nya. Nuansa “opera
hantu” sudah dibentuk dari cover albumnya, gambar seorang wanita dgn
mata tertutup yg memainkan biola. Tidak hanya itu, setiap halaman
booklet-nya juga sangat indah dan mendukung konsep itu.

kamelot-ghost-opera.jpgTrus begitu puter track pertama, Solitaire, gua bener2 merinding
mendengar sayatan biola solo yg begitu indahnya. Sisanya track demi
track Kamelot menghantui pendengar dgn vokal Roy Khan yg teatrikal ala
Broadway itu, melodi yg indah, dan sound dari band yg jernih dan
atmosferik. Mendengar album ini seperti menonton film gothic horror yg
visualisasinya indah, bukan film horror yg gory. Sekali lagi Kamelot
berhasil menghipnotis pendengarnya dgn sound yg sempurna, thanx to
salah satu produser favorit gua, Sascha Paeth dan Miro. Duet produser
ini emang paling keren kalau bikin album power metal, membuat nuansa
yg … gimana istilahnya yg tepat ya … Hauntingly beautiful.
Gitarnya Thomas Youngblood seperti biasa, sound-nya gak keras2 banget,
mainnya gak ngebut2 banget, tapi pilihan nadanya bener2 tepat. Nih
orang bener2 great composer.

Yg gua beli ini dari Paradigma adalah versi CD + DVD. Ada bonus track
The Pendulous Fall dan DVD yg berisi video klip Ghost Opera dan the
making-nya.

Setelah band ini pindah label ke Steamhammer (sejak album The Black
Halo), band ini memang makin dimodalin aja. Ini terlihat dari video
klip Ghost Opera. Kalau loe udah seneng banget bisa ada video klip
semahal March of Mephisto di The Black Halo, wait until you see Ghost
Opera. Video klip nya ini lebih indah dan lebih banyak menggunakan
polesan komputer. Kita bisa melihat antara shooting dan final
result-nya di track The Making dari DVD-nya.

Gua tadinya rada ragu apakah Kamelot bisa bikin album yg melebihi The
Black Halo, tetapi ternyata mereka bisa melakukan itu.

SYMPHONY X – Paradise Lost (5 of 5)
symp-x-paradise-lost.jpg Ini grup udah cukup lama ditunggu2 album barunya setelah 5 tahun yang
lalu mereka merilis The Odyssey yg fenomenal itu. Well, penantian yg
amat sangat tidak sia2. Symphony X kali ini kembali lagi dgn konsep
album, seperti sudah diduga, diangkat dari puisi karya John Milton
Paradise Lost (1667) yg bercerita ttg kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam
dosa dan pemberontakan Iblis, dilihat dari sudut pandang si Iblis.
Bagi yg familiar dgn karya ini, bisa menduga nuansa album Symphony X
kali ini akan lebih dark daripada Divine Wings of Tragedy ataupun V:
The New Mythology Suite. Namun dari sisi majestic/symphonic-nya, album
ini superb dibanding pendahulu2nya.

Simpelnya, album ini menggabungkan atmosfir symphony yg lebih megah
daripada V: The New Mythology Suite dengan heaviness of The Odyssey.

Seperti album V: The New Mythology Suite, album dibuka dgn Oculus Ex
Inferni (bahasa Latin dari “The Eye of Hell”), satu komposisi orkestra
yg sangat megah. Tiba2 dihantam di track kedua, Set The World On Fire,
dgn riff2 maut Michael Romeo. Sama seperti album Odyssey, Romeo di
album ini benar2 menghajar dgn riff2 gabungan ala Pantera & Yngwie
(mengutip review di metal-rules.com). Sound distorsinya juga tebal,
namun sangat jernih, bener2 terdengar setiap nadanya. Halnya sama dgn
keyboards dari Michael Pinnela, bass Michael Lepond, dan drumnya Jason
Rullo. (FYI ada 3 personil di band ini yg namanya memang Michael :) )
Kelihatannya memiliki The Dungeon (studio pribadi di rumah Romeo)
bener2 enhance sound-nya Symphony X menjadi lebih heavy dari yg
sudah2.

Sir Russel Allen bener2 menampilkan kemampuannya secara maksimal di
album ini. Dia bisa bernyanyi dgn suara raspy, snarling, dan penuh
kemarahan (seperti juga dalam lagu2 di album Odyssey) maupun bisa
bernyanyi ballad secara emosional. Ada 2 ballad di album ini, yaitu
title track-nya dan The Sacrifice, yg syukurlah tidak lagi terlalu
mirip dgn ballad2 sebelumnya (Accolade I & II, Communion and the
Oracle yg mirip banget).

Album ini ditutup dgn Revelation (Divus Pennae Ex Tragoedia). FYI, itu
adalah bahasa Latin dari Divine Wings of Tragedy (yg juga bercerita
ttg Paradise Lost). Itu sebabnya ada beberapa referensi nada dan lirik
dari lagu ini dgn epic track Divine Wings of Tragedy.

Yg pantas utk disebut juga adalah packaging dari album ini. Dgn
penawaran menarik dari Paradigma Records gua dapet digipack-nya. Gak
nyesel gua. Gambar di cover dan booklet-nya dilukis dgn komputer 3D
menggambarkan perang antara army of angels vs hordes of demons. Kalau
memang loe niat beli, mending beli digipack deh. Gak rugi.

DREAM THEATER – Systematic Chaos (5 of 5)
Well well, apalagi yg akan disajikan oleh orang2 “gila” ini kali ini?
Setelah Scenes from a Memory yg metal, Six Degrees of Inner Turbulence
yg prog rock, Train of Thought yg metal abis, Octavarium yg prog rock
lagi, kali ini kita ternyata dihajar oleh metal lagi :) Great news
buat metalheads. Namun ternyata album Systematic Chaos ini bukan
sekedar metal keras dan cepat ala Train of Thought. Album ini sangat
berbeda.
dt-systematic-chaos-spec-ed-2.jpg Yg pertama terlihat berbeda adalah lyrical approach, khususnya dari
John Petrucci. Kalau biasanya liriknya banyak bercerita ttg hal2 yg
real dan konsep yg rumit, kali ini mereka banyak bercerita fiksi (Dark
Eternal Night ttg monster yg menghantui satu desa, Forsaken ttg
vampir, In The Presence of Enemies ttg split personality).
Selain itu, di album ini Dream Theater bereksperimen dgn
nu-metal/hardcore, khususnya di lagu The Dark Eternal Night di mana
James La Brie setengah nge-rap setengah nyanyi setengah teriak.

Kalau ngomong soal teknis, mau expect apa lagi? Komposisi2 rumit &
edan, riff2 yg heavy, solo2 & unisono2 maut, interlude2 panjang, emang
udah jadi bagian tak terpisahkan dari lagu2 DT. Walau kali ini gak ada
instrumentalnya, namun interlude2 panjangnya itu bisa memuaskan fans.
Khususnya The Dark Eternal Night yg interlude-nya style-nya sama dgn
Dance of Eternity, lengkap dgn ragtime khas-nya Jordan Rudess … bisa
bikin orgasme :)

Seperti biasa, Dream Theater juga tidak ragu2 memperlihatkan dari
siapa mereka meniru/terinspirasi. Kita bisa mengenali style-nya Rush,
Metallica, Testament, Biohazard, Nikolai Rimsky-Korsakov, Grieg, Iron
Maiden, dll.

Yg gua agak bingung kalo baca review2 di internet, dari
www.metal-rules.com misalnya, yg bilang bahwa album ini (sejak Six
Degrees tepatnya) Dream Theater lebih banyak pamer2 skill daripada
“crafting songs”. Kesannya mereka bikin lagu itu tanpa “soul”. Well,
gua pribadi gak mendengar satu nada pun dari album ini yg dikarang
ngasal atau terasa out of place. Coba simak solonya Petrucci di seri
ke-4 dari Alcoholic Anonimous Suite, Repentance. Lagu balada ini (yup,
lagunya slow, tidak spt Glass Prison, This Dying Soul, dan Roots of
All Evil yg headbangers semua) bener2 emosional, menggambarkan
bagaimana si alkoholik mulai menemukan kedamaian wkt dia mencapai
steps 8 dan 9.

Nungguin album ini dalam pressing lokal yg ekonomis amat sangat
menyebalkan, krn sampai hari ini gak muncul2 tuh di toko2 CD. Terus
setelah nge-check2, ternyata ada edisi khusus yg bonus DVD dijual oleh
Paradigma dgn harga menarik. Lebih murah dari Music+, jadi gua
putuskan gua ambil. Aseli gua gak nyesel. Buat fans Dream Theater,
saran gua mending ambil yg versi dgn bonus DVD ini. Kenapa?

Karena Dream Theater (Portnoy khususnya) kalau deliver bonus material
itu bener2 keren dan gak mbosenin (liat aja bonus material dari DVD2
live-nya). Ada 2 isinya, yaitu 90 menit the making dan seluruh isi
album Systematic Chaos dalam format audio 5.1. Utk format 5.1 ini gua
udah coba di home theater di rumah, bener2 asyik banget. Kita berasa
kayak kita duduk di tengah2 mereka main, dgn instrumen2nya tersebar
mengelilingi kita.

The making-nya itu sungguh menarik. Ini sebenarnya bisa menjawab
kritikan yg bilang Dream Theater itu soulless kalau bikin lagu. Ada
satu bagian di mana LaBrie gak bisa dapet2 feeling dari salah satu
lagu (lupa yg mana). Portnoy, dgn gaya reportase serius memegang
kamera, menyorot LaBrie di bilik vokalis sedang ditatar oleh Petrucci
dari luar ttg tokoh utama dari lagu tsb. Terus ada bagian di mana
Portnoy berupaya utk mendapatkan fill-in drum yg tepat, menjajal
segala kemungkinan. Dikasih liat juga notasi balok milik Jordan Rudess
beserta list dari bagian2 lagu yg diberi nama.

Di dokumenter ini proses dari pembuatan tiap lagu bener2 ditampilkan.
Bahkan sampai working title dari tiap track. Ada satu adegan
memperlihatkan Portnoy sampai harus menulis urutan bagian2 dari satu
lagu di white board dgn spidol dua warna, dan bagaimana dia
bernegosiasi alot dgn Petrucci (sampe pake2 ‘kontrak’ hitam di atas
putih segala) utk menentukan satu bagian lagu harus menjadi seperti
apa. Ada banyak juga adegan2 kocak, seperti main salah2, nyanyi fals,
stik drum yg mental, dll. Ada satu bagian interlude-nya Dark Eternal
Night yg ngebut banget temponya, John Myung tiba2 angkat tangan dan
terkapar di lantai tanda menyerah. ASeli gua ngakak ngeliatnya.

Ada banyak hal menarik juga ttg hal2 di belakang tiap lagu.
Repentance, misalnya, di akhir lagu ada rekaman orang2 ngomong.
Ternyata orang2 ini adalah seleb2 dunia prog / metal, tapi tidak
dikasih kredit di booklet-nya. Siapa aja itu, silakan nonton sendiri
:)

Well, gua bisa gak abis2 kalo ngomongin Dream Theater. Singkatnya,
album ini bener2 “kekacauan yg sistematis”. Terdengar kacau buat orang
yg gak ngerti prog atau gak menghargai skill, tapi sistematis buat
fans-nya Dream Theater.

So? Buy or die.

Rufus

Kontemplasi “Wind and Wuthering”

July 23, 2007

Jumat kemaren (20 Juli) lagi2 saya bersepeda pulang dari kantor klien sambil menikmati GENESIS album “Wind and Wuthering“. Waduh .. tanpa kusadari sebelumnya, ternyata ini adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup ini: “ternyata nikmat sekalee .. nyepeda ditemani Wind and Wuthering, the whole album in its entirety!”.

genesis-wind-and-wuthering.jpgSebelum nyengklak sepeda, saya siapkan diri full gear dengan memakai jersey warna merah, helem, masker, decker, lampu kelap-kelip, air minum dan .. iPOD! Tadinya rencana mau pasang PROTO KAUW “The Wait of Glory” tapi kok akhirnya saya putuskan pasang GENESIS “Wind and Wuthering” aja. Langsung saya putar dari lagu pembuka “Eleventh Earl of Mar” yang keyboardnya mendayu, drumnya mendentam-dentam dan groovenya meliuk bak goyang Inul (yang sumpah jarang saya lihat itu! Gak percaya? Tanya tuh sama TV saya .. liat aja saya jarang nonton TV! Emang nonton Inul musti lewat TV?). Tak cengklak sepedaku sambil mengucap Bismillah dan membaca Al Fatihah demi keselamatan perjalananku. Wis pokoke, dari suara kibor yang membuka album ini aja meraung-raung terus musiknya gedumbrangan nikmat. Bayangin aja terekan Phil Collins “He hey .. you got to go ..!!!” wuih nggeblak tenan! Kutelusuri jalan Thamrin dengan lagu pembuka ini, mulai dari nyengklak sadel sepeda sampek yah sekitar Sarinah begitulah.

Abis itu musiknya sayup diawali dengan “Fifty thousand men were sent to do the will of one …” dari “One For The Vine” yang merupakan lagu kedua dari album maha dahsyat meyayat sukma ini. Uediyan! Lha ini lagu menipu banget, masak tadinya pelan kok tahu2 ada gedumbrangan gaya country diikuti kibor solo Tony Banks .. WALAH! Mati ndhredheg tenan aku … Semakin semangat aku mengayuh sepedaku ini, betapa tidak? Masak udah diiringi oleh musisi klas wahid dunia, dengan komposisi kelas wahid sudirohusodo singodimejo ing wanitoudo, mosok sih aku tambah loyo? Malu dong ama eyang Rutherford dan Hackett! Mereka udah kerja keras masak saya loyo ngonthel ….

Asem kecut! Lagi semangat ngonthel .. mososk si Phil Collins nyindir aku. Mosok dia bilang gini neh .. :”You! You have your own special way!” .. lha? Kok tersinggung??? Iya dong karena di sisi kiri kakan depan belakang saya semuanya adalah kaum modernis yang menggunakan kendaraan mekanis otomatis seperti bus, taks, motor, mobil, mikrolet .. lha kok malah saya pake sepeda! Wealah .. kok jaman dibawa mundur. Trus Phil bilang gini ” No no no …!!!”. Untungnya di akhir lirik dia bilang gini: “Don’t ever stop …” wah lega saya .. ternyata Phil Collins “appreciate what I have been doing” sehingga waktu ia melantunkan larik “You.. you have your own special way …” saya gak tersinggung lagi, malahan tersanjung tanpa harus tersandung. Ma kasih Genesis! You are all the men! I appreciate your music, because you appreciate my effort! Let’s make a cleaner air on Planet Earth man … Let’s cycling man!!!!

Abis itu lagu instrumental yang drum, kibor dan gitarnya yahut: “Wot Gorilla?” ,… terasa memacu adrenalinku. Ejes ejes .. ewes ewes .. aku kayuh sepedaku makin keras karena lagunya bersemangat .. apalagi raungan gitar Hackett yang gahar banget itu ….. Diamput! disebelah kananku ada kijang helek yang gak sabaran pengen nyalip aja .. Aduuhh .. saya sabar ajalah … pasti dia lagi bawa istri yang air ketubannya pecah mau ke rumah sakit segera … Saya doakan anaknya lahir selamat deh ….. Monggo nyalip saya aja …

Gara2 Kijang tadi perhatianku ke Genesis jadi ilang dan tahu2 udah lagu “All in A Mouse’s Night” yang mendayu-ndayu tapi gahar penuh GELORA itu. Waduh ini lagu indah komposisinya, mbrebes mili melodinya .. Rasanya tidak mungkin ada makhluk hidup yang gak nangis kalo mendengar alunan indah lagu dengan untaian nada indah ini … Wah lagu inoi penuh energi tenan. Dilanjut dengan sentilan gitar akustik yang merupakan intro dari “Blood on the Rooftops” .. hiiiyyyy .. judulnya ngeri ye .. mosok ono getih netes ning nduwur gentheng … hiiyyy … apa jaman dulu udah ada Ninja ya .. Tapi ini lagu komposisinya nunjek ati tenan. Perpaduan melodi vokal dan suara kibor di altar sangat menyayat rempelo pol! Aduuhhh …. Gusti Allah nyuwun ngapuro .. laha ini kok ada menungso ciptaanmu yang begitu piawai meracik nada membuat lagu indah sukotjowati ini … biyuh .. mberebes mili to the bone tenan cak! Wis to, percoyo karo awakku, iki lagu jan uapik kemripik tenan cak!

Jangkrik lagi enaknya menikmati “Blood on The Rooftops” kok ya mobil Mercy sebelah ku ini jan cerewet tenannnn .. main klakson mulu! Emangnya mobil dia paling bagus? Eh, memang bener, ternyata mobil dia paling bagus lho cak! Mobil lainnya elek2 .. lha kok yang paling kinchlonk Mercy ini yo … Udah gitu lampu depannya kayak mata mendholo gitu loh … edhan lampune silau tenan … Tapi dasar supire klejingan tenan! Mosok main klakson terus! Kagak tahu dia, bahwa yang naik sepeda ini adalah rajanya Genesis .. ha ha ha ha ha ….!!!

Habis itu adalah lagu maha dahsyat “Unquiet Slumbers for The Sleepers” nyambung “.. In That Quiet Earth” .. wah jadi inget lagu Meddley IN THE CAGE versi Mama Tour yang di tengahnya ada lagu instrumental ini …. Top markotop. Ku kayuh sepedaku dengan lebih mantap. Kadang aku kayuh dengan menggunakan berat badanku, tanpa meletakkan pantatku ke sadel karena takut ambeien …. tuk wak tuk wak … holopis kontul bariszzz …..

Sampelah pada puncak alias akhir album ini dengan algu nuansamatik “Afterglow”. Kok ya ndilalah pas lagu ini kok pas napas engos2an naik jembatan tinggi dan puanjang pol … Tapi suasana hati seneng menikmati GENESI sehingga sambil berdendhank sesuai lagu yang didengar ….:

Like the dust that settles all around me,
I must find a new home.
The ways and holes that used to give me shelter,
Are all as one to me now.
But I, I would search everywhere
Just to hear your call,
And walk upon stranger roads than this one
In a world I used to know before.
I miss you more.

Than the sun reflecting off my pillow,
Bringing the warmth of new life.
And the sounds that echoed all around me,
I caught a glimpse of in the night.
But now, now I’ve lost everything,
I give to you my soul.
The meaning of all that I believed before
Escapes me in this world of none, no thing, no one.

And I would search everywhere
Just to hear your call,
And walk upon stranger roads than this one
In a world I used to know before.
For now I’ve lost everything,
I give to you my soul.
The meaning of all that I believed before
Escapes me in this world of none,
I miss you more.

Aduh nikmatnya perjalananku pulang dengan menikmati Wind and Wuthering. Terima kasih, ya Allah .. telah kauberikan pada diriku kepekaan terhadap musik indah karya Geenesis ini. Tanpa keAGUNGanMu .. aku tidak akan pernah bisa menikmati mahakarya indah ini. Subhanallah ….

Salam,

G

Nyesel gw, gak dateng!

July 23, 2007

Duh … nyesel seribu samudra dah! Kemaren ada acara bersejarah dimana ada dua musisi idolaku sejak kecil: Ian Antono dan Ahmad Albar kumpul bareng KPMI .. gw kagak bisa dateng! Asem kecut tenan. Padahal kalo ketemu, gw akan sapa mereka dengan: “Sepinya hidup dalam penjara ….. tak juga hilangkan …”. Eh …. gw ada tugas penting dengan keluarga. Ya udahlah … maka gw cukup puas liat foto bareng nya aja deh. Yang jelas rugi pol adalah, gw kagak bisa ketemu senior gw: Bapak Alfie. Wah sayang ya pak …. Next time kita ngopi aja pak, kita bahas prog rock sampe ke akar2nya dah pak ….!!!

Ini dia foto Ian dan Iyek bersama KPMI: (courtesy of Mamak Gillan Kusuma)

 iyekianrame2-kpmi.jpg

Ngonthel dan Gerimis

July 20, 2007

JRENG!

Seperti biasa .. setiap Selasa dan Jumat adalah jadwalku Nyambut Gawe Ngonthel … atau bahasa Jowo ne biasa disebut Bike To Work itu …..

Waks .. . baru 2 KM ngonthel udah gerimiszzzz…. Apa boleh buat … minggir dulu pasang shower cap di kepala (soalnya helem sepeda kan bolong2 tuh atasnya …lumayan juga air masuk deres ..). Tadinya mau ganti jas ujan … tapi mikir … mosok sih hari gini masih ada ujan deres? Bimbang dan ragu … akhirnya diputusin: gak usah pake jas ujan, cukup pake shower cap sambil berdoa pas ngonthel semoga ujan gak deres … ALhambulillah .. sempet “agak” deres juga tapi terus 10 menit kemudian cumak rintik2 …

Tak onthel terus sepedaku ….sambil menikmati GREEN CARNATION “Acoustic Verses”. Wah asik juga lagu2 unplugged ini. Rasanya kayak menikmati Pain of Salvation “12:05″ yang akustikan jugak itu …Aduh nikmatnya hidup …. mendengarkan musik sayup-sayup … sambil ngonthel santai …. di tengah sibuknya lalu lintas yang padhat …(this is Jakarta man!)… suasana gerimiszzz pulak … wuahhhh …. what a life man!!!

Eh … tiba tiba kerongkongan kering. Kata temenku yang jago bersepeda, usahakan SELALU minum air putih selama ngonthel, jangan menunggu sampek haus. Petuah baliau ini selalu saya jalankan. AKhirnya tadi rencana mau minum pas lampu merah. Waduh! Begitu liat botol minumku .. LHA? Kok item jilitheng penuh kotoran dan membuat nafsu minum jadi ilang … ilfil nbanget lah pokoke … ya udah … gw putusin sambil ngonthel terus dan naik jembatan di Tanah Abang ….tanpa minum seteguk pun … lha wong ndak tega liat botol minum yang jorok gitu … gowes .. gowes .. gowes … biyuh abot tenan naik jembatan panjang ini … rasanya mau muntah cengkeh meskipun gw gak ngerokok ….tuk wak tuk wak tuk wak …. ya merangkaklah jalannya … lha kan gw udah adah faktor “u” yang cukup mengganggu (tapi dinikmati aja) … akhirnya …. MAK NYESSZZZZZ sampai lah aku ke puncak orgasme di titik teratas jembatan … terus mak GELONDHOR …. sepedanya meluncur asik sekali ke bawah …. oooooppppssss … dasar Jakarta … di depanku udah muacet pol mobil pribadi dan motor yang gak sabaran (pengendara motor itu paling ndak sabaran lho di Jakarta ini!)… criiitttt criittt … terpaksa dah gw ngerem sepeda gw … aduuhhh … rugi pol pol an .. harusnya abis kerja keras naik ke puncak kenikmatan terus tinggal menikmati hasilnya to… Wah ndak bisa lho …. kudu ngerem! Jangkrik tenan ….

Begitulah nikmatnya bersepeda. Puji syukur gw panjatkan kepada Allah SWT yang masih memberikan kesempatan gw ngonthel dan menikmati “nuansa” ngonthel yang indah …. Puji syukur karena doaku terkabul … gak ada ujan deres .. yang ada malah gerimis yang semilir … oh indahnya hidup dan kehidupan ….

Sampe di kantor Indosat (bukan kantor gw ini, ini kantor klien gw …he he he …) rasanya pengen menikmati lagu melodik nuansamatik …. aha … inget lagu jadul pitung puluhan yang dinyanyikan oleh Dhenok Wahyudi yang judulnya KELANA .. ada suara burung lagi …

SESEJUK BAYU
SMILIR BERHEMBUS …
….. (lupa)
TERPUKAU DAUN PERDU SEAKAN MENGHAYATI
GELORA ASMARA … (walah! kok lagu cinta? Yo wis ndak popo sing penting nuansamatix lah …)
….
(lagu ini bikin jiwaku nggeblak tenan! Komposine top markotop, jos markojos!)

Santai bentar … masang laptop … buka email ….buka blog (eh .. ada yang kasih komentar) …. terus adus. Wah enak lho di kantor Indosat, ada shower lengkap dengan air hangat .. Biyuh … semua fasilitas udah ada. Alhamdulillah dapet klien yang memungkinkan gw bersepeda … Jam 8 udah SUEGER dan sedikit agak nggantheng .. mergo rambut klimis koyok cindil kecemplung got …. kembali ke laptop .. terus nulis postingan ini ….

Habis ini mau pasang apa yah? Ah itu aja … lagunya Hary Sabar “Sesaat” yang juga nuansamatiks pol …. Terus? Balik ke PROG lah … mau dengerin grupnya Chris Squire “The Syn”. Ada yang udah pernah denger? Waduh! Ada progress meeting lagi pagi ini .. waks .. ditunda dulu dengerin musiknya …..

JRENG!

Keep on rockin’! (rocker kok menikmati LCLR – opo tumon? Yo ben!)

Salam,
G

Dancing With The Moonlit Knight

July 19, 2007

Sore ini nunggu maghriban .. iseng buka YOUTUBE terprovokasi temen yang bilang katanya Genesis mainnya berantakan di konser Rome belakangan ini. Saya nengok ke live at Olympic Stadium, Helsinki. memang sih gak garang.

Akhirnya menikmati Dancing With The Moonlit Knight live dengan Peter Gabriel. Wah! Mbrebes mili tenaaaaaaaaaaaaannnn ….!!! Maha dahsyat!!! Silakan KLIK:

Dancing With The Moonlit Knight – Live

Salam,

G

Andaikan Saya Punya Radio (3 of 4)

July 17, 2007

Mengenai Iklan

Nah .. ini topik yang paling “mengerikan” buat dibahas. Mengapa? Ini seperti dua sisi dalam mata uang. Sisi pertama, dengan iklan kita berharap dapat dana segar untuk membiayai operasional radio sehari-hari. Sisi lain, iklan sangat mengganggu “khidmat”nya menikmati musik indah seperti “Gates of Delirium” nya Yes atau “Supper’s Ready” nya Genesis. Begitu iklan masuk, langsung deh il-feel (ilang feeling) .. males lagi dengerin “Hey my baby .. don’t you know our love is true ….“. Langsung kesedek gitulah rasanya. Suebel pol! Iklan juga sekaligus mengganggu kenikmatan intelektual dalam menyimak musik berkualitasm sehingga patut dihindari. Belum lagi faktor waktu. Biasanya pada saat prime time, yang namanya iklan bener2 gemruduh nyerbu di jam tersebut sehingga porsi musiknya jadi di squeeze abisz dah. Kasihan musisi ya .. udah kerja keras bikin untaian nada indah dan meraciknya dalam komposisi yang mantab, eh .. ujug2 mak gedandhut diganggu iklan. Lha kan sia2 to. Apalagi kalo yang sedang diputer adalah concept album kayak Dream TheaterScenes From a Memory“, MarillionMisplaced Childhood“, GenesisThe Lamb Lies Down on Broadway” atau Green CarnationLight of Day, Day of Darkness” (satu lagu aja selama 1 jam), atau The Flower KingsParadox Hotel” gitu … wah langsung mutung dah kalo kena iklan. Iklan memang harus dimusnahkan!

Lha, mana mungkin radio hidup tanpa iklan?

Gimana temen2? Mungkin gak sih radio hidup tanpa iklan? Sekali lagoi, menurut temen saya yang pakar dalam radiologi (eh salah ya? ini kan istilah kedokteran! – tapi maksud saya satu: ilmu radio. Lha itu biologi itu kan “ilmu” yang mempelajari makhluk hidup. Jadi radiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang radio. Gitu ajalah! Enak aja tuh kedokteran ikut2 istilah radiologi!). Menurut radiolog temen saya itu, “gak mungkin” radio bisa hidup tanpa iklan. Wah … cilaka tigabelas … Gimana dong?

Dasar rocker gendhenk, kalo kepepet tembok, ya ada aj ide-2 gila yang bisa keluar. Ya ndak? Gini aja dah kita buat alternatif pemecahan menjadi dua hal:

1. Memanfaatkan teknologi cellular dan phone-banking.

Maksud saya begini… Pendengar kita minta daftar menjadi pendengar setia kita (basisnya komunitas)yang bisa request lagu (harus rock, sesuai dengan acara yang digelar) dimana kalo lagunya diputar maka akan didebit Rp. 200,- (dua ratus perak cing!) dan namanya disebut “on air” dari rekening cellularnya yang connected ke M-banking. Konon, di saat ada radio M-97 (classic rock) penggemar segmen music classic rock ini di Jakarta saja ada 150.000 orang. Radio Trijaya bekerjasama dengan i-Rock! menggelar acara Saturday Night Rock dan pendengarnya 65.000 orang.

Baik, kita konservatif saja, kita ambil angkanya Trijaya aja yang 65.000 orang. Kita asumsikan saja setiap hari ada 10% dari angka tersebut yang “sudi” kirim SMS request lagu, berarti ada 6.500 x Rp. 200,- = Rp. 1.3 juta pendapatan “kotor” dari program ini. Dalam sebulan akan ada Rp. 39 juta “kotor” buat menghidupi pemancar FM tersayang ini.

Mosok to dengan Rp 39 juta ndak cukup buat nutup ongkos operasional? Mestinya bisa. Caranya? Gampang … gak usah gaji penyiar! Kenapa? Di milis i-Rock! banyak banget yang suka siaran tanpa harus dibayar. Buktinya? Saya, Jo Rustam, mas Eric siaran di Trijaya ndak minta bayaran apa2 waktu siaran di Trijaya – memang sih dari awal radio ini udah bilang “gak ada bujet” (kasiyan ye musik rock selalu disepelekan. ya ndak?). Kita seneng kalo musik ROCK kembali mengudara dengan tegar di negara ini! Padahal kita musti berkorban “ijin” dari acara keluarga lho. Belum lagi nyiapin play list yang pernah dihitung sama mas Eric bahwa setiap siaran dia perlu waktu (average) 20 jam buat persiapan. Saya percaya itu. Pasti lah, temen2 di i-Rock! banyak yang suka jadi penyiar. Ya ndak?

So dengan Rp. 39 juta, paling kita keluar ongkos buat PLN, beli martabak buat penyiar (mosok udah gratisan ndak disuguhi martabak atau klepon gitu?), bayar pajak, bayar tea boy dan semua tetek bengek .. katakanlah Rp. 25juta. Lho, kok gedhe? Iya toh kan musti bayar sewa tempat segala lah .. mosok gratis sih? Sisanya berapa? Rp. 14juta cing! Buat beli CD dong ….!!! Radio kita kan harus nambah wawasan terus .. jadi musti beli CD .. sori, gak main MP3 ye … Emangnya radio bajakan! Gengsi dong …

Nah .. kalo alternatif ini yang diambil, maka nama radionya akan saya usulkan bernama: O-Box Rock Station. Lho? kok aneh namanya. Yo ben, sing penting ono makna ne to? Apa maknanya? “Out of the Box” – maksudnya, radio yang lahir dari pemikiran di luar kotak (out of the box thinking) sehingga menjadi kenyataan. Kalo ini terjadi .. HOREEEEEE…!!!!

2. Memmbuat Radio Internet.

Alternatif ini, konon, yang paling mudah dilakukan – setidaknya kata mas Budi Rahardjo dan temen2 nya yang ahli di bidang internet. Pernah saya bertandang di markas mas Budi dan saya ditantang: “Ayo dong, pikirin content nya – kita buatkan infrastrukturnya!”. Wah mati aku … piye iki?? Saya masih punya keraguan besar terhadap radio internet karena untuk menikmati siaran kudu lewat komputer. Atau saya kuper ya? Wah .. saya gak berani bahas alternatif ini. Saya serahkan ke mas Budi Rahardjo aja deh ….

Bagaimana temen2? Ada masukan lain ndak? Please …

Artikel sebelumnya yang terkait:

Andaikan Saya Punya Radio (1 of 4)

Andaikan Saya Punya Radio (2 of 4)

Don’t Give Up

July 17, 2007

Pagi ini sampe kantor klien (setelah mengayuh sepeda – ini kan hari Selasa, jadwal naik sepeda PP ke kantor, selain Jumat)  langsung buka laptop, terus pasang iTunes .. kok ujug2 kangen Peter Gabriel… dan pas lagu Don’t Give Up kok rasanya mbrebes mili… langsung nulis reviewnya di ProgArchives … terus melantunkan lagu indah ini. Aduh liriknya bikin nggeblak tenan … Ini saya post dah. Penuh makna sekali. Cocok buat kita kalo lagi nganggur gak dapet kerja …

In this proud land we grew up strong
We were wanted all along
I was taught to fight, taught to win
I never thought I could fail

No fight left or so it seems
I am a man whose dreams have all deserted
Ive changed my face, Ive changed my name
But no one wants you when you lose

Dont give up
cos you have friends
Dont give up
Youre not beaten yet
Dont give up
I know you can make it good

Though I saw it all around
Never thought I could be affected
Thought that wed be the last to go
It is so strange the way things turn

Drove the night toward my home
The place that I was born, on the lakeside
As daylight broke, I saw the earth
The trees had burned down to the ground

Dont give up
You still have us
Dont give up
We dont need much of anything
Dont give up
cause somewhere theres a place
Where we belong

Rest your head
You worry too much
Its going to be alright
When times get rough
You can fall back on us
Dont give up
Please dont give up

got to walk out of here
I cant take anymore
Going to stand on that bridge
Keep my eyes down below
Whatever may come
And whatever may go
That rivers flowing
That rivers flowing

Moved on to another town
Tried hard to settle down
For every job, so many men
So many men no-one needs

Dont give up
cause you have friends
Dont give up
Youre not the only one
Dont give up
No reason to be ashamed
Dont give up
You still have us
Dont give up now
Were proud of who you are
Dont give up
You know its never been easy
Dont give up
cause I believe theres the a place
Theres a place where we belong

 

Nightfall

July 12, 2007

nightfall.jpgGara2 Blind Guardian sudah masuk dalam progarchives, sudah hampir seminggu ini hampir tiap hari saya dengar album Nightfall in Middle-Earth. Wah .. saya bisa nangis menikmati album ini. Menurut saya, ini adalah konsep album yang unik. Saya sedang menyusun strategi yang pas buat mereview album dahsyat yang bertema tentang Silmarillion nya JRR Tolkien ini. Wesss … album ini jan top markotop tenan!!!

Sampai hari ini (14 Juli 2007) sudah ada album Blind Guardan yang saya review di ProgARchives: (silakan KLIK langsung)

5 stars BLIND GUARDIAN – Nightfall in Middle-Earth
3 stars BLIND GUARDIAN – The Forgotten Tales


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 150 other followers