The 40-Year ProgGraphy (8 of 40)

November 21, 2014

Gatot Widayanto

Dekade I : Ribut Ritchie Blackmore Keluar

Ini memang masih periode yang campur-aduk antara prog dan rock standar karena memang kala itu bahasa umum yang dipakai di kawula muda Madiun untuk musik rock ya Deep Purple, Led Zeppelin, Black Sabbath, Bad Company dan sejenisnya. Masih jarang anak muda membahas Yes, ELP atau Genesis. Termasuk ketika suatu hari di tahun 1974 juga saya terima rekaman kaset terbaru dari album Deep Purple paling gres dengan dua pemain baru yakni David Coverdale dan Glenn Hughes. Biyuh …kala itu bahasan di Aktuil begitu gencar terkait dua orang manusia ini, dimana paling santer ya masalah Coverdale menggantikan Gillan. Di kalangan pencinta musik, Deep Purple adalah Gillan dan Blackmore sehingga kalau salah satunya pergi, maka bukan lagi Deep Purple namanya. Bagi saya yang suka musik Deep Purple karena ngerocknya, saya sih kagak ambil pusing blas. Bahkan ketika kaset rekaman mas Henky bertajuk Deep Purple “Burn” saya langsung jatuh hati,

Sailaway

Anehnya, lagu yang membuat saya suka banget sama album Burn kok malah sebuah lagu cemen bernada slow dengan tajuk Sailaway. Kok ya pas ya, hari ini pas saya gowes ke tempat kerja di speaker Divoom VoomBox saya kok mengalun “Sailaway” nya Deep Purple ini. What a coincidence! Aduh biyung …lagu ini bagi saya saat itu sungguh damai sekali karena temponya yang pelan namun riff gitarnya huwenak pol. Belum lagi gebukan drums Ian Paice dan kibor solo Jon Lord. wah …sempurna banget dah lagu ini. Jadi, kaset ini lebih sering posisi putarnya justru pada lagu Sailaway ini. Memang saya faham, tak ada penggemar DP yang menyukai lagu ini karena memang gak top blas. Tapi ya itu ….bagi saya musik sangat personal, jadi saya gak peduli orang lain suka atau tidak.

Setelah itu saya baru menyukai beberapa lagu lainnya seperti “You Fool No One” yang drums nya sungguh dahzyat dan akhirnya baru bener2 suka “Burn” yang memang secara musikal menurut saya top banget ini lagu, tak hanya ngerock tapi juga komposisinya maut! Tak lama kemudian di Madiun sontak dengan lagu mehek2 “Soldier of Fortune” yang memang syahdu dan bagi saya jadi nuansamatik karena kaset saya rekamannya bagus sekali sehingga dentingan gitar akustiknya begitu indah masuk di telinga saya. Memang lagunya njelehi pol. Namun karena ngetop saat itu, saya jadi terpaksa ikut demi pergaulan. Padahal dari album “Stormbringer” ini saya justru paling suka lagu Stormbringer dan Lady Double Dealer. Anehnya ….beberapa saat kemudian saya suka banget sama lagu “You Can Can’t Do It Right” bahkan hingga kini. Bagus sekali groove nya lagu ini. Memang gak top sih …namun nohok banget groove nya. Apalagi kocokan gitar dan gebukan drums nya …manteb jek!

Hiruk Pikuk Ritchie

Berita paling heboh adalah ketika Aktuil mengabarkan Ritchie Blackmore hengkang dari Deep Purple. Sontak segala macam opini bertebaran di majalah Aktuil tersebut. Ingat, saat itu belum ada mbah Google sehingga opini di Aktuil begitu besar pengaruhnya. Opini yang banyak muncul adalah pengakuan bahwa tanpa Ritchie maka DP akan terpuruk karena yang mendefinisikan musik DP itu Ritchie dan Gillan. Namun masalah Gillan sudah sedikit banyak dilupakan orang mengingat Burn dan Sormbrnger bukstinya sukses, terutama Burn. Kepergian Ritchie ini heboh banget kayaknya lebih penting daripada lengsernya Presiden saja karena memang setiap hidung kawula muda saat itu pemujaan terhadap Ritchie begitu tinggi. Banyak yang mutung gak mau lagi dengerin DP setelah Ritchie cabut.

Akhirnya muncullah “Come Taste The Band” dimana pertama kali DP menggunakan gitaris BUKAN Blackmore lagi namun gitaris yang pernah kontribusi di album Billy Cobham “Spectrum” bernama Tommy Bolin. Dari album Spectrum itulah Glenn Hughes menemukan talenta Tommy Bolin sehingga diajak jam session selama 4 jam dengan DP, cocok, dan kemudian direkrut sebagai pengganti Ritchie Blackmore. Sebagai wong Mediun tulen, saya dan anak muda Madiun, hanya plonga-plongo saja ndak tahu siapa itu Tommy Bolin. Saya hanya tahu via Aktuil saja. Mas Henky tak merekamkan kaset untuk saya dari album anyar ini sehingga saya beli sendiri, kalau gak salah rekaman BASR.

Jujur dikata, saya kok malah takjub dengan album Come Taste The Band ini. Kenapa? Musiknya beda dengan tipikal musik DP selama ini dan permainan gitarnya tipis dan unik, tak menonjol seperti Ritchie, Lagu yang membuat saya bener2 JLENG jatuh hati sama album ini justru yang juga ndak terkenal: “Getting Tighter”. kenapa? Kocokan gitarnya itu lho …..!!! Mauuuuuuuuuuuuuut … JRENG TEK JRENG TENG TENG JRENG “CEK E CEK CEK E CEK” (waduh! bikin semaput jek!). Memang saya sering terkesima lagu justru dari segmen sebentar seperti:

Ngggggggg….thuing (Roundabout nya Yes)

Cek e cek cek e cek …(kocokan gitar Bolin di Getting Tighter)

Blekhuthuk blekhuthuk JRENG …(Sound Chaser nya Yes)

Blekthuk blekuthuk ….(Toccata nya ELP)

Ha ha ha ha …seru ya …seneng lagu kok gara2 CEK E CEK …CEK E CEK ….ha ha ha ha … Wis yo ben! Sing penting aku seneng!

Ternyata dari Come Taste The Band saya justru terpikat dengan sosok Bolin dan mencoba membeli kaset2 dimana dia terlibat seperti Spectrum nya Billy Cobham, atau saat di di James Gang bahkan solo albumnya “Teaser” dan “Private Eyes”. memang musiknya rada funky, tapi saya suka main gitarnya tipis.

Gak Prog Blas

Lha memang saat itu saya belum bisa mendefinisikan musik rock standar dengan yang keriting sehingga sering campur aduk dalam menikmati musik, yang penting ada rock nya meski saya juga mendengarkan lagu disko seperti BT Express (lagunya “Do It” ngetop banget dulu) atau Atlantis dengan “Friends” nya yang asik banget itu. Namun harus saya akui meski GPB (gak prog blas) musik seperti Deep Purple, led Zeppelin, Black Sabbath itu turut mewarnai jiwa prog saya saat itu. Seringkali play list saya campur aduk antara DP, Yes, ELP dan Genesis yang penting ada rock nya.

Salah satu yang membuat tahun 1975 itu “sesuatu” banget ya karena Deep Purple manggung di Jakarta. Sayang, saya gak punya duit atau sponsor yang bisa membawa saya ke Jakarta. Namun saya baca berita hebohnya melalui Aktuil. Hebat banget dah Aktuil saat itu bisa membawa DP ke Jakarta. Apalagi DP memiliki roh baru karena 7 dari 9 lagu di Come Taste The Band itu kontribusi dari Tommy Bolin termasuk “Owed to G” yang keren nyambung dengan “This Time Around”. saking sukanya saya dengan album Come Taste The Band, saya kasih empat bintang lho album ini di review saya. Salut dah buat Bolin!

Kaset saya Come Taste The Band yang rekaman BASR itu ketika kemudian saya masuk SMA termasuk kaset paling laris dipinjam teman2 saya bahkan akhirnya itu kaset raib gak tahu kemana. Hampir semua lagunya saya suka termasuk Drifter, I Need Love, You Keep on Moving. Bahkan ketika saya gowes Jakarta Bandung (2010) tema yang saya pakai adalah terinspirasi lagu DP ini “Gowes Keep on Moving” dan lagu tersebut termasuk salah satu yang saya pasang di playlist dua-jaman (setiap dua jam saya paksa istirahat, makanya playlistnya masing2 diua jam).

JRENG!
-
Pagi ini dapet kiriman berita dari mas Koni terkait konser Deep Purple di Jakarta tahun 1975 lalu:
image

-

 

 

The Moon & The Rush: Songs by Mr. Big

November 20, 2014

Hippienov

image

Halo rekan-rekan apa kabar? Cukup lama absent kirim tulisan ke blog dan baru kali ini aku kembali menulis. Tapi pas mau mulai menulis malah bingung topik apa yang akan aku sharing ya? Akhirnya aku putuskan untuk sharing tentang kompilasi lagu-lagu Mr. Big yang aku buat sekitar setahun lalu. Yah, hanya sekedar tulisan ringan untuk mencoba menghibur rekan-rekan blog semua. Semoga berkenan dan mohon dimaafkan jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

Perkenalanku dengan band rock yang bisa dibilang legendaris dan pernah meramaikan blantika musik rock era 90an ini dimulai saat aku duduk di bangku SMP/SMA. Adalah teman main satu komplek, Agus namanya, yang ngotot mempromosikan band ini kepadaku. Waktu itu aku belum tahu Mr. Big karena masih asik dengan band-band metal semisal Anthrax dan Helloween. Temanku ini cukup jeli karena yang dijadikan bahan promosi adalah lagu “addicted to that rush” serta “daddy, brother, lover, little boy” yang nge-rock banget bernuansa metal dan dijamin aku akan duduk manis menyimak. Tak lupa “to be with you” juga ditambahkan ke daftar lagu promosi temanku ini.
Dari sini aku mulai kenal dengan Mr. Big namun aku tidak benar-benar mengikuti dan malah gak pernah beli albumnya karena jaman SMA musik thrash metal, grindcore, death metal, speed metal dan berbagai genre metal lainnya lebih menarik buatku. Baru saat album “Bump Ahead” dirilis tahun 1993/1994 aku mencoba membeli dan ini adalah album Mr. Big pertama yang aku punya. Kenapa aku beli? Saat itu aku sudah kuliah dan dinasti  thrash metal mulai mengalami kemunduran inmy musical life, aku pun mulai pindah ke jalur grunge/alternative bahkan mulai melirik kembali musik classic rock era 60-70an setelah sempat ditinggalkan. Tapi aku belum nge-prog, masih satu tahu lagi (1995) aku baru mengenal prog-rock.

Singkat cerita, sekitar 1 tahun yang lalu aku ketemu cd mp3 Mr. Big di sebuah lapak mp3/dvd/cd bajakan dan dari awal aku memang sudah niatkan untuk membuat sebuah kompilasi lagu-lagu Mr. Big yang sumbernya cd mp3 bajakan itu. Sampai saat ini aku sudah membuat 3 cd kompilasi Mr. Big: 1 cd berisi lagu-lagu “balada” Mr. Big lalu 1 cd yang lain berisi lagu-lagu “rock” Mr. Big dan kompilasi yang terakhir adalah kompilasi yang aku sedang tulis sekarang.

Konsep kompilasi “The Moon & The Rush: Songs by Mr. Big” adalah sebuah kompilasi yang berisi 50% lagu-lagu balada dan 50% lagu-lagu rock dari Mr. Big, dan setelah proses seleksi aku dapatkan 9 lagu balada (track 1-9) serta 9 lagu rock (track 10-18) namun ternyata masih ada space untuk 1 lagu lagi dan akhirnya lagu “green (tinted sixties mind)” aku masukkan sebagai bonus.
Aku karang judul “the moon & the rush” untuk menggambarkan bahwa kompilasi ini tentang “balada & rock”. The moon adalah penggalan dari lagu Mr. Big “promise her the moon” yang syahdu sedangkan The rush diambil dari “addicted to that rush” yang edan itu.

Here’s the tracks list:
THE MOON:
1. Take cover.
2. Ain’t seen love like that.
3. My new religion.
4. Just take my heart.
5. To be with you.
6. Goin’ where the wind blows.
7. Nothing but love.
8. If that’s what it takes.
9. Promise her the moon.

THE RUSH:
10. Addicted to that rush.
11. Daddy, brother, lover, little boy.
12. Colorado bulldog.
13. How can you what you do.
14. Temperamental.
15. Jane Doe.
16. Mama D.
17. What’s it gonna be.
18. Trapped in toyland.

BONUS:
19. Green (tinted sixties mind)

Namun kompilasi ini tidaklah sempurna dan punya banyak kekurangan terutama dari pemilihan lagunya karena pasti ada banyak lagu-lagu apik Mr. Big yang malah terlewatkan dan tidak masuk kompilasi. 

Matursuwun Mas G atas waktu dan kesempatan yang diberikan, serta untuk rekan-rekan semua yang sudi mampir membaca tulisan ini.

A boy who dreams music,
hippienov. 

When Walkman Meets Digital Speaker

November 15, 2014

Gatot Widayanto

Apa jadinya kalau nyetel kaset jadul tapi speakernya Divoom? Muwantab jek! Sik … tak nikmati dulu ya … Liputannya via komentar aja …. ha ha ha ha …

Iseng2 nyoba kaset rekaman Aquarius namun nyambung ke Divoom Voombox digital speaker .... perbedaan generasi tiga atu empat dekade, namun asiiiik ...!!!

Iseng2 nyoba kaset rekaman Aquarius namun nyambung ke Divoom Voombox digital speaker …. perbedaan generasi tiga atu empat dekade, namun asiiiik …!!!

-

Dhung dhung dhung dhung …thet thet thet thet thratathak thak thak jreng jreng ….” …in the dead of night ….” ….”..Presto Vivace and Reprise” ….atau ….Duke’s Travel – Duke’s End ….atau “….kuru everyweek!” ..kata Peter Gabriel di The Battle of Epping Forrest …dan yang lebih penting lagi : semuanya bersumber dari suara analog, meski speakernya digital! Pow ra ngguweblak tenan jal?! How it sounds like? How it feels like? It’ something like ciak gethuk gedhank while sipping a cup of starbucks coffee ….yeaaaaaah! … Selamat malam.
image

-

The 40-Year ProgGraphy (7 of 40)

November 15, 2014

Gatot Widayanto

Dekade I : Kaset Kompilasi Made-in Mas Henky

Ini masih berkisar dekade pertama yakni antara 1974 sampai 1984. Yang saya mau ceritakan adalah saat mas Henky kuliah di UGM jurusan Ekonomi Perusahaan di tahun 1973 sampai kalau gak salah 1978 dimana saat itu rumah madiun terasa sepi karena hanya saya dan ibu saja di rumah besar tersebut. Padahal saat mas Henky sekolah SMA negeri 1 Madiun, hampir tiap malam rumah kami dipakai sebagai pos begadang temen2 nya mas Henky. mereka bener2 begadang karena sampe pagi dan bahkan ada sebagian yang tidur di kamar depan yang memang kamar mas Henky. Senang juga ketika mereka kumpul kadang terdengar suara musik rock diputar dan saya merasa nikmat bisa mendenarkan samar-samar dari kamar tengah dimana saya menemani ibu tidur. Biyuh …itu kamar berisiknya bukan main kalau sudah kumpul karena bisa puluhan orang yang datang. Di sebalah kanan rumah kami adalah kantor polisi, jadi ya aman-aman saja rasanya. Kadang mereka main gitar membawakan lagu-lagu yang saya kadang gak paham …dan akhirnya saya tahu bahwa yang dimainkan adalah “Mood For a Day” atau “The Clap” nya Yes. Atau kadang “Stairway To Heaven”. Namun setelah mas Henky kuliah pun kalau liburan, tempat kami tetep buat ngepos temen2 mas Henky itu. Yang paling jago main gitar namanya mas Kandar (fotonya pernah saya posting di blog ini).

Yang jadi topik sekarang adalah saat mas Henky kuliah tersebut. Ini paling menarik karena saat itu setiap liburan mas Henky selalu membawa satu atu dua kaset yeng merupakan kompilasi lagu-lagu yang direkam dari PH nya radio Geronimo. Banyak sekali koleksi kaset kompilasi saya saat itu dan sungguh selalu saja lagu-lagunya menarik dan menjadi perkenalan saya pada musik-musik atau band tertentu. Pertama kali saya dengar ‘Stairway To Heaven’ ya dari kaset kompilasi dan bahkan saya tak tahu itu dari album LZ ke berapa. Kalau ditanya ada berapa kaset kompilasi, jelas saya lupa. Gak semuanya kaset kompilasi sih, kadang album tertentu dari sebuah band. Namun akan saya uraikan beberapa lagu atau band yang saya ingat sekali.

  1. “I am A Man” – Chicago Transit Authority. Ini merupakan kali pertama saya kenal ada band namanya Chicago karena memang lagu ini keren banget. Satu hal yang membuat saya kepincut dengan lagu ini ya karena di tengah lagu atau interlude nya ada “kothekan” bebunyian perkusi dan drums solo yang keren banget. Kebetulan di kompilasi tersebut lagu ini merupakan yang pertama, jadi ya bolak balik saya setel karena memang keren. sampe sekarang saya masih suka lagu ini.
  2. “Smiling Faces Sometime” – Rare Earth. Lagu ini lucu pol karena ada narasi dan ketawa ketiwi yang unik sekali di bagian awalnya. Musiknya jan claro pol ….Nikmat sekali. Ini saya sambil pasang lagu ini via youtube. Lucu dah lagunya ….bikin ketawa sendiri kalau denger.
  3. “Hold Your Head Up” – Argent. Wah ini juga lagu nuansamatik pol. Sebenarnya ada beberapa lagunya yang enak dan direkam mas Henky. tapi saya gak ingat judulnya.
  4. “Nutbush City Limits” – Ike & Tina Turner. Ini lagu rock kecimpringan yang sebenernya biasa saja. namun karena nama Ike & Tina Turner sering disebut di Aktuil, maka saya ikut2an seneng juga … ha ha ha ha ..padahal jauh dari prog pol …
  5. “Woman” – Barrabas. Sebenernya saya gak faham band ini namun sering banget mas Henky merekam lagunya; saya hanya ikut2-an seneng aja, buat godeg2 ajah …
  6. “Live 73″ – Uriah Heep. Whooooaaaaa…ini kaset kesayangan terutama di lagu Gypsy dimana panjang banget dan ada solo drums dan solo kibor nan keren pol!!! Uwediyan kaset ini dulu tiap hari saya setel kuwenceng …terutama dibagia awal saat nyetem gitar dan Byron bilang “Uriah Heep …” JRENG! thak dung dung JRENG ….”Sunrise ….” whoooaaaa…menhjunjam kalbu tuwenan!!! Uwediyaaaaaannn!!!
  7. “Journey to The Center of The Earth” – Rick Wakeman. kalau ini jelas prog dan saya juga awalnya gak tahu bahwa ini adalah Wakeman karena kasetnya telanjang tanpa bungkus dan dicorekin bendera Inggris pake spidol Artline 70 …wakakakakak … saya njumbul terkesima dengan kaset ini karena kok lucu banyak ngomong selain nyanyi dan musik nguing nguing ….biyuh biyuh ….musik kok ngguwajak tenan! Saya gak nyadar ini musik siapa yang jelas tiap hari juga saya setel karena aneh dan gak lurus seperti musik rock biasanya. Gagah sekali musiknya. saya gak peduli saat itu ini musiknya siapa …pokoke paling keren ya pembukaannya yang orkestra penuh. Juga ketika narator bilang “They call the street …THE HANSBACH!!!” …JRENG!!! Biyuh biyuh …ngguwajak temenan musike!!! Bayangin …saat itu saya bocah clondo ingusan yang masih SMP klas 3 tapi disuguhi musik berkualitas prima dari wakeman. Apa gak paling nggantheng saya saat itu se Madiun? Lha mana ada cah mediun menikmati Rick Wakeman kala itu??!!! Pow gak visioner to saya? Ha ha ha ha ha ha …. Saya tuh baru ngeh ini Wakeman ketika kakak saya lainnya, mas Jokky, yang tinggal di Jakarta berlibur ke Madiun bawa kaset Prambors Hits dan ada tulisan: Journey – Rick Wakeman. Wooooooooo …..!!! Gitu to? pantesan musike nggajak tenan!
  8. “Fragile” – Yes dan “Brain salad Surgery” – ELP. Ini sudah saya ceritakan di 5 of 40.
  9. Kompilasi Shirley Basey dan Roberta Flack (lupa lagunya apa aja …tapi termsuk Never never Never … Going Going Gone ) …hahahahaha …pop pol!
  10. Osibisa yang ada lagu terlarang TNT itu …saya juga direkamin satu album penuh … “Allahu Akbar ..Bismillah …ala ala …”. tapi lagu ini dilarang karena melawan syahadtain. Astaghfirullah …saat itu saya ndak tahu dan hafal liriknya karena memang lagunya enak banget.
  11. “Yessongs” – Yes. Ini kaset keren dan direkam di pita TDK; kalau gak salah dua kaset direkamin mas Henky. mantab jaya!
  12. “Man of Miracles” – Styx. Keren nih kaset, direkam di pita Maxell dan saya langsung suka “Evil Eyes”, “A Song For Suzanne”, “Christopher Mr Christopher” …. Wah nuansamatik banget kaset ini. Untung sudah dapet versi Billboard nya dari mas Andria.

Sebenarnya masih banyak lagi kaset kompilasi tanpa judul, namun saya sudah lupa. Yang jelas semuanya merupakan perkenalan saya dengan beberapa kelompok musik. menikmati musik kompilasi itu enaknya banyak variasi dan sering gak tahu ini lagunya siapa. Hari-hari saya semakin berbunga dengan adanya kaset-kaset made-in mas Henky ini. Oh ya …selain itu mas Henky juga membawa kaset2 rekaman yang dijual di Yogyakarta saat itu:

  1. “No Earthly Connection” rekaman Pop Discotic. Opo tumon?
  2. “Flowers” Rolling Stones rekaman Aquarius hitam putih
  3. “Teaser” Tommy Bolin rekaman Aquarius hitam putih
  4. “Wish You Were Here” Pink Floyd rekaman Aquarius hitam putih
  5. “Black and Blue” Rolling Stones rekaman Perina Aquarius kuning. Mas henky seneng banget dengan lagu “Memory Motel” sedangkan saya “Fool To Cry”
  6. “Nursery Cryme” Genesis (side B nya Kayak II) rekaman Pop Discotic kuno
  7. “Six Wives of Henry VIII” Rick wakeman rekaman Aquarius hitam putih
  8. “Captain Fantastic and the Brown Dirt Cowboy” Elton John rekaman Aquarius hitam putih (ini album terbaik Elton John, menurut saya)
  9. ….lupa yang lainnya …

memang jaman normal itu indah sekali …. JRENG!

Ojok ngguyu yo ...ini foto jadul saat saya hari ketiga bidhuren (makany tembem): Saya, Ibu, mas Henky. Di belakang ada TV item putih merek Sierra ...ha ha ha ha ...tooobz!!!

Ojok ngguyu yo …ini foto jadul saat saya hari ketiga bidhuren alias alergi karena makan udang air tawar (makanya tembem): Saya, Ibu, mas Henky. Di belakang ada TV item putih merek Sierra …ha ha ha ha …tooobz!!! Ini sekitar tahun 1976 atau 1977.

-

 

 

Roundabout … Keindahan Sedalam Samudera

November 14, 2014

Herwinto

11 detik pertama yang mematikan

image

NggggggggggggggggggggggggggggggThuiiing !!!!

Itulah suara yang kita dengar pertama kali ketika memutar lagu milik Yes yang bertajuk Roundabout, 11 detik…ya hanya 11 detik, namun sungguh membuat kita terkapar orgasme padahal baru intro, luar biasa!! belum apa apa kita sudah jatuh terkapar…kadang saya harus mengulang beberapa kali hanya untuk mendapatkan bunyi ”Thuiing” yang nuansamatik sekali ini. Mungkin di kolong jagat ini hanya ada dua lagu yang intronya benar benar dahzyat dan tak bisa terulang lagi meski oleh pembuat dan pelakunya sendiri yaitu Roundabout nya Yes dan Firth of Fifth nya Genesis yang mengandung bunyi ”Dheng” di awal lagu, Genesis maupun Yes mengakuinya. Yes mengakui bahwa bunyi ”Thuiing” dari gitar akustik yang bersamaan dengan bunyi grand piano yang dimainkan secara terbalik ini adalah sebuah kebetulan yang tidak bisa diulang lagi, artinya yang bisa dilakukan Yes berikutnya adalah mencoba meniru sedekat mungkin.

Awalnya pada konser konser Yes sejak Yessongs bunyi ”Thuiing” ini dihilangkan oleh Steve Howe karena mungkin dianggap ribet dan susah, ini seperti menghilangkan grand piano pada intro Firth of Fifth karena Banks tidak mau ribet. Namun belakangan Yes mungkin sadar bahwa bunyi ”Thuiing” ini justru merupakan sesuatu yang disukai dan menjadi salah satu yang ditunggu tunggu bahkan merupakan pusat perhatian dan keindahan, sehingga akhirnya di tampilkan pada konser konser Yes, bahkan sejak tahun 2004 Steve Howe menggunakan gitar biru Variax 600 line 6 yang selalu dipajang di panggung demi memenuhi kebutuhan bunyi ”Thuiing” tersebut.

Roundabout merupakan lagu favorit saya, tak bosan bosannya saya mendengarkan lagu ini, dan bunyi ”Thuiing” tersebut selalu saya nikmati dengan serius…nikmaaaat betul..oh ya selain komposisi gitar akustik ini, hal yang juga menakjubkan adalah permainan akrobatik dari sang mpu papan kunci Mr Rick Wakeman yang memainkan seabreg kibor dengan sangat indah di sepanjang lagu dengan selusin tikungan tikungan maut yang sangat mematikan, permainannya khas bahkan sulit dicari penggantinya termasuk anaknya sendiri si Oliver Wakeman meski lumayan daripada Downes, amatilah Roundabout ini jika dimainkan dalam konser yang bukan oleh si Rick pasti kedodoran…khususnya di menit 05.51 ketika jari jari Rick mulai ngamuk..wahh tak ada yang bisa menggantikan….

Kekuatan lagu ini memang bertumpu pada kehebatan gitar dan kibor, yang membuat saya jingkrak jingkrak saking sukanya plus campur heran dan kagum adalah gitar akustik yang dipakai pada musik rock macam beginian, kalau musik rock pakai gitar listrik yang meraung raung sarat distorsi itu sih biasa!! wajar, lurus lurus saja gak nggumun saya, lha ini musik rock kok pakai gitar akustik yang bukan cuma digenjreng untuk ritem tapi dipetik dengan indah sejajar dengan kibor dengan kelincahan tingkat tinggi jemari Howe…ini menakjubkan bagi saya…aneh dan tidak umum…tapi inilah seninya…memang anggota Yes di album Fragile ini adalah para musisi terbaik saat itu seperti Steve Howe, Rick Wakeman, belum lagi penabuh drumnya Bill Bruford..benar benar mantab.

Setidaknya saya mencatat Roundabout yang dimainkan di konser dengan bunyi ”Thuiing” ada di Union Tour, ABWH live, Keys to Ascension (ini paling mantab), Live from Lyon dan konser konser setelah era 2004 termasuk di Jakarta 2012 kemarin. Salam.

image

Numpang Koh Win ... Gara2 tret ini, sore ini sama si bungsu ngopi sambil pasang nnggg....thing di divoom. He he he ... Kaos nya tapi pinjem punya mas DananG ...

-

Legenda Genesis (5/7)

November 13, 2014

Herwinto

Selling England by The Pound….Mengukir Sejarah dengan Tinta Emas

image

Membicarakan Genesis rasanya tidak afdhol jika tak menyebut Firth of Fifth, ini sudah seperti sisi mata uang, Genesis = Firth of Fifth. Lagu ini memang maha karya Genesis paling monumental, indah dan brilian, tak heran album Selling England ini menjadi album terbaik Genesis sepanjang masa. Bila kita tengok album album prog terbaik sepanjang masa akan kita dapati deretan 4 besar terbaiknya sering diduduki album Close to The Edge (Yes), Selling England by The Pound (Genesis), In The Court of The Crimson King (King Crimson), Thick as A Brick (Jethro Tull) dengan posisi selalu berganti ganti urutan, album ini memang telah menobatkan Genesis sebagai salah satu pengibar prog rock terbaik yang pernah ada.

Dancing With The Moonlight Knight sebuah pembukaan album yang luar biasa…coba cermati, ciri musik Genesis awal nampak sekali yaitu vokal masuk lebih dulu daripada musik seperti pada Looking For Someone…musik khas Genesis pun meluncur dengan nikmat, denting gitar akustik berpadu dengan kibor yang memberi kesan indah, sejuk dan teduh sebelum kemudian musik berubah menjadi enerjik dan rumit….wahh ini lagu benar benar penuh tikungan dimana mana, sepanjang lagu benar benar gak ada cacatnya apalagi di menit 03.49 musik menjadi sangat dramatis dengan bunyi latar yang menggema….mendengar lagu ini kita akan orgasme berkali kali yang berujung lempoh di akhir lagu…..disusul I Know What I Like yang menjadi single hit album ini, lagu yang unik namun enak didengar…sampai era Phil Collins lagu ini masih sering dibawakan dalam konser.

Track ketiga adalah Firth of Fifth, lagu super duper keren ini di buka dengan intro grand piano yang gagah dan megah sekali, hanya sayang Tony Banks malas membawakan dalam konser bagian ini, mungkin ribet ya…untunglah Cockpit kalau bawain lagu ini mempertahankan bagian ini sehingga bisa menghibur kerinduan fans akan keindahan intro ini. Menit demi menit bahkan detik demi detik dari lagu ini benar benar luar biasa dahzyat, bagian melotron, flute, hingga sayatan gitar Hacket yang menohok ulu hati mengaduk emosi benar benar melemparkan kita ke puncak multi orgasme yang paripurna….More Fool Me adalah jeda sejenak untuk istirahat sebelum masuk tret yang juga dahzyat The Battle  of Epping Forest…wah wah ini tret ngguwajak benar, megah dan gagah lagunya..melodinya juga nunjek….kibornya bikin gulung koming….

After The Ordeal instrumental yang sungguh indah, lagu berdurasi 04.16 ini benar benar menghanyutkan, perpaduan gitar dan kibor yang saling mengisi dengan rapat menghasilkan untaian melodi yang benar benar membunuh….padahal kita masih akan memasuki track yang lebih kurang ajar lagi yaitu The Cinema Show…ohhhh man!!! I like it!!! album ini memang kurang ajar betul…mosok dari awal kita dibikin multi orgasme terus….lempoh!!!  Saya juga suka yang versi The Flower Kings….sungguh komposisi musik yang sempurna….kaya dan penuh gizi…dari pembukaan gitar yang lembut, hingga tiupan flute di fase sunyi hingga ngamuknya Tony Bank dengan kibornya semuanya menyenangkan…Aisle of Plenty menyempurnakan keindahan album ini di bagian penutup yang menyejukkan…..Salam..

The 40-Year ProgGraphy (6 of 40)

November 13, 2014

Gatot Widayanto

Dekade I: Berdoa Agar Ada Yang Mondhok

Ini sebenarnya tak cerita musik secara langsung namun sangat terkait dengan musik pada akhirnya. Ceritanya, saya hanya hidup berdua dengan ibunda saya di rumah Madiun yang ukurannya buwesar pol …luas tanahnya aja 1000 meter persegi dan di belakangnya ada bekas lapangan tennis dan garasi mobil yang bangunannya terpisah dengan rumah utama. Memang ini rumah peninggalan jaman Belanda sehingga tuan2 londo itu dulu kalau main tennis cukup di rumah jalan Sumatera 26 (sekarang 28) ini. Halaman depan maupun belakang sama2 luasnya, bahkan lebih luas belakang. Di halaman belakang ada dua buah pohon mangga yang besar sekali dan selalu berbuah banyak. Salah satunya mangga Golek dan satunya lagi mangga Gadung. Setiap panen mangga, ibu memanggil pak Darmo yang tinggal di Desa mBagi (8 KM ke arah utara Madiun). Kalau panen mangga bener2 banyak sekali sampe berkarung-karung. Kemudian mangga tersebut diekspor ke Jakarta, ke kakak saya yang dua orang tinggal di Jakarta dan juga ke ota lain, saudara2 kita semua. tentu tanpa bayar. Bahkan ongkir ditanggung kami. Saya kebagian ngirim ke EMKA (ekspedisi muatan kereta api) atau Elteha. Ha ha ha …dua nama ini sudah jarang kita dengar lagi ya.

Meski rumahnya besar, namun kamar tidurnya hanya tiga namun ukuran raksasa semuanya…sepertinya 8 x 8 M (lupa tepatnya) dan plafonnya amat sangat tinggi pol sehingga tak ada kata “kepanasan” atau sumuk di rumah kami padahal Madiun panas bukan main. Ruang tamunya juga raksasa ada 2 ruang tamu ukurannya ya 8×8 juga. Edan lah pokoknya. Kebayang bukan, setiap hari saya ngepel lantai rumah tersebut sebelum berangkat sekolah? Dengkek tenan rek! Untung ada musik rock. Kalau ngepel saya sering ditemani In My Time of Dying nya Led Zeppelin. Gak prog tapi semangat tuh lagu. Ngerocknya bukan kepalang. Belum lagi kalau sore hari jam 4 saya musti siram2 alias menyirami tanaman bunga sedap malam, bougenville, kuping gajah yang ditanam di halaman depan dan di pot-pot ukuran raksasa di ruang tamu depan. Singkat kata, magrong2 tenan itu rumah ….bikin capek merawatnya.

Karena kelebihan space oddity di rumah kami, maka ada kalanya dua kamar kita sewakan ke orang lain . Saat itu ibu saya jeli juga membidik pasar karena targetting justru ke mereka yang sudah kerja dan hanya sementara saja tinggal di Madiun. Siapakah mereka? Mereka adalah para akuntan dari STAN yang sedang mengaudit Perhutani atau PNKA kala itu. Sekali bidik bisa dapat enam orang pada periode audit yang bisa berkisar 3 sampai 4 bulan, saya lupa. Yang jelas, mereka itu tajir2 dan gampang keluarin duit sehingga kalau ada yang kost (mondhok) saya mendadak kaya. Lho? Iya …definisi kaya bagi saya adalah bila dalam satu bulan bisa beli lebih dari satu kaset.

Suatu ketika , nilai sekolah saya lumayan bagus dan ibu senang melihatnya. Kemudian beliau nazar ke saya: “Tot….nanti kalau om2 auditor STAN itu datang, ibu akan kasih kamu hadiah enam buah kaset”. WOWWWWWWW!!! Njumbul saya! Pertama kali dalam usia remaja saya merasa “akan” mendadak kaya bila om om auditor itu ke Madiun. Horeeeee…!!! Cihuyyyyy …!!! Huraaaaaaaaaaaa….!!! Wis ..pokoke saya bungah …suweneng ngantek sikil gedruk-gedruk …. Tiap kali saya bersepeda keliling Madiun pake sepeda jengki Forever warna hijau tentara, saya selalu senandung musik prog rock …ya Roundaout ..ya Perpetual Change …ya The Return of Giant Hogweed ..pokoknya riang gembira nyanyi sekenanya, sak enak udele mbahe Sangkil pokoke ….Dibilang wong edan – yo ben. Wong gemblung – yo ben. Sing penting di benak saya adalah bayangan ENAM (sekali lagi kawan …ENAM!) buah kaset untuk saya!!! JRENG!!!

Namun …memang Tuhan itu selalu saja memberikan cobaan terlebih dahulu sebelum datangnya kebahagiaan …. Lha itu Om Om Auditor kok gak kunjung hadir di Madiun??? Kapan rek? Kapan??? Sikilku wis abuh kabeh kokehan gedruk gedruk bungah iki …. Sementara itu saya sengaja puasa mengunjungi toko kaset Miraco karena takut air liur menetes kothos kothos namun gak punya duwik buat ngebayarin. Kadang kalau sepedahan di sekitar Alun2 Madiun, saya paksakan mampir masjid Agung sambil memohon doa agar om2 itu segera hadir di Madiun demi enam buah kaset. Astaghfirullah !! Kala itu doa saya begitu “transaksional” ya? Karena ada maunya …bukan dilandasi keikhlasan … tapi ya namanya cah cilik, remaja belia …ya tahunya cumak minta ….minta …dan minta!

Jadi …memang yang paling berat ya masa penantian panjang itu …hadewwww …mana kowat saya nunggu tanpa kepastian sama sekali….. Ya Allah …kapan enam buah kaset itu kau turunkan ke bumi Madiun? Kapan??? Kapan??? Sampai akhirnya kabar baik itu datang melalui bus surat yang ada di depan rumah kami dimana Om2 itu menyatakan rencana kedatangan ke kota Madiun. Ya ….Allah …rasanya PLOOOOOOOOOONG banget! Enam buah kaset akan turun dari langit nih buat saya!!! Grupnya apa, saya gak peduli …yang penting ENAM!!!! Yeeeeeeeeeeeaaah!!

Meang ibu saya adalah orang yang paling sayang sama saya di dunia ini ….. Begitu hari “H” itu tiba, ibu langsung mengeluarkan uang Rp. 3.000,- sambil dawuh :” Iki lho leeee…ibu rak wis janji arep nukokno kaset enem …iki duwike yo ….”. Ya ampuuuuuuuun … Ini kasih sayang tulus ibu yang hidup pas2an sebagai tukang jahit memenuhi nazarnya meski duit kos2an dar Om2 belum ia terima. Masya Allah …mbrebes mili saya nulis ini, inget cinta kasih ibunda saya …Masya Allah. Alhamdulillah ya Allah ….

Langsung siang itu saya nyengklak sepeda menuju Miraco dan Duta Irama di daerah Tugu Madiun. Saya langsung beli enam kaset tersebut. Yang jelas saya ingat, salah satunya adalah Black Sabbath “Sabotage” dengan side B nya Kansas. Itulah kali pertama saya kenal Kansas terutama lagu Incomudro yang membuat saya mbrabak teringat masa lalu …. Kaset itu masih ada hingga kini dan pernah saya posting di blog gemblung.

Sebuah peristiwa yang sepertinya biasa namun sangat dahzyat bagi saya ….!!

miraco-1972

(ditulis di Corelli, tanpa kopi Corelli karena mesinnya rusak, pake kopi tubruk sebelahnya)

The 40-Year ProgGraphy (5 of 40)

November 12, 2014

Gatot Widayanto

Dekade I: “Mak Jedhandhut” Njumbul nGgumun Jumpa Musik Prog

Ini sebenarnya kisah yang tadinya sederhana sekali dimana dimulai dari pembicaraan dua orang murid SMP Negeri 1 Madiun yang saat itu menginjak kelas 2, tepatnya pada tahun 1974. Seorang teman saya yang ndhugal (nakal – red,) bernama Tjahaja Utama (apnggilannya Yayak) di sekolah memberi tahu saya bahwa ada band namanya ELP dengan lagu berjudul “Yes”. Kontan setelah sampai di rumah jalan Sumatra 26 (sekaang nomer 28 – red.) Madiun saya mengambil secarik kertas untuk menulis surat kepada kakak saya, mas Henky, yang saat itu kuliah di Fakultas Ekonomi UGM dan ngekos di Gowongan Kidul (kalau gak salah nomer 56). Isi suratnya ringkas padat, intinya saya minta direkamin lagu berjudul “Yes” dari kelompok yang menamakan dirinya ELP. Blas! Saat itu saya belum tahu makna ELP itu apa dan juga lagu berjudul “Yes” itu seperti apa.

Pas mas Henky liburan ke Madiun, benar saja dia membawakan saya sebuah kaset dengan pita Maxell “Low Noise” yang seri lama dan belum ada istilah “UD” yang isinya justru nama band YES dan lagu pertamanya “Roundabout” sedangkan side B nya band namanya ELP dengan album yang saya tak tahu apa yang jelas ada lagu yang kayak “banyu umup” (blekuthuk2 musiknya kayak air mendidih gitu ….) yang akhirnya kita semua tahu album Brain Sallad Surgery. Karena penasaran dengan lagu bertajuk “Yes” tentu saya setel band YES dulu.

Dan,,,,……bener2 “mak jedhandhut!” saya njumbul abis2an mendengarkan lagu pembuka bertajuk “Roundabout”. Biyuuuuuuuuuuh ……!!!! Musik kok ciamik cemampik kemplik cuwanntik tenan …. Mana saya pernah nyangka ada musik indah yang dimulai dengan suara “……ngggggTHING” yang khas itu. Abis itu petikan gitar akustiknya juga menawan dengan suara dawai yang sengau namun menyemburatkan ketegasan. Sungguh saya kagum dengan intronya dan belum tahu siapa saja musisi yang main, lha wong baru pertama kali denger nama Yes. Saat itu pemain gitar yang saya tahu ya cumak Ritchie Blackmore, Rory Galagher dan Marc Bolan. Dua nama yang saya sebutkan hanya saya tahu dari Aktuil, tak pernah denger musiknya kayak apa. belakangan saya tahu Marc Bolan itu gitaris dodol kecimpringan ora huwenak blasssss … ha ha ha ha … Tak hanya intronya saja dari Roundabout ini yang berhasil menohok ulu ati saya, struktur musiknya pun gak standar plus sering gonta-ganti style dan tempo. Selain gitar yang menjadi perhatian saya adalah kibor yang banyak tukikan maut dan kemudian dibalut dengan suara snare drums yang sungguh beda dari umumnya musik rock. JRENG dah! Sejak itu hatiku tertambat kepada band yang namanya YES ini. Uwediyaaaaaan ….! Bahkan Roundabout ini selalu saya senandungkan ketika berangkat atau pulang sekloah sambil jalan kaki. Ingat, jaman itu mendengarkan musik hanya bisa di rumah karena Walkman belum ditemukan, apalagi iPod.

Prejengan saya ketika lulus SMP. bayangin bocah ndesit muka kampung gini jaman dulu sudah bisa menikmati YES "Fragile" dan ELP "Brain Sallad Surgery" ... Huopppo tumoooon???!!! Cah Mediyun sisan rek! Nduwesit pol!

Prejengan saya ketika lulus SMP. bayangin bocah ndesit muka kampung gini jaman dulu sudah bisa menikmati YES “Fragile” dan ELP “Brain Sallad Surgery” … Huopppo tumoooon???!!! Cah Mediyun sisan rek! Nduwesit pol!

-

Ha ha ha ha ...mas Edi kreatip tenan ...mosok dibandingkan sama John McLaughlin ... ha ha ha ha .... (edited 13 Nov 2014, based on dab Edi Apple comment)

Ha ha ha ha …mas Edi kreatip tenan …mosok dibandingkan sama John McLaughlin … ha ha ha ha …. (edited 13 Nov 2014, based on dab Edi Apple comment)


-
image

Selain Roundabout, saya juga suka dengan Southside of The Sky yang musiknya miris banget dan terasa sangat tematik banget tuh lagu. Di bagian awal yang ada angin ribut dan kemudian drums masuk itu rasanya nuansamatik kemlitik tenan. Melodi lagunya sungguh nunjek ulu ati apalagi pas dibagian menjelang chorus dan terutama chorusnya. Wah menggelepar tenan saya dibuatnya oleh lagu aneh ini. Dalam hati saya mbatin “Hebat juga ya mas Henky tahu aja ada musik ajaib kayak gini. Apa karena dia jadi penyiar radio ya? Ah …nikmat juga kalau jadi penyiar ya, bisa setiap saat mendengarkan musik selama 24 jam dan paling duluan dapet PH nya … Ah mau jadi penyiar radio aja ah …!”. Sungguh, Yes telah nyirep saya menjadi melupakan jenis musik lainnya apapun yang ada di muka bumi. Lagunya Deep Purple kayak Woman From Tokyo atau Strange Kind of Woman atau Fools yang dulu saya gandrungi terasa seperti musik pop gak ada tantangannya blas, karena cumak lurus2 aja, tambah gitar solo, kibor solo …trus selesai. Lha? kapan musical orgasm nya? Kalau di Yes (yang baru beberapa tahun kemudian saya tahu bahwa nama albumnya “Fragile”) di setiap menit selalu ada orgasmnya lha wong nikung terus, sehingga di akhir lagu kita lempoh (loyo – red.) menderita kepuasan paripurna.

Sekolah saya semakin semangat sejak mengenal YES sehingga di kelas saya selalu mendapatkan ranking paling tidak nomer 3. Lha, apa hubungannya YES dengan prestasi sekolah? Bagi saya ya jelas ad to, lha wong kalau belajar saya selalu mendengarkan musik. Ketika dapat musik yang “menggairahkan” seperti Fragile ini, birahi saya buat beajar makin meningkat karena adrenalin dipacu terus buat selalu belajar dan belajar. Saya mulai kenal kopi tubruk di masa ini meski hanya konsumsi saat mendekati ulangan saja. Masih ingat saya, bu guru bahasa Inggris saya yang cantik sekali, namanya ibu Herawati (almarhum dan semoga beliau masuk surga – amiin …), selalu menunjuk saya untuk PR yang sulit dikerjakan oleh siswa lain. Gak rugi mendengarkan Yes karena nilai bahasa Inggris saya tergolong moncer kala itu. Ya jelas aja wong masih tarafnya dulu “This is a car. This is a comb” masih belum menyentuh Past Participle yang rumit itu … ha ha ha ha ha … Ilmu Ukur saya nilainya juga bagus dan dipuji sama Pak Bagio (alamarhum juga, semoga masuk surga. Aamiin). Aljabar? Jangan tanya …saya sempat disayang Bu Salbiyah (alhamdulillah beliau masih sehat di Madiun, usia 91 tahun, dan pernah saya ulas di artikel di sini). Wis to …pokoke prestasi sekolah gemilang gara2 prog … Gak percaya? Rugi nek ra percoyo mbek aku.

Sebenarnya, jujur saja, otak saya itu gak encer bahkan lambat von lemot kalau belajar. Namun semangat saya untuk menjadi juara sangat membara apalagi dengan kompor sumbu 48 yakni musik prog ala YES dan ELP. Wah …saya giras banget belajar dan semboyan saya adalah (gaya ya, masih kecil sudah punya visi meski ecek2 …) “ketekunan demi kesuksesan”. Kalau orang lain bisa menyerap persamaan Aljabar dalam waktu 15 menit, untuk saya perlu waktu satu jam. Artinya, saya lemot alias lemah otak. Namun alhamdulillah ada musik prog indah yang tinggal saya bolak balik saja kasetnya ping kopang kaping sampek bodhol sehingga “endurance” saya dalam belajar bisa lama sekali. Sejak SMP saya sdh biasa tidur tengah malam. Lucunya, saya belajar kalau maunya sendiri. Kalau disuruh belajar sama ibu, saya malah nonton tv karena mangkel …gak suka disuruh-suruh.

Singkat kata , bagi saya pribadi, pengaruh musik dalam kehidupan saya sangat besar sekali …makanya memang dari dulu saya sudah menerapkan “music for life” …. Bagi saya musik adalah semangat yang membara an bisa meletupkan api di dalam diri untuk meraih yang terbaik, paling tidak bagi diri saya sendiri, bukan dibandingkan dengan orang lain. Bukti nyatanya selama kelas 2 dan kelas 3 SMP saya selalu masuk dalam kelas “khusus” (kalau istilah sekarang ya akselerasi) padahal saya lemot …

Sejak Fragile, saya memburu semua hal terkait YES, termasuk Yessongs (terpesona dengan “Perpetual Change”), Relayer, Tales dan juga Rick Wakeman “Journey to the Center of The Earth”. Yang mempesona dari Perpetual Change itu kocokan gitarnya sungguh membahana jiwa (opo kuwi?). Saya rasa Perpetual Change itu judul lagu yang visioner sekali dan terbukti EMPAT PULUH TAHUN kemudian saya menjadi Change Management consultant ….he he he … Makanya “Change before you have to!” JRENG!

Salam prog,

G

No music as great as PROG

And you have to believe it, or …die!

-

Slide2

-

Genesis “The Lamb Lies Down on Broadway” (4 of 4)

November 11, 2014

Herwinto

Kaget dengan The Lamia…..

image

Mohon maaf kepada pembaca, saya lupa masih punya tret yang belum selesai…..wakakak….ini saya lunasi biar tidak punya hutang…..

Saatnya membahas sisi kedua dari album keren ini….Syahdan ketika itu saya masih SMP sehabis sunat waktu liburan sekolah, sambil mengisi waktu dalam proses penyembuhan saya hanya di rumah tiduran, baca baca buku, dan yang paling berkesan adalah saya di temani kaset Genesis rekaman Yess pemberian kakak saya album The Lamb ini, setiap waktu selalu saya putar kaset ini…indah sekali….itulah mengapa album ini begitu membekas pada jiwa saya. Waktu itu belum era internet maupun CD jadi saya tidak tahu bahwa kaset ini tidak full album, ada beberapa lagu yang hilang dan itu terjadi dalam waktu yang lama. Side A dari kaset atau Disk 1 pada CD sudah saya bahas pada tret sebelumnya, kini giliran membahas side B nya.

Waktu berjalan cepat sampai akhirnya saya kuliah di UNS, nah di sinilah saya berjumpa dengan kawan yang penggemar Genesis sejati, suatu malam saya bermain kerumahnya yang masih satu kota dengan saya, kami ngobrol dan kawan saya ini bilang dia begitu cinta dengan The Lamia salah satu lagu di album The Lamb….dheg!! betapa terperangahnya saya….saya belum pernah mendengar nama The Lamia…..ternyata memang rekaman Yess ini suka mengobrak-abrik susunan lagu ha ha ha….maka disinilah perkenalan saya dengan lagu super keren ini…..

Disk 2 ini dibuka dengan Lilywhite Lilith yang begitu mantab, musiknya gagah namun melodynya begitu menawan, sayatan Hacket juga terasa menusuk sukma, The Waiting Room instrumental yang berbau horor namun sangat megah di akhirnya, dilanjutkan Anyway sebuah lagu yang dibuka dengan kibor/piano yang sangat indah, pada menit ke 01.27 musik berubah menjadi dramatis sekali menggelegar….wah suka sekali saya….The Supernatural Anaesthetist ini instrumental yang begitu mengeksplorasi kedahzyatan gitar Steve Hacket….mantab banget gitarnya….masuk track The Lamia…whoaaaahhhh….intro pianonya berbarengan dengan suara pelan Gabriel memulai dongengnya begitu khusyuk dan syahdu…..indah sekali, lagu ini mengalir dengan tempo sedang…..menit ke 02.14 suasana menjadi hening..sunyi…puncak lagu ini di menit ke 05.42 ketika gitar Hacket menyeruak dengan lengkingan yang mengaduk emosi sampai akhir….hadeeeeeeh keren betul!!

Silent Sorrow track jeda yang berisi instrumental yang memberi kesan khusyuk sebelum masuk track paling prog yaitu The Colony Of Slippermen…edhan!! ini track merupakan menu wajib penggemar Genesis..dibuka dengan bunyi bunyian perkusi yang terdengar sakral, diteruskan masuk ke lagu utama yang begitu enerjik dan dinamis, olah vokal Gabriel yang seperti membaca mantra mantra menambah kesan art rock nya lagu ini..menit ke 04.52 Tony Banks ngamuk dengan kibornya yang dahzyat…whoaaaaahhhh mantabz man!! Ravine sebuah instrumental pendek yang pas banget buat pintu masuk menuju The Light Dies Down On Broadway….The Lamb Lies Down yang dilembutkan he he he….Riding The Scree whoaaaahhh ini musik yang sangat keren….inilah musik khas Genesis lama…..olahan kibornya nunjek betul !!  In The Rapids lagu lembut sebelum masuk ke track penutup It yang begitu rancak, bersemangat….puwassssss benar menikmati album ini !!!

Alcatrazz “No Parole for Rock N Roll” – RockShots

November 9, 2014

Erick S

Assalamualikum para suhu dan senior sekalian , para penghuni  blog super gemblung ini heheehee……, semoga selalu dalam keadaan sehat wal afiat ya. Buat Om Gatot semoga blog ini makin jaya dan makin bisa menambah wawasan serta khasanah musik buat para pembacannya

Lumayan lama banget ga nulis lagi soal kaset, kebetulan beberapa hari lalu saya sempat chat dengan teman di FB yang upload CD steeler (band pertamanya yngwie malmsteen sebelum alcatrazz) . Kami pun saling bahas tentang yngwie ini sampe saya bicara tetang kaset Alcatrazz Album No Parole From Rock n Roll milik saya, kebetulan saya membeli kaset ini 8 tahun lalu di jatinegara di kios nya mas Ari. Waktu saya beli kondisi casing kaset sudah terlihat usang dan covernya nempel, tapi begitu dites suaranya masih kincling itu yang membuat saya tertarik membelinya, selain itu kebetulan saya juga suka dengan karya-karyanya yngwie jadi ya ga mikir panjang lagi langsung bayar ga pake nawar heeeheee

Nahhh… Temen saya itu penasaran dengan kaset ini karena label rekamanya itu RockShot soalnya kata dia itu jarang banget ketemu di loakan katanya , di FB juga ga nongol kasetny. Akhirnya temen saya minta fotony di upload, setelah saya upload ternyata ada yang koment “memangnya rockshot rilis album itu ya ?” Wahh..  saya bingung juga jawabnya soalny dibilang itu reproan , tapi kalau diperhatikan cover, kaset dan suara menurut saya sih itu rockshot asli bukan reproan, tapi ya ga tau juga karena saya emang kurang paham tentang sejarah perkasetan heeheee.

image

-

image

-

image

Mungkin para senior dan suhu di blog ini membantu saya soal kaset ini, apakah memang rockshot pernah merilis album ini atau tidak dan apakah rilis lisensi atau tidak ya kaset ini di indonesia?

Demikian, terima kasih sebelumnya buat Om Gatot karena sudah diposting .

Wassalam

—–

Regards,


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 151 other followers