Reissue : Abbhama ‘ Alam Raya ‘

September 2, 2014

Hendrik Worotikan

Salah satu band yang hanya menelorkan satu album saja dalam perjalanan bermusiknya diblantika musik indonesia bolehlah disebut Abbhama.

Sejak dibentuk pada 1977 lantas merilis album ‘Alam Raya’ pada 1978 nama mereka pun hilang bak ditelan bumi. Dan sampailah di penghujung Mei 2014, setelah 36 thn, ‘Alam Raya’ pun kembali dirilis ulang dalam format vinyl dan CD.

Bukan sesuatu yang berlebihan, kalau re-issue ini disambut dengan penuh suka cita, terutama yang belum pernah memiliki fisik kasetnya, dulu (baca : seperti saya).

Diblantika musik tanah air era 70-an sangatlah jarang kita menjumpai rekaman musik yang berbalut dengan nuansa progressive rock/symphonic rock seperti Abbhama dengan sang frontmannya Iwan Madjid (1957-17 Juli 2014), yang tidak lama setelah ‘Alam Raya’ di re-issue menghadap ke Sang Khalik.

Pengaruh musik prog rock semacam ELP, Yes, King Crimson, Genesis jelas terasa pada sebagian aransemen musik Abbhama.
Bahkan dibeberapa lagu sengaja diselipkan komposisi musik klasik karya Johan Sebastian Bach (1685-1750), Claude Debussy (1862-1918), Frederic Chopin (1810-49), dll.
Tidak hanya sampai disitu saja, karya musisi legendaris, Keith Emerson ‘Piano Concerto No. 1′ tidak luput juga menjadi inspirasi di lagu karam.

Karya musik dari komponis klasik, acapkali memang menjadi inspirasi bagi para musisi. Tidak hanya Abbhama, musisi dan grup mancanegara juga sering kali melakukan hal yang sama.
Ini bisa kita dengarkan di album Yessongs milik Yes tatkala di Opening mengutip karya Stravinsky ‘Free Bird Suite’, ELP membawakan ‘Fanfare for The Common’ karya komponis Aaron Copland dan juga gitaris Yngwie Malmsteen yang memainkan gubahan Antonio Vivaldi, ‘Cantabile’ (Op 10 No. 3 RV428 il Gardellino) di albumnya yang bertajuk ‘Magnum Opus’, begitu pula dengan Deodato yang menginterpretasikan karya Debussy ‘Prelude to the Afternoon of A Faun’.

image

-

image

-

image

Abbhama dengan formasinya Iwan Madjid (vocals, piano, mellotron, flute), Darwin B. Rachman (bass, keyboard), Cok Bagus (gitar), Hendro (oboe), Robin Simangunsong (drums), Oni (minimoog synthesizers, keyboard) Dharma (flute) dan Ivan (viola), walaupun hanya singkat keberadaan mereka, namun mereka telah memberikan warna baru didalam iklim industri musik kala itu.
Dan siapa pula yang menyangka kalau album yang direkam berpuluh-puluh tahun lalu itu sampai saat ini rekamannya masih terus diburu oleh para kolektor musik tanah air, pun, mancanegara.

Jayalah prog ! di Alam Raya Indonesia Mahardika. Lho kok ?

Matur nuwun Mas G.

The Lamb Lies Down on Magetan – The Short

September 2, 2014

Andria Sonhedi

Sambil nunggu cerita lengkap perjalanan pak Gatot saya coba cerita sekilas pertemuan beliau ke rumah saya di Magetan. Sebenarnya hari Sabtu tgl 30 Agustus pak Gatot sdh ada di Madiun & sempat ngirim beberapa SMS. Jadwal hari itu sepertinya padat sehingga saya tidak ingin menghalangi jalan-jalannya beliau dengan menemuinya di Madiun. Toh hari Minggu beliau sudah berjanji menengok Magetan karena senyampang menemui seseorang di kecamatan Glodog, Magetan juga.
Karena saya pikir pak Gatot masih jam 12 datangnya maka saya yg kebagian jaga anak2 karena isteri sdg ke Sidoarjo nyantai aja. Saya sengaja beli es kelapa muda dekat komplek perumahan saya jam 11 siang. Eh baru penjualnya membungkus es tiba2 pak Gatot bilang kl sdh hampir sampai rumah. Saya kontan panik, maklum saya sendiri lupa nomor rumah baru saya :D Biasanya kl ada teman jauh datang saya akan nunggu di gerbang perumahan utk membimbing mencari jalan masuk. Akhirnya begitu semua es terbungkus saya ngebut ke rumah. Ternyata mmg benar sdh ada mobil yang jalan pelan-pelan di jalan perumahan & isinya mmg pak Gatot dan rekannya. Sebenarnya rumah saya mudah ditemukan kl siang hari, selain cuma satu-satunya juga karena tampak dari jauh karena kiri-kanan blm ada tetangga.
Tetangga saya hanyalah kambing dan domba yang digembalakan oleh warga sekitar situ :) Ada juga sapi tapi kl makhluk itu tdk suka piknik ke tempat saya.

image

Sayangnya pertemuan kali ini tidak lama karena pak Gatot juga masih ada acara lain, makanya saya tulis the Short seperti album live-nya Genesis. Padahal saya belum sempat ngajak cerita ttg per-prog-an atau mendiskusikan kaset2 lama saya. Kami malah membicarakan tentang rumah saya yang terisolir, tentang suasana Magetan, tentang the lambs yang wira-wiri dan segala macam obrolan yang tdk prog :D Kami juga tak sempat nyoba kuliner sayur asem di kota Magetan karena rekan pak Gatot sakit gigi shg sebagai ujud kesetiakawanan sosial pak gatot tidak ingin makan juga.

Apakah cerita sdh usai, ternyata belum. Tiba-tiba jam 7 malam ada sms dari pak Gatot yg diajak makan temannya ke Magetan. Hebatnya lagi tempatnya kok ya cuma seratusan meter dari perumahan saya. Ya sudah, wl dilarang pak gatot saya nyusul ke warung lontong lodeh yang ditunjukkan pak Gatot. Rupanya rekan pak Gatot pelanggan di sana, beliau rela 20 km pergi ke Magetan cuma untuk beli juadah dan lontong lodeh aja :D Saya aja yang sdh 13 tahun tinggal di magetan belum pernah makan di situ. Wl kali ini cuma menemani makan tanpa ada obrolan prog lagi ya tak apa, kesempatan itu tak akan muncul 3 x (ini sdh 2x soalnya). Kata pak Gatot makan lontong lodeh ini adalah hidangan kesekian kali yang beliau santap pada malam itu :D Setelah selesai dan foto lagi,termasuk motret warung yg tanpa tanda blas, akhirnya kami berpisah. Semoga masih ada progring di Magetan lagi pada waktu lain, terima kasih pada pak Gatot yang sdh mau mampir.

image


evil has no boundaries

My Walkman Is Back!

September 2, 2014

Hippienov

 

Woaw!… Seneng banget setelah kira-kira dua tahun walkman “djadoel” merek Aiwa ku terbaring kaku tak berfungsi di dalam lemari, akhirnya hari Sabtu sore lalu (30 Agustus 2014) roda-roda walkman ini kembali berputar dan melantunkan lagu-lagu djadoel kegemaranku… Thank God…
 
Ceritanya suatu hari walkman satu-satunya yang aku punya tiba-tiba rusak gak mau memutar kaset lagi, sebelumnya gelaja aiwaini sudah sering muncul tiap aku mau nyetel kaset. Harus aku “keplak-keplak” (pukul-pukul ringan) dulu untuk memancing roda pemutar walkman agar berputar tapi akhirnya cara primitif ini gak mempan lagi, walkman ku berhenti total gak mau memutar kaset lagi. Sedih bukan kepayang, pernah terpikir untuk beli yang baru tap ternyata nyaris gak ada lagi yang jual… Lah wong sing jual mp3 player saja sudah mulai jarang, aku malah nyari yang jual walkman? Aku juga mencoba membawa walkman ini ke beberapa servisan elektronik tapi jawaban yang aku dapat selalu sama, mereka gaka bisa atau sebenarnya gak mau membetulkannya. Sekedar mencobanyapun gak mau, malah menyentuh walkmanku saja sepertinya ogah. Mereka semua bilang “wah sudah sparepart nya, lagian udah gak jaman sekarang pake walkman… Ada malah yang menyarankan untuk “membarang loakkan” alias mebuang walkman ini   ” Asem rek!… Sebel, kesel campur sedih tiap kali dengar kata-kata itu, tapi aku coba untuk sabar dan mencoba berpikir realistis bahwa yang mereka ucapkan ada benarnya juga, mungkin aku yang terlalu “old-fashioned” dan mungkin saatnya move on to newer things…
 
Singkat cerita akupun mulai mencoba menerima kenyataan bahwa walkman ini gak pernah bisa hidup lagi dan sekarang hanya jadi bagian dari kenangan hidupku. Aku juga mulai menggunakan file mp3 di hape (out of fashion) ku untuk mendengarkan musik saat di kantor atau di jalan. O ya, dulu saat walkmanku masih berfungsi aku suka mendengarkan lagu lewat walkman saat mengendarai motor. Walkman nya aku masukkan saku jaket yang kebetulan ada zipper nya jadi aman gak bakal jatuh, kalo satu side habis ya aku berhenti sebentar buat membalik kasetnya ke side berikutnya, atau kalo mau ganti kaset.. Tapi kalo pas kena macet atau sedang ngebut ya harus sabar dulu samapi dapat tempat yang aman dan nayamn untuk berhenti dan membalik/ganti kaset. Saat kebanyakan orang menggunakan hape, ipod atau mp3 player yang ringkes, ringan dan gak repot aku masih setia dengan teknologi djadoel yang lumayan ribet dan perlu waktu khusus untuk sekedar membalik side atau ganti kaset.
 
Walau sudah “mencoba” beralih ke teknologi kekinian yang gak ketinggalan jaman namun tetap saja ada saatnya aku kembali kangen dengan walkmanku dengan segala keribetannya. Aku suka membuka lemari dan mengambil walkman itu lalu aku elus-elus sampai timbul rasa sedih dalam hati.. Saat melakukannya beraneka kenangan masa lampau yang pernah aku lalui mucul kembali, serasa aku going back to the those moments termasuk saat aku pergi bersama adik perempuanku membeli walkman ini di Mall Cimanggis more than 10 years ago. Namun apa daya walkman ini sekarang rusak…
Biasanya kalau sudah terlalu sentimental maka aku akan cepat-cepat simpan lagi walkman nya di tempat semula, takut malah jadi nangis beneran…
 
Nah beberapa bulan lalu papa ku secara gak sengaja menemukan tempat servisan elektronik yang “progressive” karena secara tak terduga bisa membetulkan stereo set dan compo adik-adikku yang sudah lama rusak. Dan… “kriiiiingggg”, ring a bell… Aku langsung teringat walkman ku yang ada di lemari, jangan-jangan bisa dibetulkan juga nih.
Langsung aku minta tolong untuk dibawa ke tempat servisan itu tapi papa ku sepertinya gak sama semangatnya dengan aku, beliau hanya bilang “dulu kan udah pernah dibawa ke tempat lain dan gak bisa dibenerin, paling yang ini juga sama…” Atau paling top beliau akan bilang “ya udah nanti papa bawa” tapi selama itu pula gak pernah dibawa dan walkman ku pun kembali masuk lemari… Peristiwa ini terulang beberapa kali dan aku pun mulai pesimis sampai tiba-tiba Mas G brought back my good old memories of that walkman lewat sebuah tret, dan semangatku kembali menggebu untuk mencoba membetulkan walkman tua ku itu…
 
The long awaited moment finally came… Sabtu kemarin papaku mengajak untuk membawa walkman ku ke tempat servisan elektronik yang ngeprog itu dan langsung aku sambut dengan gembira. Kita berduapun meluncur ke tempat yang dimaksud namun ada keraguan dalam hati dan aku pasrah jika ternyata si Bapak servis juga angkat tangan. Sampai di tempat yang dimaksud dengan sikap yang dingin walkman ku langsung di kutak-katik serius tanpa mempedulikan keberadaa kami berdua. Akhirnya kami memilih untuk pulang karena sepertinya ini akan terlalu lama jika ditunggu.
 
Sekitar jam 14.00 atau 14.30 WIB saat aku sedang pergi ke tempat lain papaku sms dan memberi info kalau walkman sudah selesai diservis dan bisa diambil. WOAW… Sueneng pool!…. Aku langsung meluncur tapi ternyata tempatnya tutup. Duh… tertunda nih celebration nya, padahal sudah gak sabar mau nyobain denger kaset via walkman.
Sore hari akhirnya walkman nya diambil oleh papaku yang kebetulan ada arah ke tempat servisan dan begitu sampai di rumah langsung aku sound test dengan Michael Franks “Jazz Vocal” rilisan Aquarius, wuih… ajib…. Ini pertama kali aku dengar musik via walkman setelah sekian lama absent. Seneng banget tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, ternyata pengharapan, keinginan kuat dan usahaku pantang menyerah untuk membetulkan walkman penuh kenangan ini terbayar sudah…
 
Hari ini, untuk pertama kali setelah 2 tahun aku kembali bawa walkman ke kantor dengan beberapa kaset djadoel untuk menemaniku kerja, asik…
Walaupun ini berarti menambah beban tas yang harus aku bawa tapi gak mengapa, demi sebuah nuansa djadoel yang kian hari memudar aku rela membawa beban berat di tas…
 
Matursuwun Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan dan tak lupa untuk rekan-rekan yang sudi membaca tulisanku ini. Mohon maaf atas kekurangan yang ada dalam penulisan.
 
 Just an old fashioned hippie with his old fashioned walkman playing some old fashioned rock songs…
hippienov  

 

Mini ProgRing @ Klaten

September 1, 2014

Gatot Widayanto

The “life” side of the blog

Biyuh pagi ini suweneng numpak sepur Madiun Jaya (ManJa) dari Madiun menuju Yogya turun di Klaten dengan satu tujuan: mini progring sekaligus silaturahim dengan master of The Flower Kings, The Koh Win. Kereta ManJa ternyata nyaman sekali dan tepat waktu. Senang sekali saya naik kereta ini karena murni buatan Madiun oleh INKA dan melayani rute untuk profesional, mereka yang bekerja di Yogya dan juga masyarakat pada umumnya, tentunya. Sepanjang perjalanan saya menikmati lagu2  progclaro via iPod sambil menikmati pemandangan alam pedesaan di rute KA. Sayapun menggunakan google maps utk memantau kapan saya akan landing di Klaten. Alhamdulillah GPS nya google memuaskan sekali sehingga setiap saat saya ndak perlu tanya orang kereta sudah sampe mana. Terima kasih Eyang Google ….

Slide1

1. Eksterior kereta ManJa, 2. Interior kereta ManJa, 3. Pemandangan hijau di seberang rel kereta, 4. Stasiun Klaten.

 

Alhamdulillah tepat pukul 08:30 sudah mendarat di stasiun Klaten dan langsung saya jalan2 di Jl. Pramuka depan stasiun Klaten sekalian menghangatkan badan setelah kedinginan selama 3 jam lebih di dalam kereta. Sungguh, saya sangat menikmati aktivitas ini karena memang saya selalu penasaran dengan kota orang lain, apalagi baru kali ini saya menginjakkan kaki di tanah Klaten. Bagi saya yang sumpek dengan kehidupan kota besar yang serba dusel-duselan, berjalan di Jl. Pramuka, dan kemudian Jl. Pemuda, merupakan suatu kenikmatan tersendiri. Sambil mbopong ransel, saya nikmati suara langkah kaki saya dan sepinya jalan yang saya lalui sambil tengok kanan kiri lihat ada warung atau kegiatan apa di pinggir jalan. Suatu hal yang sungguh menyenangkan bagi saya dan yang penting: menyegarkan jiwa raga …..

Tugu ciri khas Klaten di depan SPBU

Tugu ciri khas Klaten di depan SPBU

Kopi angkringan dan kacang oncek

Kopi angkringan dan kacang oncek

-
Setelah jalan sekitar beberapa ratus meter Koh Win menyapa saya di suatu perempatan, tepatnya perempatan Polsek, dimana ada warung kambing pak Codot. Seru banget namanya …codot ….ha ha ha ….

(Belum selesai nulisnya nih ….ntar mau menikmati ketan srikaya masakan Nyonya Herwinto ….mak nyus).

Koh Win ternyata akan menjemput putri bungsunya yg sekolah TK dan saya lanjut jalan menyisir jalan Pemuda. Saya nikmati setiap langkah saya menuju nowhere sambil jeprat jepret kamera HP buat capture beberapa spot yang menarik saya; dan akhirnya nangkring di warung angkringan sambil menikmati kopi tubruk tanpa gula tanpa susu. Nikmat duduk sendiri kethap kethip sambil menikmati kesibukan Klaten. Ini jelas merupakan suatu hal yang jarang saya lakukan di kota sibuk seperti Jakarta. Meski Jl Pemuda ini sibuk, namun tetep nuansa kesibukannya lain dan memang enak buat dinikmati.

 

-
Beberapa menit kemudian Koh Win nyamperin saya di angkringan dan mini progring tahap 1 digelar sambil menikmati kacang dan gorpis. Sebenernya kami tak lama berada di kopi angkringan ini namun karena masih ada sisa kacang oncek yang belum selesai dimakan dan juga kopi saya masih kemedhul maka obrolan kami mulai dengan cerita Koh Win yang sedang menikmati King Crimson era 90an, album live. Obrolan tentang KC pun mengalir renyah sampe akhirnya kami putuskan pindah tempat ke kuliner lain. Memang sejak dari Madiun saya sengaja gak sarapan biar mantab kulineran di Klaten. Akhirnya kami pindah ke Soto Mbok Giyem yang memang manteb njegreg rasanya. Meski sambil nyoto, kami ngobrol ngalor ngidul termasuk sejarah ngeprognya Koh Win plus riwayat singkat Pelita Harapan – The most promising learning centre for Klaten future generation ….Sebenarnya gak hanya buat Klaten aja sih PH nya Koh Win ini karena ini merupakan strategi bisnis Koh Win aja untuk menyikapi persaingan ketat dengan nama-nama yang sudah “branded” . Kalau istilahnya pakar pemasaran Philip Kotler, strategi yang diterapkan Koh Win ini disebut “flanking strategy” yakni menyerang kompetisi dari sayap dulu sambil memperkuat brand image melalui daerah di sayap2 Solo: Klaten, Boyolali, Sukoharjo dan ….(lupa saya). Nanti kalau sudah kokoh di sayap, sedikit demi sedikit menyerang jantung kota dan meluluh-lantakkan pesaing yang saat ini mendominasi. Strategi yang jitu! Koh Win gitu loh! he he he …. Memang bener sih …kalau PH ini di awal2 sudah head-to-head dengan pemain yang lama dengan brand yang sudah kuat ya bakal capek ditengah, kurang kuat …dan bisa loyo tak bertenaga. Namun PH dengan flanking strategy nya kelihatannya sudah cukup kokoh di empat daerah tumpuan tersebut dimana Klaten sebagai pusat kendali utama.

Oh ya .. Soto Mbok Giyem ini mengingatkan saya akan Soto Pak Djan di depan kolam renang Purboyo di Madiun jaman saya masih SMA dulu. Jangan tanya enaknya, namun tanyalah lauk apa saja yang disediakan menemani santapan soto. Banyak sekali ragamnya namun yang paling cucok bagi saya ya tempe. Dan untuk semangkuk soto, saya memerlukan nguntal tiga buah tempe. Ha ha ha ha … mantab jaya suprana tenan! Meski dilatarbelakangi lagu non progclaro, tetap aja progring di sini mantab….Barulah kemudian kami menuju rumah Koh Win yang sekaligus merupakan markas besar Pelita Harapan.

Soto Mbok Giyem and  its associated accessories ... Muwanteb njegreg pol!

Soto Mbok Giyem and its associated accessories … Muwanteb njegreg pol!

Tempatnya strategis dan di depan Pelita Harapan ada kafe yang sayangnya buka hanya sore hingga malam hari, sehingga kami tak bisa menikmati kopi di situ. Komplek PH ini menempati areal tanah cukup luas sekitar 1000 M2 dengan empat kelas belajar. Masing-masing kelas berisi kapasitas sekitar 20 orang kecuali ada satu kelas yang besar, bisa muat lebih banyak lagi. Meja kerja Koh Win berada diantara empat ruang belajar tersebut dengan meja yang lengkap fasilitas desk top komputer serta blog gemblung MfL yang terpampang di layarnya. Ha ha ha …seru juga, kerja sambil ngeblog. Rumah Koh Win dan keluarga ada di bangunan paling belakang dari komplek ini. Yang paling asik, di belakang bangunan permanen ada hutan kecil berisi pohon jati plus beberapa ayam peliharaan Koh Win. Saya berada di rumah Koh Win dan Komplek PH ini cukup lama atau sekitar 3 jam lebih hingga sekitar pukul 14:00. Selama progring kedua buah hati Koh Win juga ikut: Fajar (kelas 4 SD) dan Ifah (usia TK). Hidangan mak nyus berupa ketan srikaya buatan Ny. Herwinto menemani obrolan kami sambil ngopi tubruk menggunakan mug karya mas Andria bernuansa IQ. Koh Win juga dapat kiriman mug dari mas Andria lewat saya yang ternyata isinya Iron Maiden. Kami sempat heran …kok Koh Win suka IrMa ya? Rupanya salah kirim …bukan salah alamat lho! Ha ha ha ha …

Koh Win di Pusat Kerajaan Bisnisnya - the "spectacular" Pelita Harapan ....

Koh Win di Pusat Kerajaan Bisnisnya – the “spectacular” Pelita Harapan ….

-

2014901105733

-

Koh Win dengan si Bungsu berpose di dalam salah satu raung belajar ber AC.

Koh Win dengan si Bungsu berpose di dalam salah satu raung belajar ber AC.

Meja kerja Koh Win dengan desk top computer yang layarnya adalah Music for Life ...

Meja kerja Koh Win dengan desk top computer yang layarnya adalah Music for Life …

Kudapan ketan srikaya dengan aroma duren, made by Ny. Herwinto

Kudapan ketan srikaya dengan aroma duren, made by Ny. Herwinto

Progring santai di markas Pelita Harapan

Progring santai di markas Pelita Harapan

Dalam perjalanan Klaten – Solo (bandara) diantar Koh Win, kami sempat mampir di kuliner mantab yakni sate tengkleng Mbok Galak yang kata Koh Win “klasik” banget tempat ini. Namanya aja sudah galak, apalagi rasanya …pasti guwalak pol! ha ha ha ha ha ……

Whoooaaaa… makan lagi …makan lagi … Kami nyantap tongseng dan sate, termasuk sate buntel. Sambil menyantap kuliner Mbok Galak kami ngobrol lagi ngalor ngidul sembarang kalir. Singkat cerita, progring @ Klaten berakhir pukul 17:00 ketika saya diantar Koh Win ke bandara Adi Soemarmo. Terima kasih Koh Win atas kesempatan luar biasa untuk mini progring di Kota Klaten dan Solo. Suiiiipppp!!! Terima kasih atas persahabatan yang dimulai dari dunia maya ….

Sate dan tongseng Mbok Galak

Sate dan tongseng Mbok Galak

 

Siap disantap ...

Siap disantap …

-

Racun itu Bernama “The Tangent”

August 30, 2014

Herwinto

image

Rabu kemarin mendapat kiriman racun dari The Land Of Prog…Jombang..siapa lagi kalau bukan pemilik Angkringan Apple nan kesohor di tanah Jawa ini…mas Edi Santoso atau akrab disapa mas Edi Apple…racun yang saya telan pertama kali adalah The Tangent…namanya saja sudah matematis banget..Tangent adalah perbandingan panjang sisi tegak dan sisi mendatar dalam segitiga siku siku…ha ha ha dasar guru matematika!! bagaimana musiknya…100% matematika banget!! rumit!! namun jangan salah…rumit namun indah dan akademis banget…cocok saya dengar musiknya pertama kali….memang baru satu album yang saya dengar..inipun saya bingung album apa bukan kok di discography nya tidak dicantumkan dengan detail…ternyata ini semacam EP. Namanya L’etagere Du Travail…dirilis tahun 2013.

Track pertama adalah Monsanto 7.49 waaaahh saya langsung jatuh cinta dengan lagu ini..komposisinya gabungan antara Rick Emerson dan Keith Wakeman ha ha ha…kibornya itu lho akrobatik banget!! musiknya rancak, dinamis, penuh tekukan tekukan maut…tuobz tenan!! saya merasakan ramuan yang lezat antara ELP ini begitu kerasa dipadu Yes, King Crimson dan Jethro Tull..durasi 7 menitan gak kerasa kayak dengerin lagu 2 menitan aja…tak ulang berkali kali lagu ini!! 

Lost In Ledston 6.39 adalah lagu kedua yang juga tak kalah maut, lagu ini benar benar beraroma ELP tapi jangan salah! bukan menirunya tetapi meramunya dengan unsur unsur King Crimson, salah satunya adalah pergerakan flute yang sangat rancak mengikuti akrobatik kibornya..nikmaaaaaat!!!

The Iron Crows 14.09 merupakan lagu epicnya…disusul Build A New House With Lego 6.25, track selanjutnya Supper’s Off begitu dinamis musiknya, semangat sekali saya mendengarnya, dentuman bass dan drumnya sangat keren!! disusul Dansant Dans Paris 6.58 yang beraroma jazz yang asyik sekali…

Steve Wright In The Afternoon 6.07 dibuka dengan petikan gitar yang lembut, sangat asyik lagu ini, disusul A Voyge Through The Rush Hour 2.28 sebuah solo piano dan  The Ethernet 9.11 lagu yang enak banget dengan solo gitar yang panjang dimulai di menit ke 5.00 sampai akhir lagu, track pamungkas adalah The Canterbury Sequence 9.10 track yang cukup seru menggabungkan unsur unsur jazz dengan klasik beserta rock woaaah muantab sekali….demikian review saya semoga menjadikan racun juga untuk yang lain….haree geneee gak tahu The Tangent?….jangan ngaku proger!!! ha ha ha…..ratjoeeeeeeeeenn!!!

Mini ProgRing dan Speaker Baru

August 29, 2014

Rully Resa

image

Hari ini jelas bukan hari jumat biasa yang saya lewati. pasalnya setelah selesai menunaikan ibadah jumat ada mini prog ring dadakan (janjian sehari sebelumnya) dengan mas hippie. Ceritanya beliau ingin sekali mendengar lagu-lagu Michael Franks (yg tentu tidak nge-prog,whehehe) saya informasikan pada beliau bahwa saya punya mp3 studio album Michael Franks lengkap. Mungkin karena sudah kebelet banget kepingin mendengar suara sendu Michael Franks, mas Hippie rela menempuh panas dan macetnya kota jakarta utk sekedar mengunjungi saya di mall yang letaknya persis sebelahan dengan kantor saya, tempat kami menyepakati point bertemu. Akhirnya kami memutuskan ke kantin, ngobrol sembari makan siang. 

Seperti yang sudah saya kira sebelumnya obrolan tentang musik pun mengalir deras. Dari mulai membicarakan italian prog yang tempo hari sempat saya kirimkan mp3nya ke mas Hippie sampe pembicaraan kerjaan kantor. Ngga lupa juga membicarakan blog gemblung ini, baik dari isinya sampai kebiasaan-kebiasaan unik penghuninya. whehehe ngalor-ngidul blasss lah pokonya. Saking asyiknya ngobrol kami sampai lupa foto untuk dokumentasi mini prog ring ini (mohon dimaafkan). Tanpa terasa kami sudah ngobrol hampir 2 jam, mas Hippie harus balik lagi kekantor, sayapun harus kembali lg ke meja kerja. Dengan berat hati prog ring singkat pun berakhir. 

Sekitar pukul 9 malam ternyata mas hippie sms saya. Beliau menanyakan musik prog bernuansa jazz apa yang saya masukkan di dalam DVD mp3 Michael Franks yg saya berikan tadi siang. Jujur saja saat itu saya sudah berada diatas motor, dan sengaja berhenti sebentar utk membalas sms mas Hippie sambil berfikir kira-kira apa ya yang saya masukkan kedalam dvd tersebut. Setelah dipertimbangkan ternyata saya ingat, grup tersebut adalah Atlas grup dari US yang cuman punya satu album, tp review di progarchive sangat bagus. Jadinya saya tertarik untuk menyimaknya.

Sesampainya dirumah saya jadi ingin putar album bla Vardag milik Atlas (gara-gara sms Mas Hippie). Kemudian saya jadi ingat beberapa hari yang lalu adik saya yang sekolah diluar negeri sedang pulang dan membawakan oleh-oleh sebuah Speaker. Melihat merknya saya merasa asing, “AEROSKULL HD jarre” (apa mungkin ada hubungannya dengan Jean Michel Jarre musisi elektronik itu? heheh) tapi setelah dijajal, boleh juga suaranya. Mungkin ketika ada progring mendatang saya akan bawa speaker ini, karena memang speaker portable, mudah dibawa kemana-mana. lumayankan sembari ngobrol, sembari putar musik nuansamatik. heheh. Kalau dilihat dari bentuknya sangar banget! mengingatkan pada Eddie the Head. Setiap kali melihat speaker itu saya jadi pingin putar album Powerslave milik Iron Maiden. Tapi kali ini mood saya tidak ingin mendengarkan musik Metal, ada hasrat menggebu untuk putar musik prog. Sambil lanjut berbalas sms dengan mas Hippie musik symphonic prog lantang terdengar dari speaker baru tersebut. album Atlas, Yockie Suryoprayogo feat. Chrisye, Anglagard dan Beethoven nikmat sekali didengar pada penghujung malam ini. 

Sebentar lagi hari jumat yang penuh dengan berkah ini akan segera berakhir, tidak lupa saya panjatkan rasa syukur sedalam-dalamnya kepada sang khalik Allah SWT atas nikmatnya hari ini. Saya masih diberi nikmat sehat sehingga dapat berjumpa dengan sesama penggila musik, sharing panjang-lebar ttg hobi kami mendengarkan musik dan masih diberikan nikmat 2 kuping yang juga sehat walafiat sehingga masih bisa menikmati musik-musik yang begitu indah. sekian dari saya

Salam

Bersatunya Kembali GodBless

August 28, 2014

Wahyu Triantono

Menyambut konser reuni GodBless tanggal 30 Agustus 2014 di Bandung ada rasa senang tapi juga sedih, senang karena GodBless tampil lagi dengan formasi terbaik walaupun Jocky n Teddy hanya guest star selain Eet tapi itu tidak mengurangi kadar konser itu sendiri dan rasa sedihnya karena saya tidak bisa melihat penampilan legenda band rock indonesia yang sudah berumur 41 tahun !! Dan masih eksis..
Esensi tulisan saya sebenarnya ada 2 point yang penting. Yang pertama adalah Band ini bisa bertahan 41 tahun..Apa resepnya ya? Kalo om Ian ato om Dony kebersamaan adalah salah satu cara untuk bisa bertahan dalam sebuah band walaupun dari awal berdiri GB sudah banyak problem seperti dengan meninggalnya Fuad Hasan dan pemain keyboard (maaf lupa nama almarhum), dan bolak balik ganti personil namun beberapa masalah tersebut tidak sampai membuat GB bubar..bahkan hingga sekarang mereka masih bersama dan eksis..Yang kedua adalah Dokumentasi..dalam blognya Pak Gatot beberapa waktu yang lalu saya sempat menulis betapa indahnya apabila ada dokumentasi berupa visual tentang band Indonesia..betapa kerennya apabila GB membuat box set seperti yang dilakukan Band2 besar di luar negeri..saya dapat info kalo Bapak Theodore KS mau menulis tentang GB..saya yakin kalo box set GB ada pasti ludes dalam sekejap karena band ini memang band legenda ..keep on Rock..!!

11 Album Prog Paling Dilupakan

August 28, 2014

Herwinto

Namanya juga blog gemblung maka saya tulis lagi tret gemblung yaitu album album prog yang telah dilupakan, sengaja saya menghindari kata ”dibenci” karena belum tentu album album ini dibenci namun memang telah dilupakan. Inilah album album tersebut :
 
1. Calling All Station (Genesis)
2. Open Your Eyes (Yes)
3. Anoraknophobia (Marillion)
4. A Saucerful Of Secrets (Pink Floyd)
5. Works 1,2 (ELP)
6. Seven Stories Into Eight (IQ)
7. Under Wraps (Jethro Tull)
8. GTR (Steve Howe and Steve Hacket)
9. Beat (King Crimson)
10. Clockwork Angels (Rush)
11. When Dream And Day Unite (Dream Theatre)

Menurut pengamatan saya secara subyektif, ketika kita membahas jawara jawara prog diatas, album ini hampir tidak pernah dibicarakan….mungkin dianggap tidak penting, gagal, menyimpang dari kebiasaan atau bahkan jelek…bagaimana dengan anda?

 

Pengalaman Hippienov Tur Manca Negara dengan membawa Walkman

August 27, 2014

Mas Hippie dan gemblungers … Setelah berjuang lama akhirnya saya temukan (atas bantuan mas Hippie memberikan ke saya kata kunci nya) kisah pengalaman unik mas Hippie yang ia ceritakan di blog gemblung ini pada tanggal 25 Mei 2011 yang lalu. Saya posting menjadi TRET karena ceritanya sungguh indah dibaca dan penting bagi kita, kumpulan orang gak penting ini … he he he … Saya copas apa adanya, saya kasih warna beda terkait komentar mas Hippie ya, biar tuntas.

———–

Hippienov Says:
May 25, 2011 at 12:03 am | Reply edit
Mlm mas G n mas Kris,maaf baru gabung ngeprog lagi setelah 1 mingguan lenyap :-D
Ceritanya aku baru pulang liburan gratis dari kantor,he2.. Gak tau ada angin apa tiba2 kantor ngasih bonus liburan + uang jajan u/ karyawan-nya yg telah 4+ tahun kerja termasuk staf rendahan kayak aku yg pas hoki 4 th jadi kuli mereka.
Singkat kata liburannya seru karena jujur ini kali pertama aku keluar negri, numpak pesawat n jauh pula,he2..
Karena masih amatir, aku tergolong ringkes banget dalam hal brg bawaan,cuma 1 tas ukuran sedang plus tas slempang u/ nyimpen hape n paspor n uang receh :-D
Sangking ringkesnya praktis dari 23 peserta cuma aku yg gak ada bagasi,peserta lain semua bawa 2-3 tas/koper lumayan besar,sampei tour guide n temen2 takjub kenapa aku cuma bawa 1 tas.. (yg mrk gak tau kalo aku ud gak tau apa yg mau dibawa jadinya ya cuma tas itu aja,he2)
O ya,gak ketinggalan walkman djadoel koe n half-dozen kaset progclaro gak lupa aku bawa juga,he2..
Di pesawat ternyata aku bisa nonton tv ato denger musik pilihan kita sendiri n i was surprised ternyata mrk ada koleksi pink floyd, king crimson, mike oldfield, cream, led zeppelin, frank zappa, queen, beatles, stones, purple, rush, etc.. Wow..bagai anak kecil yg baru nemu mainan,ak sibuk gonta-ganti koleksi sementara tmn2 kiri kanan pules tidur (maklum ndesit,katro banget,ha3)

Sayangnya aku gak punya kesempatan nyari cd progrock sampei pas pulang transit di bandara dubai ak niat nyari toko yg jual cd. Niatku adalah nemu n beli cd progclaro yg langka di jakarta tp murah (dasar turis kere..he2..) n ternyata susah nyarinya sampei final moment aku nemu 2 album MOODY BLUES (days of future passed n in search of the lost chord) dalam 1 kemasan n compact price alias murah cuuy :-D walau bukan itu target utamaku tp ak beli juga :-D
O ya aku juga beli album clapton waktu di derek & the dominos “layla”. Ak pikir ini cukup jarang ak nemu di jkt jadinya ak beli.tp album ini kurang greget in my opinion,ringan gak seperti waktu clapton di cream ato blind faith..
Yah begitulah sekelumit crita liburanku ke rumah nenek :-D ato kerennya a journye of a prog freak into a strange land..
Walah nglantur,wara-wiri rana rene :-D

Ok back 2 the subject..
Ulasan mas Kris markotop,bak pinang dibelah 2 dgn reviews mas G,komplit,dalem tp jg catchy :-D
Ak cuma punya 1 kaset Pallas album the sentinel rilisan yess no. 514. Mungkin kaset ini sama dgn kaset punya mas Kris yg hilang dipinjem kebablasan.. :-D
Di album the sentinel menurutkupallas mirip2 saga (kompilasi “made in canada” rilisan yess).
Sejauh ini cm 1 album itu koleksi pallas ku,makanya jadi penasaran sm album anyar mrk. Mas Kris aku ti2p tuku pallas anyar..byr tempo iso ra? :-D

Anyway,glad 2 b back again w/ all my senior proggers :-D n thx 4 reading this silly story..
Suwun..

Kristanto Says:
May 25, 2011 at 1:21 pm | Reply edit
Hahaha, bisa aja mas Hippienov, saya tuh cuma bisa nulis tp minim analisa & apresiasi, hehehe …
Wah asik bener tuh jalan2nya mas, kalau Rick Wakeman ada “Journey to the center of the Earth” nah travelnya sampeyan “Departure” – “Escape” – “Arrival” & “Look in to the Future” nya grup ameriko JOURNEY , hahaha …

Gatot Widayanto Says:
May 25, 2011 at 9:01 am | Reply edit
WELCOME HOME MY FRIEND TO THE BLOG THAT NEVER ENDS …. hua ha ha ha ha ha ha ha ……

Mas Hippienov …seneng sekali melihat Anda balik lagi ke blog gemblunk tanpa arah ini (lha ngapain diarahin wong musik prog aja tak ada arahnya kok kita bikin terarah. Kalau mau terarah ya musik pop aja … ha ha ha ha ha …).

Saya baca kisah mas Hippienov ini sampe dua kali saking enjoy banget bacanya. Enak pol …serasa menikmati kaset Marillion keluaran Yess ….hue heheheheh…..

Ada yang menggelitik buat saya, terlepas masalah musik. Ini tentang tempat kerja mas Hippienov. Kalau benar mas Hippienov ini karyawan rendahan, rasanya baru kali ini denger ada perusahaan yang menerbangkan 24 karyawannya ke luar negeri selama seminggu dibayarin penuh oleh kantor. WHOOOOAAAAA…. Ini keajaiban dunia. Apalagi, menurut mas Hippienov, ini adalah perusahaan keluarga. Lebih MASYGOEL lagi saya. Wong karyawan baru bekerja 4 tahun aja kok udah bisa NGLENCER dibayarin kantor. Opo tumon???? Berarti perusahaan ini gak main2 dan berskala besar serta profesional pengelolaannya. Emang untuk menjadi profesional musti perusahaan NON keluarga? Gak juga toh? Salut buat tempat kerja mas Hippienov yang menurut saya SANGAT BAIK. Gak usah mikir keluar lah mas …apalagi boleh nyetel prog di kantor …. Di NIKMATI ajalah mas …

Kemungkinan lain, mas Hippienov ini hanya “ngaku” aja sebagai karyawan rendahan padahal sebenernya boss besar dan diberi fasilitas mak nyus oleh kantor. Kalau ini lebih masuk akal karena mas Hippienov layak buat di”tour”kan ke LN atas biaya kantor karena kontribusi departemen yang dipimpin mas Hippienov ini udah menghasilkan profit puluhan bahkan ratusan milyar ….

Back to music now ….

1. Salut di jaman digital gini mas Hippienov masih ‘keukeuh’ bawa musik analog dalam bentuk kaset beserta walkman nya. Apalagi dengan tas kecil, lha itu puluhan kaset proclaro aja apa ndak udah boros tempat to mas? AKu nggumun lho mas. Hebat dah masih konsisten dengan kaset! Salut pol aku! Saya sendiri jarang bepergian dengan walkman karena saya mendingan KOMPROMI menikmati musik dari MP3 karena praktis dan bisa muat banyak musik. Tapi kenyataannya memang tak semua musik di iPod itu kesetel juga …ha ha ha ha …jadi sebenernya bawa kaset lebih tepat dan fokus. Selain itu nuansamatik pol.

2. Pallas sejak album “The Wedge” dengan vokalis baru Alan Reed memiliki warna musik yang beda dari The Sentinel, mas Hippienov. Jadi, yang ANda denganr dari kaset Yess Anda itu belum mewakili musik Pallas dewasa ini. Setelah album The Wedge (1986) Pallas kemudian tidur puwanjaaaaaaaaang pol selama 12 (dua belas) tahun hingga membuat gebrakan baru dengan album “Beat The Drum” (1998).Wha ini album huwenak tenaaaaan … Apalagi ada atraksi drumsolo di lagu bertajuk “Beat The Drum”. Sejak itu album Pallas selalu keren. Sayang, saya belum beli yang XXV nih … he he he he …ngiler aja denger crita mas Kris … ha ha ha ha ha …

3. Ada yang mengatakan bahwa cikal bakal PROG itu dari Moody Blues “Days Future Passed” (1967) karena sudah dipakainya orkestra di album ini. Namun banyak yang mematahkan pandangan tersebut karena di situ unsur mellotron belum ada sehingga akhirnya ditetapkan King Crimson “In The Court of the Crimson King” sebagai awal dari lahirnya PROG meskipun ada yang nyebut juga The Beatles “Sgt Peppers Lonely Hearts Club Band”. Tapi apapun sing penting PROG huwenak dinikmati ….

Eh..mas Hippienov kemana sih? US? Kalau di Amrik memang sulit cari prog. Kalau ke UK…lha itu dia gudangnya mas …. He he he he …

Salam,
G

Kristanto Says:
May 25, 2011 at 1:26 pm | Reply edit
Walkman diangkut karena yg dibawa kan kaset2 rekaman Yess, jadi selain nuansa-nya juga sekalian promosi siapa tau ketemu Geldof kan bisa ditunjukin kalau yg bajakan-pun bisa keren & ekslusif, hahaha …

Hippienov Says:
May 25, 2011 at 11:17 am | Reply edit
Met pg mas G,
Ha3..trims feedback comment nya mas. Jujur aku cuma staf biasa mas,posisiku itu senior staff purchasing :-D n aku belum memberi kontribusi apa2 u/ kantor,malah kayaknya ngerugiin mas,he2..

Dalam group ku kemarin ada yg memang punya jabatan relatif penting sampai staf biasa seperti aku,malah temen kerjaku yg driver juga ikut. Dari sini sptnya keliatan management bener2 peduli dgn karyawan n gak pilih kasih ya mas, n betul aku akui itu tp tak ada gading yg tak retak,ada juga yg kurang (ya spt yg aku crita wkt itu mas). Tp u/ kasus jalan2 ini aku bener2 salute n angkat topi u/ kntrku.
Sebenarnya jujur aku juga agak ragu u/ pindah mas,paling gak aku ud cukup tau sikon n “medan perang” di kantorku ini n kalo pindah berarti hrs meraba2 lagi n mulai dari nol,tapi tuntutan n tekanan ekonomi yg buat aku terus berpikir u/ pindah n find a better one mostly dlm hal financial n kedua karir mas. Karir ak ndak gitu ambisius,go w/ the flow aja tp faktor gaji yg jadi main trigger nya mas.. Selama karirku belum pernah 1x pun aku bergaji s/d nominal 3,slalu dibawahnya, bahkan yg skrg ak jalani gak sampei menyentuh 2.5 totalnya..
Aku slalu usaha cari lewat koran,i-net ato via tmn2 n kolega2 yg aku kenal tp mungkin Tuhan bilang saatnya blm tiba u/ aku..
Hal ini gak buat aku kecil hati mas,malah berbesar hati krn msh bnyk saudara2 kita yg jauh lbh sulit kondisinya tp perjuanganku te2p berjalan,the search is not over yet til my last breath :-D

Walah jadi curhat,isin ak..nglantur wara wiri.. :-D

Back 2 music,
Bener mas di album days of future passed orkestra dpt porsi bnyk n sygnya mellotron gak kedengeran,tp kyknya ada konsep yg mau ditampilin moody blues krn ada bagian2 aransemen yg mirip2 di beberapa lagu,contohnya aku bisa denger sdkt aransemen nights in white satin dr lagu awal album ini.
O ya,mellotron terdengar jelas di in search of..jd lbh seru mas..

Aku termasuk yg kurang paham pallas mas tp album sentinel aja ud bs bikin aku suka mrk,apalg album2 lainnya spt mas G blg,mgkn bs bikin aku makin klepek2 jumpalitan..ha3..

O ya,kemarin kantor ksh liburan kita ke kaw. middle east mas :-D ada yg ke madina,mekkah, riyadh, n groupku kebetulan kebagian ke yordania,palestina n jerusalem :-D

Walah panjang bener ak ngoceh..thx 4 taking time reading it.
Long live progrock!
Suwun

Hippienov Says:
May 25, 2011 at 11:25 am | Reply edit
O ya lupa, bener kata mas G,keputusanku bw walkman n kaset2 progclaro bener2 makan tempat di tas ku,gak ada tempat kosong lagi u/ oleh2,ha3..
Tp ak rela2in beli oleh2 parfum u/ istri tersyg di dubai mas. Lagi2 brg promo 1 price for 3 bottles,murah meriah mas,ha3 :-D
Suwun..

Hippienov Says:
May 25, 2011 at 3:55 pm | Reply edit
Sore mas Kris,
Ha3..bener loch review pallas mas Kris bikin ak ngebet dngr album anyar mrk ditmbh lagi masukan mas G wah ak makin mules kebelet nyari album2 pallas :-D

Sayang ak ndak bw kaset purple wkt itu,lagu woman from tokyo pas jg didenger waktu terbang “…flying to the rising sun…” walau ak bukan ke tokyo tp masih crita2 terbang jg kan,ha3..maksa bgt d :-D
Yg lucu mas,ak perhatiin kayaknya cm ak yg bw n dngr kaset pake walkman,orang2 lain pke mp3 ato ipod..walah ak keliatan djadoel pol..seperti “stranger in a strange land” aja plus repotnya kalo side a hbs hrs pindah manual ke side b apalagi pas mau ganti kaset kudu buka-tu2p walkman,ha3 :-D
Tp biarlah,pura2 pe-de aja padahal sedikit kikuk juga,ha3..

Suwun mas :-D

Gatot Widayanto Says:
May 25, 2011 at 4:44 pm | Reply edit
Wakakakakakak …..seru banget baca postingan mas Kris dan mas Hippienov ini …ha ha ha …dari tadi aku kerja sambil mesam-mesem baca komen2 di sini …hua ha ha ha …..

Aku gak kebayang tuh mas Hippienov buka tutup walkman buat bolak-balik side A dan B ….seru banget. Apalagi membayangkan yg duduk di sebelahnya pake iPod dan gak pernah buka tutup “sesuatu” karena musiknya virtual, tak perlu space fisik. Sementara mas Hippienov masih jadoel-kumadoel boeka toetoep …ha ha ha ha ha ….betapa ribetnya mempertahankan gaya hidup nuansamatik ya mas? Ha ha ha …. Seru banget jadinya ….

Kenikmatan mendengarkan musik dg kaset kita dipaksa mendengarkan full album atau sekurangnya satu sisi sampek pok ….kalau gak, kasetnya akan terkena jamur dan di bagian tengahnya babaliyut ….

Jadul pancen oye!!!!

apec Says:
May 25, 2011 at 5:28 pm | Reply edit
Wah,seru juga baca pengalaman mas Hippienov..
Omong2 tentang Pallas, musik mereka memang lumayan dan harus masuk daftar kuping Prog. Baru saja, sekitar 3 jam lalu saya akhirnya dapet Kaset Pallas The Wedge, rekaman Aquarius, masih kinyis-kinyis. Jadi sekarang punya 2 album Pallas versi kaset,Sentinel dan the Wedge…
He..he…,jaman segini kok kaset masih tetep dibanggakan, padahal dg CD sdh banyak harusnya album yg didapat..

Kristanto Says:
May 26, 2011 at 9:06 am | Reply edit
Bro Apec, “The Wedge” keren tuh … Omong2 itu kaset rekaman
Yess kah ? Skrg ini saya kepikiran mau cari rekaman Yess jadul,
ada reference tempat2 yg bs dijambangi ?

Kristanto Says:
May 26, 2011 at 9:11 am | Reply edit
Sorry, baca gak teliti, ternyata rekaman Aquarius.
Hehehe, rekaman aquarius yg tersisa di koleksi saya cuma
Pink Floyd “Dark side of the Moon” …

Hippienov Says:
May 26, 2011 at 10:09 am | Reply edit
Pg mas G,
Bener bgt mas,perlu perjuangan extra n lots of pe-de u/ mempertahankan gaya hidup :-D

O ya ak lupa crita kalo waktu pergi aku gak lupa bawa kaos2 bergambar/logo band progclaro,ada pink floyd,stones, zeppelin,ac/dc n kaos dgn lambang “peace” plus celana panjang yg aku modif jadi cutbray n juga jaket yg aku tempel emblem tulisan n logo besar “toyota” di belakang.
Jd saat berangkat aku denger kaset pake walkman dgn kaos ac/dc, celana panjang cutbray plus rambutku yg agak gondrong,topi gunung n gak lupa sendal gunung bata :-D jd kayak hippies 70an gitu,ha3.. Hippies woodstock yg nyasar,ha3..
Alhasil dari semua peserta,yg paling nyeleneh amburadul ya cuma 1,hippienov.. :-D yg lain relatif rapi tp aku bener2 apa adanya :-D

So that’s the story,kind a silly but it’s true :-D
Suwun

Hippienov Says:
May 26, 2011 at 10:20 am | Reply edit
Pg mas Kris,
Sekedar sekilas info kalo mas cari kaset loak terutama yess selain di jatinegara mungkin bisa juga di depok mas.di jalan margonda ada toko musik namanya “dav music” yg jual alat2 musik plus loakan kaset.mrk ada jg koleksi yess.ak dpt beberapa kaset gentle giant (yess) di tmpt itu :-D
Monggo dicoba jika berkenan,happy hunting :-D
Suwun

Visioner!

August 27, 2014

Gatot Widayanto

Meski blog abal2, gemblungers di sini bisa dikategorikan visioner. Buktinya, sebelum sutradara Guardians of The Galaxy menggarap film nya, kami di komunitas kecil gemblungers ini sudah membahas dahzyatnya efek magis nuansamatix dari kaset yang lubangnya dua dan casingnya tebel itu …. 

Film ini jadi buah bibir pengunjung BF kemarin dan utamanya bukan membahas plot cerita film tapi kenyataan bahwa KASET dan Tape Deck ternyata masih digunakan di pesawat ruang angkasa dengan lagu2 yang nyenggol ke claro (meski ngepop ya) seperti 10 CC “I am Not In Love” dan juga David Bowie dan Rupert Holmes. Dampak dari film ini ada dua:

  1. Orang mulai melihat lagi koleksi kaset dan berburu di BF baik itu medianya (kaset) maupun sarana pemutarnya seperti walkman dan tape deck. Kemarin di BF saya ketemu temen baru (ex wartawan musik tabloid Bintang dulunya) yang asik banget ngubek2 kaset di lapak Gun. Bahkan beliau ini berencana mencari walkman. Kalau saja Koh Win denger, pasti akan dimintain alamat dan akan ada Walkman terbang. Lha wong ke Aceh aja bisa kok masak cumak Jakarta ndak bisa nerbangin? Ini jelas berdampak pada seretnya GerakanHargaKasetTakLebihDariJigo yang baru kita sepakati sebagai Piagam Kaset Jadulsonic.
  2. Band-band era 70an akan semakin marak karena teman baru yang saya kenal ini tadi malam kaset-kaset yang dipilih mencakup AC DC, The Beatles, The Doors, namun juga Yes.Saya senang melihat semangatnya berburu grup2 lawas ini. Ketima saya tanya apa selama ini biasa koleksi kaset jadul, beliau bilang tidak. “Buat ngeracuni anak saya pak …biar gak JKT 48 yang dia denger” … ha ha .. Saya malah gak tahu tuh JKT 48 kuwi opo.

Syukurlah kaset hidup lagi dan tambah semarak. Namun gaya gak butuh harus tetap dipertahankan agar gak terjadi harganya melambung tinggi ….

Sayang belum nemu ulasan mas Hippie terkait walkman beberapa tahun lalu ….

10635752_10152683767203809_4039554270060211514_n

-

 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers