Phillip Glass “Songs From Liquid Day’s” by Yess

May 22, 2013

By: Herman

Membaca  tret Pak Dokter Apec tgl 17 Mei 2013 berjudul “Upeti Hari Ini”, di situ saya lihat ada kaset Phillip Glass “ Songs From Liquid Day’s” , bikin saya ingin menampilkan kaset Yess No 650 tersebut. Niat pertama ingin numpang majang gambar kaset Yess no.650 tersebut yang sudah saya kompilasi dengan gambar2 lain dan Logo Blog  “Music for Life” tempat kita mangkal . Sekaligus saya ingin usulkan gambar tsb.untuk kalender kita bulan Sept-Oktober.

kaset PG 1968 kompil  copy R

Saya juga ingin berbagi cerita tentang album Phillip Glass “ Song from Liquid Days” yang fenomenal. Ini bukanlah sebuah reviu tapi sekedar upaya saya memahami dan menikmati musik.

Banyak yang menyebut music Phillip Glass ini sebagai musik minimalis, meskipun PG tidak mau menggunakan istilah tersebut dan selalu mengatakan karya musiknya sebagai musik yang strukturnya berulang.

Selama ini kaset PG hanya kadang kadang saya stel karena belum bisa menemukan soul musiknya sehingga belum “klik”..

 

Siapa Phillip Glass

Phillip Glass lahir pada 1937 di Baltimore, Amerika. Ayahnya adalah pemilik toko piringan hitam, sehingga sejak dini sudah mengkoleksi dan akrab dengan music klasik dan juga musik modern, termasuk PH yang nggak laku terjual memperkaya koleksinya.

PG punya latar belakang beragam : waktu muda ia belajar flute kemudian kuliah mengambil matematik dan filsafat, belajar music klasik (di Eropa), bergaul dengan artis film yang bergaya bohemian, berteman dengan seniman2 patung, teater dll. Tak heran bila karyanya cukup beragam mulai dari opera besar dan kecil (20), , simfoni (8 ), konserto (2). Music untuk  film dan lain2

Musik – musik yang terpengaruh struktur yang berulang PG antara lain  Mike Oldfield, Tangerine Dream, David Bowie, Brian Eno..

Saat ini PG masih aktiv bermain musik khususnya chamber musik, concerto dan symphoni.

Yess  Phillip Glass R

 

Cerita bagaimana saya dapet kaset ini

Kaset Yess no 650 ini saya beli karena informasi dari seorang temen kos di Jogja, namanya Waskito asal Kudus, kuliahnya di Fak. Sospol UGM.  Dia memberitahu saya ( antara  1982- 1983). bahwa ada musikus Amerika yang hebat : Phllip Glass. Berbekal informasi sepotong itu saya berusaha mendapatkan albumnya. Begitu saya lihat kaset Yess ini di-rak display di Trio Tara Blok M ada,  tanpa pikir panjang saya bungkus…eh yang bungkus petugas tokonya, itu tahun 1987…. lima tahun mencari baru nemu kaset ini….. Kalau ada yang kenal dia tolong ajak dia baca Blog Gemblung ini biar dia kembali ke jalan yang benar….

Karena Kenal Blog Gemblung sebagai pintu menuju pemahaman music Phillip Glass.

Karena berkenalan dengan Blog Gemblung ini saya jadi bongkar2 kaset lama yang sudah lama saya diamkan. Jangankan nyetel, player-nya juga sudah nggak berfungsi. Singkat kata kaset PG ini saya coba stel lagi, dan setelah beberapa kali stel baru saya tenemukan, sebutan versi saya untuk music PG : ini adalah music yang tidak lengkap! Saya coba bandingkan dengan musik Rick Wakeman yang lengkap, yang ada orchestra dan choir-nya, maka pada album ini musik  PG yang hanya ada vocal diiringi keyboard, bass,  dan mungkin instrument lain yang suaranya hampir mirip2. Tidak ada perkusi,dan alat lain yang duk duk jreng ….dan bikin musik lebih nikmat didengar. Dengan kata lain hanya berisi elemen pokok2nya saja. Sangat berbeda dengan music Thijs van Leer di album Introspection, walaupun kadang juga tanpa perkusi. Kalau di dunia farmasi ada obat generik, maka music PG ini bisa disebut musik generik…..hahaha….Suatu saat sambil mendengarkan saya coba bayangkan, bagian2 tertentu ditambahkan bunyi2n duk..duk  jreng…jreng ….wah ternyata hebat juga ( menurut saya)..….dan saat itu saya seperti menemukan klik-nya music PG…ternyata disitu …wah seneng juga menemukan momentum itu…..

Setelah menemukan “klik” itu, untuk memudahkan,  saya membuat analogi seperti lagu Father of Night, Father of Day (FoNFoD) yang dibawakan Bob Dylan dengan FoNFoD yang dibawakan Manfredman’s Earth Band (MEB). Bob Dylan membawakan FoNFoD dengan iringan akustik gitar saya anggap sebagai substansi dari FoNFoD yang dibawakan oleh MEB dengan begitu indah dan colourful. MEB dengan kejelian dan musikalitasnya telah membuat aransemen yang mencerahkan dan telah membuat saya lebih mengapresiasi FoNFoD yang dibawakan Bob Dylan yang “generik” itu.

Sayangnya saya belum pernah mendengar musik PG versi interpretasi serta aransemen musikus lain. Maka terpaksalah saya membuat interpretasi sendiri music generic  PG melalui imjinasi di atas.

Dalam kaset Yess No 650 ini ada 2 album PG : Songs from Liquid Day’s dan North Star. Menurut saya  dua2 nya bagus. Terutama lagu Liquid Day’s part 1 dan 2 ( side B no. 1 dan 2) dimana kehebatan musik PG sudah cukup tergambar, meskipun sebenarnya bisa lebih dahsyat bila dimainkan dengan peralatan music yang lebih lengkap. Sedangkan lagu2 lainnya lebih generic dan minim namun sebenarnya mengandung substansi yang bisa dikembangkan lebih hebat…..setelah “klik” makin lama saya makin bisa merasakan keindahan music yang minim ini.

Ya… itu semua menurut saya…..silahkan teman2 untuk mencoba sendiri, saya sudah lihat di You Tube ada, dan silahkan untuk berinterpretasi sesuai sesuai dengan selera masing- masing…

Salam untuk semuanya. Herman, Mei 2013.

 

Megahnya Konser Yes (4 of 10)

May 20, 2013

By: Herwinto

TERKESAN DENGAN HARIS FAUZI

Kemarin sore saya sedang mencari artikel tentang gitar di internet, secara tidak sengaja saya mendapatkan sebuah artikel tentang seseorang yang bernama Haris Fauzi pengagum YES yang menuangkan pengalamannya menyaksikan dvd Yes Keys To Ascension, sungguh tulisannya membuat saya terdiam tak berkutik ketika membacanya sebab sungguh apa yang dirasakan oleh seorang Haris Fauzi ini benar benar terjadi juga pada saya, bahkan mungkin pada semua pecinta fanatik Yes seperti saya ini. Inilah tulisannya saya salin tanpa ada penambahan ato pengurangan……

Hampir seminggu ini malam malam saya isi dengan menonton vcd konser Yes yang bertajuk ’Keys to Ascension’ dan ‘Live from House of Blues’. Yes adalah kumpulan musisi yang sudah ber-dirgahayu ke 35. Mereka cukup tua, Steve Howe gitaris mereka sudah botak seperti kakek kakek mirip  perkusionis Jepang : Kitaro. Saya tidak akan meresensi musik dan lagu mereka. Disini saya cuma ingin berbagi rasa, bahwa menonton vcd konser mereka di televisi ukuran tanggung di rumah sudah membuat spirit saya bergetar hebat. Saya jadi lebih maklum dengan berita berita dari penonton konser mereka langsung, yang mengatakan bahwa menonton Yes bagai mendapatkan pengalaman spiritual yang maha dahsyat. Sebegitukah? Yang jelas dari dua lagu pertama di konser ‘Keys to Ascension’, ‘Siberian Khatru’ dan ‘Close to the Edge’ membuat perasaan saya benar benar morat marit. Mendengar denting gitar mendayu,menikmati olah vokal Jon Anderson yang melengking, serta kerancakan para musisi yang sedang berekspresi membuat saya deg deg-an. Perasaan ini hampir mirip ketika saya hendak berkunjung ke rumah pacar saya pertama kali. Saya sempat kirim sms ke beberapa rekan, ‘……..mereka laksana dewa turun dari langit…..’. ‘Lightning Strikes’ dan I’ve Seen All Good People’ dari konser ‘Live from House of Blues’ terus terang membuat saya ‘mabuk’. Seakan harga yang 100 ribu per vcd terlupa begitu saja. …..Peak dari segalanya adalah permainan dalam lagu ‘And You And I’. Di dua konser itu, tercantum lagu ini. Saya harus memutarnya berkali kali untuk memuaskan dahaga saya. Ending dari cerita tontonan saya adalah semalam jam 01.55 jumat dini hari menyongsong lelap saya terganggu dengan pikiran saya sendiri…….’Andai saya tidak mengerti agama saya, mungkin saya yakin bahwa ada makhluk gaib yang bernama malaikat Jon Anderson yang berpakaian putih putih membawa harpa, malaikat Steve Howe yang jarinya menari lembut mengelus senar gitar, malaikat Chris Squire yang langkahnya berdentam dentam, malaikat Rick Wakeman dengan keyboards yang tutsnya seakan berbunyi tanpa ditekan dan malaikat Alan White yang tenggelam dalam perangkat tabuhannya……..

Inilah tulisah Haris Fauzi yang membuat saya termenung….sebuah pengalaman spiritual yang langka didapatkan, mendengarkan musik Yes bagi saya bukanlah sekedar kegiatan hiburan disela sela kesibukan saya yang begitu padat, namun juga sebuah ritual rohani yang harus saya persiapkan dengan sungguh sungguh sebab saya akan mendapatkan kepuasan yang menghantarkan saya kepada sebuah semangat untuk menjalankan amanah kehidupan ini dengan sebaik baiknya…sebagaimana pesan pesan dalam Topographic Ocean…..Salam!!!!!

yes-038

Sudah 45 Tahun, Bisa Apa

May 19, 2013

Catatan: review ini dimuat di koran tempo minggu, 19 mei 2013

————————————————————————-

By: Purwanto Setiadi

cover_44535642013_r

Deep Purple, earmusic, 2013

selalu mudah untuk meragukan satu kelompok musik yang sudah berkarier sangat lama, misalnya 45 tahun seperti deep purple. pertanyaan nakal atau kritisnya, jika mereka belum juga mau pensiun dan, apalagi, hendak menerbitkan album kumpulan lagu-lagu baru: kakek-kakek ini mau bikin apa lagi setelah praktis sudah melakukan dan juga melalui segala hal?

deep purple, yang dibentuk di hetford, inggris, pada 1968, sudah berganti-ganti personel, dengan jumlah orang yang datang dan pergi terhitung cukup untuk menjadi bagian dari satu “pohon keluarga” yang rimbun–berisi informasi siapa dan ke mana saja orang-orang itu. mereka juga telah beberapa kali merevitalisasi formula musiknya. mereka sempat mati suri, sebelum bangkit, terguncang lagi, dan lalu bertahan hingga sekarang dengan jadwal masuk studio yang makin jarang–dalam sepuluh tahun belakangan mereka hanya merilis empat album; terakhir kali mereka melakukannya pada 2005.

tampaknya mereka sadar telah menempuh perjalanan luar biasa panjang serta berliku dan karena itu sengaja memilih judul album barunya, urutan ke-19 dalam diskografinya, now what!? tapi, sebenarnya, judul ini juga relevan digunakan sebagai penghormatan ketimbang indikasi tentang masa depan yang seketika suram setelah jon lord, keyboardist mereka, meninggal juli tahun lalu.

lord, lebih dari sekadar ikut mendirikan band, adalah salah satu arsitek yang ikut membangun karakter musik deep purple, lewat permainan organ hammond-nya. berkat itu, antara lain, deep purple ditabalkan sebagai satu dari the holy trinity of heavy metal. meski telah memilih pensiun dari deep purple sejak 2002, pengaruh lord tetap sulit dinafikan. dalam hal album ini, misalnya, “anda bisa merasakan spiritnya di studio dan saya pikir anda bisa mendengarnya di dalam album,” kata roger glover, sang pemain bas, seperti dikutip majalah classic rock edisi juni 2013.

maka, wajar jika kemudian, sebagaimana diterakan dalam bukletnya, mereka memang mendedikasikan album yang dirilis pada 26 april lalu ini untuk lord. “souls, having touched, are forever entwined,” demikian mereka menulis, dan kemudian menyanyikannya sebagai larik dalam above and beyond. dan mereka menggarap persembahan itu dengan energi berlipat-lipat.

mendengarkan album ini sepenuhnya kita bisa merasakan seberapa keras roger glover, ian gillan (vokal), ian paice (drum), steve morse (gitar), dan don airey (keyboard)–formasi terkini–berikhtiar; juga melihat sinyal bagaimana mereka mencurahkan segenap daya kreasi dan musikalitas yang ada sejak dari menulis lagu, mengaransemen, hingga merekamnya. setiap not, setiap kata, dan setiap detak tempo memancarkan vibrasi tentang para sahabat yang merayakan kegembiraan dan masa-masa indah bersama, semuanya seperti lepas dari aturan-aturan yang membelenggu.

lagu pertama, a simple song, memulai semua langkah memerdekakan diri itu. berbeda dari pembuka album-album deep purple sebelumnya yang selalu langsung menderu (misalnya speed king, highway star, burn, vavoom: ted the mechanic, atau any fule kno that), lagu berdurasi 4.39 menit ini diawali dengan motif petikan bas dan gitar dalam tempo orang berjalan santai dan suasana hati melankolis, dengan latar belakang sapuan lembut cymbal oleh paice yang menimbulkan kesan bunyi lonceng. vokal gillan lalu masuk, melantunkan “time, it does not matter/ but time is all we have….” baru kemudian tempo berubah cepat, seakan membawa kita menumpangi kereta roller coaster yang tengah melaju.

di menit-menit awal itu sudah sangat terasa betapa bebunyian yang kita dengar bagai keluar di satu ruang besar dan luas minim perabotan. bukan saja kesan modern sangat menonjol, melainkan juga betapa dinamisnya presentasi mereka–tapi tanpa menghapus sama sekali jejak deep purple dari masa lalu. peran bob ezrin, produser yang sudah berpengalaman antara lain dengan alice cooper, kiss, dan pink floyd sulit diabaikan di sisi produksi ini.

dengan umpan serupa itu sulit mengabaikan lagu berikut, dan berikut, dan berikutnya lagi sampai lagu kesebelas (atau kedua belas untuk versi dengan bonus track) berakhir. pada lagu kedua dan ketiga, weirdistan dan out of hand, mereka membawa semua yang ada di lagu pembuka ke tataran yang lebih tinggi. ini menjadi etalase bagi apa yang akan mereka sajikan selanjutnya. ada elemen progresif di sini. gitar morse dan keyboard airey seperti beratraksi “terjun bebas”. kadang mereka bersahut-sahutan, atau berbarengan membunyikan not yang sama (unison), ada kalanya mereka menempuh alur solo yang menggairahkan. tapi dengan takaran yang pas.

dengan takaran itu pula airey menerakan karakter permainannya: suatu kali dia membubuhkan ciri khas lord, tapi pada kali lain dia sepenuhnya menjadi dirinya sendiri, seorang pemain keyboard dengan jejak bermusik yang panjang dan berwarna-warni.

simak, misalnya, blood from a stone, lagu tentang seseorang yang menimbang-nimbang hendak melakukan kejahatan agar bisa bertahan hidup. benar jika ada yang mengatakan di sini airey mengingatkan kita pada ray manzarek dari the doors ketika, dengan organnya, dia memainkan melodi jazzy dalam riders on the storm. atau, perhatikan juga gaya emerson, lake and palmer dalam uncommon man: di lagu yang mereka akui mengambil ilham dari komposisi klasik fanfare for the common man ini kita bisa mendengar perayaan bebunyian terompet dan organ setelah intro kontemplatif yang menghanyutkan dari morse.

di semua performans berkelas pada sisi instrumen itu gillan, di usia 67, memang sulit menjadi gillan di masa jayanya pada 1970-an. jangkauan dan tenaga vokalnya telah menurun. tapi, dengan caranya, dia toh sanggup tampil mengimbangi dengan cara mentransformasikan vokalnya sebagai wahana untuk menyampaikan tema, tentang perenungan, humor, rasa puas diri, penyesalan. dalam all the time in the world, misalnya, dia menyanyikan: and so i watch the world/ go racing by, tearing up the street/ i lay back in the long grass/ take it easy and rest my feet/ don’t worry/ you know, there’s no hurry/ here we are/ with all the time in the world.

dengan semua itu, melalui album ini, deep purple menunjukkan betapa mereka tahu benar apa yang mereka masih sanggup lakukan. dan mereka mewujudkannya dengan cara-cara yang sudah mereka kenal sejak lama, tak pernah kurang tapi selalu ada lebihnya.

Brian Auger & Julie Tippets by Yess

May 18, 2013

By: Herwinto

Selamat malam semuanya, gara gara mas G memosting Brian Auger, saya ikut ikutan nimbrung menampilkan koleksi saya Brian Auger rekaman yess nomor seri 286 biar mas Hippie samsoyo ngiler karena gak punya…ha ha ha….kapokmu kapan….ini kaset saya dapatnya tanpa direncana, sebulan yang lalu saya dapat kaset yess 15 buah yang harus saya ambil 8 karena alokasi dananya memang hanya untuk 8 kaset, 3 kaset sudah jelas, masih ada 5 opsi lagi maka saya sms ke mahaguru saya mas G dan disarankan salah satunya ya Brian Auger ini, padahal saya gak mudeng blas tapi masak saya berani membangkang instruksi sang guru opo yo ra wedi kuwalat jal, nah jadi deh terambil, ternyata tidak salah juga, tuobz banget, bahkan ada lagu Beatles yang saya sukai A Day In The Life yang dimainkan dengan hammond organ wah muantab banget….kasetnya muluuuus lagi…..Tuobz pokoke…Suwun Om G….

Foto0420

“Road to Cairo” by Julie Driscoll

May 18, 2013

Thanks to Youtube!

Sungguh …saya sudah lama sekali menyukai lagu ini sejak jaman kaset kompilasi Prambors saat itu yang saya dengar. Itulah satu-satunya sumber atau media yang saya gunakan buat menikmati lagu yang sebenernya pop, namun nuansa Hammond nya membuat ulu ati ini tersayat. Siapa lagi kalau bukan perbuatan Brian Auger. Saya sendiri pernah berburu lagu ini via CD di sekitar awal 2000-an saat saya senang nagkring dan berburu CD di Duta Suara Sabang maupun Musik+ Sarinah. Namun, dari sekian banyak album Brian Auger, saya ndak juga menemukan lagu nuansamatik ini. Sore ini saya iseng di YouTubu dan mendapatkannya! Aduh ….legaaaaa….. Ini saya sedang menikmati versi live nya tahun 1969:

Tapi kalau mau lihat versi lainnya dengan bebunyian Hammond lebih nunjek lajgi, silakan yang ini:

Ulasan tentang lagu ini:

Melodinya unik dan sulit ditiru oleh orang biasa seperti saya ini. Sepertinya baru bisa ditiru oleh penyanyi atau musisi profesional. Julie Driscoll membawakan lagu ini secara totalitas dengan suara khas yang mengingatkan pada perpaduan antara suara Inga Rumpf (Frumpy, Atlantis), Roberta Flack dan Janita Haan (Babe Ruth). Gak kebayang ya, kulaitas suaranya memang prima, namun cara membawakannya santai banget …. “I know this road … I nkow this road ….hmmmmm stay in Cairo” …aduuh mak ngguweblak nggulung koming tenan aku!

Selain itu musiknya juga bagus karena Brian Auger sangat khas main Hammond nya dan sering menukik di sela-sela suara Julie Driscoll. Ada brass section juga mengantar suara Julie.

Nuansamatik jadulsonic tenan!

Saya ulangi beberapa kali Youtube ini ….terutama yang versi 1968 …karena Hammond nya nukin banget…

Salam,

G

 

 

 

“Loan Me a Dime” by Boz Scaggs

May 18, 2013

Tret kali ini adalah multi-dimensi (gaya men to nganggo istilah akademis barang!) menggabungkan indah dan nuansamatik-jadulsonicnya kaset rekaman jaman normal, Yess pulak, ada unsur membahas asal-usul sebuah musik (lagu) dan sekalian dengan kegiatan musikal seorang penikmat musik seperti kita ini. Ya namanya juga sekedar penikmat, bisanya cuman curhat tentang sebuah lagu (musik) betapa indahnya, betapa megahnya, betapa masygulnya nuansa saat mendengarkan lagu tersebut pertama kali atau apada momen tertentu. Pasti sampai di sini, temen2 langsung melambung pikirannya kemana-mana mengingat lagu-lagu yang memiliki kesan tertentu dalam salah satu titik atau tikungan hidup yang pernah dialami. Yo pow ra rek? Ngaku wae …. ha ha ha ha ha …

Judul tret ini adalah sebuah lagu yang dibawakan dan sekaligus dipopulerkan Boz Scaggs (tadinya vokalis Steve Miller band) bahkan menjadi hit di tahun 1969, dimana sebagian dari kita belum lahir, 1969. Yup! Tahun saat album yang didapuk sebagai pelopor musik prog King Crimson dirilis dengan tajuk “In The Court of Crimson King”. Kali ini kita bahas musik jenis lain: blues man ….blues! He he he he …. Prog mangkir bentar ye …. Meski pecinta prog, saya juga suka ngelangut ngguweblak kalau denger musik blues yang pas di ati. Lagu ini sejatinya adalah karya Fenton Robinson yang direkam tahun 1967 melalui label Palos. Anehnya si Boz tak mencantumkan nama Fenton Robinson di tahun 1969, maka beranglah si Fenton sehingga menjadi kasus hukum. Jadi ….ternyata masalah jiplak menjiplak itu gak hanya di Indonesia saja kawan …bahkan di negeri sono udah ada bahkan mulai tahun 1969! T.E.R.L.A.L.U. ……he he he he ….

Si Fenton Robinson merilis ulang lagu tersebut di tahun 1974 dengan label blues kondang Alligator dengan judul lagu “Somebody Loan Me a Dime”. Saya juga punya album ini dalam format kaset lisensi kualitas prima, bukan seperti biasanya …dengan seri “Blues Corner”.

Harus saya akui saya mengenal lagu ini pertama kali ya dari kaset jadul rekaman Yess seri 219 “Blues in Memory 1″ yang saya beli di Jalan Veteran, Bandung pada tanggal 7 Mei 1983, sekitar hampir dua bulan setelah album debut Marillion “Script for a Jester’s Tear” dirilis pada 14 Maret 1983. Kebayang dong…kaset ini bukan yang utama saya dengarkan saat itu karena memang saat itu saya sedang mabuk Marillion yang praktis menyita banyak waktu dalam kehidupan saya sebagai mahasiswa saat itu, sekaligus banyak memberi inspirasi. Namun sekali waktu saya setel kaset ini dimana di side B lagu pertamanya ya “Loan Me a Dime” Boz Scaggs. Keren kaset ini, side B nya cuman 3 lagu ….berarti per lagunya lebih dari 8 menit …. PROOOOOOOOGGGGG ….. Katanya kalau lagu lebih dari 8 menit itu termasuk prog …. ha ha ha ha…. definisi amburadul.

Dari kaset inilah saya kenal "Loan Me A Dime"

Dari kaset inilah saya kenal “Loan Me A Dime”

Yang versi Boz Scaggs ini memang musiknya keren banget dan cocok bagi Anda yang penyabar karena temponya diawali dengan teramat sangat lambat kemudian meningkat dalam crescendo yang menawan. Penikmat blues sejati akan menggelinjang ulu atinya karena permainan tempo super duper sabar dengan timing tunjekan notasi yang selalu pas di setiap segmennya. Uwediyaaannn!!!! Kalau Anda belum pernah dengerin lagu ini, kemana aja???? Kok berani-beraninya mampir ke blog ini kalau gak kenal lagu blues standar ini. Kira2 musiknya satu warna dengan “Too Much Thinking” nya Keef Hartley (yang main bass Gary Thain) atau agak cerdas dari “Blue Jean Blues” nya ZZ Top. Kalau dua lagu ini Anda juga gak faham, sebaiknya gak usah dilanjutkan baca tret ini …. ha ha ha ha ha… Ojok nesu yo … Bagi penggila prog, bila Anda menyukai Pink Floyd “Echoes” maka kemungkinan besar akan ngguweblak menikmati lagu ini …. Wis pokoke top lah!

Mengapa saya tulis tret ini? Ini adalah buntut dari “Perang Lagu di Udara” dengan mas Pri beberapa hari ini dimana saya sering puter lagu ini dan sengaja bolak-balik diputer yang versi live CD “Greatest Hits Live” (2004). Tadi malam bahkan saya nyetel versi yang 1969 (studio) melalui kaset Yess. Wah … dalam 3 hari ini saya sudah muter lagu ini lebih dari 10 kali. Herannya …kok ndak ada sedikit rasa bosen ya? Tahu gak? Versi live yang tahun 2004 lebih panjang dan lebih bikin ulu ati tertusuk-tusuk ndak karuan nganti dedel duwel tenan!

Versi live 2004 diawali dengan bebunyian Hammond dilanjut dengan musik masuk menggunakan piano dan Hammond sebagai pengisi. Bagian intro mengasyikkan dengan tempo sangat lambat, kira-kira satu ketukan itu saking lamanya bisa disambi bikin kopi tubruk kapulaga von Klaten, pokoke lamabt pol … Namun justru enak …mak endut-endut gitu musik nya. Baru pada menit ke 2:30 masuklah guitar yang nohok dilanjut pada 3:05 si Boz masuk dengan vokal menohok “Somebody Loan me a dime ……” yeah! Kuwerrreeeeen …. pokok top banget dah nyanyinya, rada males gitu namun justru bikin ulu ati terkoyak-koyak.

Somebody loan me a dime
I need to call my old time used to be
Somebody loan me a dime
I need to call my old time that used to be
Little girl’s been gone so long
You know it’s worrying me
Hey, it’s worrying, worrying me

Wis pokoke nikmat ..dilanjut kemudian Floydian guitar work pada menit ke 6 selama sekitar satu menit dan lanjut Boz nynayi lagi. Wuih! Tempik sorak penonton tak terelakkan. Apalagi pas Boz menerikkan “Cause now I…………cry” …..PLOK PLOK PLOK ….. “Just like a baby ……” Wuih mannnnn ….. puthul tenan atiku … Sik yo tak nggolek Power Glue arep nggathukno atiku sing puthul.

Bagian interlude yang dimulai pada menit ke 9:28 dengan aktor utama adalah pemain gitar dan sesekali dibarengi tipuan brass section sungguh membuat ati makin teriris-iris …apalagi setelah disambung abis puthul tadi. Oh my God ….. bener2 nikmat bagian ini. Dijamin yang suka Echoes bakal memuji indahnya lagu ini. Apalagi solo gitar tadi disertai dengan sayatan maut Hammond organ plus tiupan sangkakala dari pemain brass section membuat lagu ini makin megah dan tempo makin meningkat, gak bisa lagi satu ketukan dibuat nyedu kopi, wis cepet tenan …koyok wong mlayu kebelet ngising, muntub2 soale … ha ha ha ha ha …disgusting yo?

Pada tempo yang relatif cepat ini permainan gitar makin menggila utamanya di menit ke 13. Wah …makin memuncak nih, mendekati total musical orgasm. Menggelinjanglah hati ini menderita kepuasan paripurna menikmati permainan dahzyat. Dan…pada menit ke 14 tempo lambat lagi, ditutup dengan kuplet terakhir nyanyi nya si Boz. BLEZZZZZZ …Jiyan enak tenan lagu iki!!! Sik yo tak tanduk maneh ….

Puwwwwwaaaasssssszzzzzzzzzzzzzzzz…….!

Dan, …marilah kita tengok siapa yang main di versi live ini:

Boz Scaggs – vocals, Guitar
Drew Zingg – Guitar
Charles McNeal – Saxophone
Richard Armstrong – Trumpet
Jim Cox, Michael Bluestein – keyboards
Matt Bissonette – Bass instrument
John Ferraro – drums
Barbara Wilson, Ms. Mone’t – background vocals

Dan ternyata di versi studio (1969) yang main gitar Duane Allman ..pantesan nohok!

Salam,

G

Megahnya Konser Yes (3 of 10)

May 18, 2013

By: Herwinto

Foto0417

 

KEYS TO ASCENSION……BUKTI YES MASIH DIGDAYA

Setelah album Talk yang tidak sukses, Trevor Rabin keluar dan berakhirlah masa Yes Rabin…dan Yes kembali ke formasi klasik dengan line up Anderson, Howe, Wakeman, Squire dan White. Lahirlah album live and studio Keys to Ascension yang dirilis dalam dua seri, yaitu KTA 1 dan KTA 2, materi dari album KTA ini sebenarnya berisi live konser mereka di  Fremont Theatre San Luis Obispo California 1996, saya berani berpendapat bahwa jika saya hanya punya album Yes KTA saja niscaya ini sudah mencukupi apa yang kita cari dari musik Yes sebab materi live yang disajikan sungguh magis dan fantastic, bagaimana tidak jika lagu lagu yang diusung dalam 3 keping disc ini adalah lagu lagu sakti di jaman keemasan Yes dahulu, Disc 1 berisi Siberian Khatru, Close to The Edge, I’ve Seen All Good People dan Time and A Word, Disc 2 berisi And You And I, The Revealing Science of God, Going for The One, Turn of The Century dan Disc 3 berisi Amerika, Onward, Awaken, Roundabout dan Starship Trooper.

Jelas semua materi telah mewakili album album penting Yes dari mulai Yes Album hingga Tormato yang terhitung masa masa klasik symphonic, sebagaimana kebiasaan Yes dalam konser selalu menambah variasi pada lagu lagunya demikian juga pada konser di Luis Obispo inipun banyak variasi tambahan masuk seperti pada lagu Starship Trooper yang pada penutupannya Rick Wakeman bermain keyboard yang sangat menakjubkan, lagu Time And A Word pun terdengar lebih megah di tangan Howe dan Wakeman, Roundabout terdengar lebih mantab karena dimainkan seperti pada versi studionya yaitu dibuka dengan petikan gitar akustik yang membahana, dan yang hebat Onward dibuka dengan solo gitar Howe yang baru Unity yang sungguh indah memukau. Sajian panggung pun didesain dengan cerita cerita imaginativ ala Yes, Steve Howe masih seperti biasa bermain akrobatik dengan seabreg gitar yang diusung ke atas panggung untuk memuaskan penonton dengan permainan gitarnya yang khas, demikian pula Rick Wakeman dengan selusin keyboard yang mengurung tubuhnya sungguh mengasyikkan, Jon dengan gayanya yang khas sembari memainkan tamborin sungguh memuaskan pandangan mata, Yes nampaknya ingin benar benar mengobati kerinduan fansnya setelah sejak tahun 1983-1994 Yes telah terjerumus dalam hingar bingarnya musik new wave dan pop rock ditangan Trevor Rabin, sungguh Yes telah kembali ke ‘khittah’ nya sebagai band progresif sejati yang pernah melahirkan karya karya emas di tahun 70 an. KTA bagi saya adalah album pertobatan setelah Yes saya anggap ‘murtad’ sejak tahun 83 dan saya benar benar bangga dan terharu dengan jawaban Yes terhadap publik dengan melemparkan KTA ini persis seperti Yes menelorkan Drama sebagai jawaban atas kebimbangan publik bahwa Yes telah tamat di tahun 80 karena ditinggal Jon Anderson.

Lagu Awaken pun pada album live ini terdengar begitu jernih dan menggelegar yang tidak akan jenuh saya nikmati karena Awaken merupakan lagu kesukaan saya, demikian juga The Revealing benar benar mantab abis terutama pada liukan keyboard Wakeman yang merupakan puncak keindahan dan kedahsyatan lagu ini. Disamping album live Yes juga berupaya menulis album studio dan hasilnya? Dahsyat!!!! silahkan nikmati Be The One, Mind Drive dan That That Is pada album KTA ini….benar benar magis dan fantastic!! ini merupakan karya ajaib, sebab di tahun 95-96 Yes mampu menciptakan lagu seperti tahun 70 an, bahkan merupakan lagu lagu epik berdurasi diatas 18 menit, musiknya pun khas bergaya Yes lama dengan elemen elemen progresif yang menawan….Salam!!!!

Suka Duka Kaset Loak 1: Kaset Tertukar

May 17, 2013

By: Hippienov

Chapter 1: Pembukaan.

Dahulu orang membeli kaset loak boleh jadi atas dasar alasan harganya yang murah dibanding dengan kaset baru, jadi dasarnya adalah faktor ekonomi. Tapi kini keberadaan kaset loak gak bisa dianggap remeh. Di saat banyak orang (yang mengaku teknokrat) mulai melupakan media analog pemutar musik dengan dua lubang ini alias kaset, ada sekelompok intelektual yang masih mencintainya. Menurut analisa penulis kelompok ini bisa dibagi kedalam beberapa kategori:

 

1. Kaum Konservatif, yang menerima kamajuan jaman dan bisa hidup beriringan tapi setia pula dengan prinsip-prinsip yang dianutnya (punya gadget, smartphone, apple, i-phone, tablet, ipod, ipad, blackberry tapi masih hunting kaset loak di Taman Puring, Jl. Surabaya, Jatinegara, Depok, dan tempat lainnya)

 

2. Kaum Ultra-Nasionalis yang cenderung radikal teguh dengan idealismenya (sekali kaset tetap kaset!)

 

3. Kaum “Greenpeace” yang selalu sibuk menyuarakan konservasi dan preservasi terhadap alam (dalam hal ini setia mencegah dan menyelamatkan kaset dari kepunahan dengan cara rajin hunting dan beli kaset loak)

 

4. Kaum Hippies yang mengerti bahwa jaman sudah berubah tapi gak peduli dan memilih untuk hidup dalam alamnya sendiri di masa lampau alias “living in the past” (Jethro Tull,red.)  yaitu dengan gaya celana cutbray, rambut gondrong, brewok-kumis-jenggot jika punya, serta tentunya kaset jadul.

 

5. Kaum Penderita “Kasetipus Complex Syndrome” yaitu individu yang memiliki rasa cinta luar biasa besar terhadap kaset (terutama kaset jadul atau kaset pada jaman normal seperti kata Mas Gatot sang mahaguru progclaro yang genius dan humble). Hampir seluruh, kalau tidak mau dibilang semua, penghuni blog Music For Life terjangkiti sindroma yang permanen ini alias uncured atau at least “difficult to cure” (Rainbow,red.) sehingga tidak memerlukan obat-obatan tradisional maupun modern untuk mengobatinya. Satu-satunya obat yang diyakini bisa meredakan sindroma ini adalah kaset jadul dengan hunting dan membelinya di narasumber-narasumber yang tersebar di banyak tempat. Selama masih ada kaset loak, maka sehatlah kita…begitu kira-kira semboyan kaum ini.

(Penulis pun mengakui sudah tertular sindrom ini setelah rajin dan setia mengunjungi blog Music For Life sejak 2-3 tahun belakangan. Padahal sebelumnya penulis sempat menomor duakan koleksi kasetnya tergeser dengan koleksi cd, bahkan sempat terlintas untuk menjual koleksi kaset jadulnya. Tapi itu dulu, sekarang “no way, bro”…hahahaha….)

 

Apakah kaum pecinta kaset termasuk kaum proletar? Wow… tunggu dulu, seperti ditulis diatas bahwa kaset bekas/loak/jadul atau apapun sebutannya sekarang tidak bisa dianggap remeh. Dulu mungkin iya orang beli kaset loak karena alasan hemat, tapi sekarang kaset loak sudah berubah jadi komoditi yang bisa menjadi sumber penghidupan. Untuk item tertentu harga kaset loak bisa menyamai harga atau ada yang lebih tinggi dari harga cd musik artis musik lokal loh… Bahkan pada suatu saat penulis pernah ditawari kaset sebuah band lokal legendaris yang super-duper langka kasetnya dengan harga fantastis Rp 1.000.000,- (WOW!)

Kaset loak sekarang diburu/dicari dengan bukan lagi dengan alasan murahnya tapi lebih pada alasan nostalgia, pride (rasa bangga jika bisa ketemu kaset yang sudah tergolong langka), koleksi dan alasan-alasan lain yang tergantung dari kategori “kaum” apa sang “hunter” tersebut.

 

Chapter 2: Suka Duka.

Membeli kaset loak memang sarat dengan kenikmatan yang hanya bisa dijelaskan oleh masing-masing individu dan terasa sangat private serta terkait dengan emosi masing-masing individu. Untuk kebanyakan orang mungkin terasa aneh dan gak nalar, “lah wong sekarang tinggal browsing , “click” dan dapet deh lagu-lagu yang kita cari. kok masih mau repot nongkrong ngoprek tumpukan/serakan kaset loak. belum tentu bagus pula kasetnya, belum lagi kalo isinya ketuker”. Memang ada benarnya juga sih, tapi sekali lagi jawabannya kembali pada kaitan emosi antara kaset yang kita kejar kemana-mana dengan pengalaman hidup individu.

(Penulis pun rajin mengejar repertoire musik lewat dunia maya bahkan telah men-donlod begitu banyak file lagu/album yang umumnya bergenre progclaro serta mengkoleksi cd pula, tapi tetap saja masih menikmati berburu kaset loak dan koprak-koprek kaset loak yang seringkali berdebu di lapak-lapak loak).

 

Tidak selalu aktivitas beli kaset loak berujung bahagia, adakalanya “apes” juga, salah satunya seperti pegalaman pribadi penulis yaitu isi kaset tertukar dengan kaset lain.

Ceritanya belum lama berselang penulis secara tidak sengaja ketemu dengan penjual kaset loak (yang cuma bisnis sampingan, bisnis utamanya servis elektronik) yang cukup (maaf) uedyan menjual kaset-kasetnya dengan harga hanya sewu-an. Singkat cerita pada suatu hari penulis membeli kaset “Sweet Memories Vo. 3″ rekaman Contessa karena tertarik dengan lagu-lagu yang masuk kompilasi itu (diantaranya ada juga nama band yang belum pernah didengar seperti World Of Oz yang ternyata cuma punya 1 album aja). Tanpa memperhatikan isi kasetnya lagi kaset langsung dibungkus dan dibawa pulang. Nah pas lagu pertama mulai kok malah “please don’t go nya KC and Sunshine Band” padahal sesuai cover harusnya “walk away nya Matt Monro”, wah ternyata isinya tertukar karena isi kasetnya adalah rekaman Aquarius bukan Contessa yang seharusnya. Tertera tulisan tangan di kaset itu “American Top Pop V”.

Duh kecewa, sebel, kesel, mau nangis tapi lucu juga campur aduk jadi satu.. Tapi ada rasa penasaran untuk coba menemukan kaset aslinya di sela-sela tumpukan kaset loak berdebu yang ada di kios servis elektronik itu. Akhirnya beberapa hari lalu niat jadi kenyataan, penulis pergi ke kios itu dengan tekad nyari kaset “sweet memories vol. 3″ yang tertukar.

Sesampai di kios sasaran langung mencari kaset dengan label “american top pop V” dengan harapan ketemu dan isinya adalah  Contessa’s sweet memories 3. Setelah lama mencari dan hampir putus asa eh gak taunya ketemu kaset berjudul American Top Pop V dan lebih surprise dan sueneng pool karena ternyata isinya pun Sweet Memories Vo. 3 dari Contessa..

Walah… bahagia banget hati ini, karena gak mungkin untuk tuker kaset ya akhirnya langsung dibungkus, cuma seribu perak saja dan bawa pulang. Rekamannya juga masih terbilang bagus gak mendem.. Lagu-lagu di American Top Pop V juga gak bisa dibilang jelek, ada “last train to london” E.L.O yang disco influenced itu. Memang lagu-lagu di kaset itu bisa dibilang berirama disco era 70an…Asik buat disko-a-go-go ala 70an, hehehe…

 

Note: foto kedua kaset terlampir, tapi foto di cover depan kaset bukan aslinya lagi. Fotonya hasil googling lalu dicetak, foto aslinya hilang divandalisme alias dipedhot orang.

 

DSC01824

 

DSC01825

 

(…to be continued…)

 

hippienov

kaset jadul n progclaro lover

a professional writer/reviewer wannabe

lives in depok

may 17, 2013

 

Perang Lagu Di Udara

May 17, 2013

JRENG!

Sebagai buntut dari pertemuan saya dengan para seniors yang mempengaruhi kehidupan musikal saya di kota kelahiran saya, Madiun, pada 4-5 Mei lalu, beberapa kali saya dan mas Pri melakukan “perang lagu”. Lha? Apa lagi ini? Singkat cerita, saat kami diskusi nuansamatik jadulsonic kami saling memperdengarkan lagu-lagu yang ada di HP kami untuk kemudian dibahas. Saat itu bergantian antara mas Pri, mas Kandar dan saya. Saya masih ingat mas Pri mempromosikan lagu “‘Til The World Ends” (Three Dog Night) sambil bilang bahwa lagu tersebut bener-bener evergreen baginya. Saat itu saya kebetulan ada lagu “Sea of Joy” (Blind Faith) yang ditebak dengan baik oleh mas Kandar dan mas Pri. Serulah diskusi tersebut.

Nah….buntut dari saling memutar lagu dari HP masing-masing (gak kebayang ya, kalau jaman dulu, musti bawa tape recorder Panasonic dan setumpuk kaset buat bisa melakukan hal yang sama), beberapa hari belakangan ini saya dan mas Pri melanjutkan “perang lagu di udara” niru Rock Di Udara nya GodBless ….ha ha ha ha … Jadi, pada malam hari saya putar lagu2 claro di BB saya dan set displaynya “Show What I am Listening To” sehingga semua orang di kontak saya bisa tahu judul lagu (tanpa suara) yang sedang saya putar. Kemudian di setiap lagu yang muncul di BB, saya bahas tentang lagu tersebut tak sebatas musiknya saja tapi juga “nuansa” ketika lagu tersebut dulu saya dengarkan termasuk dikenalnya dari rekaman apa dulu …ha ha ha ha … Seru banget. Lucunya, si penerima BBM hanya melihat judul lagu yang sedang saya putar tanpa ada audionya, namun bisa mengikuti bahasan karena kenal lagu tersebut. Ternyata ini menyenangkan sekali karena kita bisa “connect” melalui musik dan nuansa yang menemaninya.

image

Untuk melakukan hajat tersebut saya musti memasukkan lagu-lagu jadul 70an ke dalam BB saya. Banyak lagu nuansamatik, termasuk: Summertime (Brainbox), John Barleycorn (Traffic), Loan Me a Dime (Boz Scaggs), It’s The Same (Heavy Metal Kids), The History of Mistery (Triumvirat), The Duchess of Orleans (Babe Ruth), Long Time (Angel), Late Again (Stealer’s Wheel), Stranglehold (Ted Nugent), Starlight Dancer (Kayak) …dan masih banyak lagi. Lagu2 tersebut unumnya saya kenal dari mendengarkan radio 234 (Dji Sam Soe) asuhan mas Pri saat di Madiun dulu.

Perang Lagu Di Udara itu dulu pernah saya lakukan juga di Madiun, yaitu adu koleksi kaset antara dua pemancar. Saya masih ingat sekali, pemancar kami, TS-BC beradu dengan pemancar Dumex, dua-duanya pemancar gelap. Cara perangnya adalah: salah satu pemancar memutar lagu yang menurutnya unik kemudian pemancar lainnya memasang juga bila punya. Kalau gak punya, berarti skor 1-0. Ha ha ha ha … Lucu banget …. Masih ingat saya, kaset Refugee (Patrick Moraz) dan Triumvirat “Spartacus” menjadi gacoan kami … ha ha ha ha … Norax beybeh …!!!

Tapi kembali dengan kisah utama tret ini: saya menikmati perang lagu di udara via BlackBerry dengan mas Pri antara Jakarta dan Malang … ha ha ha ha ha …. onok2 wae …. Nyetel lagu tanpa suara …gemblung ra?

Hidup jaman normal!!!!

Salam,

G

Upeti Hari Ini

May 17, 2013

Catatan Redaksi:
Tulisan ini diterima 16 Mei 2013 tanpa foto sehingga tertunda pemuatannya. Namun karena sampai saat ini belum ada tanda-tanda foto diterima di meja redaksi, maka diputuskan segera tayang supaya beritanya tidak basi. (Red.)

—–

Oleh: Dr. Arief Apec Bakhtiar

Assalammualaikum,wr,wb
Selamat siang rekan-rekan semua, berbicara mengenai maraknya jagad perkasetan akhir-akhir ini, sungguh beruntunglah rekan semua yang tinggal di Jakarta atau Bandung, krn masih banyak lapak atau pedagang yang menggelar barang yang bisa dijarah..Lain dengan kita yang ada diluar dua kota tersebut. Di Surabaya sampai 4 tahun lalu masih lumayan ramai, namun saat ini sepi lapak. Umumnya mereka membuka lapak baru di jejaring sosial yang makin lama semakin ramai sepertinya. Saya sendiri beberapakali juga mendapatkan barang dari lapak maya tersebut. Namun, ada keasyikan tersendiri saat kita memilah-milah kaset yang dijajar berderet di lapak atau hanya sekedar digelar di lantai, bahkan bisa hingga berjam-jam. Bahkan sampai ditawari minum oleh sang pedagang kalo kita sudah kenal baik.

Bagi saya sendiri, 3 tahun terakhir ini kalo dapat kaset baru (tapi bekas) hanya tinggal menunggu kabar dari seorang Kolekdol terkenal, Cak Zaenal, yg sering saya sebut namanya karena beliau merupakan sumber kaset utama saya dari surabaya. Enaknya, barang dari beliau sungguh terjamin, dan jika memang rusak, boleh dikembalikan dan akan diganti dengan barang yang sama kalo memang dapat barangnya lagi. Enaknya lagi, beliau sdh hampir tahu selera dan kaset apa yang belum saya miliki. Nah, satu hari kemarin beliau kirim sms yang isinya cukup singkat,” kapan iso mrene?” (Kapan bisa kesini?), lgs saja saya jawab, besok pagi sebelum ke RS..pasti sdh ada barang yang siap diangkut

Nah, inilah gambar jarahan yg siap saya angkut, ada beberapa kaset YESS dan banyak rekaman Aquarius Private Collection. Dan yang bikin enak lagi, regane murah. Kaset Yess cuma dihargai 12 rb, lalu private collection dijual 5000 an.Lalu ada sekitar 30kaset berupa kompilasi, album2 the best , jazz, kaset indonesia  dan  2 album solo phill Collins yang hanya dihargai 2 RIBU rupiah dengan kondisi yg mantab layak koleksi.
Yang unik lagi ada satu set (sekitar 8 kaset) serial yang berisi  efek -efek suara  rekaman yang sepertinya untuk mendukung suatu drama atau theatre. isinya berupa suara air terjun, suara kicau burung, suara mesin pabrik, suara pesawat terbang, suara bunyi mesin mobil dan masih banyak lagi.. Bukan masalah isinya apa, tapi lihat kaset yang setipe dipasang berjejer, rasanya sudah membuat hati senang..

??????????

 

 

??????????

 

??????????

 

??????????

 

Salam
Apec


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 69 other followers