Legenda Genesis (2/7)

September 18, 2014

Herwinto

Nursery Cryme….Membangun Musik Genesis 

image

Jika mengaku seorang progger, tentu anda mengenal album ini, jika anda mengaku fans sejati Genesis pasti kenal  dan suka album ini….!!!

Anthony Phillips merasa tidak cocok lagi dengan Genesis dan dia pun keluar, penggantinya adalah Steve Hacket yang kelak dikenal berpengaruh besar terhadap perkembangan musik Genesis. Drummer John Mayhew juga keluar dan posisinya digantikan oleh Phil Collins, formasi inilah yang sangat menentukan perkembangan arah musik Genesis selanjutnya, dan inilah formasi terbaik sepanjang masa. Pada saat ini Steve Hacket nampaknya masih malu malu, maklum sebagai anggota baru mungkin dia perlu adaptasi dulu, sehingga sound Hacket di album ini belum menonjol. 

Album ini disiapkan dengan sangat baik,  memiliki 3 lagu utama yakni The Musical Box, The Return Of The Giant Hogweed dan The Fountain Of Salmacis, serta 4 lagu lainnya yakni Seven Stones, Harold The Barrel, For Absent Friends, Harlequin. Tiga lagu yang saya sebut di muka merupakan lagu lagu yang sangat berbobot dijamannya dan memiliki pengaruh yang luar biasa bagi perkembangan musik prog selanjutnya. Pada album ini Genesis membeli melotron Mark II dari King Crimson yang oleh Tony Banks mampu menghasilkan suara 3 violin pada lagu The Fountain Of Salmacis dan memberi efek mellow dan dramatis pada Seven Stones, serta pada klimaks The Return Of Giant dikombinasikan dengan brass.

Lagu lagu pada album ini berkisah seputar dongeng dongeng victorian Inggris, misal tentang hidup kembalinyanya Henry(8) yang mati dibunuh saudaranya Chynthia(9) secara tak sengaja ketika bermain croquet di halaman panti asuhan, seminggu setelah kematiannya Chynthia membuka kotak musik Henry yang menyebabkannya hidup kembali namun menua dengan cepat dan berusaha memperkosanya, juga tentang serangan ilalang raksasa terhadap umat manusia yang sebelumnya dibawa oleh penjelajah victorian dari Rusia ke kebun raya di Kew, meski telah dilawan namun ilalang menang melawan manusia. The Return Of Giant adalah lagu yang sering dipakai pada konser konser Genesis, dengan intro yang membombardir dan solo di tengah tengah yang dramatis (Dance of Giant Hogweed),….. siapa yang tidak suka intro lagu ini maka tidak akan suka prog selamanya ha ha ha…. Belum afdhol rasanya  menikmati album ini sebelum mendengarkan The Fountain Of Salmacis yang mengambil cerita dari mithology Yunani tentang seorang peri bernama Salmacis, dengan intro melotron yang dramatis dan cukup menyayat mendominasi sepanjang lagu. Steve Hacket dalam solonya Genesis Revisited I & II menyajikan ketiga lagu tersebut dengan sangat sempurna.

Secara musikalitas lagu lagu di album ini tingkat kerumitannya sudah jauh melampaui Trespass, The Musical Box misalnya sangat kompleks strukturnya dan tak terduga perubahannya dari mulai masuk lagu yang terdengar lambat sekali hingga klimaks lagu yang sangat keras terdapat banyak ornamen ornamen bebunyian yang sangat indah, demikian juga The Return dan The Fountain terdengar sangat megah dengan lika liku dan tekukan tekukan yang tak terduga, warna musik pada The Return dan The Fountain ini selanjutnya sering kita dapatkan pada lagu lagu prog generasi baru yang mungkin sangat terinspirasi dan kagum dengan keindahan klasik kedua lagu tersebut. Pada live show dari album ini Gabriel sudah mulai berakting secara teatrikal dengan kostum kostum dan topeng topengnya yang berbeda beda pada setiap lagu. Phil Collins juga diberi kesempatan unjuk suara emasnya pada lagu For Absent Friends yang berkisah tentang dua orang janda yang suka berdoa untuk suaminya yang telah meninggal.

Sebagai kesimpulannya album ini merupakan langkah awal Genesis membangun sound musiknya dengan formasi yang sangat solid, juga sebagai pijakan untuk melompat kepada album selanjutnya yang lebih radikal yakni Foxtrot yang merupakan karya emas Genesis. Singkat kata album ini sangat sangat luar biasa!!!

Legenda Genesis (1/7)

September 16, 2014

Herwinto

Trespass….Perubahan Bermusik Yang Radikal

image

Genesis adalah band favorit saya selain Yes. Band ini saya anggap sangat luar biasa memberikan pengaruh bermusik kepada band band setelahnya, bahkan bisa dikatakan sebagian besar band band generasi baru sangat dipengaruhi oleh warna musik Genesis. Tengoklah Marillion, Arena, The Watch, Cast, The Flower Kings, IQ dan lainnya, sangat terlihat pengaruh Genesis di sana sini walaupun tidak terlihat mencontek atau mengekor. Beberapa minggu ini saya memang memutar kembali album album Genesis karena saya mencoba meresapi kembali karya asli mereka, pemicunya adalah saya memutar Transatlantic dan mendapati mereka mengkover The Return of Giant Hogweed dengan sangat bagus. Juga The Flower Kings yang memainkan Cinema Show plus terakhir saya menikmati Nick D’Virgilio yang menkover The Lamb Lies Down dengan sangat excellent. Maka saya putuskan menulis tret ini semoga semakin mengokohkan kecintaan kita kepada band super brillian ini.

Trespass….adalah album kedua Genesis yang sekaligus menobatkan eksistensi mereka sebagai band progresif rock, setelah album perdana mereka From Genesis To Revelation gagal dan mereka merasa dikerjai oleh produser mereka, maka mereka memutuskan ”mengasingkan diri” disuatu desa yang damai dan tenang, mereka mulai berlatih dengan keras selama berminggu minggu, dan hasilnya? sebuah album yang berubah 180 derajat dalam arah bermusiknya, sangat radikal!! album perdana mereka yang sebelumnya berirama ala Bee Gees tiba tiba berubah menjadi warna musik yang rumit, berat dan sangat berkualitas. Saya sangat menyukai album ini karena unik dan sangat indah.

Ada dua hal penting yang saya catat dari album ini yaitu Anthony Phillips sebagai  gitaris awal Genesis telah meletakkan pondasi yang kokoh berupa dinamika musik akustik yang kelak dilanjutkan dan disempurnakan oleh Steve Hacket yang kemudian dikenal sebagai sound klasik Genesis seperti pada Suppers Ready. Penggunaan Flute pada album ini sangat dominan yang kelak menjadi ciri khas Genesis Gabriel. Dibuka dengan nomor Looking For Someone yang sangat indah dari awal lagu sampai akhir, lagu ini sangat sunyi namun cukup ngerock ha ha ha piye maksude? perpaduan gitar akustik,elektrik, kibor dan melotron serta gebukan drum yang sangat dinamis dihiasi flute di keheningannya benar benar menghasilkan komposisi yang sangat indah. Tanpa jeda disambung dengan White Mountain yang awalnya sayup sayup bunyi kibor disusul dengan gitar akustik dan teriakan Gabriel yang sangat bertenaga…whooaaaaa saya sangat menyukai lagu ini…di menit 2:10 suara flute muncul pelan pelan….lagu menjadi sangat dinamis…di menit ke 3:40 musik menjadi sunyi dan kembali Gabriel berteriak membahana dan menggema….jiyaaaan tuob tenan lagu ini….lagu diakhiri dengan suasana hening dengan petikan gitar yang sakral…..huebaaaat sekali. 

Track ketiga Vision of Angels adalah lagu yang cukup enak, nyantai…denting piano, petikan gitar akustik serta hammond yang berpadu dengan rapi terdengar begitu klasik. Stagnation lagu yang bernuansa teduh diawalnya dengan petikan gitar akustik, di menit ke 3:00 musik menjadi sangat atraktif  dengan penggunaan hammond serta drum yang sangat rancak, di menit ke 6:57 Gabriel bermain flute dengan indahnya. Dusk adalah nomor lembut sebagai jeda menuju track puncak The Knife….Whoooooaaaaaaaa….ini lagu favorit saya….uediyaaaan!! pembukaanya saja sudah bikin semangat berkobar kobar….dibuka dengan suara kibor, drum dan gitar elektrik yang bersatu padu saling berkejaran….permainan gitar Anthony benar benar ngerock!! di menit ke 3:28 menjadi sunyi dan flute Gabriel menyeruak di keheningan….sangat terdengar sakral!! di menit ke 5:05 menjadi suara hiruk pikuk sebelum kemudian Anthony ngamuk dengan gitarnya lagi…..Tony Banks tak mau ketinggalan juga ngamuk di menit ke 7:30…lagu ditutup dengan permainan hammond seperti di awalnya….puwassss!! huebaaat album ini.

Nostalgia Klenèngan di Magetan

September 16, 2014

Andria Sonhedi

image

Hari sabtu & minggu kemarin saya  tidak pergi jauh2 dari rumah saya di Magetan. rasanya beneran punya rumah memang menyenangkan, apalagi suasana sekitar rumah mmg sepi. Seandainya waktu pak Gatot mampir ke rumah saya kemarin menengokkan leher ke kiri dari tempat duduknya maka akantampak panorama Gunung Lawu. Kebetulan di barat rumah saya terhampar lapangan luas tanpa pohon sehingga pemandangan ke gunung Lawu bisa mudah terlihat.
Selama ini isteri saya yang sering memutar mp3/vcd lagu2 80-an Indonesia dengan dvd player + speaker sederhana yang sering dipakai untuk komputer. Tape compo kami sementara masih belum bisa dipakai karena ada kabel yang dimakan (tepatnya digigiti) tikus. Saya malah jarang nyetel musik di rumah, maklum musik2 saya dianggap aneh dan cuma saya sendiri yang mampu mendengarkan & merasakan keindahannya :)
Ketika kami pindahan bulan Juni kemarin semua barang memang masuk kotak termasuk koleksi kaset/CD/DVD/VCD saya, dan untuk menyegerakan pindah barang2 tadi langsung saja disusun di rumah baru tanpa aturan. Perlahan-lahan tiap minggu kami menatanya kembali walau ada juga yang tidak ingat ditaruh ke mana waktu pindahan :)

image

Sambil menyampuli kotak CD & VCD  dengan plastik supaya tak ada semut yang bersarang tanpa, sengaja saya menemukan beberapa kaset lama saya yang sepintas sangat tak berhubungan dengan kegemaran saya mendengarkan musik yang tak terlalu kalem.
Sekitar awal 2000-an saya memang sedang jenuh dengan musik alternatif, apalagi Nu Metal. Rasanya kok tak ada lagi musik-musik hard rock yang melodius, ada solo gitarnya, berisik tapi menyenangkan. Saat itu saya sempat membaca kalau grup Guruh Gipsy termasuk yang mempelopori perpaduan musik barat dan gamelan Bali.  Jaman itu saya belum tahu internet apalagi download mp3 makanya saya agak penasaran juga. Di toko kaset jelas tak ada, out of print. Selama itu saya cuma tahu kl campursari yang berhasil memadukan gamelan & alat musik modern. namun ya itu, akhirnya banyak yang cuma jadi lagu pop Jawa. Lama-lama saya pikir kalau bebunyian aslinya, gamelan Bali, masih ada yang jual ngapain saya harus repot-repot mencari fusion gamelan & alat musik modern.
Akhirnya saya pergi ke pasar Bringharjo, pas libur karena saya ngantor di Sidoarjo kala itu, nyoba cari kaset gamelan Bali yang seken. Mengapa saya cari yang gamelan Bali? soalnya iramanya saya anggap masih bisa disejajarkan dengan speed metal :D Gamelan Jawa saya anggap lebih ngeblues. Akhirnya dari beberapa kali datang ke unggunan kaset Pak Tris di los Utara pasar Bringharjo berhasil menemukan 4 kaset gamelan Bali. Alasan lain karena waktu itu kaset2 di tempat pak Tris cuma dijual Rp.2000 sehingga saya anggap itu sama dengan beli dawet aja bila akhirnya gagal membangkitkan minat saya. Memang sih tak selalu cocok dengan beberapa lagunya tapi masih lumayan daripada telinga dibombardir lagu2 Nu Metal/Hip Metal :) Saat ini karena belum ada tape compo maka kaset gamelan tadi belum sempat saya setel di rumah.


evil has no boundaries

Baca Buku sambil Ngopi …

September 16, 2014

image

Tret ini merupakan ‘the life side of the blog’ karena tak secara khusus membahas musik meski nantinya juga musik diulas …he he he … Memang pagi ini saya sengaja keluar rumah untuk mencari suasana kerja baru sambil gowes santai. Targetnya memang di area seputar Santa dan Blok M bahkan secara khusus tadi meluncur dari rumah dengan gowes Bromie menuju Pasar Santa. Tujuannya hanya satu: ingin melihat langsung kedai kopi ABCD yang gaungnya santer dibicarakan oleh berbagai komunitas termasuk komunitas musik. Konon kopinya tidak dihargai penjual namun pembeli lah yang menentukan harganya. Edan tenan .. Kreatif juga ya. Saya memang berangkat dari rumah 7:45 dan berada di TKP sekitar 8:20 begitu. Tadinya saya pikir kedai ini ada di sekitar pasar sehingga mudah bagi saya untuk parkir sepeda. Ternyata …menurut juru parkir , lokasinya di lantai paling atas. Lagian masih kepagian katanya, karena bukanya pukul 10:00 an. Ya udah …yang penting sdh tahu tempatnya.

Akhirnya saya gowes di seputar Cikajang dan mampir di MM Juice . Sambil memesan jus kiwi dan apple saya buka laptop sekalian kerja karena konon ada free wifi. Ternyata wifi nya gak bisa bekerja dengan baik, hanya menang nama aja ….padahal tulisan free wifi guwede pol ….ha ha ha ….ketipu. Untung android saya bisa buat wifi. Akhirnya ya pake wifi sendiri. Lumayan enak juga kafe ini karena relatif sepi di pagi hari. Setelah cukup lama di MM Juice dan sudah bisa menghasilkan produk kerjaan karena terbukti dengan terkirimnya email dari laptop saya. Mendekati Dzuhur saya merapat ke masjid di kepolisian PTIK. Setelah itu gowes ke Corelli …he he he … Target di Corelli adalah baca buku bagus karya penulis keren Malcolm Gladwell. Sebenarnya cukup lama buku ini, namun saya baru beli minggu lalu di Aksara PP.

Wah …buku ini keren abis dan wajib baca bagi siapapun anak manusia yang sering merasa minder berhadapan dengan raksasa … Semuanya diulas dengan cantik oleh Gladwell yang jenius ini. Hal2 yang biasa disebut dengan KELEBIHAN yang dimiliki raksasa ternyata juga merupakan KELEMAHAN. Itulah makanya konsultan gurem kayak saya wajib buwanget baca buku super duper kuwereeeen ini…!!! Saya baca sambil nyeruput avocado cappucino racikan mbak Sri von Corelli. Musik yang mengiringi adalah Blaze of Glory nya Jon Bon Jovi yang diputar okeh Imam dari gerai Udinnesse. Mak jleb!

Saya juga menyiapkan musik di iPod saya: Gazpacho “March of Ghost” dan Monarch Trail “Skye” yang CD nya saya peroleh dari ProgArchives, minta di repiu sama saya.

Selamat berkarya! JrèNg!

Fake Plastic Love: Incomplete Story Of RADIOHEAD

September 15, 2014

Hippienov

Bagiku Radiohead adalah band rock yang suram, murung dan kelam baik musik maupun liriknya. Band asal Inggris ini lahir pada era britpop/alternative rock/grunge di dekade 90an dan pada awalnya mereka mendompleng britpop/alternative untuk bisa diterima oleh publik, namun pada perkembangannya mereka berevolusi menampilkan musik “Radiohead” yang sesungguhnya dengan menggabungkan genre-genre musik lain dan tidak terpaku pada satu aliran musik, sehingga rasanya band ini tidak lagi ada di jalur britpop. Seperti halnya The Police saat pertama muncul mengekor musik punk yang saat itu sedang mewabah namun pelan-pelan mulai menunjukkan musik aslinya seperti yang ingin mereka sampaikan di album “regatta de blanc” atau terjemahan gemblungnya kira-kira berarti “reggae bule”.

Debut album Radiohead “pablo honey” adalah point of entry mereka di blantika musik dunia dengan hit single “creep” yang begitu sukses dan membuat nama mereka dikenal seantero dunia. Album kedua “the bends” mulai menunjukkan progresivitas Radiohead dengan tidak hanya memainkan musik yang sama dengan “pablo honey”.
Adalah album ketiga bertajuk “ok computer” yang makin menunjukkan keseriusan Radiohead untuk makin menjauh dari “gelar” britpop dengan membuat sebuah album yang menurutku sangat murung dan kelam melebihi apa yang aku dapatkan di “the bends”. Bahkan untuk membuat album “ok computer” semakin terdengar suram mereka secara khusus mencari sebuah mellotron tua yang sudah rusak kemudian merevitalisasi/memperbaikinya untuk digunakan dalam proses rekaman album ini. Mungkin karena faktor “mellotron” inilah Radiohead saat itu sempat disebut-sebut akan berubah total jadi sebuah band progrock.
Album “ok computer” juga merupakan album Radiohead yang paling aku suka dan paling sering aku dengarkan sampai saat ini. Tiap kali aku merasa “down” atau sedih maka album ini ada pada urutan pertama yang akan kudengarkan. Mungkin ini hanya sugesti namun rasanya semua perasaan sedih, gundah, kecewa yang aku rasakan seperti tertarik keluar dan diserap oleh semua lagu di album “ok computer” yang aku dengarkan.. A bit creepy but it’s true…

Namun Radiohead tidak berhenti sampai disitu, mereka terus berevolusi dan kali ini musik elektronika yang menjadi daya tarik band ini. Album “kid a” dan “amnesiac” merupakan ladang eksperimental mereka bermain musik rock elektronika yang dicampur dengan krautrock dan elemen jazz dan membuat musik Radiohead semakin sulit untuk dimengerti. Di titik ini aku mulai menginggalkan Radiohead, alasan utamanya karena musiknya yang kian aneh dan aku kecewa karena sekarang Radiohead menggunakan banyak samples “musik elektronik/computerized music” yang kurang menarik buatku. Aku baru mencoba kembali ke Radiohead di album “hail to the thief” namun album ini tidak bisa membuatku kembali menikmati musik Radiohead, dan akhirnya pelan-pelan “melupakan” Radiohead untuk waktu yang cukup lama sampai album “in rainbows” yang jadi pemberitaan karena dijual secara online dengan harga suka-suka. Namun aku tidak sepenuh hati dan tidak terlalu berharap banyak dengan album ini karena sudah cukup lama tidak mengikuti perkembangan musik Radiohead sehingga aku hanya membeli cd bajakannya di lapak Mangga Dua. Album ini cukup bagus dan bisa sedikit mengobati kekecewaanku karena nyaris tidak kudengar bunyi-bunyian samples “elektronika” tapi tetap tidak sedahsyat album “ok computer” ataupun “the bends” menurutku.

Nah, minggu lalu saat aku ber-sms-an ria dengan Mbak Indah soal musik tiba-tiba nama Radiohead pun ikut disebut. Aku jadi kembali teringat dengan band yang pernah begitu aku suka ini dan seperti biasa hal ini mendorongku untuk membuat sebuah kompilasi tentang Radiohead.
Mulailah libur weekend kemarin aku pilah-pilih lagu-lagu Radiohead dari file mp3 yang aku punya dan setelah cukup materinya kemudian aku burn dalam format audio. Kompilasi ini kuberi judul “Fake Plastic Love: Incomplete Story of Radiohead”. Kenapa incomplete? Karena gak semua album atau hits mereka yang bisa aku compile, paling gak ada 4 lagu Radiohead yang aku suka namun tidak termasuk yaitu: bones, just, the bends serta planet telex. Kenapa gak diikutkan dalam kompilasi? Karena aku gak punya file mp3 nya… Kasian…

Akhirnya, beginilah hasil jadi kompilasi gemblung ini:
FAKE PLASTIC LOVE: INCOMPLETE STORY OF RADIOHEAD.

1. Creep.
2. Amnesiac.
3. Nice Dream.
4. No Surprises.
5. Fake Plastic Trees.
6. Paranoid Android.
7. Exit Music (for a film).
8. My Iron Lung.
9. Thinking About You.
10. The National Anthem.
11. How Can You Be Sure.
12. Subterranean Homesick Alien.
13. Let Down.
14. Where I End You Begin.
15. Airbag.
16. Karma Police.
17. Myxomatosis.
18. Idiotique.
radiohead2

Banyak materi dari album “ok computer” termasuk disini dan lainnya aku ambil dari “the bends” kemudian “pablo honey” serta “kid a” dan “amnesiac” yang dulu sempat ogah aku dengarkan.
Album ini sama sekali bukan album “the best” atau “hits” Radiohead, aku lebih senang menyebutnya sebagai album tribute untuk sebuah band yang pernah begitu sering aku dengarkan dan aku suka.

Semoga tulisan gemblung ini bisa berkenan dan menghibur rekan-rekan disela-sela kesibukan pekerjaan. Mohon maaf atas kekurangan yang ada dalam penulisan dan seperti biasa matursuwun sanget Mas G untuk waktu serta kesempatan yang diberikan…

If I could be who you wanted… all the time…
hippienov.

Opeth “Heritage”

September 14, 2014

Gatot Widayanto

Sebenarnya cukup lama saya ingin mereview album ini. Namun, akhirnya tertunda terus menerus hingga akhirnya album baru Pale Communion dirilis tahun ini. Untuk itulah saya terpaksa menulis review tentang album ini sebelum album terbaru nantinya. Menurut saya Heritage ini unik karena ternyata tak berkutat pada format musik 70an namun justru Opeth dengan kreatif gagah berani membuat format dan style baru tanpa meninggalkan jejak nuansa musik prog tujuhpuluhan. Justru itulah saya salut sama band satu ini karena tak sekedar comot saja. Coba aja simak musiknya, mana bisa Anda menarik benang merah langsung keterkaitan salah satu musiknya dengan musik jadul. Bener2 orang pandai sekali band satu ini. Untuk rincinya, silakan baca di bawah. Maaf tak saya terjemahkan lagi ke bahasa kita kerna aslinya ini saya tulis di ProgArchives kemarin. Linknya ada disini.

Heritage

Studio Album, released in 2011

Songs / Tracks Listing
1. Heritage (2:05)
2. The Devil’s Orchard (6:40)
3. I Feel The Dark (6:37)
4. Slither (4:00)
5. Nepenthe (5:37)
6. Häxprocess (6:58)
7. Famine (8:32)
8. The Lines In My Hand (3:49)
9. Folklore (8:17)
10. Marrow Of The Earth (4:19)

Total Time: 56:46

Lyrics
Search OPETH Heritage lyrics

Music tabs (tablatures)
Search OPETH Heritage tabs

Line-up / Musicians
– Mikael Åkerfeldt / vocals, electric & acoustic guitars, Mellotron, Grand Piano, FX
– Fredrik Åkesson / electric rythm & lead guitars
– Per Wiberg / Hammond B3, Mellotron, Fender Rhodes, Wurlitzer, Grand Piano
– Martin Mendez / electric & upright bass guitars
– Martin Axenrot / drums & percussion

GUESTS:
– Alex Arcaña / percussion on “Famine”
– Björn J:son Lindh / flute on “Famine”
– Joakim Svalberg / Grand Piano on “Heritage”

- Steven Wilson / mixing
– Jens Bogren / engineering
– Travis Smith / album art
Releases information
Released: 14 September 2011
Label: Roadrunner

Review lengkap saya copas di sini:

Review by Gatot
SPECIAL COLLABORATOR Honorary Collaborator

A clever way to call it as “Heritage” …

It took me quite a while to take a deep breath on what Opeth have done with this album when I listened to it for the first time. There were two main issues I faced by the time I got this album and both of them were critical to ask and answer as they form a foundation for me to write this very late review – by the time I write this I already received the new album “Pale Communion” which actually I am about ready to write a review. But I was surprised when I looked at this site I have not written anything yet with respect to Heritage album. That’s definitely the results of posting those two critical issues that I raised.

The first issue was: If this is called as a heritage from previous legends, what forms in this album that I can refer to the legends?

Typically when we call legends it’s all about those who shone in the glory days of the 70s …the hey day of progrock and other styles of music: disco, funk, blues , rock, pop as well as R&B. I did not count jazz into it as by that time I did not pay any attention to the development of jazz music until found the music of Chick Corea and Dave Brubeck with his Take Five fame. Talking about legends of prog you can bet me with names like Yes, Gentle Giant, King Crimson, Pink Floyd, Van der Graaf, ELP, Genesis etc. In fact some new prog bands already labelled as they are heavily influenced by Genesis or ELP or Pink Floyd etc. For example when I mention RPWL, people will automatically associate the band with Pink Floyd even though it’s not the same.

But now …look at any track this album by Opeth features: where is in the segment of the music in any track that I can easily refer to legendary bands? Is there any segment that I can say something like …”A ha ….this sounds like Genesis!” …”Aha …this looks like Gentle Giant” or whatsoever. Having spun this album for many times, I think it’s been more than 8 times, the critical numbers enough to give fair views about any prog album irrespective its complexities. Unfortunately my friends … I failed to identify anything (even a small chunk of segment) where I can say it’s influenced by legends like Yes, genesis, ELP and the like.

If that is the case, is it fair enough to say that this album is influence-free? Not really ….!!! I can sense it … I can taste it … I can feel it that somehow the music has a very deep connection with the spirit of 70s prog music but I fail to identify any reference in the music where I can easily say its connection with legendary bands. So what is the conclusion? Well … what I can say is that Opeth is really CLEVER in a way to compose an album that use that spirit and nuances of legendary progrock music and translate them into a beautiful composition where any part or segment in the music has no direct relation with the past. It’s really clever!

The second critical issue is how I should rate this basically new style of progressive music where I can find little reference as comparison?

This second issue has caused me to defer the review for such a long time until now. Actually partly due to my busy schedule in my real life profession. But as far as review concern I tended to delay because I was quite confused with the rating. Honestly I do not quite put this album as my favorite largely due to I do not get used to listen to music like this album. It’s not fair to review based on liking or not liking the album. For sure it’s a definite a good one but how good? Should I consider it as excellent? In fact …after long time thinking about it I land into a conclusion that this is really a four-star rating album. I enjoy the album even though not really love so much. But I admire the boldness of Opeth making this new avenue of prog whenre maybe in the future I will love this kind of music. I remember vividly that in the past I was not happy with Yes “Tales from Topographic” but then I admired it highly as it grew on me really.

SALUTE for Opeth who has made this excellent album! Keep on proggin’ ..!

Peace on earth and mercy mild – GW

IQ “The Road of Bones” Menyeruak dalam Top 40 Prog Albums

September 14, 2014

Gatot Widayanto

Beberapa minggu ini saya amati sebuah fenomena dahzyat luar biasa yang tertera di halaman muka dari situs progarchives dimana IQ “The Road of Bones” bisa menduduki anak tangga ke 24 dari Top 40 Prog Albums versi Progarchives ini. Kok bisa? Itulah faktanya …. Mari kita lihat posisi Top 4o Prog Albums of all time per hari ini pukul 13:32 WIB adalah sebagai berikut:

  1. Close To The Edge – Yes
  2. Thick As A Brick – Jethro Tull
  3. Selling England By The Pound – Genesis
  4. Wish You Were Here – Pink Floyd
  5. Foxtrot – Genesis
  6. In The Court Of The Crimson King – King Crimson
  7. Dark Side Of The Moon – Pink Floyd
  8. Red – King Crimson
  9. Animals – Pink Floyd
  10. Godbluff – Van Der Graaf Generator
  11. Fragile – Yes
  12. Nursery Cryme – Genesis
  13. Pawn Hearts – Van Der Graaf Generator
  14. Moving Pictures – Rush
  15. Per Un Amico – Premiata Forneria Marconi (PFM)
  16. Hybris – Änglagård
  17. Larks’ Tongues In Aspic – King Crimson
  18. Io Sono Nato Libero – Banco Del Mutuo Soccorso
  19. Moonmadness – Camel
  20. Mirage – Camel
  21. Hemispheres – Rush
  22. Si On Avait Besoin D’Une Cinquième Saison – Harmonium
  23. Storia Di Un Minuto – Premiata Forneria Marconi (PFM)
  24. The Road Of Bones – IQ
  25. Relayer – Yes
  26. Kind Of Blue – Miles Davis
  27. Darwin! – Banco Del Mutuo Soccorso
  28. A Farewell To Kings – Rush
  29. Birds Of Fire – Mahavishnu Orchestra
  30. In A Glass House – Gentle Giant
  31. Crime Of The Century – Supertramp
  32. In a Silent Way – Miles Davis
  33. Still Life – Opeth
  34. Ommadawn – Mike Oldfield
  35. The Silent Corner And The Empty Stage – Peter Hammill
  36. Hot Rats – Frank Zappa
  37. Aqualung – Jethro Tull
  38. Meddle – Pink Floyd
  39. Depois Do Fim – Bacamarte
  40. H To He, Who Am The Only One – Van Der Graaf Generator

Fakta ini perlu kita bahas dengan kepala dingin, dengan mengajukan beberapa pertanyaan mendasar:

  • Kok bisa ya, album yang baru dirilis tahun 2014 ini bisa langsung menyeruak di dalam Top 40 Prog Albums dimana mayoritas adalah album-album tahun 70an kecuali beberapa saja seperti Opeth atau Anglagard. Bahkan, kalau dilihat hanya IQ saja yang albumnya paling gress tahun ini bisa masuk dalam deretan bergengsi ini.
  • Benarkah IQ The Road of Bones ini lebih hebat dari Yes Relayer yang legendaris itu? Rasanya tak ada track di dalam The Road of Bones yang kualitasnya sebagus Gates of Delirium di Relayer. Kok bisa ya? Apakah Sound Chaser dan To Be Over tak dianggap berkualitas sehingga bisa tenggelam dengan lima track dari album The Road of Bones? Sebagai penggemar Yes tulen tentu saya tidak terima bahwa The Road of Bones mengungguli Relayer. Lantas, apa yang menyebabkan The Road of Bones menduduki ranking 24 sedangkan Relayer hanya di 25 saja?
  • Mari kita bandingkan juga dengan Rush Hemispheres yang menduduki tangga ke 21 padahal ia adalah album yang dirilis tahun 1978 dan hanya terpaut dua anak tangga lebih unggul dari The Road of Bones. Lebih dalam lagi, masak sih Yes Relayer kalah unggul dibandingkan Rush Hemispheres?

Mari kita lihat distribusi dari rating yang diberikan pengunjung ProgArchives dari tiga album di seputar anak tangga yang dekat dengan The Road of Bones:

RUSH Hemispheres 2014-09-14 13.15.04

-

IQ The Road of Bones 2014-09-14 13.08.45

-

YES Relayer 2014-09-14 13.17.35

-

Memang sih terlihat bahwa overall rating IQ Road of Bones tertinggi yakni 4.42 dibandingkan Yes Relayer yang hanya 4.36. Namun Rush Hemispheres yang overall rating nya hanya 4.38 (di bawah The Road of Bones) malah menduduki peringkat lebih atas dari pada The Road of Bones yakni peringkat 21. Namun kalau kita cermati, ada 59% dari yang mereview Rush menyatakan BINTANG LIMA sedangkan di IQ The Road of Bones hanya 55%. Artinya, distribusi bintang ternyata mempengaruhi peringkat.

So ….

Bagaimana dengan temen2 gemblungers? What do you think?

Salam,

G

The 40-Year ProgGraphy (4 of 40)

September 13, 2014

Gatot Widayanto

Aktuil dan Nursery Cryme: Ora Mudeng Blas

 

Photo: Courtesy of Aktuil The Legend (Pak Buyunk) without permission and ready to be taken down if Pak Buyunk is not happy with this ...

Photo: Courtesy of Aktuil The Legend (Pak Buyunk) without permission and ready to be taken down if Pak Buyunk is not happy with this …

Periode ini sebenarnya sudah mendekati pengenalan lebih dalam ke musik yang kemudian disebut sebagai progrock. Yang jelas, tahunnya pasti sebelum 1974 atau bisa jadi awal 1974.

Syahdan…

Suatu hari seperti hari-hari sebelumnya karena merupakan rutinitas saya saat masih kelas 1 SMP, saya duduk di ruang tamu dimana terdapat dua buah loudspeaker besar yang dulu biasa disebut dengan “salon” berisi speaker dengan diameter 10 inchi dan tweeter. Sepasang loudspeaker ini disambungkan ke tape deck dan ampli yang diletakkan di kamar tidur tengah, atau disebutnya ruang tidur ibu saya. Saya lupa saat itu apa saya sedang nyetel musiknya Panbers, Gembell’s, The Mercy’s atau bahkan bisa jadi kaset Deep Purple. Yang jelas memang saya sedang duduk santai menikmati musik setelah pulang dari sekolah, ya sekitar jam 1 atau jam 2 siang gitu.

Tiba-tiba kakak saya nomer dua, mas Henky, datang menghampiri saya sambil membawa kaset dan sebuah majalah. Tepatnya belau bilang begini:

“Kamu dengarkan kaset ini sambil baca artikel ini!”

Kaset yang saya terima adalah Genesis rekaman Pop Discotic namun fotonya adalah artwork album Kayak II. Memang di daftar lagunya ada tertera Side A: Genesis (tanpa judul album) dan Side B: Kayak. Saya ndelongop plonga plongo gak ngerti apa-apa saat disodori kaset dan majalah (yang ternyata Aktuil) ini. Saya baca ulasannya memang tentang band yang namanya Genesis dan itulah kali pertama saya mengenal band ini. Saya ingat sekali bahwa dalam ulasan panjang lebar tentang Genesis ini nama Peter Gabriel disebutkan beberapa kali dan lagu The Musical Box diulas panjang lebar. Kontan saya puter kaset tersebut (yang ternyata dari album “Nursery Cryme”) dan ….sumpah matek, saya gak mudeng blas dengan musiknya. Ya kebayang aja, biasa mendengarkan yang lurus-lurus seperti Child In Time, Fools, Whole Lotta Love, I Can Feel Him In The Morning dan sebagainya trus ujug2 disuruh dengerin The Musical Box yang mellow pol dan lama sekali lagunya masuk …. ha ha ha …karena awalnya hanya Peter Gabriel nyanyi diiringi petikan gitar. Pun ketika musiknya mulai gedumbrangan, saya juga masih belum JLEB! memaknai musiknya dengan baik.

Lucunya, saya malah lebih cepet bisa menerima lagu Harold The Barrel dan kemudian The Return of the Giant Hogweed. Menurut saya dua lagu ini cukup bagus buat side A dan saya sering mengulang dua lagu ini. Sedangkan The Musical Box saya malah kurang suka karena pelan banget … ha ha ha ha … Namun karena Aktuil membahasnya heboh, saya paksakan juga untuk memutar kaset ini beberapa kali meski masih tetep aja menyuai hanya Harold The Barrel dan The Return of The Giant Hogweed.

Nursery

Anehnya, justru Side B yang menjadi favorit saya karena musiknya lebih renyah dan minimum tikungan-tikungan maut sehingga kuping saya lebih cepat menerimanya. Salah satu lagu yang kemudian menjadi favorit saya adalah Woe and Allas. Wah …ini lagu keren abis bahkan hingga sekarang saya masih juga menyukainya. Melodinya ciamik dan groove nya juga kena banget bagi saya sehingga saya praktis sering REWIND bolak-balik di lagu Woe and Allas dari Kayak ini.

Begitulah awal perkenalan saya dengan Genesis yang pada saat itu tidak saya kagumi sama sekali karena terlalu pelan musiknya sehingga saya bisa dikatakan sangat jarang nyetel kaset rekaman Pop Discotic ini. Wah …kalau ingat kaset ini rasanya saya pengen memilikinya lagi. Adakah teman2 yang memilikinya? Kalau ada teman yang memiliki saya mohon mau melepasnya. Tapi kalau ada lapak kaset yang memiliki dan menawarkan harga di atas jigo, saya persilakan beliau untuk ngunthal sendiri kaset itu … ha ha ha ha ….

Kayak II

Singkat kata, pada periode ini saya udah nyerempet masuk ke ranah prog secara intens namun belum memiliki kehendak yang menggebu-gebu meski pada akhirnya saya memang menyukai album Nursery Cryme di kemudian hari setelah kenal prog lebih dalam lagi ….

Steely Dan “Can’t Buy A Thrill”

September 12, 2014

Rully Resa

image

Grup musik Serieus asal Bandung pernah bernyanyi: “Rocker juga manusia punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati!”. Saya rasa progger juga pantas demikian. Jadi walaupun saya senang mendengar musik prog tapi kalau hati sedang tidak mood ngeprog apa boleh buat! ceritanya, bulan lalu hasrat mendengarkan prog agak kurang, karena lagi senang mendengarkan musik jazz. Sempat gandrung dengan Bill Evans, Wynton Marsalis dan Frank Zappa. Kemudian tiba-tiba saya beralih senang musik yang banyak harmonisasi vokalnya seperti Simon and Garfunkel, Queen. Akhirnya saya ‘ketemu’ dan kemudian intens mendengarkan Steely Dan. Walaupun cenderung lebih ngepop daripada jazz atau rock tapi saya senang dengan album-album mereka, terlebih Can’t Buy a Thrill.

Sebenernya perkenalan dengan Steely Dan tidak dimulai dari situ tetapi jauh sebelumnya saya sudah pernah terlebih dahulu mendengarkan album Aja. Tapi ketika itu agak kurang sreg dengan album Aja yang terasa sekali jazz rock era 80annya. First impression terhadap Steely Dan tidak begitu bagus. Setelah browsing dan ngobrol dengan teman-teman, semua menyarahkan album Can’t Buy a Thrill untuk didengar.

Tidak perlu waktu yang lama untuk menyukai album ini karena memang lagu-lagu di dalam album tersebut seluruhnya bagus dan mudah dicerna ketika pertama kali didengar! (mudah dicerna bukan berarti murahan dan cheesy). Saya senang sekali mendegarkan bebunyian perkusi yang banyak terdengar diseluruh album. Bahkan permainan perkusi dilagu pembuka “Do it Again” sangat catchy dan mengajak bergoyang (walaupun sangat terasa nuansa psychedelicnya, mau tidak mau yang terbayang adalah tarian para gipsi). Saya makin dibuat penasaran dengan grup ini, karena setelah browsing sana-sini dapat informasi ternyata Donald Fegan dan Walter Becker (duo pendiri grup Steely Dan) sangat perfeksionis dalam bermusik, dalam satu lagu begitu banyak unsur yang digunakan dan sangat rewel jika tidak sesuai seperti yang mereka inginkan. Dari situ saya merasa seperti disungguhkan karya terbaik dari musisi-musisi handal.

Kesenangan saya akan harmonisasi vokal terbayarkan pada lagu ‘Reelin’ in the Years’, Pecah suara pada bagian reffnya enak sekali dinikmati dan dinyanyikan. Begitu pula dengan lagu “Dirty Work” lagu yang sedikit bernuansa country ketika masuk bagian reff pendengar seperti diarahkan untuk bernyanyi bersama-sama. Steely Dan mulai banyak menggunakan backing vokal wanita setelah album pertamanya (saya pribadi lebih senang bila backing vokalnya suara wanita). Itu juga menjadi salah satu alasan saya untuk treus menggali album mereka selanjutnya.

Sebagai seorang pencinta musik prog, saya memilih tidak mau jadi jamaah prog garis keras dan fundamentalis (keren ga nih istilahnya? whehehe) yang menolak mendengarkan musik lain. Justru dengan mendengarkan musik lain, menurut saya, dapat menambah khasanah pengetahuan musik dan bisa menjadi cara saya dalam mengkompromikan transformasi musik prog dari jaman ke jaman.

Sekian dari saya, Salam

Sent from my iPad

Bertemu The Police di Yogya

September 11, 2014

Andria Sonhedi

Bertemu the Police di Yogya

Hari Rabu – Kamis , 3-4 September 2013 kmarin saya dapat tugas ke Yogya. Yang jelas untuk ke sana tak perlu naik kereta atau pesawat, cukup naik mobil. Kali ini pun saya nginap di rumah masa kecil saya yang cuma di barat Malioboro krn kebetulan acara diklat saya di hotel Garuda,Malioboro. Saya sempat juga melihat seberang hotel, toko kaset Kota Mas sdh tampak bekasnya. Dahulu saya sering parkir di depan hotel Garuda ini untuk kemudian menyeberang ke toko Kota Mas. 

Sayangnya pula kali ini saya tidak bisa ketemu pak Priyo saat mencarinya di Pasar Bringharjo. Entah sdg tak jualan atau memang sudah berhenti jualan. Praktis perburuan saya untuk kaset seken berakhir, soalnya saya belum nemu tempat selain di situ.Masih belum cukup sempurna kesialannya, saat saya ke Ambarukmo Plaza (anak2 muda nyebutnya Amplas) toko cd resmi satu-satunya di Yogya (toko Popeye & Bowsound tak saya hitung) juga baru saja tutup September ini. Nantinya toko yg ada di lantai 3 itu akan jadi gerai kuliner Fish & Chips.
Tapi bagaimana pun saya tetap harus bersyukur, sebelum jelalatan nyari toko cd saya sempat mampir Gramedia di lantai 2. Kebetulan ada diskon untuk buku-buku hard cover luar negeri. Kebanyakan memang buku-buku desain, taman, foto, dst. Buku musik tak ada yang didiskon, namun di sela-sela buku-buku tadi saya lihat ada satu buku berjudul I’ll be Watching You: Inside The Police 1980-1983. Saya ingat beberapa tahun yang lalu saya pernah melihat buku ini. Untunglah saat itu tak saya beli, selain saya bukan fans the Police harganya juga mahal. Entah nggak laku-laku atau memang tak ada yang kenal the Police malam itu buku tadi didiskon paling besar, yang tadinya 270 ribu dengan harga baru berubah menjadi Rp 80 ribu. Saya jadi ingat buku tentang Queen, John Bonham atau karangan Dave Eleffson yang di banting harganya jadi Rp 10.000.
 Akhirnya, di antara lalu lalang orang berbelanja baju, jeans, roti breadtalk dan sebangsanya terselip seseorang yang malah menenteng buku seberat 1,25 kg di Ambarukmo Plaza :D
Buku tadi cetakan penerbit Taschen Jerman tahun 2007. Ternyata penyusun & juru fotonya tak lain tak bukan adalah Andy Summers sang gitaris the Police. Isinya memang foto-foto selama tour mereka di tahun 1980-1983. Bahasanya ada 3: Inggris, Jerman & Perancis dengan foto-foto hitam putih (yg ini tdk dibuat 3 macam). Bahkan saat John Lennon ditembak di Dakota tak lupa Andy memotret koran yang memberitakannya. Sementara ini bukunya belum saya baca semuanya dan mbukanya pun hati-hati sekali :)

image

-

image

Saya memang tak terlalu beruntung karena tidak ketemu pak Edi Apple krn  pas tak dolan Yogya, juga pak Herwin/KohWin yang sdh ada jadwal ke Wonogiri. Tapi kl utk KohWin tentu saja kisah tdk bertemunya bisa Anda baca di halaman lain blog ini :)


evil has no boundaries


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 145 other followers