Eric Burdon & The Animals “The Twain Shall Meet”

April 23, 2014

Budi Putra

AnimalsTwainShallMeet

Bagi penggemar classic rock tentu tidak asing dengan hits “The House of the Rising Sun”, “San Franciscan Nights”, atau “When I Was Young”. Tapi di album The Twain Shall Meet, Eric Burdon & The Animals kita juga akan menemui nomor-nomor yang tak kalah menariknya seperti “Monterey”, “Sky Pilot” atau “Anything”. Bahkan boleh dibilang untuk album mereka kali ini komposisi musik yang mereka mainkan terdengar lebih unik dan berbeda.

Album The Twain Shall Meet yang dirilis pada tahun 1968 oleh MGM Records, memang terdengar lebih unik dan berbeda bila dibandingkan dengan album mereka yang lainnya. The Twain, sepertinya bisa dikategorikan sebagai album yang tidak hanya masuk dalam kategori genre psikedelik rock tapi unsur rock progresif juga melengkapi dan menambah keunikan album ini—walau tidak dengan durasi yang panjang. Sebab memasukkan instrumen musik seperti sitar, fluetes, horns, dan unsur etnik lainnya, menjadikan album ini lebih kaya akan komposisi musiknya. Soal itu bisa kita temui pada nomor pembuka “Monterey” yang diawali dengan petikan sitar tempo sedang lantas bersahutan dengan lengkingan gitar yang kemudian ditingkahi vokal Eric Burdon yang berat dan muram khas sound musik era psikedelik yang biasa kita dengarkan lewat The Yard Bird atau Cream.

Sementara lagu “All Is One” aroma psikedelik yang disisipi sentuhan rock progresif melalui petikan sitar, oboes, horns, dan flutes dibuat dalam kerangka mengambil tempo musik dansa Zorba dari Yunani. Mengenai lagu ini, apresiasi disampaikan pengamat musik Bruce Elder (Allmusic) yang mengatakan bahwa “All is One” merupakan lagu yang unik dalam sejarah musik pop. Lagu ini kaya dengan bebunyian dari berbagai jenis alat musik modern dan tradisional sehingga menghasilkan nada/irama musik yang terdengar unik namun magis.

Pada sisi vokal saya kerap menyandingkan karakter vokal Eric Burdon yang terdengar seperti perpaduan antara vokal yang dimiliki Jim Morrison dan Mick Jagger. Mengenai itu dapat kita dengarkan “Closer to the Truth”, maka seperti teriakan Jim saat ia menyanyikan nomor “LA. Woman”. Atau bisa kita dengarkan juga nomor “Anything” (single version), juga akan terasa alunan merdu nomor “Lady Jane” milik The Rolling Stones namun dinyanyikan Burdon dengan versi yang mid-tempo. Alhasil sungguh dahsyat peleburan komposisi musik antara acid rock ala The Doors dengan Rolling Stones yang blues rock—seperti konsep musik The Animals yang menggabungkan unsur blues rock Inggris dengan rock n roll Amerika.

Mendengarkan nomor-nomor klimaks di album ini tak dipungkiri seolah angan ingin melayang pada kehiruk-pikukan era psikedelik dengan ikonnya seperti Janis Joplin, Jefferson Airplane, The Kinks, The Byrds, dan Grateful Dead, atau Jimi Hendrix yang tengah meramaikan perhelatan Woodstock yang legendaris itu.

Secara keluruhan materi lagu pada album ini sungguh menarik untuk kita dengarkan, mengingat karya-karya The Animals/Eric Burdon yang tidak terlalu merajai pentas rock dunia kala itu dibandingkan dengan The Rolling Stones, The Doors, atau band lainnya era 60-an, tapi memiliki kualitas musik yang tak kalah dengan band-band tersebut. Di samping itu komposisi musik yang lebih beragam pada album ini setidaknya membuat album ini memilki keunikan dan kelebihan tersendiri.

Akhir kata selamat menikmati album ini dan untuk rekan_rekan blog gemblung semoga terhibur dengan ulasan ringkas ini, serta tak ketinggalan untuk mas Gatot matur suwun sudah memposting ulasan ini.
Salam

Track Listings:

1 Monterey
2 Just The Thought
3 Closer To The Truth
4 No Self Pity
5 Orange & Red Beams
6 Sky Pilot
7 We Love You Lil
8 All Is One
9 Sky Pilot Part 1 (Single Version) (Bonus Track)
10 Sky Pilot Part 2 (Single Version) (Bonus Track)
11 Monterey (Single Version) (Bonus Track)
12 Anything (Single Version) (Bonus Track)
13 Its All Meat (Single Version) (Bonus Track)

Personel:

Eric Burdon – Vocals
John Weider – Guitar, violin
Vic Briggs – Guitar
Danny McCulloch – Bass, vocals on “Just the Thought” and “Orange and Red Beams”
Barry Jenkins – Drums

 

Koran Tempo Minggu Membahas Kaset

April 22, 2014

Pagi ini saya terima beberapa foto dari mas GT yang intinya tentang hal di atas. Untuk detilnya,  silakan mas GT uraikan ya …soalnya saya gak baca korannya.

Suwun sanget

image

-

image

-

image

-

CD Kompilasi Europe

April 22, 2014

Hippienov

europe-carricature

Berawal dari iseng-iseng nge-burn mp3 Europe album “wings of tomorrow” dan ternyata album ini menurutku lebih keren dibanding album “the final countdown”. Kenapa aku bilang keren? Karena di album ini musik Europe masih terlihat garang dengan heavy metalnya, malah sering aku dengar permainan double bass drum di banyak lagu, suatu hal yang sepertinya tidak aku dengar di album selanjutnya. Memang secara komersil album “wings” pastinya kalah dibandingkan album “countdown” tapi secara musikal aku lebih suka album “wings”.

Selanjutnya aku terpikir untuk membuat kompilasi lagu-lagu Europe yang aku suka dan aku coba untuk sedikit berbeda dalam pemilihan lagunya agar gak “mainstream” dengan kompilasi “the best of” atau “greatest hits” Europe era lisensi yang ada di pasaran. Ide awalnya memang keren dan revolusioner namun dalam prakteknya ternyata dari dari total 19 lagu yang masuk kompilasi tidak resmi ini, 12 diantaranya merupakan nomor-nomor yang lazim muncul di kompilasi resmi Europe dan hanya 7 diantaranya yang selama ini jarang atau nyaris tidak pernah muncul. Ide awalku yang maunya breakthrough nyatanya harus kompromi juga dengan faktor selera dan aku akui seleraku ternyata masih tergolong mainstream karena lebih dari 50% lagu-lagu yang terpilih masuk kompilasi abal-abal ini dengan mudah kita jumpai di cd atau kaset authorized compilation of Europe.
Berikut playlist nya, fellas:

1. Halfway to heaven;
2. Prisoners in paradise;
3. On broken wings;
4. Tomorrow;
5. Superstitious;
6. Scream of anger;
7. I’ll cry for you;
8. Open your heart;
9. Aphasia;
10. Ready or not;
11. Wings of tomorrow;
12. Carrie;
13. Dance the night away;
14. Wasted time;
15. Seven doors hotel;
16. Dreamer;
17. Stormwind;
18. Lyin’ eyes;
19. The final countdown.

Judul kompilasi ini cukup panjang “Prisoners in Paradise… Halfway to Heaven: A Journey of EUROPE” dan jujur saat pemilihan judul ada faktor sentimental pribadi yang berperan karena sepertinya kalau sedang dalam kondisi biasa-biasa saja and nothing’s going on aku gak akan kepikiran dengan judul yang panjang kayak gitu.
Banyak nomor dari album “wings of tomorrow” yang terpilih masuk kompilasi dan lainnya aku ambil mulai dari album “europe-the final countdown-out of this world dan prisoners in paradise” termasuk judul kompilasi yang diambil dari 2 lagu di album “prisoners”.

Kalau diperhatikan secara teliti maka album ini punya rumusan dalam track ordernya yang sengaja aku buat demikian yaitu 3:1 (tiga lagu bernuansa rock dan setelah itu 1 lagu balada, kemudian kembali lagi dengan 3 lagu berikutnya yang bertempo cepat disusul 1 lagu balada). Rumusan ini berulang selama running time namun setelah tiga nomor terakhir aku gak bisa memasukkan 1 lagu balada terakhir karena kapasitas cd sudah full nyaris 80 menit kurang beberapa belas detik saja.

Semoga tulisan ini bisa meramaikan topik di blog yang kian hari kian marak dan sangat beragam topiknya yang semuanya top markotop.
Matursuwun Mas G untuk waktu dan kesempatan yang diberikan serta selalu terima kasih untuk semua yang telah sudi mampir membaca postingan gemblung ini.

We’re just prisoners in paradise…
hippienov

europe-carricature.jpg

 

Berkah Record Sore Day di Solo

April 22, 2014

Andria Sonhedi

seperti yg saya ceritakan sebelumnya bahwa tanggal 20 April kmarin saya mengunjungi Record Store Day di Lokananta Solo. tadinya saya cukup puas cuma beli cd saja, maklum harga kaset2 seken baik yg non royalty atau royalty kemahalan utk saya.

kl dibandingkan dengan hasil perburuan saya di pasar Magetan beberapa minggu sebelumnya harganya jelas sangat jauh. kemarin dulu 7 kaset itu beragam jenis cuma sekitar 55 ribu. termasuk juga Gino Vanelli yg sering2 disebut pak gatot bisa membuat ngguweblak itu.

saat bolak-balik mencari “harta terpendam” dari masing2 lapak di Lokananta saya lihat di tempat pak Catur ada orang yg sedang melihat-lihat kaset Led Zeppelin-Remasters dan Rush – Chronicle. yang membuat saya tertarik sekali lagi adalah harganya :D masing2 cuma dibandrol Rp. 15.000. setelah orang yg megang2 kaset pergi segera saya lihat kasetnya.
sebelumnya di jaman dahulu kala, saya pernah dapat LZ Remasters cuma kaset 2. yang kaset 1 nya entah kok tdk dijual mungkin karena lagunya bagus2 utk selera umum. untungnya saya dapat juga suatu saat cd LZ Remasters shg saya merasa tak bersedih cuma punya kset separo saja.
Saya juga pernah dapat kaset Rush-Chronicle kaset 1 di Bringharjo, mgkn tahun lalu.  kebalikan dgn LZ utk kaset 1 malah lagu2 awal Rush yang memang saya sukai. cuma khusus utk Rush saya saat itu masih ragu2 apa saya sudah punya apa belum. maklum saat2 ini saya suka lupa kaset2 yang saya beli gara2 cuma untuk mengkoleksi aja :) tapi kl yang LZ saya sudah yuakin kl yg dijual di pak Catur mmg belum punya. akhirnya langsung saya bayar, ditawar juga tak mungkin, lalu setelah itu saya baru ingat kl tadi sebenarnya mau ngajak makan pak Win dan anaknya :D demikianlah sihir kaset bisa melupakan tamu agung yg harusnya saya ajak nongkrong utk bernostalgia grup2 masa lalu.
selama perjalanan saya ganti kaset the best Gino Vanelli yg pas saya berangkat saya bawa, bersama kaset Yngwie & OST Spawn. saat saya nyetel Rush saya berdoa supaya kaset ini benar2 belum punya. saya baru sampai rumah Magetan pas maghrib. setelah mandi dan shalat saya segera mencari kaset Rush- Chronicle dan mmg benar kaset ini kaset yang saya cari. Alhamdulillah  :)
gw-lz
-
gw-mgt
-

 

Record Store Day di Solo bersama Koh Win

April 21, 2014

Andria Sonhedi

image

akhirnya saya bertemu juga dengan salah satu sosok legendaris di blog pak gatot. siapa lagi kl bukan pak Herwinto atau yg terkenal di blog ini dgn sebutan Koh Win. memang sejak hari minggu pagi 20 April saya sdh meng-e mail pak gatot utk minta no HP pak Win agar pas di Lokananta, tempat lokasi Record Store Day Solo, bisa mudah ketemu. berdasar pengalaman awal tahun lalu yg terlalu cepat datang ke lokananta maka kali ini saya berangkat siang dari magetan. kebetulan ini 3 hari libur maka suasana lalu lintas di Sarangan, Tawang Mangu & Solo lumayan padat. saya sampai ke Lokanta baru jam 12.15. hampir saja saya kecewa krn tak ada kegiatan di halaman Lokananta, tapi beda dgn yg pertama dulu kali ini acara dilaksanakan di halaman dalam gedung. kebanyakan yg jual anak muda, dgn andalan jualan CD dan kaset grup lokal. saya ketemu lagi dgn pak Catur yg segera mengenali saya. pak catur selain jualan kaset, dan vinyl beliau juga jualan majalah lama bahkan puteran utk menggulung kaset dijualnya juga (Rp 40.000). ternyata pak win mmg belum tiba, kira2 10 menit kemudian beliau muncul. sebagai fans Yes jelas kaos yg dipakai juga ada logo Yes-nya.

image

-

image

kami lalu keliling bersama, anak pak Win ikut juga, sayangnya mmg tak ada rekaman prog yg dijual. saya akhirnya cuma ambil 5 cd: Arch Enemy, Machine Head, Santenced, Helloween, dan Europe. maklum, harga kaset lama malah sama dgn cd seken, saya milih cd aja. sayangnya lagi saya & pak Win tak bisa berjumpa terlalu lama, krn anak beliau besok ujian maka beliau pamit dulu. kami mmg sempat ngobrol ttg Yes & Genesis serta cd mp3 saya yg ternyata blm pernah dijumpai pak Win. sebelum pulang tentu saja kami foto di ruang pamer Lokananta dan tentu saja berfoto dgn tokoh senior di acara ini: pak Catur tentunya. sangking senengnya lihat cd & kaset saya malah lupa ngajak pak Win makan siang, baru tak lama setelah kami berpisah saya baru ingat :D mungkin lain pertemuan kami bisa makan kata pak Win lewat SMS. terima kasih pak Win, insya Allah kl lewat Klaten saya usahakan mapir ke rumah njenengan.

–evil has no boundaries

Musik Yes di Ambang Senja (9 of 10)

April 21, 2014

Herwinto

image

Saya Benci Kompilasi Ini !!!

Inilah contoh kompilasi yang tidak saya sukai, kenapa?? karena kompilasi ini sungguh tidak adil, dan mempunyai kesalahan kesalahan yang fatal. Mari kita tengok daftar pilihan lagunya, untuk album Yes dipilih Survival dan album Time And A Word dipilih Then, okelah ini bisa saya terima bahkan cukup, selanjutnya album The Yes Album dipilih Your’s Is No Disgrace, I’ve Seen All Good People dan Starship Trooper ini sangat tepat, album Fragile dipilih Roundabout, Heart Of The Sunrise dan Long Distance Runaround bagi saya ini good!!

Setelah masuk album Close To The Edge yang dipilih adalah Siberian Khatru dan And You And I, disini saya mulai tidak sreg, kenapa? karena bagi saya album ini sangat excellent artinya ketiga lagu harus masuk, kalaupun harus perwakilan maka Close To The Edge harus dipilih dengan asumsi waktu untuk Siberian dan And You And I sama dengan waktu Close To The Edge, meninggalkan Close To The Edge dalam kompilasi Yes adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal.

Album Topographic dipilih Ritual, okelah mungkin ini cukup meskipun saya lebih sreg The Revealing, tapi tidak mengapa toh bobotnya sama. Ketika sampai album Relayer sungguh menyedihkan karena kompilasi ini hanya mencomot single edit dari Soon, waduuuh….meninggalkan epik Gates of Dellirium dari Yes adalah tindakan yang tak termaafkan lagi bagi saya….

Menginjak album Going For The One kompilasi ini selamat dari ketergelinciran sebab memilih Going For The One, Wonderous Stories dan Awaken, coba kalau Awaken ditinggal…album selanjutnya Tormato kompilasi ini memilih Dont Kill The Whale sebuah pilihan yang benar!! Pada album Drama dipilih Tempus Fugit, okelah tapi sebenarnya Machine Messiah harus disertakan karena ini essensial, untuk menggantikan nomor nomor yang justru tidak penting yang akan saya sebutkan nanti.

Album 90125 dipilih Owner of A Lonely Heart yang bagi saya ini penting dilihat dari sisi berjasanya lagu ini bagi Yes tapi mestinya cukup ini saja tidak perlu memasukkan Leave It dan It Can Happen, untuk album Big Generator mestinya tidak usah dipilih, kalau alasannya tiap album harus ada perwakilannya kenapa pada album Keys To Ascension tak ada satupun lagu yang masuk? padahal semua keren!!. Untuk Union dipilih Lift Me Up ini menurut saya pertimbangan hit, mestinya justru Angkor Wat apa Without Hope You Cannot Start The Day….he he he maksa banget…..

Talk dipilih I am Calling, mestinya Endless Dream lah karena inilah karya brilliant Mr Trevor Rabin yang Yes banget….Open Your Eyes tak ada yang dipilih Alhamdulillah……The Ladder dipilih Homeworld…bagus!!! tapi kesalahan cukup fatal terjadi lagi karena tak satupun lagu Keys dipilih padahal inilah album yang benar benar prog asli Yes….mungkin ada yang protes begini ”wah kalau lagu lagu panjang selalu dimasukkan tak mungkin lah”…yah lebih baik ga usah bikin kompilasi..nikmati aja per album…itulah yang keren…demikianlah kesan saya terhadap kompilasi ini,… pantesan saja mas GW di prog archieve hanya memberi satu bintang…mesakke temen…he he he…

Musik Yes di Ambang Senja (8 of 10)

April 21, 2014

Herwinto

Topography : The Yes Anthology

Saya tidak pernah tertarik membeli CD kompilasi dari grup progresif, apalagi grup seperti Yes, alasannya adalah bahwa sungguh susah menyusun sebuah kompilasi dari grup yang memiliki karya karya yang fenomenal apalagi terbiasa menelorkan karya karya epic yang panjang panjang, bila kompilasi identik dengan karya karya yang bagus sementara dalam memilih dibatasi oleh durasi waktu maka jelas yang akhirnya muncul bukan karya yang benar benar esensial namun justru yang easy listening atau hit radio. Contoh ini terjadi pada kompilasi Genesis Turn It On Again yang benar benar njelehi itu (membosankan). Namun ada juga kompilasi yang benar benar keren yakni Scanning The Greenhouse nya The Flower Kings mungkin karena kompilasi ini yang menyusun Roine Stolt sendiri ya….

Pada tahun 2011 saya kok tiba tertarik membeli kompilasi dari Yes yang waktu itu secara tidak terduga saya lihat di Popeye Jogja, kompilasi itu adalah Topography : The Yes Anthology yang langsung saya beli saat itu, ada dua alasan saya waktu itu mengambil kompilasi ini, pertama kovernya benar benar menarik saya, sungguh keren dengan warna redup hijau agak kebiruan terasa kesejukan ketika memandangnya, dengan gambar batu batu mengapung. Kedua, isi kompilasi ini menurut saya adalah mendekati ideal sebab nomor yang dipilih bisa mewakili sound Yes yang esensial meski ada nomor yang jelek yang justru berada di track 01, nomor nomor yang dipilih diambil dari rentang album The Yes Album hingga Magnification. Setidaknya ini bisa memberikan rangkuman gambaran warna musik Yes yang sesungguhnya.

Track List -Open Your Eyes -Your Is No Disgrace (Live) -I’ve Seen All Good People (Live) -Homeworld -Close To The Edge -And You And I -Excerpts from Tales from Topographic Oceans The Revealing Science of God, The Remembering, The Ancient, Ritual (Steve Howe Solo) -Gates of Delirium -To Be Over (Steve Howe Solo) -Awaken -Cinema -Owner of A Lonely Heart -In The Presence Of -Roundabout

Grass Rock: “Yes Asal Surabaya”

April 20, 2014

Budi Putra

image

Pada tahun 80-an setidaknya menjadi tonggak sejarah kebangkitan musik rock tanah air. Hal ini tidak lepas dari peran Log Zhelebour, promotor musik asal Surabaya yang menggelar pentas Djarum Super Rock Festival. Dari pentas ini sejumlah grup band bermunculan. Sebut saja Elpamas, Rudal, Power Metal, Roxx, Kaisar, Boomerang, dll. Di antara band yang muncul dari ajang ini, Grass Rock, merupakan band yang cukup menarik perhatian penggemar musik rock di tanah air.

Grass Rock dibentuk di Surabaya pada tahun 1984. Band ini diperkuat oleh Hari (vokal), Mando (kibor), Harto (gitar), Yudhie (bas), dan Rere (drum). Awalnya, band ini bila manggung kerap mengusung lagu-lagu milik Yes, sehingga sering dijuluki sebagai Yes-nya Indonesia. Di tahun yang sama terbentuknya band mereka kemudian mengikuti festival rock tapi gagal menjadi juara. Lantas, pada 1985 Grass Rock kembali mengikuti Djarum Super Rock Festival, kali ini mereka beruntung memperoleh juara ketiga dan Rere memperoleh gelar The Best Drumer. Pada tahun 1986 Grass Rock kembali mengikuti Djarum Super Rock Festival, dengan Zulkarnaen sebagai vokalis, dan kali ini mereka berhasil menyabet Juara pertama. Sedangkan Rere kembali memperoleh gelar The Best Drumer. Tak hanya sampai disitu pada 1987 mereka ikut festival lagi dan kembali memperoleh Juara pertama dan The Best Drumer, ditambah Mando memperoleh gelar The Best Keyboard. Buah dari perhelatan itu Grass Rock memperoleh kesempatan dari Log Zhelebour untuk mengikuti tur 10 kota menjadi band pembuka God Bless.

Berangkat dari kesuksesan itu Grass Rock semakin dikenal publik musik rock tanah air, dan tawaran show pun makin berdatangan sehingga mereka tidak lagi mengikuti festival-festival. Kerjasama dengan Log Zhelebour pun berakhir pada tahun 1988. Karena merasa jam terbang sudah banyak mereka pun terpikir untuk membuat album. Lalu mulailah mereka membuat komposisi lagu-lagu sendiri.

Berdasarkan catatan karir bermusik yang telah mereka jalani Grass Rock sudah merilis empat album yakni Anak Rembulan (1990), Bulan Sabit (1992), Grass Rock (1994), Menembus Zaman (1999), dan satu single Rock Kemanusiaan “Prasangka”. Setelah ditinggal Dayan yang meninggal pada 1999, Grass Rock tinggal Mando (kibor), Edi Kemput (gitar), Yudi (bas), dan Rere (drum). Pada 90-an lagu yang populer dari Grass Rock adalah “Peterson” (Anak Rembulan), “Bersamamu”, dan “Gadis Tersesat”.

Grass Rock pada awal 2009 bergerak kembali. Dua personel muda mereka gandeng, Hans Sinjal dan Ersta Strya Nugraha. Hans menggantikan Dayan, sedangkan Ersta menjadi pemain bas karena Yudhi dalam kondisi kesehatan yang tidak memungkinkannya untuk bermain musik. Namun kemunculan Grass Rock memang tidaklah mudah karena saat itu nama mereka juga mulai redup. Di samping itu perkembangan industri musik tanah air semakin pesat dengan banyak bermunculan artis/band baru yang lebih menjanjikan dan layak jual.

Kini, setelah ditinggalkan Yudhi yang meninggal karena sakit yang dideritanya, Grass Rock masih digawangi oleh Hans Sinjal (vokal), Edi Kemput (gitar), Rere Reza (drum), Mando (keyboard) dan Ersta Satrya Nugraha (bas). Untuk saat ini tak terdengar lagi kiprah mereka dipentas musik rock tanah air baik dalam pentas panggung rock maupun album rekaman.

Demikian tulisan ringkas ini semoga bisa menghibur rekan-rekan blog gemblung semua, dan untuk mas Gatot terimakasih sudah mempostingnya.

Musik Yes di Ambang Senja (7 of 10)

April 20, 2014

Herwinto

image

Harian Kompas Yang Ngawur!!!

Bila teringat kisah ini saya benar benar ndongkol puol !!! Bagaimana tidak ndongkol, lha wong harian Kompas menyebut album Fly From Here jauh lebih bagus daripada Drama, ya jelas saya gak terima !!! Memang membeli album baru dari artis yang pernah berjaya dimasa lalu adalah suatu hal yang bersifat spekulasi, makanya saya gak mau beli album Fly From Here dulu meski saya cinta berat dengan Yes karena saya trauma dengan Open Your Eyes.

Saat itu harian Kompas membahas peluncuran album baru Yes dengan formasi seperti formasi Drama di tahun 1980 serta menyatakan album ini lebih bagus di banding Drama, saya memang penasaran dengan pernyataan ini sebab jika benar berarti album ini benar benar keren, Eeee…lha kok ndilalah mas Hippienov malah sudah beli CD nya duluan dan email emailan dengan mas Gatot bahas album ini, gemblungnya lagi email emailan ini diposting juga sama mas Gatot,…. lengkap sudah kegemblungan blog ini…ha ha ha ha….(ayo disundul lagi mas)…dari sinilah saya tahu bahwa album ini ternyata tidak bisa disandingkan dengan Drama yang super keren itu….

Terlalu lembek, dan yang jelas mboseni puol….saya hanya mampu bertahan sampai track 2 lalu loncat ke track 8,9, 10 dan 11. Tak ada yang istimewa. Sampai sekarang saya gak pernah muter lagu lagunya, apalagi beli CD nya.

Musik Yes di Ambang Senja (6 of 10)

April 19, 2014
Herwinto
Big Generator……Waduuuuh kok Yes kayak gini?
big
Ada dua alasan mengapa album ini tidak saya masukkan di tret Indahnya Musik Yes, sementara saudara kandungnya yakni 90125 saya masukkan. Alasan pertama, 90125 adalah album yang memiliki jasa besar mempopulerkan Yes sehingga Yes memiliki pengikut dari generasi  baru yakni generasi tahun 80 an yang kemudian ikut menjelajah keindahan musik Yes di era 70 an, inilah jasa yang tidak bisa dilupakan!! dan saya sangat gembira banyak yang akhirnya kenal Yes dan menggandrungi Close To The Edge walau awalnya adalah 90125.Alasan kedua, 90125 bukanlah album yang parah karena di album tersebut terselip karya karya yang sungguh masih sangat progresif seperti Changes yang begitu indah, Cinema yang begitu ngerock serta Our Song yang begitu menawan…namun jika saya menengok Big Generator album ini tak ada lagu yang bisa saya banggakan selain Love Will Find A Way, lagu lagu yang lain sudah terlalu ngepop dan album ini dirilis di waktu yang tidak tepat sehingga kesuksesan 90125 tak bisa lagi diulang, di tahun 1987 telah banyak band band baru beraliran new wave yang lebih digandrungi anak anak muda saat itu, praktis Yes telah dilupakan.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 131 other followers